SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Suara Dari CCTV


__ADS_3

Sidang akan dimulai 2 hari lagi setelah 6 hari lalu mereka diwawancarai pihak kepolisian. Mereka was-was jika ada salah kata yang disampaikan sebelumnya. Pengumuman pihak Kampus menjadi banyak kontra karena diliburkan untuk kepentingan kasus. Para mahasiswa banyak yang kecewa dengan pilihan ini karena mereka akan belajar mandiri di rumah selama 2 hari, kecuali Perpustakaan dibuka 24 jam.


Tidak banyak yang tahu kalau Perpustakaan BU2 banyak pengunjung yang bukan merupakan mahasiswanya karena saking luas tempat itu. Banyak juga yang mengatakan, kalau itu sudah menjadi Perpustakaan Kota.


Pandangan demi pandangan sangat menganggu Aurel kalau ia tidak sengaja berpapasan dengan teman se-angkatan di luar rumah. Entah di jalan, kafe, bahkan mall.


Bintang dan Nabila tidak akan sempat memikirkannya karena mereka juga sibuk menyiapkan rangkaian kalimat untuk berhadapan dengan Polisi.


Aurel baru saja keluar dari Toko depan gangnya setelah membeli perlengkapan bulanan. Cuaca dingin akhir bulan membuat Aurel memakai jaket dan celana panjang.


Dalam hatinya ia tak ingin mengungkit kematian mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka membutuhkan kesaksian mengenai Pelaku.


"Berapa orang yang mau kamu bunuh?"


Gesekan sandal Aurel terhenti mendengar pertanyaan aneh dari orang di belakangnya.


"Mau berapa lagi, Aurel?"


Ia balik badan karena sudah tahu kalau itu Shiren. "Gak ada." Ia harus waspada karena Shiren belum sembuh sejak Juli hanyut. Ditambah situasi sekarang, ia tak yakin bisa membuat Shiren mengerti.


"Pak Damar bangkrut, Juli sama Rumi hanyut. Terus sekarang... mereka udah MATI!!" jeritnya cukup menarik perhatian pelanggan Toko yang lain.


"Nggak! Aku gak ngelakuin semua itu!"


"KAMU, REL! KAMU YANG BUNUH MEREKA!"


"Aku— gak tau apa-apa, Shiren."


"Rumi betul. Kamu penyebab masalah disini, harusnya kamu yang tanggung semua! BUKAN MEREKA!"


"Aku...? Yang harus tanggung jawab?" Aurel tidak suka dan memberanikan diri menatap Shiren. "Kamu yang nyusahin Juli selama ini."


"A— Apa?"


"Aku gak lupa kamu kasih tau aku. Di hari Juli jenguk kamu, aku denger semua pengakuan kamu, Shiren. Kenapa gak dari awal?"


Shiren mematung dengan air mata bercucuran. Lidahnya kelu untuk menjawab.


"KAMU BILANG, AKU SUKA SAMA KAMU! KENAPA KAMU GAK PERNAH BISA BERPALING DARI— AUREL... Itu kan?"


Shiren histeris sambil duduk di aspal membuat orang lalu lalang menoleh ke mereka. Dia menutup kedua telinga sambil memanggil nama Juli.


Aurel tidak tahu harus berbuat apa. Ia lantas menghubungi Bara dengan tangan gemetar.


"AKU BENCI KAMU, AUREL!"


Aurel yang sudah kalangkabut itu pun ngelantur saat Bara menjawab teleponnya.


"Aku gak ngelakuin apapun, Kak. Aku— Aku gak bunuh mereka kan? Shiren disini aku bingung harus ngapain, orang-orang ngira aku bikin Dia histeris, Kak!!!"


Bara tidak menjawab karena ia langsung pergi ke Toko dekat pinggir jalan karena pasti banyak orang yang menonton mereka.


"Itu bukannya Pacar Presdir?"


"Bukan. Dia yang kemarin jadi saksi kasus pembunuhan."


"Kenapa mereka berantem di pinggir jalan?"


"Gue denger, katanya si cewek yang berdiri yang bunuh mereka."


"Gak mungkin. Lo gak liat dia agak gila? Ngomongnya aja gak beraturan."


Aurel tidak tahan lalu menyuruh Shiren berdiri. "Aku gak salah! Aku juga bakal cari tau kenapa mereka dibunuh! Bisa gak kamu jangan cari perhatian orang-orang?!"


Shiren menolak dibantu berdiri dan malah makin menjadi. "KAMU YANG BUNUH MEREKA, AUREL!"


Aurel tersungkur ke jalanan karena didorong Shiren.


