
“Ranu. Ayah Bara ganteng gak?” tanya Aurel blak-blakan. Dia memperhatikan Bara yang tampak masa bodo dengan pertanyaannya ke Ranu -anak adopsinya.
“Ganteng. Kalo gak jutek,” jawab Ranu sambil main rubrik. Dia duduk dengan kaki naik ke kursi saking santainya karena Bara sedang memeriksa tensi darah Aurel.
“Tensi kamu normal. Tapi tetap jaga pola makan, istirahatnya, sama…-”
“Obatnya..” sambung Ranu malas. Dia ingat betul ucapan jika Bara memeriksa pasiennya.
“Bukan obatnya. Tapi emosinya.”
Aurel mendelik, “Aku sabar.”
Ranu jingkrak-jingkrak di kursi sambil menunjukkan warna setiap rubriknya sudah sama. “AYAH! Liat nih… Ranu hebat kan?”
Bara mengangguk saja sambil memasukkan peralatannya.
“Tuh, Ayah gak ganteng kalo cuek.”
Aurel melirik Bara yang menghela nafas, mungkin pria itu lelah atau gimana makanya jadi cuek begini.
“Ranu, gimana kalo Kakak beliin kamu es krim?”
Ranu hendak mengangguk namun jawaban Ayahnya sungguh mengenaskan.
“Gak boleh. Ranu alergi kacang.”
Raut wajah Ranu berubah pias.
“Eum… apa ya?” Aurel berpikir. “yaudah, es krimnya yang dari susu, gimana?” sambungnya tidak menyerah.
“Dia gampang pilek.”
Aurel mendesis. Bilang aja kalo gak boleh, pake segala takut ini-itu.
“Ayah jelekkkkk!” tandas Ranu. Dia menyilangkan tangannya di dada dan cemberut marah.
Bara hendak menyahut namun Aurel larang. “Kita minum jus buah aja di Taman belakang komplek. Mau gak?” Sebisa mungkin dia berusaha merayu Ranu.
“Gak mau! Maunya es krim!” Anak kecil, tetaplah anak kecil. Dia ingin apa yang dia minta, segera dipenuhi.
“Kalo gak nurut, kita ke Bandung.” Bara memperingati Ranu saat itu juga.
“Eh, iya-iya aku nurut. Tapi jangan pulang ke Bandung.” Ranu tidak jadi merajuk, namun nampak sedih.
__ADS_1
“Bara, jangan ngancem gitu, gak baik tau,” ujar Aurel menceramahinya.
“Terserah.”
Akhirnya Aurel mengajak Ranu, berdua saja ke Taman dekat komplek. Namun tanpa disuruh juga, Bara mengintili mereka dengan gaya songongnya.
Ranu gembira sekali karena banyak permainan seperti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, rumah pohon, dan lain-lain. Dia sampai bingung mau naik yang mana dulu.
“Kak! Sama aku ya!” pekik Ranu sambil duduk di ayunan yang papannya terbuat dari kayu dan talinya dari tambang.
Ayunan ada tiga. Dari kanan adalah Ranu, lalu Aurel, terakhir Bara. Bara sibuk memainkan ponselnya.
“Dulu, Mama sering ngajak aku ke Taman.”
Bara menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke Ranu. Aurel memejamkan mata menikmati semilir angin di siang hari. Walaupun terik, namun terasa sejuk karena banyak pohon rindang di Taman itu.
“Mama Ranu?”
“Iya.” Ranu ngangguk-ngangguk. “tapi gapapa deh, soalnya ada Ayah jelek sama Kakak cantik.”
“Masih marah nih sama Ayah?” tanya Bara.
“Huh, plin-plan,” desis Ranu.
“Sebentar ya,” izin Bara sambil turun dari ayunan. Dia berlari memetik tangkai mawar yang durinya ia tutup pakai plester supaya tidak melukai jarinya. Lalu ia kembali ke hadapan Ranu, “Nih, buat anak Ayah yang paling ganteng!” serunya tersenyum lebar.
“Ih, Ranu gak suka mawar. Ayah kira Ranu perempuan? Gak mau.. kasih ke Kakak Aurel aja. Pasti suka!”
Bara beralih ke Aurel yang kikuk. Daripada dia buang juga, lebih baik ia berikan ke Aurel.
“Buat kamu.”
Aurel mendongak tepat tangan Bara menyodorkan setangkai bunga mawar. Ia menatap manik Bara yang berkilauan bak pantulan cahaya di air.
“Makasih.” Aurel menerima setangkai mawar itu dan menghirupnya dalam-dalam.
“Kamu kan suka perawatan. Kelopak mawarnya bisa direndam air, terus cipratin ke muka. Nanti cerah,” kata Bara yang ia lihat dari status temannya.
“Iya, makasih. Tapi lebih baik dijadiin hiasan kamar.”
“Ya terserah.”
“Ayah….” panggil Ranu pelan.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Kak Aurel sama Om Skala ya?” Nadanya pelan seperti kecewa. “Kok gak sama Ayah aja? Kan cocok.” Dia mengedipkan mata genitnya.
Bara mengerjap dengan mulutnya yang sedikit terbuka. “Oh- itu, gimana ya.”
Aurel berdehem dua kali sebelum menjawab, “Gini deh. Kak Aurel mau sama Ayah Bara… tapi…-”
“Tapi apa?” tanya Bara was-was.
“Tapi harus bisa makan ceker.” Seketika Aurel dan Ranu tertawa keras seperti melepas beban hidup. Yayaya, Bara tahu mereka mengetahui dirinya tidak suka ceker karena mirip tangan bayi baru lahir.
“Ayah pernah pingsan karena liat ceker! HAHAHA.”
“Terus gimana?” tanya Aurel.
“Ditolong warga,” singkat Bara.
“Iya abis itu muntah-muntah di rumah,” sambung Ranu. “Ayah sama Kakak nikah aja ya? Kata Ayah, Ayah mau cari perempuan yang baik, pintar, cantik. Kak Aurel masuk kok.”
Aurel tersanjung sampai pipinya bersemu. Dia menoel lengan Bara yang tampak kaget, “Katanya aku cantik.”
Bara mendecih, “Iya cantik, tapi oneng.”
Seketika senyum Aurel memudar, dia kesal lalu memukul Bara, “Enak aja.”
Ayunan yang diduduki Ranu mengayun pelan, “Ah, Ayah telat ketemu Kak Aurel.”
Bara berdiri, “Ayo pulang.”
Aurel mengangguk, “Ayo.”
“Katanya mau beli jus?” tagih Ranu.
“Iya makanya ayo,” kesal Bara.
“Hiih, marah-marah mulu!”
***
Nanti akan ada cerita baru yang terinspirasi dari sebuah film terkenal... wkwk
nanti tapi.
__ADS_1
nunggu cerita ini selesai. hehe