SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Hari Aurel


__ADS_3

Setelah seminggu sekolah mengadakan Ujian Praktik, seluruh murid merasa cekikan semakin kuat karena sebentar lagi Ujian Nasional. Mereka seolah tidak bisa bernafas karena setiap hari harus belajar, belajar, belajar. Kalau tidak, maka akan tertinggal oleh temannya.


Skala yang melihat kerja keras Aurel sangat kasihan karena sedikitnya waktu menghibur diri. Takut-takut Aurel pusing dan depresi lalu bunuh diri lagi karena latihan ujian dengan setumpuk kertas, Skala mengajaknya jalan-jalan petang ini setelah sekolah.


btw Skala gaada akhlak -_-


Aurel tak menampik kalau dirinya ikut tertekan karena persaingan tiap siswa. Namun hal itu memberinya semangat untuk terus berlatih. Setelah pulang sekolah, Aurel menghampiri Skala yang duduk di pinggir trotoar.


Skala sadar akan kehadiran Aurel, "Wih, selamat sore..." Dia berdiri lalu merasa ada yang kurang dengan Aurel. "Dipakai." Skala melepas jaketnya dan memakaikan untuk Aurel.


"Kamu sendiri gak pakai? Kamu pakai lengan pendek loh." Aurel bingung dengan sikap Skala.


"Gapapa. Ini hari men-spesialkan kamu," ujar Skala.


Aurel tertawa, "Lebay."


"Dih, beneran juga. Malah dibilang lebay." Skala membukakan pintu mobil untuk Aurel sampai gadis itu dibuat tertawa kecil. "Silahkan masuk."


Aurel bergumam dari dalam mobil, "Kemasukan setan apa sih kamu?"


Namun Skala diam saja dan duduk di bangku kemudi. "Aku gak akan biarin kamu stress menjelang UN. Jadi hari ini kamu butuh hiburan."


"Wow..." Aurel takjub dengan Skala yang sangat perhatian padanya. "Tapi kita mau kemana?"


"Ada deh."


Aurel tidak penasaran, toh nanti ia tahu sendiri. Saat mobil terparkir di depan Toko Boneka, mereka keluar. Skala menggandengnya masuk ke Toko.


"Skala. Kamu main boneka?"


"Nggak."


"Terus?"


Skala menunjukkan beberapa kotak capit boneka di dalam Toko tadi. "Kamu tunggu disini, aku mau beli koin." Aurel nurut diam sebentar menunggunya. Tak lama Skala kembali membawa 5 koin, "Liat nih. Aku jago banget main beginian."


"Serius? Kata Nabila disini susah dapatnya."


"Dia sering kesini?" tanya Skala sambil memasukkan koin ke mesin.


"Iya, sama Bintang." Aurel melihat Skala sedang mengarahkan pencapit di boneka yang ada di pinggir kotak supaya mudah. Lalu begitu tombol bundar dipencet dan capit tersebut kena boneka incaran Skala, boneka itu terangkat dan masuk ke kotak.


"Wah! Kamu hebat!" Aurel mengambil boneka hiu pink di kotak bawah.


"Mana yang susah? Gampang gini kok." Skala memasukkan koin lagi dan melakukan hal yang sama. Kali ini ia mengincar boneka harimau.


Aurel memberi tepuk tangan untuk Skala dalam bidang ini. Dia dapat lagi!


"Aku tiap main ini kenapa gagal ya?" tanya Aurel sambil mengambil boneka kedua.

__ADS_1


Skala terkekeh. "Gimana kalo kita bikin bangkrut tokonya? Biar bonekanya abis."


Aurel berdecak, "Mesinnya gak cuma satu, tapi sepuluh."


"Lhoo, kamu gak percaya aku bisa beli semuanya?"


"Percaya sih.."


Aurel terkikik karena dipercobaan keempat dan kelima Skala tidak dapat boneka. "Udah, gak usah penasaran. Dapat tiga aja peringkatnya baik."


Skala juga tidak mau mencoba lagi. Ia harus ke tempat lain supaya tidak kelamaan. Intinya Aurel hanya ikut saja, selama gratis dan tidak capek akan ia nikmati.


Namun harapannya sirna saat Skala mengajaknya ke kantornya.


"Skala, kok kesini sih? Kamu pasti minta temenin tanda tangan berkas kan? Haduh, aku gak mau deh. Aku mau pulang aja."


Aurel yang hendak berbalik lengannya ditahan Skala. "Kantor masih buka. Kita ke rooftop. Mau gak?"


"Ngapain?" tanya Aurel heran.


Skala merangkul leher Aurel untuk ikut, "Rahasia."


Lebih anehnya lagi, Skala tidak menggunakan lift malah memilih tangga biasa padahal kantornya berdiri 3 lantai.


"Capek," ujar Aurel sambil bersandar di pegangan tangga dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


Skala menepuk punggungnya, "Naik."


