
Setelah hakim agung mengetuk palunya tiga kali sebagai akhir putusan sidang, Aurel yang melihat Bintang jadi saksi di sidang tersebut tidak mengerti. Orang yang duduk di kursi Terdakwa harusnya tidak ada, karena terduga pelaku sudah meninggal. Namun alangkah terkejutnya mereka saat seorang pria berumur 40-an masuk ke ruang sidang dan meminta jaksa untuk menjadikan ia terdakwa.
Memukau lagi, itu adalah Ayah Shiren— suara yang berhasil diselidiki Bintang, Ghaisan, dan Fina dari CCTV TKP. Aurel hanya membantu, mereka sudah bekerja keras sampai mengurangi waktu tidur.
Shiren menutupi semua perbuatan Ayahnya karena diancam tidak diakui sebagai anak. Oleh sebab itu dia menggila begitu tahu Juli meninggal dan pelakunya adalah Ayahnya dan kaki tangan dari Perusahaan. Kini, Shiren dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena mengalami depresi berat dan halusinasi.
Akankah, mereka bisa bernafas lega setelah sidang selesai? Aurel, Bintang, Nabila, Ghaisan, Fina, Skala, Yuan, dan yang lainnya tidak bisa melupakan rentetan kejadian yang menimpa mereka sampai puluhan tahun kedepan.
Mereka merasa bersalah karena tidak bertanya terlebih dahulu pada yang bersangkutan, apa masalah mereka dan apa yang bisa kita bantu. Mereka terlalu egois karena rasa bersalah di hati tanpa tahu kalau orang lain lebih tersakiti.
Benar kata mereka, Aurel kini sadar dengan perbuatannya. Ia ikut andil atas kematian Damar dan Juli, namun ia berusaha memperkuat pondasi ketegaran supaya tidak membahayakan kesehatannya.
"Ayo pulang, Rel." Bara menepuk bahu Aurel karena belum beranjak sejak tadi.
Aurel mendongak pelan, "Aku mau ke suatu tempat. Kamu duluan aja."
"Jangan ke jembatan, atap, sungai, apalagi—"
"Bara... Aku mau ketemu Juli, pas di Rumah Sakit sampai pemakaman kan aku belum liat dia.."
Bara mengangguk. "Abis dari sana langsung pulang ya."
Aurel berdehem, "Iya. Aku minta uang buat beli bunga." Tangannya menengadah siap menerima uang berapapun dari Kakaknya. Ini semua karena ia tidak kuliah selama 2 hari, makanya tidak dapat uang saku.
Bara membuka dompetnya lalu memberi uang pada Aurel. "Gak terima kembalian. Aku gak jualan." Dia langsung pergi sebab ada urusan lain juga.
Aurel melirik Kakaknya yang tidak berubah. Bara yang dingin, tidak akan cair walaupun bersama orang yang dia sayang. "Nanti kalo punya istri, istrinya jadi es juga karna ngerasain dinginnya." Ia terkikik dan kembali dengan raut wajah biasa mengingat banyak acara hari ini.
...ΩΩΩΩ...
Sidang telah usai, mereka berkumpul di rumah Skala untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Pekan depan, Yuan pulang tapi harus rawat jalan di Rumah Sakit." Skala memulai pembicaraan ditengah kelelahannya.
"Kampus besok aktif, kan?" tanya Nabila melenceng.
"Ya," singkat Skala.
"Gimana, Rel? Lo udah siapin jawaban buat pernyataan Yuan waktu itu?" tanya Bintang sambil menggunting kukunya yang sudah panjang.
Nabila bertanya, "Pernyataan? Bukan pertanyaan?"
"Iya. Yuan kan pernah nyatain perasaannya sama Aurel."
__ADS_1
Yang ditanya justru pikirannya di tempat lain. Saat ia melihat yang lain, mereka tampak penasaran dan ia sudah tahu kalau ada pertanyaan. Tapi karena ia linglung, jadi ia masih diam. Untungnya... Bara menelepon, menyelamatkannya dari tatapan penasaran.
"Aku tadi bilang langsung pulang, kan? Harusnya, dari setengah jam yang lalu kamu pulang. Perjalanan dari Pengadilan ke Makam 30 menit, terus kamu disana paling 10 menit, pulang 30 menit. Ini udah sore, kamu dimana? Aku jemput sekarang."
Aurel tidak sengaja me-loud speaker telepon sampai kawan-kawannya melongo.
"Iya, Bara... Aku sebentar lagi pulang. Kamu boleh teliti ngajar, tapi gak usah jelasin jarak waktu kayak rumus matematika bisa kan?"
"Cepetan pulang!"
