
Aurel bangun tengah malam untuk minum, ia mimpi dikejar hantu sampai bulir keringat betul mengalir. Anehnya, tiap ia lari, langkahnya terasa berat dan pelan sekali. Kalau kata orang, ditindihi setan. Lucu sih, tapi Aurel tidak percaya hal seperti itu. Ia pikir, terlalu sering begadang dan kerja keras belajar hingga mimpi buruk datang ke alam tidurnya.
Tidak lupa dengan rencana hebat dari Abram, melihat jam menunjukkan pukul 12.05, Aurel kembali dari dapur ke kamar untuk mengecek ponsel.
1 pesan belum terbaca
Dari Nabila, Gue otw ke rumah lo. Tunggu di teras, jangan dikunci pagarnya!
Karena sudah lolos dari Rumahnya, Nabila segera memakai mobil Ayahnya di Garasi secara diam-diam. Dia tidak takut karena kamar orangtuanya kedap suara, jadi tidak akan dengar mesin mobil dinyalakan. "Kalo sampe rencana lo gak berhasil, gue jamin jabatan lo ilang 12 jam dari sekarang, Bram. Gue berkorban banget ini, Ya Allah. Semoga gue gak mati sebelum perang," doanya ngelantur. Dia menyetir dengan kecepatan sedang agar selamat sampai tujuan.
Aurel mendapat telepon dari Abram setelah mengirim pesan untuk Nabila.
"Udah siap?"
"Kita tunggu Nabila, dia masih di perjalanan ke rumah aku."
"Ngaret! Yaudah, bilang jangan kelamaan."
"Siap, Pak Bos."
Aurel sangat-sangat berharap kalau pelaku bisa ditangkap pagi ini. Untungnya tidak lama, Nabila sampai di depan pagar rumah dan menghampirinya di Teras rumah.
"Gue gak telat, kan?"
"Gak begitu sih..." Jujur saja ini lebih 20 menit dari rencana pertemuan awal.
"Abram dimana? Udah jaga di tempatnya?"
"Udah."
Sudah Nabila pikirkan 10 kali. Ia akhirnya bersuara. "Kita gak usah nangkep deh. Mending bobo cantik di kasur, ya kan? Lo pasti gak mau capek kan, ini masih pagi buta. Lo mau kejar-kejaran sama pelakunya?"
Aurel mencerna saksama ucapan sahabatnya. "Kamu ada benarnya. Tapi aku mau bantu Abram supaya Juli sama Bapak tenang disana."
Nabila menepuk dua kali pundak Aurel. "Juli tenang kalo lo selalu bahagia, gak selingkuh, gak macem-macem."
Aurel tersenyum singkat. "Setidaknya aku berkorban kali ini, Bil."
"Diantara kita, kalo salah satu pergi dari dunia ini gimana?" tanya Juli saat mereka diam-diam bertemu di gang rumah Aurel.
"Kamu nanya apa sih... gak jelas." Sebisa mungkin Aurel menghindar untuk menjawab.
"Jawab dulu. Kalo gue gimana?" Maksudnya kalau dia yang pergi duluan? Aurel kelihatan bingung mau jawab apa. Akhirnya Juli menjawab pertanyaannya sendiri sambil memeluk tubuh Aurel. "Kalo itu terjadi.. gue mau lo menyambung hidup dengan damai, Rel. Jangan sisain sedikit pun perasaan lo buat gue, karena itu mempersulit hidup lo nanti."
Aurel membalas pelukan pria itu. "Sebelum itu terjadi, aku bakal terus berdoa supaya kamu gak pergi kemana-mana."
Mereka tidak menekankan status pacaran, hanya kepercayaan dan perjanjian untuk terus bersama walaupun mereka digosipkan dengan orang berbeda. [Contoh, Aurel dengan Skala. Juli dengan Shiren]
Hubungan mereka tidak diketahui siapapun, bahkan keluarga dan sahabatnya. Benar-benar tertutup sempurna tak ada celah. Selama ini mereka bertemu dan jalan diam-diam, sangat tidak mengenakkan.
"Lo kejam karna gak bilang punya hubungan sama Juli," ujar Nabila mengingat cerita sahabatnya beberapa hari lalu.
"Maaf--"
Tring'
NGOBROLNYA LANJUT NANTI!
Pesan dari Abram untuk Nabila memang berbeda ketimbang untuk Aurel.
