
Aurel, Bara, dan Ranu sampai di pekarangan rumah Skala yang hening. Bak di film-film horor, kini Aurel merasa merinding karena sudah senja juga. Tapi pikiran tentang hantu atau makhluk sejenisnya langsung buyar ketika Bara menjentikkan jarinya di depan wajah Aurel.
"Ngelamun mulu, udah mau maghrib." Bara memperingatinya.
Aurel mengangguk takut dan mencengkeram sisi baju di pinggang Bara. Ranu yang tetap digandeng Bara hanya terkikik geli melihat Aurel nampak ketakutan.
Gedubrak!
Aurel memeluk pinggang Bara sambil komat-kamit membaca al-fatihah.
"Apaan sih? Ini rumah Skala, bukan rumah hantu!" Kesal karena pinggangnya dipeluk Aurel, dia menyahut.
Aurel akhirnya melepas tangannya dari pinggang Bara. "Itu suara apaan?"
"Siapa tau ember jatuh, atau Skala yang jatuh."
"Eh, ngomongnya..." tegur Aurel geleng-geleng kepala.
Lantas setelah mereka sampai di depan pintu rumah Skala. Bara yang mengetuk pintu dengan was-was. Ini gara-gara Aurel yang bereaksi berlebihan karena suara debuman dari dalam rumah.
"Assalamu'alaikum..." ujar Bara.
Aurel memencet bel rumah dan tidak lama Skala keluar sambil menggeret dua koper. Penampilannya seperti mandi keringat, bajunya berantakan.
"Skala, mau kemana? Kita kan udah janji mau-"
"Mbak Sofi sama Bang Andre bunuh diri."
Glegarrrr~
Bak disambar petir, wajah Aurel pias. Ia melihat Bara yang diam seperti manekin. Sedangkan Ranu yang sejak awal belum diceritakan siapa orangtua kandungnya hanya bingung melihat ekspresi mereka.
"Bu-bunuh diri?" tanya Aurel sekali lagi.
Skala mengangguk. "Iya." Pria itu melirik Ranu, "mereka... meninggal."
"Apa?" Bara terlihat tidak terima. "mereka bunuh diri, terus meninggal? Gampang banget mereka nyari jalan keluar."
"Bara, ini bukan waktunya buat marah. Kita ke Bandung sekarang, oke?" Aurel tidak ingin ada keributan disini. "kamu yang nyetir ya, Bara?"
Bara mengangguk pasrah, "Iya." Dia jelas yang mengemudi, Ranu duduk di samping, sedangkan Skala dan Aurel duduk di belakang.
__ADS_1
"Ayah, bunuh diri itu apa?" tanya Ranu dengan tampang polosnya.
"Tanyanya nanti aja. Ayah lagi nyetir," jawab Bara tidak ingin diganggu.
"Ishh, aku kan kepo." Ranu menggerutu kesal.
"Ya nanti aja! Kita lagi buru-buru nih."
Aurel yang sejak tadi geram langsung mendorong kepala Bara yang ada di depannya. "Bisa gak biasa aja nadanya? Jangan ngajak gelud."
Skala menarik bahu Aurel, "Rel, enteng banget tangannya."
"Ya dia mulutnya juga enteng!" sahutnya emosi. "orang pada panik, malah ngomel."
Skala memijat pelipisnya, "Iya. Iya udah, gak usah ribut lagi."
Bara berdecak, "Iya!"
"Ayah sama Kak Aurel berantem... terus..." Ranu sampai bosan tiap kali ikut Ayahnya, ada Aurel tapi mereka tidak akur.
**
"KAKEK! NENEK!" Ranu tiba-tiba memekik keras sampai semua orang menoleh ke arahnya.
