SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
RELA


__ADS_3

Nabila kehilangan kata-kata melihat sahabatnya terluka demi menyelamatkan orang yang jelas-jelas mengkhianatinya. Terbuat dari apa hati sahabatnya itu?


Ia hanya bisa menunggu di luar karena Aurel belum melewati masa kritisnya setelah ditabrak mobil sedan dan terpental 2 meter dari tempat Skala jatuh akibat didorong Aurel.


Skala tidak karuan sekarang. Dia benar-benar menyesal dan menangis sesegukan di depan rumah sakit. Gemintang bahkan membawa makanan namun tidak diterima Kakaknya.


Selain Nabila dan Bintang, yang lainnya belum tahu keadaan Aurel. Disaat yang bersamaan, Alya juga masuk rumah sakit karena batuk darah saat bekerja. Jadi Skala memberitahunya lewat panggilan dan mengatakan bahwa Aurel tidak pa-pa.


Nabila belum mau baikan dengan Bintang, ditambah kabar Aurel begini. Kebenciannya pada Sadira terus mencuat tajam.


“Puas ya?” tanya Nabila yang berdiri di depan Skala yang sedang duduk di trotoar depan lobi Rumah Sakit. “gak ngerti lagi deh. Kalian pasti ngerayain ini.” Nabila tidak dapat membendung air matanya lagi. Dadanya terasa sesak tiap kali bertemu Skala.


Gemintang berdiri, “Kamu kenapa sih?”


Nabila tidak memperdulikan Gemintang. Dia bicara hanya pada Skala. “Saya harap, Aurel amnesia lagi. Supaya gak inget kamu, Skala. Supaya kamu ngerasain apa yang dia rasain selama ini.”


“Kamu sahabatnya, malah doain yang gak baik. Aneh,” kata Gemintang.


“Kamu juga. Jangan mau nikah sama Dina. Dia itu licik! Gak waras!”


“Udah stop!” lerai Skala merasa terganggu dengan mereka.


“Pertama, Aurel bunuh diri karena Dina. Kedua, kecelakaan karena kamu.” Nabila terkekeh. “pasangan kompak. Kompak bikin masalah!”


Bintang yang baru datang langsung meraih bahu Nabila dan mengajaknya masuk.


“Bil, gue udah telepon Dokter Bara. Dokter Alatas katanya masih ada jadwal operasi di Rumah Sakit lain.”


“Dia datang kapan?”


“Sebentar lagi dia kesini, kebetulan Dokter Bara lagi ada di Jakarta karena magang disini juga.”


“Baguslah.”


**


Bara memeriksa detak jantung, tensi darah, suhu tubuh, dan pupil mata Aurel memastikan kondisinya stabil. Dua jam yang lalu, Dokter yang menangani saat Aurel dibawa pertama kali mengatakan kalau Aurel tidak terlalu parah namun tubuhnya sering mengalami syok. Begitu Bara memeriksa kadar hemoglobinnya yang sangat kurang, akhirnya ia menghubungi kawan PMI untuk mengirimkan 3 kantong darah golongan AB+. Untungnya cedera kepalanya tidak berat, tapi sempat mengalami pendarahan karena posisi terpental dalam keadaan telentang. Dahinya juga agak luka karena kena serpihan kaca yang sampai pecah karena tubuh Aurel terguling ke atas mobil.


“Saya gak tau kenapa kamu dapat masalah berat seperti ini.” Bara menepuk pelan tangan Aurel. “cepat sembuh.”

__ADS_1


Saat ia berbalik, Bara merasa ada yang menahan snellinya. Ternyata Aurel sudah bangun dari bius tidur dari dokter sebelumnya.


“Ada yang sakit?” tanya Bara mendekat.


Aurel menggeleng. “Gak ada.”


“Apa yang kamu rasakan sekarang?”


“Laper.”


Bara menggaruk kepalanya, “Nanti ya.”


“Kok kamu disini?”


“Ayah lagi praktik di klinik. Jadi aku kesini.”


Tidak lama kemudian, mata Aurel terpejam lagi. Dia ngantuk rupanya. Bara menghela nafas, “Emang harusnya istirahat aja.. terlalu banyak pikiran.”


Cklek’


“Dok, dia tidur ya?” tanya Nabila tiba-tiba masuk ruangan.


Nabila yang ingin sekali nyerocos panjang lebar jadi menghampiri brankar dan menepuk pelan tangan Aurel. “Woi, bangun gak lo. Gue mau ngomong. Gak bangun, gue lempar brankar lo,” ancamnya terdengar serius.


“Kamu mau bicara apa? Dia kan mau istirahat,” ujar Bara keheranan. Ada ya orang seperti Nabila. Sahabatnya baru tidur malah disuruh bangun.