"Dia pasti udah gila.."


"Itu ada mobil!"


Aurel dan Shiren sempat bertatapan selama beberapa detik. Tatapan mereka sama-sama karena hancur ditinggal orang yang disayangi. Tapi bukankah, kejadian ini tidak bisa diulang dan dicegah? Bukankah ini sudah kehendak-Nya? Kenapa ia tersudutkan hanya karena omong kosong orang yang mentalnya terganggu?


TINNNN


"AUREL!" teriak Shiren lalu memejamkan matanya.


Aurel memejamkan matanya juga namun karena suara orang-orang yang terkejut dan ia tidak merasa tertabrak sesuatu, akhirnya ia membuka mata dan melihat Bara menghadang mobil yang hampir menabraknya. Setelah mobil tersebut mundur untuk ambil jalan lain dan pergi, barulah Bara mendekati Aurel.


"Kenapa? Shiren kenapa bilang gitu?"

__ADS_1


Aurel mencengkram kedua lengan Bara. "Bawa dia pergi dari aku, Bar."


"Kamu gak salah, Aurel."


"SEKARANG!" Sebelum Shiren mengatakan omong kosong pada orang banyak.


Bara mengumpat karena mereka sangat sulit dikendalikan kalau sedang kumat. Yang satu mentalnya terganggu, satu lainnya paranoid.


Untungnya ia membawa Alatas juga, dia tertinggal karena disuruh berlari dari rumah ke depan Gang. Anak kurangajar, batinnya.


"Ayah, bawa ke rumah kita aja kali ya?" tanya Bara.


"Jangan. Kamu anterin Shiren ke rumahnya." Kalau mereka bersatu, akan mudah menghancurkan rumah karena perang.


"Oh, iya. Pamit ya, Yah."


"Hati-hati!"


Bara mengantar Shiren pulang naik taksi. Sangat kentara gejala depresi berat setelah melihat Shiren bicara sendiri mengenai Juli.


"Kamu kenapa gak pulang, Jul? Sebentar lagi tahun baru. Kamu janji ajak aku nonton film. Iya kan?"


Bodohnya lagi Bara menjawab. "Shiren, udahlah." Ia langsung mengulum bibir untuk mengunci mulutnya.


"Apa? Kamu gak tau Juli nanti pulang?"


Bara menghela nafas. "Berapa menit lagi, Pak?" tanyanya pada pengemudi taksi.


"Kurang lebih 10 menit, Mas."


Bara kembali meladeni Shiren. "Kalian gak perlu merasa bersalah. Setelah sidang, pelakunya pasti hadir jadi terdakwa."


Shiren tertidur sejak Bara merasa kepala gadis itu jatuh di pundaknya. Mereka memang perlu istirahat cukup.


...ΩΩΩΩ...


"HAH? SHIREN KUMAT LAGI?"


Ghaisan menyuruh kembarannya mengecilkan suara karena sedang sibuk mengumpulkan barang bukti bersama Bintang.


Tapi maklum saja karena Fina dihubungi Bara yang ternyata mengantar Shiren ke rumahnya.


"Bawa aja ke RS tempat Bokap elu, Bar. Daripada gitu terus," komen Fina.


"Jujur aja, gue tau dia terpukul. Tapi kan dimana-mana harus ikhlas."


"Ini Aurel aja insomnia akut. Semingguan cuma tidur 3 jam, tiap siang mimisan."


"Gimana ya? Gue, Ghaisan, sama Bintang lagi ngumpulin barang bukti. Tapi... ada yang gue gak ngerti sama CCTV di TKP."


"Kenapa? Bilang aja supaya bisa bantu."


"Mereka memang dibunuh... 2 orang."


"Hah? Coba jelasin yang lebih spesifik."


"CCTV gak muncul gambar apapun. Cuma suaranya aja."


"Bisa gitu?"


"Kayaknya, ada yang nutup lensa sebelum kejadian makanya cuma suara aja yang kerekam. Ghaisan udah cek siapa aja yang suaranya ada disana, ada satu yang asing. Gue gak pernah denger suara itu."


"Ghaisan? Bintang?"


"Mereka juga bilang gak pernah denger suara itu."


"Bisa kirim potongan suaranya?"


"Mau diapain? Jangan bilang—"


"Siapa tau Shiren atau Aurel pernah denger."


"Coba dulu gak masalah kan ya."


"Iya."


Selesai bicara, Fina memukul punggung Ghaisan. "Lo seharian nunggu di depan komputer, ternyata cuma suaranya, gak sama gambarnya."


"Ya mana gue tau..." sewot Ghaisan.


