SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Membentak Bukanlah Dia


__ADS_3

Aurel sudah turun dari mobil Skala, "Aku masuk." Ia bicara dari jendela mobil karena Skala enggan turun takut jadi bahan cuci mata.


"Belajar yang rajin ya. Udah inget jalan pulang?"


Oh yang benar saja. Ingatannya yang hilang hanya masa lalu, dia tidak pikun untuk mengingat jalan pulang.


"Udah. Kamu gak bisa jemput?"


"Gak juga." Skala melihat jam tangannya. "tapi kayaknya agak telat, ada rapat."


"Kalo gak bisa gapapa, aku bisa bareng yang lain."


"Aku usahain biar bisa."


"Baguslah." Aurel lega. "hati-hati ya."


Skala mengangguk seraya tersenyum lalu melesat pergi dari sana. Aurel menghela nafas, ini hari ketiga, tapi kenapa sulit sekali bertemu Nabila dan Bintang. Padahal ada banyak pertanyaan sampai kepalanya mengepul.


"Rel, gak masuk?"


"Eh, Juli... iya ini aku mau masuk."


"Bareng aja."


Mereka jalan beriringan sampai duduk di kursi. "Oh iya, Jul. Soal chat kamu semalem, kamu beneran?"


"Iya, Pak Skala ngerekomendasiin gue buat kontrak sama penerbit."


"Selamat ya."


"Rencananya gue mau buat novel tentang lo yang lagi amnesia."


"Kok bisa?"


"Ya siapa tau aja cerita lo menarik. Lo juga kecelakaannya gak biasa." Juli tersenyum penuh arti sambil mengambil buku dari laci mejanya.


"Jangan deh, gak bagus."


Juli tertawa, "Kan baru kepikiran."


"Kamu udah milih ikut ekskul apa?"


"Gue cuma ikut Jurnalistik sama Basket. Lo sendiri?" Juli balik bertanya.


"Aku masih bingung. Tapi rencananya mau ikut renang."


Seketika Juli tergelak membuat Aurel kebingungan.


"Kamu kenapa, Jul? Kok ketawa?" Aurel mengeryit tidak paham. Memangnya ada yang stand up sampai dia tertawa ngakak begitu?


Ghaisan yang sedang membaca buku langsung menutup telinganya, "Brisik woi."


Fina memutar kursinya jadi menghadap mereka, "Kalian ngobrolin apaan sih?"


Aurel mengangkat bahunya tidak tahu. Ia masih memperhatikan Juli, dia tertawa lama sekali.


Juli menyeka air matanya, "Gue ngakak. Katanya dia mau ikut ekskul renang. Parah, parah."


Fina menggulung bukunya lalu memukul kepala Juli, "Apanya yang lucu bego? Ketawa lo garing tau gak."


Juli langsung berhenti tertawa namun tersenyum ke arah Aurel. Dalam hati ia berkata, "Jangankan renang, nyemplung aja lo tenggelem. Dasar, oon."


"Lebih baik lo urungin niat lo." Juli serius mengatakan itu. "lo ikut Fina aja ekskul apa gitu, selain renang." Ia menepuk pelan kepala Aurel.


"Lo mau ikut gue ekskul seni?" Fina bertanya antusias.


"Aku gak berbakat disitu."


"Atau mau ikut Ghaisan, dia ikut PMR."

__ADS_1


Sebenarnya Aurel berpikir kesitu, tapi ia ragu karena ia kira tidak ada temannya. Tapi karena ada Ghaisan, ia rasa tidak pa-pa.


"Boleh deh."


Juli tersenyum lagi saat Aurel tidak sengaja menoleh.


***


Saat jam istirahat, Aurel izin ke toilet sebelum mereka ke kantin untuk makan siang. Juli masih sibuk mengetik naskah di laptopnya.


"Eh, gue kebelet berak." Ghaisan ngacir ke toilet. Fina selaku kakaknya hanya geleng-geleng kepala.


5 menit kemudian...


Aurel sudah cuci tangan di wastafel dan keluar dari toilet. Baru berbelok hendak masuk kelas, Aurel menoleh ke kiri tepat koridor kelas IPS. Ia melihat ada keributan namun tidak ada yang melerai.


Karena penasaran, Aurel mendekat kesana. "Nabila, kenapa?" Ia melihat tumpahan es di lantai dan seragam Nabila basah.


"Ini nih! Gue lagi jalan malah ditabrak, mana es-nya kena seragam gue."


"Aku minta maaf, Kak. Aku tadi buru-buru ke kelas."


Aurel melihat nametag "Shiren A" dan mendengarkan alasan dia.


"Ya kalo jalan liat-liat makanya! Udah gini seragam gue gimana?!" Nabila tersulut emosi.


Aurel melihat Bintang diam saja sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia malah pakai headset, tidak peduli.


"Nabila, temen aku ada yang bawa hairdryer.. bisa ngeringin baju kamu." Aurel sebisa mungkin membantu mereka.


"Gak bisa gitu dong! Dia harus nyuci trus keringin seragam gue sendiri." Nabila sepertinya sudah emosi.


