
"Om, Papa sama aku besok mau ke rumah Kakek." Aurel mengutarakan niat mereka berhubung ingat.
"Untuk?"
"Aku mau makan malam sama Kakek," jawab Aurel.
"Kakek? Alih-alih sama Kakek, kamu gak mau makan malam sama kita berdua?"
Aurel menggeleng, maksudnya bukan seperti itu. "Ke rumah Kakek, itu artinya termasuk kalian, kan?"
Bara melirik istri dan anaknya yang cengar-cengir. "Tante, suka bercanda kalau ngobrol. Mohon maklum ya, Aurel."
Jeni terkadang ikut malu kalau ibunya salah bicara di depan sang ayah. Masalahnya dia jadi tampak salah karena sifat mereka mirip. "Kak Aurel besok kan mau ke rumah Kakek, artinya ke rumah aku juga. Ajak Kak Faisal ya?" Dia mengerjap genit beberapa kali dan tersenyum malu.
Bara mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Bisa gak sih kalian bersikap kayak orang normal?" Sungguh tidak bisa ditolerir lagi siķap anaknya yang bisa membuat anak tuan rumah jadi mual.
"Papi kira anak kita gak normal? Jeni itu 100% normal karena suka sama Faisal yang super ganteng, tajir, kaya raya, idaman seluuh perempuan. Harusnya Papi bangga sama Jeni karena ditakdirkan kenal sama Faisal dong," bela Frida untuk sang anak yang sering dinistakan Bara.
"Nanti aku coba bicara sama Faisal," sergah Aurel sebelum keadaan makin tak terkendali. Ia senang mereka datang, tapi kalau bukan untuk debat maka Aurel akan menikmati sebagai pertemuan keluarga.
"Faisal jelas mau kalau kamu yang ajak. Jangan dengerin Jeni, biarin aja berharap yang gak pasti." Bara bersikukuh agar Aurel mengabaikan anak dan istrinya. Hanya dia yang menentang perkataan mereka karena mustahil.
"Ahh, Papi gak asik!"
Bara menutup telinganya yang tiba-tiba diteriaki anaknya. "Papi sayang sama kamu. Mau kamu cantik mirip model victoria secret juga Faisal gak akan berpaling ke kamu, yang ada dia kabur."
"Kamu berdosa banget, Papi." Frida membuang wajah karena kesal dengan Bara. "harusnya kalau Jeni mirip model victoria secret, Faisal bisa berpaling ke dia dong. Kan sekseh, bohay, lenggak-lenggok jalannya. Apa alasan Papi bilang Faisal bakal kabur?"
"Iya, Mami betul." Jeni penasaran dengan alasan Bara.
"Alasannya karena ... gak ungkin jeni kayak model victoria secret !" Tanpa rasa bersalah Bara tertawa setelah mengejek anak dan mengerjai Frida.
__ADS_1
Aurel tidak yakin apakah Faisal setuju atau menolak. Memang jika ia ajak Faisal selalu mau, namun berbeda kalau ada nama Jeni di pernyataannya.
"Kenapa kok ketawa ngakak gitu?" Skala baru datang, dia menyuruh Aurel untuk ganti baju agar bisa kering besok.
Aurel izin pada ketiganya untuk pergi ke kamar. Namun Jeni tiba-tiba ingin ikut.
"Kak, aku mau liat kamar Kakak."
Bara melotot ke arah Jeni, dia tidak akan memperbolehkan anaknya menyentuh barang milik Aurel yang mungkin beberapa diantaranya sangat berharga.
Aurel lihat bagaimana Bara melarang Jeni. "Ayo, ikut."
Jeni bersorak girang lalu mengikuti langkah Aurel dari belakang dengan ceria.
Bara mendesah pelan. "Kalau Jeni rusakin sesuatu gimana?" tanyanya pada Skala.
"Selagi bukan yang berharga, Aurel gak apa-apa kok. Tenang aja," ujar Skala.
Frida mengangkat satu sudut bibir atasnya mendengar Bara sama sekali meragukan sikap Jeni. "Kalau ada yang rusak, Mami yang ganti."
Saat berada di kamar Aurel, Jeni takjub dengan dekorasi yang dominan berwarna kuning coklat susu. Salah satu foto yang dibingkai kayu menyita perhatiannya. "Kak Aurel pernah pindah sekolah?" Foto Aurel memakai seragam yang berbeda membuatnya heran.
Aurel membalikkan tubuhnya dan mendekat pada foto yang dilihat Jeni. "Ini?"