__ADS_1
"Singa udah ngaum, ayo, kita jalanin rencana ini. Gue sebagai korban, lo yang tangkap pelaku, si bang*at itu jadi pengintai."
Aurel tertawa kecil, ia mengangguk dan menggandeng lengan Nabila ke satu titik.
Kini, jantung Nabila berdegup agak kencang kala berjalan pelan menyusuri jalan arah ke timur. Ia akan minta maaf pada Abram kalau sampai menendang alat vital pelaku, karena gerak refleks.
"Btw.. Abram masih jalanin drone-nya buat ngawasin gue, kan?" Ia melirik ke atas hati-hati sebelum akhirnya terdengar derap langkah. Padahal rencana awal ia akan berkeliling Komplek untuk menunggu jam dimana Pelaku bereaksi. Tapi ini sungguh cepat diluar dugaan. Maaf, Bram. Maaf kalo gue nendang ******** Dia, gue ketakutan setengah mati. Kalo gue dibekep dari belakang terus mati konyol gimana? Belum juga nyebar undangan. Daripada sibuk memikirkan masa depan yang belum tentu terjadi, Nabila siap-siap menangkap pembunuh tadi dengan balik badan tiba-tiba. "KETAUAN LO!"
Pelaku melayangkan besi sepanjang 50cm ke arah wajah Nabila. Sedangkan gadis itu sudah menyeret kaki kanannya ke belakang untuk siap menendang anu-nya si Dia.
BUGH'
Nabila teriak sebentar sambil melindungi wajah dengan kedua tangannya.
"Sshh!"
Suara besi panjang tadi jatuh nyaring ke aspal seiring suara desisan merintih kesakitan. Nabila membuka matanya dan menunjuk pria memakai masker hitam itu.
"Mamp*s!" Nabila mendongak melihat drone milik Abram, dia pasti sedang merekam kejadian ini.
Drone yang sejak tadi dikemudikan Abram mendadak baterainya habis hingga jatuh terombang-ambing ke hadapan Nabila.
Pelaku menunjukkan senyum smirk, ia berpura-pura kesakitan.
"ABRAM!!!" panggilnya pakai suara 3 oktaf.
Pelaku kembali berdiri perlahan sembari mengambil besi panjang hingga bunyi gesekan antar keduanya terdengar begitu menakutkan. Lalu dia memukul drone Abram sangat keras sampai bagiannya hancur terpental.
"AUREL!" Nabila melihat tatapannya agar bisa mengenali lain waktu. "L-lo.. mau bunuh gue?" tanyanya spontan.
Bersamaan dengan terangkatnya besi tersebut, Aurel diminta lari melindungi Nabila.
"Sekarang, Aurel!" Itu suara Abram yang tengah mengeluarkan satu buah pistol revolver dari saku pinggangnya.
DOR!
Nabila menjerit saat suara tembakan tepat di samping telinganya. "Aurel?!"
Ternyata bukan hanya Abram yang punya senjata api, tapi Pelaku juga bawa. Dan dia... menembak Aurel tepat di jantung, dada sebelah kiri.
DOR'
Sirine mobil polisi mendekat ke Lokasi kejadian setelah Abram meminta bantuan anggota Polisi gabungan untuk mengamankan pelaku yang sayangnya sudah lumpuh karena tertembak di bagian betis.
Pelaku menjatuhkan pistolnya sebab merasa sakit di sekujur kaki. Ia sesekali tertawa melihat incarannya mati diiringi tangisan sahabatnya.
"Aurel... Gimana nih? Gue bingung... Rel, bangun, Rel..." Nabila panik bercampur tangis melihat Aurel diam saja tiduran di aspal.
"AKHIRNYA LO MATI! LO PANTAS MATI! DASAR JALA*G!"
Aurel mendengar teriakan pelaku. Akhirnya, dengan berat hati ia membuka mata dan duduk melihat betapa menyedihkannya dia yang sedang diseret Polisi untuk masuk mobil.
Nabila bengong di tempat, tidak tahu apa yang terjadi. "Kok, lo--"
Aurel melambaikan tangan ke arah pria itu, "Kapan-kapan kita berteman yaaa!"
Nabila menoyor kepala sahabatnya. "Sial*n lo! Gue kira lo beneran mati! Ahh, jantung gue yang mau copot tadi..." Ia memegangi dada tepat jantungnya berdetak kencang, "Gue kudu periksa jantung ntar siang. Tapi kok lo gak kenapa-kenapa, tadi kan lo ditembak?"