Aurel menarik nafas sebelum mematikan telepon. Ia pamit pada semuanya, "Aku pulang duluan, maaf."
"Oke.." jawab Bintang disusul yang lain merasa tidak pa-pa. Bara sudah mengoceh, artinya dia kesal.
[45 menit yang lalu]
Aurel menaruh bunga di samping nisan Juli. Ia lantas berdiri dan menunduk mendoakannya.
"Semoga kamu bahagia disana. Aku iri, kamu gak akan menghadapi masalah di dunia lagi. Maaf, aku baru temuin kamu sekarang. Butuh keberanian buat ketemu kamu. Makasih buat semua kenangan yang kamu kasih, makasih buat hati yang udah kamu kosongin sedikit buat nempatin aku. Dan makasih juga, berkat kamu, aku tau cinta yang sesungguhnya."
Beberapa pekan lalu ia dan Juli sempat berdebat mengenai hubungan mereka.
"Ayo, kita bilang ke semuanya. Supaya jelas!"
"Jul, kamu jangan egois gini. Kita masih bisa bersahabat walaupun saling cinta."
"Skala gak ada hubungannya disini."
"Terus apa yang buat lo ragu?"
"Shiren."
"Apa?" Juli terkejut mendengarnya, sampai-sampai cekalan tangannya di pergelengan tangan Aurel mengendur.
"Dia sayang kamu melebihi status sepupu. Aku tau, aku dengar semua pas kamu jenguk dia."
Oleh karena itu, mereka menyembunyikan perasaan masing-masing ketika bersama yang lain. Mereka hanya memberi kode jika hendak bertemu di lain tempat agar yang lain tidak curiga.
Yang namanya rahasia, sebentar atau lama akan tercium baunya. Shiren tidak lama mengetahui hubungan mereka dan marah menyeruak di hatinya.
Perselisihan Juli dan Shiren makin kuat karena kesalahpahaman dengan Aurel. Inilah yang menjadi kesempatan Ayah Shiren untuk membalas rasa sakit anaknya dengan membunuh Juli, namun kematian Damar sebenarnya tidak ada dalam motifnya. Ia membunuh Damar karena pria itu berusaha menyelamatkan Juli dari tikaman.
Begitu yang ia dengar dari pengakuan tentang motif penikaman terhadap Juli. Diantara semua masalah hidupnya, ini adalah yang terberat. Juli mungkin sudah tenang disana, tapi tidak dengan mereka yang berusaha menutup luka dan membiarkan untuk lanjut hidup seterusnya.
__ADS_1
Nabila juga berkata tidak akan bahagia kalau masalah ini diungkit dikemudian hari oleh siapapun diantara mereka. Oleh karena itu, mereka membuat perjanjian lisan untuk tidak mengungkit kematian mereka demi menghormati keluarga mendiang.
[1 Bulan Kemudian]
Keadaan kembali normal. Mereka yang kuliah dan bekerja menjadi fokus karena perlahan kasus itu hilang dari pandangan wartawan.
PMM yang dilakukan Aurel, Bintang, dan Nabila sudah tidak ingin mereka lakukan untuk satu alasan jelas. Mereka belajar sendiri di rumah seperti mahasiswa biasa, tapi untuk nilai mereka berusaha agar maksimal.
Tok Tok Tok
"Aurel?"
Gadis itu membukakan pintu setelah Ibunya mengetuk pintu.
"Kenapa, Bu?"
"Ini udah jam berapa?" tanya Alya melirik jam di kamar anaknya.
Aurel ikut lihat dan menjawab, "Baru jam 11."
"Baru? Pikiran kamu butuh istirahat..."
"Sebentar lagi ya."
"Yaudah, jam setengah 12 harus udah tidur ya."
Aurel mengangguk. "Ibu kenapa belum tidur?"
"Ayah kamu belum pulang."
"Ayah? Belum pulang?" ulangnya.
Alya mengangguk. "Kayaknya banyak pasien makanya lembur. Udah biasa sih.. Tapi Ibu abis ini mau tidur kok."
"Ohh gitu. Bara juga belum pulang?"
"Kamu tenang aja, Ayah sama Bara ada di Klinik lagi kerja."
"Iya, Ibu..." Aurel tidak menampik rasa khawatir di lubuk hatinya.
Alya mengusap rambut anaknya lalu pergi ke kamar. "Ibu tau kamu masih takut karena kejadian itu," batinnya iba.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jadi jelas ya kalo Aurel udah berpindah kelain hati... Sebenernya dia takjub sama Juli semenjak dia denger pas jenguk Shiren di hari Juli hanyut...
Kasian Skala jadi sad-man.. wkwk, tapi karna Juli udah dead dan cintanya Aurel gak tau arahnya kemana, kita liat aja nanti 😄