
Pria itu terduduk di pinggir jalan karena memeriksa drone yang tadi ia tinggalkan begitu saja.
"Syukurlah gak lecet," gumamnya lega.
Aurel dan Nabila duduk berjejeran di sebelah pria itu sebab disuruh menunggu. Mereka lega juga karena drone-nya tidak rusak, itu artinya mereka dibebaskan dari tuntutan ganti rugi.
Nabila berdecak, "Lo masih suka nahan orang begini?"
Aurel menyenggol lengan Nabila dan berbisik, "Drone-nya beneran gapapa kan?"
"Gapapa. Kalo rusak, gue bisa minta Bintang buat beliin. Kan dia holkay," ujar Nabila terkikik.
"Bintang?" beo Abram, pria yang tadi menyelamatkan mereka. Si Abram ini adalah seorang Polisi, dan merupakan teman yang dulu dinyatakan hilang karena penculikan. Entah bagaimana caranya dia bisa kabur dari penculik dan kembali menjadi polisi, mereka tidak tahu.
Abram ini, dapat dikatakan adalah mahasiswa junior saat mereka masih kelas 2 SMA. Pertemuan mereka tidak mengenakkan karena saat itu Nabila sedang merundung Aurel, lalu Abram datang dan mengantarnya pulang. Lalu, beberapa hari kemudian saat Aurel menunggunya di Halte, justru yang terlihat adalah brosur fotonya yang dinyatakan hilang.
"Kalian beruntung," ujar Abram sambil menoleh. "Drone-nya baik-baik aja."
"Kamu baru-baru ini ngintai aku?" tanya Aurel.
"Turut berduka cita," ujar Abram tiba-tiba.
"Iya," jawab Aurel.
"Lo agak nyeremin jadi Polisi," ujar Nabila. "Tapi, makasih juga udah mau nolong gue."
"Saya nolong Aurel," katanya sambil berdiri.
Nabila menghembuskan nafas kesal, "Yang penting gue juga selamat." Ia bergumam pelan lalu menjawab dengan bahasa formal, "Makasih Pak Polisi atas perlindungan anda. Kami permisi."
"Aurel," panggil Abram ketika Aurel hendak ditarik Nabila untuk pulang.
Ia berhenti dan menoleh, "Ya??"
Abram merasa lega karena sesuatu yang berharga untuknya sudah ditemukan. "Gak. Hati-hati di jalan."
Nabila menatap Abram malas dan mencaci makinya di jalan, "Ciri-ciri orang tertutup hatinya begitu, suka banget nuntut ganti rugi. Dia nih, kalo bukan Polisi bakal gue bejek-bejek jadi rujak. Kenapa juga dia bisa balik padahal dulu jelas-jelas ilang, sampe mukanya ada di tiap tiang listrik. Gue ogah ketemu dia lagi, Rel. Badan gue merinding kayak disengat belut listrik kalo ketemu. Gue curiga dia bukan Polisi, gimana mau mengayomi masyarakat kalo cara ngomongnya aja kayak gitu."
Aurel tertawa, "Udah, jangan maki orang."
"Itu FAKTA. Pangkatnya apa?"
"IPDA, mungkin. Dia pernah bilang mau masuk AKPOL, rata-rata keluaran sana pangkatnya IPDA."
"Duitnya banyak gak tuh?"
"Katanya banyakan Bintang..." ujar Aurel.
"Emang sih..."
"Badan kayak bambu, pake parfum empat kilo. Lo nyium baunya sampe sini gak sih?" Nabila menepuk lengan Aurel karena sejak disamping Abram tercium wangi parfum khas yang menenangkan.
Aurel mengangguk sembari mengendus, "Kok iya sih? Tapi jarak dati gang tadi harusnya udah ilang wanginya. Kok masih ada ya?"
"Pake parfum apaan sih tuh orang? Baunya enak, tapi gak sepadan sama wataknya."
"Kenapa kamu terus-terusan maki saya?"
"Eh ayam!" latah Nabila sambil mengusap dadanya. Ia lantas berbalik diikuti Aurel, "Lo ngagetin gue..." Nada suaranya sengaja ia rendahkan karena tertangkap basah memaki Polisi.