Perlahan Aurel membuka kelopak matanya, “Kenapa?” lirihnya bertanya.


“Kenapa pala lo! Eh gue gak ngerti ya sama otak lo. Lo ngapain nyelametin Skala yang jelas-jelas bohongin lo? Biarin aja harusnya! Biar dia ngerasain jadi lo! Lo tuh kelewat polos apa bego sih?!”


“Nabila, mohon maaf, Aurel masih belum stabil, jadi ajak bicara yang ringan saja,” sela Bara khawatir dengan kondisi Aurel. Mana pintu tidak ditutup, orang yang lewat pasti bingung kenapa di dalam berisik sekali, sedangkan di rumah sakit kan tidak boleh bising.


“Bodoamat, gue lagi ngomong sama Aurel, bukan sama lo,” kata Nabila tidak peduli.


Bara menatap pintu dimana Skala berdiri disana hendak mendengar jawaban Aurel atas pertanyaan Nabila. Untung saja pandangan Aurel ke pintu terhalang tubuh Nabila.


“Aurel! Jawab!”


“Dia… pernah nolong aku, Bil.”

__ADS_1


Luruh sudah pertahanan Nabila. Aurel selalu begitu. Di mata Aurel, satu kebaikan akan kalah dengan seribu keburukan. Mau gimanapun Skala yang sudah membohonginya, memenjarakan Damar, mengkhianati hubungan mereka, sekongkol dengan Sadira. Skala tetaplah Skala, yang pernah menolongnya. Itu satu alasan kenapa Aurel tidak bisa menjauhinya.


Nabila terisak, “Lo emang terlalu baik, Rel. Skala gak pantes sama lo!”


Skala menangis merasa bersalah. Dia sadar, kalau apa yang dia lakukan pada Aurel sebenarnya sudah keterlaluan. Mulai dari membohongi, bahkan tadi sempat menampar. Namun Aurel malah menolongnya dari kecelakaan itu. Benar. Dia tidak pantas untuk Aurel yang berhati bening.


“Saya rasa ada tamu yang ingin bicara,” ucap Bara melirik Skala.


Nabila menoleh, “Cowok be*engsek, jahanam, gak tau diri, masih berani dia nunjukin muka di depan lo, Rel.” Nabila yang bawaannya jengkel terus kalau ada Skala langsung keluar menerobos pria itu. Siapa suruh berdiri di pintu. Bara yang mengerti situasi pun ikut keluar.


Aurel memalingkan wajah saat Skala menghampirinya. “Cukup dari situ.” Aurel memberi Skala jarak sekitar 2 jengkal kaki supaya tidak dekat dengannya.


Skala berhenti dan memaklumi. “Aku denger semuanya,” katanya sebagai pembuka.


“Jangan kegeeran. Aku bilang gitu supaya aku gak ada hutang budi sama kamu.”


Apa? Gimana maksudnya?


“Aku nolong kamu, supaya kita gak terikat lagi. Aku selama ini ikut kamu, karena aku merasa hutang budi. Tapi sekarang impas.”


“M-maksudnya?” gagap Skala.


“Kamu tuli? Maksudnya ya kita IM-PAS. Kamu gak perlu nolong aku lagi, begitupun aku.” mungkin.


“Rel, ta-tapi-”


“Jadi aku harap mulai sekarang, kita gak usah saling kenal. Kamu juga gak usah halu, ending di novel itu bakal kejadian di kehidupan nyata. Aku masih waras, Alisa yang sakit! Bisa-bisanya dia mau nikah sama Cakra.” Aurel mendengus sebal.


Namun, Skala tidak akan menyerah sampai disini. “Aku bisa pastiin. Ending novel itu bakal nyata, Rel. Aku bisa pastiin, pakai caraku sendiri. Aku bakal berjuang menghidupkan ending itu, tanpa kamu.”


Omo! Dia sangat gencar rupanya. Ending kalau Cakra dan Alisa menikah dan hidup bahagia setelah melewati masalah drama kehidupan, akan Skala perjuangkan supaya menjadi nyata bersama Aurel. Walaupun Aurel menolak, Skala akan berjuang dengan caranya sendiri.


Mata Aurel membola mendengar jawaban Skala. “Terserah!”


“Aku pulang dulu, semoga cepat sembuh. Supaya aku cepat memperjuangkan kamu.”


Air mata Aurel luruh begitu saja setelah mendengar pintu ditutup Skala. Dia menatap pintu nanar. Sebenarnya bukan ini yang ia harapkan, tapi apa daya. Dia lelah… ingin istirahat sejenak. Tidak berpartisipasi mengikuti drama alam yang membuat kepalanya mendidih setiap saat.


***

__ADS_1


__ADS_2