Skala mendecak, "Aku serius." Daripada kelamaan, akhirnya Skala menggendong paksa Aurel di punggungnya.


"Kemarin aku timbang 45kg," curhat Aurel. Walaupun begitu, Skala tidak menjawab ucapannya dan terus menaiki tangga sampai rooftop.


Aurel turun dengan hati-hati dari punggung Skala. "Huhh, untung gak jatuh." Ia mengusap pelipisnya yang berkeringat. Digendong Skala bukanlah hal yang menyenangkan, justru seperti memacu adrenalin. Takut jatuh dan berguling di tangga lalu tinggal nama kan tidak lucu. "Skala. Kita ngapain sih?"


Skala menggeleng dan menarik pelan tangan Aurel ke pembatas rooftop.


"Eh, eh, ngapain?" Aurel jadi ngeri kalau Skala mengajak lompat dari atas sini.


"Mau duduk atau berdiri?" tanya Skala.


Aurel tersenyum, "Duduk."


Skala menggeret dua kursi yang ada belakang pintu untuknya dan Aurel. Setelah duduk bersebelahan, Skala berkata, "Gimana perasaan kamu?"


"Campur aduk. Bahagia dan sedih jadi satu. Bahagia karena ujian praktik selesai, terus sedih karena mau lulus. Gak nyangka cepet banget aku sekolah," ujar Aurel menikmati semilir angin malam. "Oh iya, kamu gak kedinginan? Jaket kamu, aku pakai."


Skala menggeleng, "Kamu aja." Ia sedikit membenarkan rambut kecenya yang kena angin. "Harusnya kamu bahagia nanti lulus makin sering ketemu aku."


Aurel terkekeh, "Skala. Begitu aku lulus dan kuliah. Keadaan bakal berubah, begitupun kita. Aku yakin kita pasti punya kehidupan dan kesibukan sendi—"

__ADS_1


"Keadaan tetap sama, Rel." Skala memotong ucapan Aurel. Dia menoleh tidak suka saat Aurel berkata demikian benarnya.


Tidak marah ataupun bertanya kenapa Skala tidak suka dengan ucapannya. Justru Aurel tersenyum hingga matanya menyipit, "Emangnya kamu gak mau cari pacar? Kamu udah tua, Skala."


Skala berdecak pelan, "Udah nemu."


"Siapa?"


"Kamu."


"Aku??" beo Aurel menunjuk wajahnya sendiri. "Kenapa aku?"


"Ya karena aku gak mau yang lain," ujar Skala.


Aurel tertawa, "Skala. Pacaran itu gak enak."


"Kok gitu?" Wah, ini namanya penolakan halus.


"Aku lebih suka sahabatan sama kamu."


Skala tersenyum getir, "Ditolak nih?"


"Kapan aku pernah nolak kamu? Kamu kan pemaksa." Aurel membuat Skala berpikir ada benarnya. "Aku gak nolak kamu. Tapi aku suka begini aja."


Skala mengangguk, "Keputusan kamu ada bagusnya. Kita gak terikat kalau sewaktu-waktu ada yang pergi. Gimana?"


"Tapi aku berhak sedih kan?"


"Hm." Skala mengusap kepala Aurel, "Jadinya kuliah disini kan? Bukan yang di Bandung."


"Iya. Setelah dipikir, kasian Ibu gak ada yang temenin." Aurel berdiri menghadap Skala. "Skala. Janji sama aku, kamu bakal kerja sungguh-sungguh dan jangan khawatirin aku soal berangkat sama pulang kuliah nanti. Oke?" Ia mengangkat jari kelingkingnya.


Skala menggigit jari Aurel hingga gadis itu memekik terkejut.


"Jangan harap." Skala menantangnya sekarang.


"Aku juga mau berangkat-pulang sendiri kayak yang lainnya..." Aurel merengek dan mencak-mencak di hadapan Skala sampai tidak sengaja menginjak kaki pria itu dan tubuhnya terhuyung ke depan.


Skala memalingkan wajahnya ke samping supaya wajah mereka tidak bertabrakan dan terjadi —Singkirkanlah pikiran buruk dari otak Skala!


Aurel langsung duduk di sebelah Skala lagi, "Maaf, maaf."


Gantian Skala yang berdiri, "Ayo pulang." Begitu Aurel berdiri, pria itu memeluknya lagi. "Aurel. Jangan berniat berbalik arah atau sampai pergi nanti."


Aurel menepuk punggung pria itu, "Aku usahain. Ini sebenernya hari apa sih? Kamu tumben banget sedih gini?"


"Kamu lupa?" tanya Skala tidak menyangka.


Aurel ragu, namun ia tersenyum jahil dan menarik hidung Skala, "Ini hari men-spesialkan aku. Kata kamu."

__ADS_1


"Betul." Skala mengajaknya pulang sebelum tambah larut. Tidak disangka, mengobrol singkat sangat menyita waktu.


Bersambung...


__ADS_2