Abram ternyata mengikuti mereka sampai gang depan.
"Gue pulang duluan, Rel. Dahhh." Nabila ambil langkah seribu dan masuk taksi yang ia pesan sebelumnya.
Aurel menatap Abram yang menatapnya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Kamu kira kenapa lagi?"
"Hutang cerita gimana kamu bisa pulang, terus tiba-tiba jadi Polisi."
Abram mendesah sebal, "Lain kali ceritanya. Pulang sana, saya mau pulang juga."
"Oke." Aurel berjalan. Baru tiga langkah, ia merasa Abram mengikutinya. Lantas ia berbalik dan bertanya, "Rumah kamu pindah?"
"Nggak."
"Terus?"
"Antar kamu pulang dulu."
"Gapapa, kamu pulang aja."
Di luar sana Nabila pasti tidak bisa tidur nyenyak karena Abram kembali. Abram adalah orang dengan watak terburuk, menurutnya. Sebenarnya watak dingin di dalam cerita terlihat menarik, tapi aslinya.... "Pengen gue tabok mukanya," batin Nabila. Semua orang memimpikan pasangan yang ramah tamah, bukan dingin mirip es dalam freezer.
"Liat aja lo, Abram... Kalo sampe idup gue gak tenang, orang pertama yang bakal gue cari itu, lo!" cercanya blak-blakan di dalam kamar.
"Kalau sampai saya liat kamu sakitin Aurel. Impian kamu buat jadiin saya psikopat akan segera terwujud."
Bulu kuduk Nabila menegang kala Abram beberapa tahun lalu berkata demikian. Memang dulu, Nabila sempat mengatainya Psikopat karena anti sosial dan jarang tersenyum, tampak seperti mempunyai beban hidup yang amat berat.
"Emang dasar lo psikopat! Gak usah nunggu gue nyakitin Aurel, lo bakalan bunuh mental gue, Bangsul."
Membayangkan wajahnya saja ia merinding. Kalau sampai ucapan dia benar, ia tak tahu potongan tubuhnya ditemukan oleh siapa nanti.
"Kerjaan dia gak sampe ngitung batu di rel kereta. Tapi kenapa kayak beban hidupnya banyak?" gumam Nabila mulai eror.
Beralih ke Aurel. Ia sudah diantar Abram, sebelumnya Abram bilang ingin bertemu Alya untuk memperkenalkan diri, namun Aurel mencegahnya karena ada Ayahnya dan Bara yang siap 1x24 jam menginterogasi pria kenalan Aurel.
"Ya udah. Saya pulang."
Beruntungnya lagi Abram bukan tipe pria pemaksa seperti kebanyakan sahabatnya.
"Hm."
'Tring
Notifikasi pesan dari ponsel Aurel dan Nabila bunyi bersamaan pada pukul 05.20. Pengirimnya sama, si Pemilik Drone semalam.
Isinya adalah, sekitar 10-15 menit lagi saya jemput kamu. Kasus penculikan belum selesai, disamping itu saya harus pastikan berat badan kamu gak naik 10 kilo dalam waktu satu bulan. Ayo, kita olahraga lalu susun rencana buat tangkap pelakunya. Kasus ini 15 hari lagi dibekukan karena kurangnya bukti dan saksi, saya harap kamu mau membantu.
Nabila memukuli bantalnya berulang kali. "LO GAK WARAS! BANGUNIN GUE JAM SEGINI?! SIAL*N LO, ABRAM! GUE CEKEK JUGA LO NTAR!"
'Tring
Nabila diam dan mengatur nafasnya yang emosi, dia membaca pesan dari Abram lagi. "Waktu kamu 5 menit lagi buat siap-siap. Jangan maki-maki saya terus, kualat kamu nanti." Seketika ia melotot dan menahan nafas, melihat sekitar kamarnya karena merasa dimata-matai. "KOK DIA TAU?! JANGAN-JANGAN ADA CCTV RAHASIA? Gak mungkin, orang kek gitu mana ada napsu."
Tunggu, 5 menit? Dasar---
Aurel memang sudah bangun sejak 10 menit yang lalu untuk jalan santai di sekitar komplek. Adanya pesan tersebut, ia justru senang karena ada teman.
