
Mereka sedang berdiri tak jauh dari Skala yang bicara pada Gemintang dan Dina di boarding-gate. Nabila melirik Aurel yang tampak lesu, dia ikut menghela nafas bosan karena menunggu.
Pagi buta ini hanya Aurel, Nabila, dan Bintang yang menemani Skala ke Bandara karena jadwal take-off jam 4 pagi. Sisanya tidak ikut karena tidak dapat izin dari orangtua.
"Ini kita kayak manekin yang di Mall itu yak." Bintang sih kuat saja berdiri berjam-jam. Masalahnya itu, Nabila yang seperti cacing kepanasan. Dikit-dikit gerak kakinya, pindah ke kanan dan kiri.
"Diem lo, kaki gue kesemutan nih," ujar Nabila ngedumel.
"Kesemutan itu karena lo pernah bunuh semut, nah arwah semut itu yang gerayangin kaki lo." Bintang menceramahi Nabila.
Nabila tidak langsung percaya, "Mulut lo minta diulek?"
Aurel menoleh, "Ngarang kamu, Tang."
Bintang memeluk mereka dengan kedua tangan, "Gemes! Pengen gue peluk lo berdua biar gak bisa nafas."
"Serem amat lo. Jiwa psikopat lo mulai muncul," ucap Nabila curiga.
"Psikopat kok ganteng," cetus Aurel.
"Betul," sambar Bintang.
"Malah psikopat itu ganteng-ganteng," ujar Nabila. "diem-diem menghanyutkan."
Wajah Bintang ngenes, "Masa gue disamain sama t*i?"
Aurel tertawa, "Hahaha, bukan aku yang bilang ya."
Setelah berpamitan pada Skala, Gemintang dan Dina masuk untuk menunggu pesawat. Skala menghampiri mereka yang sedang tertawa. "Ini bahagia kenapa nih?"
Nabila orang yang pertama kali menyahut, "Bahagia liat adek ipar lo minggat."
"Oh iya," jeda Skala sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua amplop kecil yang jelas isinya bukan uang tunai. "tadi Sadira nitip ini, buat kamu katanya."
Aurel menerima amplop tersebut, "Kok ada dua?"
"Mungkin dari Gemintang juga," ujar Skala tidak tahu. Menurutnya tidak begitu penting untuk tahu isinya.
Aurel memasukkan amplop tersebut ke tas selempangnya. "Aku langsung pulang sama mereka ya, Skala."
"Iya, langsung istirahat ya." Skala memegang kepala Aurel.
Nabila menggandeng Bintang untuk mengarahkannya keluar Bandara dulu daripada melihat keromantisan mereka.
"Huh, akhirnya pindah juga si Medusa." Nabila terlihat lega.
"Seneng amat lo."
"Jelas lah. Gue gak bisa nafas tiap kali liat dia, sekarang gue bisa menghirup udara segar!" Nabila meremas tangan Bintang.
Bintang meng-aduh tanpa bersuara, "Sakit woi." Nabila cengengesan dan melepaskan tangannya dari Bintang. "gue harap habis ini gak ada masalah lagi."
Nabila berhenti di hadapan Bintang, "Bukan hidup kalau gak ada masalah, Tang."
__ADS_1
"Kok lo seakan-akan bilang, habis ini bakal ada masalah sih?"
Nabila mengeryit, "Semua udah takdir. Entah itu gue, lo, atau Aurel punya masalah. Intinya kita bertiga harus tetap pegangan mau gimanapun keadannya."
Bintang tersenyum kaku. Dia menggaruk kepalanya dan mengangguk, "Iya sih.. Pacar gue makin banyak masalah, makin dewasa."
"Memang masalah yang bikin kita dewasa."
"Ya tapi kalo masalah terus, botak ntar kepala gue, Bil."
"Lo kalo botak, gue viralin di GC kelas," ujar Nabila tertawa ngakak.
"Pacar laknat, Lo. Kudu dipeluk!" Bintang langsung memeluk Nabila dengan erat karena gemas.
Aurel dan Skala yang tidak sengaja melihat mereka langsung berhenti. Skala menutup mata Aurel dengan tangan kanannya, "Jomblo dilarang liat." Aurel diam saja saat matanya tertutup tangan Skala.
Skala menghampiri mereka, "Udah... hargai yang jomblo."