Dari samping saja Jeni iri melihat betapa putih dan bersihnya kulit Aurel mengingat negara mereka mayoritas berkulit sawo matang. Tone kulitnya saja kuning langsat, pakai skincare impor juga tidak akan bisa menyaingi warna kulit Aurel. Urat-urat pipinya yang berwarna hijau dan biru tampak seperti transparan. Inikah kelebihan Aurel yang tidak bisa disaingi siapa pun?
"Ini Mama aku." Aurel memperkenalkan ibunya saat masih sekolah. Memang jika dilihat sekali orang-orang akan mengira itu dirinya, padahal bukan.
"Tante Aurel?" Cukup membingungkan bagi Jeni walaupun sudah tahu mereka bernama sama. Dia terkejut semirip itu dengan perempuan di sebelahnya. "kalian gak ada bedanya kalau diliat," timpal Jeni.
"Hm, banyak yang bilang begitu." Aurel mengakui hal tersebut tidak bisa diterima begitu saja tanpa penjelasan. Ia tidak tahu mengapa Tuhan memberi wajah ibu padanya, terkadang Aurel merasa menyakitkan bagi mereka yang berteman dengan Ibu.
__ADS_1
Jeni melihat foto orang tua mereka di samping Tante Aurel. "Ini fotonya sama kayak punya Papi." Dia tersenyum melihat Aurel menyimpan foto ayahnya saat muda.
"Oh ya?" Aurel mengenyit karena sejak dulu tidak pernah bertemu salah satu di antara orang-orang yang ada dalam foto. "kamu tau ini siapa?" Ia menunjuk satu orang yang berada di tengah ibunya dan sang ayah. Pria dengan senyum indah dan tampaknya seumuran dengan ibunya tidak pernah ia temukan. Harusnya bertemu setidaknya satu kali seperti teman Ayah yang lain, tapi sama sekali tidak pernah.
Jeni mengangkat bahunya pertanda tidak tahu. "Papi gak pernah kasih tau siapa aja yang ada di foto ini. Kak Aurel kenapa gak tanya Om Skala?"
"Papa gak pernah mau jawab, selalu cari topik lain." Aurel berdiri tegak, terkadang ia penasaran namun cepat lupa. "aku mau mandi dulu ya. Kamu liat-liat gapapa."
Jeni mengangguk paham. Dia akan berhati-hati, sekadar melihat tanpa menyentuh maka semua akan baik-baik saja. Tangan yang bisa menghancurkan benda memang sudah kebiasaan sejak kecil.
"Betul juga. Aku juga gak pernah ketemu orang ini sekali pun. Apa perlu aku tanya Papi? Pasti kasih tau aku, kan?" Jeni sedikit ragu sebenarnya kalau Papi mau memberitahu gratis.
"Kenapa juga dia ada di tengah Tante Aurel sama Om Skala? Atau jangan-jangan dia orang ketiga?" Kalau begitu benar jika Om Skala tidak mau menjawab. Orang ketiga sangat menyebalkan dan harus dihempas jauh-jauh.
Daripada penasaran, Jeni memutuskan untuk turun menemui mereka di ruang tamu.
"Om Skala, ke mana?" tanya Jeni tidak melihat om satunya yang lebih berkharisma dan memikat dibanding Bara.
"Di dapur," jawab Frida.
Jeni beringsut duduk di tengah orang tuanya. "Papi, aku tadi liat foto di kamar Kak Aurel. Ada foto Papi, Kakek, Om Skala, Tante Aurel, Tante Nabila, Om Bintang. Nah di tengah Om Skala sama Tante Aurel ada cowok ganteng, dia siapa?"
Bara langsung tahu foto apa yang dimaksud Jeni. "Kenapa kamu tiba-tiba penasaran?" Dia bingung mau jawab apa karena bukan haknya menceritakan mengenai orang tersebut.
"Ahh, Papi ... Kasih tau dong. Kak Aurel juga gak tau, Om Skala juga ditanya tapi mengalihkan topik. Jangan-jangan dia orang ketiga di antara Tante Aurel sama Om Skala ya, Papi?"
"Jangan keras-keras," lirih Bara mengingatkan anaknya.
"Makanya kasih tau Jeni," desak Frida.
"Dia itu... " Bara menggaruk pelipisnya yang mendadak mengeluarkan butiran keringat. Skala saja tidak memberitahu anaknya, apalagi dia yang sama sekali tidak berhak.
__ADS_1
"Dia siapa... ?" Jeni sudah penasaran sampai dahinya berlipat.
"Cari tau sendiri aja sana."