
Bara menghembuskan nafas bosan disuruh menemani Aurel membaca buku di kursi tunggu untuk tebus obat karena sudah dibolehkan pulang.
“Sampai halaman berapa?” tanyanya basa-basi.
“103.”
Sungguh membosankan. Lebih-lebih Aurel diam saja tidak seperti biasanya. Menurut Nabila, dia sudah kembali seperti awal, dingin dan cuek walaupun sudah kenal lama.
“Nomor 139 atas nama Aurelani.” Pengeras suara menyebutkan nama Aurel. Gadis itu menutup bukunya dan membayar tebusan obat. Harusnya tidak perlu, tapi karena Alatas yang sudah ia anggap seperti Bapaknya sendiri yang menyuruh menebus obat, ia jadi manut. (re: nurut)
Selesai tebus obat, Aurel kembali duduk untuk mengecek obatnya.
“Saya minta dosis obat tidur buat kamu biar gak kepikiran masalah,” ujar Bara.
“Curang.” Aurel mengulum senyum.
“Saya harap, kita bisa ketemu lagi, Rel.”
“Semoga aja.”
Mereka berjabat tangan.
“Senja gak boleh terluka lagi,” ucap Bara untuk Aurel.
Aurel melepas jabatan tangannya dan mengangguk tulus.
“Jangan lupa kalau saya selalu nyemangatin kamu.”
“Saya juga.”
“Saya harus ke UGD, kamu hati-hati ya.”
“Iya, makasih, Bara.”
“Sama-sama.”
***
Skala terdiam bersandar di depan mobilnya yang paling mewah diantara parkiran Rumah Sakit. Ia menunggu seseorang tanpa janjian. Pasti ditolak lahh! Tidak sengaja Gemintang melewatinya.
“Eh, Tang, kamu ngapain?” sergah Skala.
“Aku? Mau jemput Aurel.” Gemintang menunjuk pintu.
“Lah??”
“Iya, dia katanya mau naik kereta, gak mau ikut mobil temannya.”
“Loh??” Kenapa jadi adiknya yang dapat start? Kan dia yang dekat duluan.
Gemintang mencari-cari Aurel apakah sudah keluar atau belum.
Gemintang teringat sesuatu sebelum kemari, “Kak, disuruh ke kantor, ada masalah kata Ayah.”
“Jagain Aurel ya.”
“Iya pasti. Emangnya Kakak,” sindir adiknya.
Skala memukul kepala adiknya, “Nyindir, denda.” Habis itu dia masuk mobil meninggalkan Rumah Sakit.
Gemintang sampai tidak merasa kalau Aurel sudah berjalan ke arahnya. “Gimana, Rel? Udah?”
“Udah.”
“Jadi ke Stasiun kan?”
“Jadi.”
Mereka masuk mobil menuju Stasiun.
***
Skala tidak punya banyak waktu. Ia harus menahan atau justru ikut Aurel di Stasiun supaya tidak pergi sendiri. Ia menyetir mobil berkecepatan tinggi lalu sesampainya di stasiun ia mencari Aurel. Tidak lama ia menemukan Aurel sedang pakai headset dan membaca buku, menunggu kereta jurusan Jakarta datang. Skala langsung menarik tangan Aurel keluar Stasiun.
“Skala, Skala. Kamu gila ya?” Ia berusaha memelankan suaranya walaupun kesal tiba-tiba tangannya ditarik.
Skala diam saja menarik Aurel keluar.
“Skala, sebentar lagi keretanya datang. Aku udah beli tiket.” Percuma saja dia protes. Skala tetap berjalan tidak memperdulikan tatapan orang-orang.
Setelah di luar Stasiun, baru Skala melepas tangannya. “Kita pergi bareng.”
“Hah?” Aurel cengo di tempat. “Gak mau, aku udah beli tiket.”
“Aku ganti tiketnya.”
“Sama apa?”
“Batagor, es krim, mie ayam, nasgor.”
__ADS_1
Aurel mengusap rahangnya untuk berpikir, “Gak mau.”