Aurel terbelalak saat Nabila mendorong Shiren sampai terjatuh. Ia membantu Shiren berdiri.


"Nabila! Kamu jangan semena-mena dong! Dia kan udah minta maaf!"


Bukan hanya Nabila yang terkejut sampai menelan salivanya susah payah saat Aurel meninggikan suaranya. Namun, Bintang juga sampai mengalungkan headset-nya memastikan telinganya tidak salah dengar.


Semuanya sudah berubah, tidak sama seperti dulu.


"Shiren, kamu ambil pel di toilet, ini licin lantainya," ujar Aurel. Shiren berlari mengambil pel.


"Lo belain dia, Rel? Dia salah disini," ujar Bintang yang ikut bersuara.


"Kamu selama ini gak punya salah?" tanya Aurel sarkastik. "dia kan udah minta maaf, makanya kalo ada orang bicara jangan pake headset."


Setelah memastikan Shiren mengepel dengan benar, Aurel bicara lagi, "kamu bisa keringin baju, ke kelas aku aja. Ada hairdryer. Kalo gak sempet, pulang sekolah kamu bisa ke rumah, aku yang cuciin baju kamu."


Nabila menatap Aurel yang berjalan lugas masuk kelas. Sedangkan Bintang tersenyum manis.


Untuk saat ini, kalian belum dibolehkan tahu semua tentang mereka. Jadi tunggu saja ya.


"Tang," panggil Juli.


"Eh, Jul. Ada apa?"


"Gapapa, gimana turnamen futsal? Jadi?"


"Kita obrolin di kantin aja sekalian makan," ujar Bintang. Pria itu beralih ke Nabila, "Bil, aku sama Juli dulu ya."


"Terserah." Nabila pergi begitu saja. Tampaknya ia kesal karena Aurel tapi Bintang tidak ambil pusing.


Ghaisan dan Fina sampai lumutan menunggu Aurel ke toilet.


"Perasaan lo duluan, tapi kok dateng belakangan?" Ghaisan kepo saat Aurel masuk kelas.


"Ayo, katanya mau ke kantin," ajak Aurel.


Fina berdiri, "Iya, ayo. Gue udah laper."

__ADS_1


Mereka memilih meja pojok sebelah kanan. Mereka pesan mi ayam dan es teh saja karena buru-buru.


"Tadi gue liat ada Nabila, Rel. Lo kan katanya mau ketemu dia," ujar Ghaisan.


"Aku udah ketemu kok."


"Kapan?" sambar Fina.


"Tadi."


"Ohh, baguslah. Lo emang mau tanya apaan sih?" Ghaisan kepo.


"Gapapa.. tapi tadi gak jadi nanya."


"Hm?"


"Lupain aja, kita makan sekarang, keburu bel masuk."


Benar juga. Ghaisan dan Fina untungnya berhasil dialihkan. Iya memang mereka berbeda walaupun kembar, tapi sifat KEPOnya sama aja.


***


Aurel duduk di halte depan sekolah menunggu Skala. Benar kalau pria itu agak telat menjemputnya karena mobilnya belum terlihat, biasanya sudah stand by sebelum ia keluar.


Ia memakai earphone-nya sambil menunggu. Tanpa disadari, Bintang duduk disebelahnya.


"Aurel." Bintang menepuk bahunya.


Aurel melepas earphone yang baru ia pasang, "Ya? Kenapa?"


Bintang menggeleng, "Apa kabar?"


"Baik... Nabila mana? Dia tersinggung gak soal tadi?" Ia harap jawabannya adalah tidak.


"Dia udah pulang. Kalo soal itu, gue gak tau, dia gak bilang apapun." Bintang tersenyum.


Aurel rasa ada yang aneh dengan mereka. "Kalian pacaran kan?"


Bintang mengangguk.


"Tapi kenapa kalo aku liat, kamu cuek gitu ya. Trus pake headset tiap jalan sama Nabila."


"Wah, kamu bener amnesia ternyata."


Aurel nyengir, "Begitulah."


"Nabila agak berisik, makanya gue pake headset." Bintang tertawa renyah. "lo nunggu siapa disini?"


"Skala," jawabnya cepat.


"Yang kemarin bikin heboh satu sekolah?"


"Iya."


Bus berhenti di depan halte tepat Bintang akan naik. "Gue pulang duluan ya."


Aurel hanya mengangguk dan hendak mendengarkan radio. Tapi tangannya ditahan Skala yang entah sejak kapan ada disampingnya.


"Gak mau pulang?" tanyanya.


"Mau lah."


"Ada Bu Alya di rumah nunggu kamu."


"Yaudah, ayo pulang."


***


**Kalo ada yang mau tau clue dari episode selanjutnya kalian bisa baca AMNESIA VERSI CHAT STORY ya...😂😍

__ADS_1


Disana ada grup detektif buat mecahin kasusnya Aurel... itu juga misinya Skala, dia tuh kepo kenapa Aurel bisa punya pikiran buat bunuh diri**.


__ADS_2