Aurel tersenyum penuh arti. "Aku dikasih baju pelindung peluru sama Abram sebelum nyamperin kamu."
__ADS_1
"Pantesan... lo beneran gak sakit, kan?"
"Cuma kaget," ujar Aurel.
Satu Komplek heboh sejak mendengar suara tembakan pagi buta. Mereka lega karena pelaku telah diamankan. Mereka juga merubungi Nabila dan Aurel untuk berterima kasih.
Abram memberikan hormat pada atasannya yang sudah memuji kecekatan untuk menangkap pelaku sesuai tanggal sebelum pembekuan kasus. Jujur saja, ia tersanjung. Disisi lain, ia bangga karena menyelamatkan mereka yang hampir jadi korban. Setelah izin menghampiri saksi, Abram mengatakan sesuatu untuk mereka.
"Makasih, lo udah selametin Aurel. Gue kira beneran ketembak tadi," ujar Nabila merendah. "Ternyata lo kasih dia pelindung peluru."
"Gak masalah," jawab Abram singkat.
"Kalo gini, gue mau temenan sama lo." Nabila gantian mengulurkan tangan untuk menerima Abram sebagai sahabatnya.
Abram menerima uluran tangan itu dengan senang hati. Setelah itu ia mengusap kepala keduanya sebagai pujian atas kerja sama yang tak mudah 1 jam tadi. "Makasih udah bantu."
"Kita yang harusnya makasih sama kamu. Kalo gak ada kamu, pasti masih banyak kasus pembunuhan. Makasih, Abram." Aurel sangat beruntung dapat dipertemukan dengan Abram.
Abram terlihat mengeluarkan secarik kertas yang terlipat kecil dari saku jaketnya. "Sekitar 2 bulan yang lalu Juli titipin ini ke saya."
Keduanya menyatukan alis. "Lo kenal Juli dari mana?" tanya Nabila sedangkan Aurel menerima kertas itu.
"Dia melapor ke Pusat karena merasa diikuti seseorang. Saya belum tau kalau kamu terkait sama kasus ini, tapi satu hari sebelum Juli tewas, dia mengirim bukti kalau orang yang ngikuti dia berhubungan dengan kasus pembunuhan di komplek ini."
Nabila sampai menganga. "Jadi, maksud lo-- Juli udah tau semua ini bakal terjadi?"
"Dia ketakutan, terus menelepon saya untuk minta bantuan. Dia minta bantuan saya buat jaga komplek ini, termasuk kamu, Aurel." Abram menjelaskan apa adanya. Memang benar kalau Juli sempat mengganggunya lewat SMS dan telepon sampai 3 hari berturut-turut.
"Makasih banyak. Nanti aku baca di rumah," ujar Aurel.
"Hm. Maaf, besok lagi saya harus ke Kantor Pusat. Saya hanya ditugaskan sementara ke cabang kota."
"Kita gak bisa ketemu lagi?" Nabila tampak tidak rela.
"Jenguk Pelaku kalau kalian sudah siap. Disana ada saya, telepon aja kalau ada disana."
Aurel mengangguk. "Iya. Aku harus tanya sesuatu juga ke Dia nanti."
"Bram, gue tau ini absurd. Tapi lo bisa gak lama disini? Seenggaknya gue biar ada bodyguard."
Abram menggeleng. "Kalau saya udah pensiun jadi Polisi. Saya mampu jaga kalian berdua."
"Pak Abram!"
Ada anggota lain yang memanggilnya dari kejauhan. Abram bergegas high-five dengan mereka sebagai perpisahan sementara. "Kerja bagus hari ini," ujarnya sebelum menjauh.
Tiba lah keluarga Aurel yang khawatir mendengar anaknya terlibat penangkapan pelaku pembunuhan. Mereka memeluk Aurel dan memberondongi pertanyaan sampai Nabila hampir terjungkal ke belakang karena disingkirkan Bara.
SLAP'
"ADUH!"
Nabila sengaja memukul bokong Bara. "Sakit? Sama, gue juga! Main dorong gue aja lo!"
"Kamu ngapain jam segini disini?!" sentak Bara bingung.
"Ceritanya panjang," singkat Aurel.
"Cerita di rumah aja, tapi kalian istirahat dulu. Ya?" Alatas memeluk Aurel karena khawatir. Tak lupa kehadiran Nabila, ia juga menawarkannya istirahat di rumah. Mereka pasti lelah.
__ADS_1
...Tbc....
...●●●...