Bintang dan Nabila langsung menjauhkan diri masing-masing. Aurel membuka matanya karena tangan Skala sudah menyingkir, "Ayo pulang."
"Kalian langsung istirahat ya, besok sekolah." Skala langsung masuk mobil begitu pamit pada mereka.
Mereka bertiga pun masuk mobil dan pulang.
*
Keesokan paginya sebelum berangkat sekolah, rupanya Aurel dijemput Bintang pakai motor.
"Nabila gak masuk?" tanya Aurel sambil memakai helmnya.
Aurel mengangguk, "Udah, tapi Ibu udah kerja."
"Kirain belum pamit. Lo kan dulu keluar-masuk nyelonong, gak salam dulu."
"Sembrono, kalau orang jawa bilang," kata Aurel lalu naik ke motor.
"Udah?" tanya Bintang.
"Udah."
"Turun dong."
"Minta digampar?" candanya.
Bintang terkekeh, "Gak dong.." Dia menstater motornya lalu berangkat sekolah. Bintang tidak heran kalau selama perjalanan mereka tidak bicara, dia sudah hafal. Paling-paling Aurel bilang hati-hati, Tang ; Itu ada kucing, pelan-pelan aja ; jangan nyelip! .
Beda dengan Nabila yang memang berisik, apalagi suka menghardik. Sepanjang jalan Nabila lebih suka bercerita daripada diam, kecuali kalau sedang bad mood.
Setelah sampai, Aurel turun di depan gerbang, "Makasih."
Bintang menerima helmnya, "Lo abis ini mau ke perpus dulu gak? Mumpung masuknya masih lama."
"Gak deh. Mau langsung ke kelas. Tapi Nabila kenapa gak berangkat? Sakit?"
__ADS_1
"Bukan."
"Terus?"
"Katanya mau merayakan kemenangan."
"Lebaran kan masih lama."
"Lo lupa? Si Medusa kan udah pindah. Bagi Nabila udah kemenangan itu."
Aurel teringat amplop yang belum sempat dibuka karena sepulang dari Bandara langsung tidur.
"Seneng banget kayaknya."
"Nanti lo pulang sama gue, biar gue anter ke rumah Nabila. Mau gak?"
Aurel tersenyum, "Mau."
"Yaudah gue ke parkiran dulu," ujar Bintang lalu masuk ke halaman parkir di samping sekolah.
Aurel masuk ke kelas, untungnya sudah beberapa yang ada di dalam. Ia mengambil dua amplop di dalam tas dan membaca suratnya. Pertama, ia membuka amplop yang dari Gemintang. Yang Aurel temukan bukan tulisan dalam kertas, melainkan memory card. Dia tidak tahu apa maksudnya.
Tidak puas dengan isinya, Aurel membuka amplop dari Dina. Dia membuka kertas dan membaca satu kata yang tertulis di pojok kiri bawah.
MAAF
Tangan Aurel bergetar, ia meremas sisi kertas tersebut saking bahagianya. Meminta maaf itu hal yang sulit dilakukan Dina. Tapi sekarang dia mengucapkan itu... Aurel tidak menyangka.
"Rel, lo liat botol minum gu— Lah?" Bintang yang baru masuk hendak bertanya padanya justru bingung melihat Aurel menangis. "Lo kenapa nangis, beg*. Ini masih pagi."
Aurel memberikan kertas itu dan menunjuk tulisannya. Bintang kira dia menangis karena kenapa. Tapi wajar saja, secara Dina itu belagu tidak pernah minta maaf selama ini.
"Syukurlah, berarti dia tobat."
Aurel lega. "Botol minum kamu, masih di tas aku."
"Gue ambil ya?"
"Iya."
"Udah, lo dapet kata maaf aja senengnya minta digaplok."
Aurel tidak menggubris ucapan Bintang. Hari ini, adalah hari paling bahagia yang pernah ia rasakan.
**
**Author : Justru dari sini, masalah lu tambah banyak, Aurel
Aurel : Makin banyak masalah, aku makin ramping. Ambil positifnya aja :)
Author : Bener kata Bintang. Lu edan..
Aurel : Terserah kamu, aku lagi bahagia :)
__ADS_1
astagfirullah, yang nulis aja digininiinđŸ˜¬**