"10 kilo? Dia pikir aku makan sebanyak itu?" decak Aurel. Ia geleng-geleng kepala dan menunggu di luar.
[15 Menit Kemudian]
Aurel berdiri dari duduknya karena melihat Abram datang dengan langkah terseok akibat menggendong Nabila di punggungnya.
"Mamam lo, makanya jangan maksa gue olahraga." Lucunya, Nabila justru memukul punggung Abram yang kaosnya basah karena berkeringat. Ia mencium telapak tangannya, "Lo kok masih wangi sih?!" omelnya tidak terima.
Abram melepaskan tangan hingga Nabila jatuh ke aspal. "Liat," tunjuk Abram ke gadis yang sedang duduk miring karena bokongnya sakit. "Kamu berat banget." Ia juga meregangkan pinggangnya ke kanan dan kiri.
"Lama-lama gue aduin lo ke Bintang. Ini namanya penganiayaan," cerca Nabila lalu berdiri.
__ADS_1
"Kita mau olahraga apa? Dimana?"
"Di Komplek sini, sambil liat lokasi yang pernah jadi target pelaku."
"Setuju," ujar Aurel.
"Gue kagak. Gue ogah. Gue capek."
Abram protes. "Kamu baru lari 5 menit langsung gletak di jalan kayak mau pingsan. Saya yang diliat orang lalu lalang, dikira saya nyakitin kamu."
Nabila melotot tidak percaya. "5 menit itu lama, Bram. Gue beneran capek, karena lo larinya udah kayak atlet nasional."
Abram langsung diam.
"Udah. Kalian sama-sama salah," putus Aurel. "Kita jogging aja sambil, kalo Nabila capek, kamu ngalah, kita istirahat sebentar. Gimana, Bram?"
"Terserah." Ia memakai tudung jaket lalu jogging duluan.
Nabila meninju Abram dari kejauhan. "Gedek gue. Kenapa lo harus balik kesini sih? Udah bener lo diculik, terus ilang."
"Nabila..." tegur Aurel.
"Aurel..." balas Nabila. Mereka tertawa dan mengejar Abram yang sudah agak jauh melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Abram memotret beberapa tempat dengan ponselnya, membiarkan para gadis duduk di emperan untuk minum.
"Kalian jadi saksi di Pengadilan mau kan?"
Awalnya mereka tidak dengar karena asik tertawa membicarakan sesuatu.
Abram mengerjap dan balik badan untuk memanggil mereka. "Aurel, Nabila."
Mereka berdiri malas-malasan. "Pulang ya? Akhirnya lo punya empati sesama manusia," ujar Nabila berucap syukur dalam hati.
"Saya mau kalian jadi saksi di Pengadilan," ulang Abram. "Kalian liat wajah pelaku kan? Kita bisa bikin sketsanya."
"Gak bisa," tolak Nabila. "Lo tau kan gimana perasaan kita di Pengadilan sebelumnya?"
"Memangnya kenapa?" tanya Abram.
"Butuh waktu buat ngomong di depan hakim. Kematian Juli sama Bokapnya Damar gak ada hubungannya sama penculikan disini, jadi, gue sama Aurel gak akan kasih kesaksian apapun."
"Kamu ada bukti? Kamu tau, semua korban tewas di jam yang sama. Terus kemarin dia mengincar kamu karena kebetulan mau ke rumah Aurel, saya sampai dipindah tugaskan ke Pusat untuk menangani kasus ini. Kalian gak bisa bersaksi?"
"Gak," sela Aurel.
Nabila bangga dengan jawabannya.
"Kenapa? Kalian percaya kalau ini gak ada hubungannya dengan kematian Juli dan Pak Damar. Apa yang buat kalian takut?"
Mereka mulai debat panas di gang orang.
"Kalian mau tidur nyenyak?"
Aurel mengangguk polos. Sedangkan Nabila menggeleng keras, "Lo balik udah bikin tidur gue gak nyenyak."
"Saya serius."
"Kalian bantu saya. Bisa?"
Aurel dan Nabila saling pandang untuk saling transfer jawaban.
"Bisa, kan?"
Bersambung...
__ADS_1
Ntar gue kasih visual Abram Nugraha Rasetya. Okay?