“Kamu sendiri yang bilang, berangkat sama aku, pulang juga sama aku.”
Hiihh, itu kan dulu coy.
“Itu dulu.”
“Berlaku sekarang juga. Ayo.”
“Bisa gak kamu jangan seenak jidat merintah orang? Jangan mentang-mentang kamu lebih punya segalanya, terus memutuskan apa yang aku gak mau. Aku berhak mutusin jalan aku.”
Skala bungkam.
“Aku masih menghargai kamu karena nolong aku, walaupun kamu niatnya salah. Tapi Ibu butuh aku.”
“Aku juga butuh kamu, Rel. Aku mau kita kesana bareng.”
“Kamu gak butuh aku. Kamu cuma mempercepat waktu supaya omong kosong kamu selesai.”
Skala berkacak pinggang lalu menarik nafas dalam. “Yaudah sana pergi.”
“Kalo kamu gak narik aku, aku udah berangkat dari tadi!” tukasnya berlalu.
***
Sampai di stasiun Jakarta-Kota. Aurel bergegas naik taksi menuju rumah Alya. Karena pintu tertutup rapat dan sunyi, dia akhirnya mengucap salam dan masuk.
Tapi ada yang aneh. Saat ia masuk ke kamar Ibunya, Alya sedang dalam kondisi sehat sedang mengelap meja.
“Bu,” panggilnya.
Alya balik badan, “Anak Ibu wes pulang toh… gimana liburannya? Seneng kan pasti.” Sambutan senyum dari Alya sangat mempengaruhi Aurel. Buktinya dia langsung lupa dengan masalahnya. (re: sudah)
Aurel tak kuasa memeluk Alya sambil sesegukan. “Aku pulang, karena di SMS-in Bapak. Katanya Ibu sekarat.”
“Ibu ndak papa. Nih, Ibu sehat kan.”
Aurel masih menangis bahagia. “Bapak kesini lagi, Bu?”
“Sudah ndak.. Alhamdulillah. Bapak sudah dapat konsekuensinya.”
Aurel melepas tubuhnya memasang wajah bertanya-tanya.
“Skala udah laporin Bapak ke polisi.”
Skala lagi…
“Bu, mulai sekarang kalo Skala nawarin bantuan jangan diterima. Dia itu carmuk sama Ibu karena—” cerita gak ya? Aurel bingung sendiri.
“Karena apa toh? Kamu ini… orang mau mbantu kok ndak boleh..” Alya geleng-geleng.
“Karena- aku udah gak mau lagi berurusan sama dia, Bu.”
“Loh? Kenapa? Inget, Nduk. Dia yang nolong kamu…”
Nolong sih iya… tapi kalau niatnya salah sama aja, Bu. Wahh, memang Skala itu selain orang berpengaruh di Bina Atlas, ternyata berpengaruh juga di kehidupan Ibunya.
“Aku ke kamar dulu, Bu.” Sebelum itu Aurel memeluk Alya dari belakang dengan erat.
“Kamu ini… udah gede, tapi merasa masih kecil.”
“Aku imut.”
Alya tertawa, “Iyain.”
“Ihh, Ibu, aku imut.”
“Terserah kamu aja.”
Dibalik senyuman Aurel, ada luka yang membekas di hatinya. Bahkan saat ingatannya kembali, luka itu seperti disiram air garam. Perih.
Ditambah Skala memulai semua ini seolah fiksi dalam novel, Aurel bukan lagi dipermainkan, namun dikecewakan oleh definisi orang sempurna dalam skenarionya.
Tidak lagi.
Aurel harus lebih tegas, apalagi ke Skala.
Tok Tok Tok
Aurel berjalan membuka pintu. “Wa’alaikumsalam. Cari sia-”
Ternyata Skala.
“Boleh masuk?”
“Lebih baik disana." Aurel menunjuk kebawah. "Takut lantai kotor karena rencana busuk kamu.” Aurel keluar lantas menutup pintu supaya Alya tidak curiga.