Embun yang menoleh pertama kali langsung memeluk Ranu, "RANU... Kamu masih hidup? Aunty kira kamu udah-"
Skala melepas Embun dari Ranu, "Jangan sekarang." Embun yang tidak paham maksud kakak pertamanya hanya mengeryit. Apalagi saat Skala menggandeng tangan Ranu ke arah Fajar -adik ketiganya.
Fajar yang masih terpaku langsung dihampiri Skala, "Jar, tolong ajak Ranu ke kamar."
Fajar mengangguk kaku, "I-iya."
Akhza berdiri mendekati Skala, "Skala. Jadi selama ini Ranu masih hidup?"
"Iya, dia hidup, sehat juga." Bukan Skala yang menjawab, melainkan Bara dengan nada getir. Dia menatap miris Sofi dan Andre.
"Lalu selama ini, dia dimana?" tanya Akhza bingung.
"Ranu diadopsi Bara, dokter yang dulu nanganin kecelakaan tunggal bus sekolahnya," jawab Skala sesingkat mungkin.
Rhea beranjak, dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. "Ibu nemu surat ini, Skala."
__ADS_1
Skala membuka dan membacanya dalam hati. Disampingnya Aurel ikut membaca.
Maafin kami...
Kami tidak kuat lagi..
Kami kira, Ranu beban kami selagi masih hidup.
Tapi ternyata menganggapnya mati menjadi beban buat kami.
Maafin Mama sama Ayah, Ranu...
Maaf...
Bara merebut kertas itu. Setelah ia baca, ia langsung meremasnya dan membuang ke sembarang arah. "Pengecut." Bara langsung keluar dari rumah Skala dengan perasaan campur aduk.
Aurel yang merasa khawatir dengan Bara langsung mengejarnya keluar. Kalau dulu Bara yang selalu menolongnya, maka kini giliran ia yang mengulurkan tangan.
"Bara," panggilnya setelah berhasil menghadang jalan Bara.
Bara berhenti dan mengusap pipinya yang basah.
"Kamu nangis?" Aurel jadi tambah khawatir. Jarang sekali dia lihat Bara menangis. "jangan nangis dong.. Aku ikut sedih.."
Bara bersandar di belakang mobilnya dan berjongkok. Dia merasa kecewa pada orangtua Ranu. Sampai detik ini dia tidak diberi keterangan kenapa mereka sampai tega meninggalkan anak sekecil Ranu. Kalau bukan Bara yang menolongnya, Ranu bisa ada di tangan yang salah.
Aurel menahan kesedihannya walaupun tak menampik akan menangis jika melihat sahabatnya menangis. Dia ikut berjongkok dihadapan Bara, "Bara. Kamu harus buktiin ke mereka, kamu tuh pantas jaga Ranu."
"Bukan masalah itu, Rel. Mereka tuh gak ngotak apa gimana. Bukannya minta maaf langsung, malah lari duluan dari masalah." Bara benar-benar kecewa, namun apa boleh buat. Mereka sudah meninggal, tidak mungkin dia suruh bangun lagi.
Aurel menggeleng, "Mereka udah minta maaf ke diri mereka sendiri, Bara. Di surat itu, mereka udah nyesel banget. Dan mungkin, mereka sempat cari Ranu, tapi mereka nyerah lebih dulu." Iya benar. Di surat itu mereka menulis kalau menganggap Ranu mati bahkan menjadi beban yang sesungguhnya. Itu berarti, mereka sempat dihantui rasa bersalah yang menjalar. Namun mereka menyerah pada keadaan. Keadaan ini mengingatkannya pada insiden dulu, saat ia memutuskan bunuh diri juga, ia pernah menyerah pada keadaan, namun Tuhan memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Bara. Rencana kamu buat Ranu gimana?"
"Terserah Ranu mau ikut siapa."
"Ayo kita masuk dulu, kita harus tanya Ranu." Tentang apa keputusan Ranu ingin ikut siapa, Bara berharap kalau bocah itu memilih ikut dengannya.
Ya, dia berharap begitu.
**
__ADS_1