"Kita nemu suaranya aja udah beruntung," ujar Bintang.

__ADS_1


"Lo sering kesini tanpa Nabila, udah putus?" tanya Fina.


Bintang berdecak, "Lo gak perlu mikirin hubungan gue.. kita masih saling cinta. Cuma.. sekarang gue lebih banyak peran aja ngehibur dia."


"Ahh, gue bukan angkatan kalian makanya gak tau kejadian jelasnya kayak apa. Sori." Fina tahu minta maafnya telat, tapi ini bisa menebus rasa bersalah.


"Lo fokus aja cari suara itu, gue sama Ghaisan biar rundingan soal barang bukti."


Fina kembali menyadarkan dirinya. "Bener juga lo. Bara minta potongan suaranya, udah gue kasih. Katanya barangkali Aurel atau Shiren pernah denger."


"Ya, gapapa."


Fina mengambil ponselnya di atas meja dan menunjukkan nama Bara kepada mereka.


"Kalo gak darurat, Bara gak akan nelpon lo," cerca Ghaisan ada benarnya.


Fina memeletkan lidah dan menjawab telepon dari Bara.


"Aurel pernah denger suaranya."


"HAH! KOK CEPET BANGET? Siapa coba, kasih tau gue!"


"Berisik amat lu, Vin!" kesal Ghaisan.


Fina menoyor kepala adiknya, "Diem lo! Aurel pernah denger suara yang kita gak tau!"


Ghaisan langsung bungkam.


"Aurel bilang, dia pernah denger suara itu pas telfonan sama Juli."


"Gue butuh penanganan Dokter kejiwaan kayaknya," ujar Fina dramatis. "Kapan dia dengernya, lo udah tanya?"


"Aurel kurang yakin, dia bilang pas Juli di luar negeri."


"Jauh banget sama kejadian ini. Aurel kurang yakin apalagi gue..?" gumam Fina bingung setengah mati.


"Coba nanti Aurel ingat-ingat lagi, udah dulu ya."


"Makasih, Bara yang ganteng tuj—" uh turunan kalo nikah ama gue hartanya buat gue, sambungnya dalam hati. Kakinya mencak-mencak kesal karena belum selesai bicara sudah ditutup sambungannya. "Lo berdua kapan selesainya?"


Bintang berdehem cukup panjang, "Setengah jam lagi."


"Gue denger Kampusnya diliburin. Seneng banget dong?"


Ghaisan menoleh tajam. Tidak tahu atau pura-pura tidak tahukah dia kalau Kampus BU2 diliburkan karena situasi yang tidak nyaman akibat pemberitaan mengenai rekan Presdir dibunuh?


Fina mengangguk dan meninggalkan mereka karena salah bicara.


"Kita harus cari siapa pemilik suara itu... Kita harus bawa Aurel kesini," ujar Bintang.


Fina kembali lagi ke hadapan mereka. "Kita butuh konsultasi Dokter kejiwaan abis kasus ini tuntas."


"Kok lo bilang gitu?" tanya Ghaisan.


Fina menunjuk Bintang, "Udah kaga waras. Aurel masih belum stabil mau lo bawa kesini? Belum pernah dihajar Bara?"


Ghaisan menyangkal, "Setau gue dia dingin banget. Apalagi kalo marah, palingan cuma datarin muka."


Bintang setuju pada Ghaisan, "Hm. Gue rasa, Bara tau maksud kita. Aurel juga gapapa, selagi ada gue dia percaya bakal baik-baik aja."


Fina diserbu dua pria di rumahnya sendiri. Huh, mengenaskan.


"Yaudah. Bawa aja Aurel kesini, tapi kalo sampe dia kenapa-napa, kalian jadi target gue."


Ghaisan terkekeh, "Lo kalo marah gak seserem Nabila tau gak."


Bintang mendelik tajam, "Cewek gue itu."


"Istirahat sana... kalian udah kerja keras, lho. Jangan sampe tumbang," ujar Fina lantas pamit ke kamarnya untuk rebahan.


"Gue masih penasaran siapa yang ada sama Juli pas dia di Luar Negeri," ujar Ghaisan berusaha berpikir.


"Besok kita tanya Aurel. Dia kritis, kita harus lebih kritis."


"Iya lah."


"Lo mau ngapain kalo kita nemu orangnya?"


"Gue mau dia hadir jadi saksi di sidang nanti. Lo, gimana?"


"Gue bukan jaksa atau hakim yang bisa vonis hukuman. Tapi kalo boleh ngajuin, gue mau dia dihukum seumur hidup."

__ADS_1


"Gue juga berpikir sama."


BERSAMBUNG...


__ADS_2