Skala menatap Aurel, “Gak nanya kenapa aku sampai sini?”
__ADS_1
“Emang penting?” tukasnya.
Pria itu tercenung. “Aku gak mau tunangan sama dia.”
Obrolan tidak berfaedah… Aurel bukan host acara televisi yang suka mendengar curhatan para artis.
“Maunya sama kamu,” lanjutnya sambil nyengir.
Sok yess memang. Tapi wajah tampannya tak menampik bahwa Skala mau diapakan juga tetap mempesona. Sudah genetik bahkan takdir keluarganya bening-bening.
Sudah! Kok malah muji-muji Skala sih? “Skala. Aku udah bilang kan, aku gak mau berurusan sama kamu.”
Wajah pria itu jadi serius. “Aku udah minta maaf. Kenapa sih kamu susah banget maafin aku? Aku sekarang lagi buktiin, kalo aku perjuangin kamu nih.”
“Perjuangin, bokong ayam…” gumamnya lirih. Ia menggeleng tidak percaya lalu menormalkan volume suaranya, “Aku males liat kamu.”
Begitu Aurel hendak masuk, Skala menariknya ke dalam pelukan. Ia sempat terkejut namun tidak lama.
“Skala. Lepas gak!” perintahnya.
Skala justru diam saja.
“Biarin gini dulu, Rel.”
Aurel melepaskan diri dan hendak menampar Skala, namun ia mengingat sedikit kebaikan yang pernah ditorehkan kepadanya. Aurel jadi urung.
"Kok gak jadi? Aku udah siap nih." Skala memajukan pipi sebelahnya, meledek.
“Pergi sebelum aku berubah pikiran.”
“Ini ada apa toh?” Alya melihat wajah mereka masam. “kamu kenapa, Aurel? Kok Skala mau ditampar?”
“Iya, biar setannya keluar,” jawabnya kesal.
“Gapapa, Bu. Biasa.. Aurel itu gemes sama Saya," jawabnya percaya diri.
Aurel mendecih, “Amit-amit.”
“Kalian lagi berantem ya?”
“Jelas!” sahut Aurel.
"Sedikit... tapi kita berantem manjah kok."
Omongan pria itu makin ngelantur kalau ada Alya. Akhirnya Aurel menyuruhnya masuk, "Ibu masuk dulu ya, aku mau ngomong sesuatu sama Skala.”
“Ibu mau ambil cucian.” Lalu Alya pergi ke rumah tetangga.
Skala mesem-mesem tanpa dosa, “Nikah yuk.”
Sungguh tidak tahu malu.
“NGIMPI!”
Brak!
Aurel masuk rumah dan menutup pintu sampai Skala terjengat. Ia mengusap dadanya untuk sabar.
"Sabar... kata Dewi Persik, semua akan indah pada waktunya."
Cklek'
Aurel membuka pintu sedikit dan kepalanya muncul, "Ngapain masih disini? Sana pergi!"
"Pergi kemana? Aku kan ngajak kamu nikah tadi."
"Udah deh... kamu jangan berharap."
"Eh jangan salah. Harapan pakai doa terus dicatat malaikat bisa jadi kenyataan."
"Emang iya?" Gawat kalau gitu mah.
"Ya tergantung TAKDIR." Setelah itu Skala tertawa di depan wajah Aurel. Ia bahkan senang sekali melihat Aurel kesal sambil menggigit bibir bawahnya menahan marah.
Aurel mengusap wajah Skala, "Moga-moga jin di tubuh kamu minggat!"
*Kurangajar dia. Masih kecil sudah mengira Skala kemasukan jin.
*
**ya gapapa juga sih... wkwk.
kan gatau juga endingnya bersatu apa gak.
Skala juga makin kesini, makin kurangajar.
Aurel makin kesini, makin bodoamatan.
dahlah. aku pusyeng mikirin nasib jomblo yg kerjaannya di rumah rebahan-makan-nonton tv-buka WA-nonton drakor-rebahan lagi.
__ADS_1
*ini author woyy😂😂***