SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Maaf, gak akan bisa -Aurel


__ADS_3

Fina dan Nabila yang sedang duduk di tepi lapangan menunggu seseorang mengobrol yang tidak biasa. Nabila jelas menunggu Bintang yang masih ekskul renang, sedangkan Fina menunggu Ghaisan dan Aurel yang masih latihan P3K ekskul PMR di gedung sebelah. Juli? Dia ada di perpustakaan, membaca buku.


“Eh, Bil, gue sebenernya ragu mau ngomong ke lo. Tapi lama-lama gue ngerasa ada yang ganjel di hati tau gak.”


“Kenapa sih? Lo jangan bikin gue deg-deg-an.”


“Kemarin gue liat Bintang sama Sadira, mereka ketawa-tawa gitu.”


Nabila tersenyum saja, “Dimana?”


“Masih deket kantornya Pak Skala sih… gue gak sengaja lagi jalan sama Ghaisan. Eh, gak sengaja juga liat.”


“Kok Dina ada di Jakarta? Ngapain dia?”


Fina menghendikkan bahunya, “Gak tau juga deh gue.”


Bintang minta digampar. Batin Nabila geram.


“Coba nanti gue tanya, siapa tau Bintang tau.”


“Lo tumben santai? Biasanya ngamuk-ngamuk.” Ini gue emosi bet aslinya, tapi karena gue masih sayang lo, gak mau nyakar lo, Fin. Gue nyantai neh.


“Santai aja.. kalo dia gak jujur baru gue ngamuk," sambungnya.


Juli menghampiri mereka yang masih di dekat lapangan. “Woi! Generasi ghibah masih disini…”


“Yee, kurangajar lo,” ujar Nabila.


“Lo kali generasi buaya,” hardik Fina.


“Jul, lo kan deket sama Pak Skala. Lo tau gak kenapa Sadira ada disini?” tanya Fina penasaran. Dia ingin tahu alasannya.


Juli ingat beberapa hari lalu, dia juga bertemu Sadira dan Gemintang di Kantor. Anehnya, dia sempat nguping pembicaraan mereka, tepatnya pas Skala dan Aurel datang juga. Habis itu Aurel melihatnya dan mereka pulang bersama.


“Eumm, gue nguping—”


“Kuping lo congean entar, Jul.” Nabila sudah mendoakan yang tidak-tidak.


“Set*n lo emang. Butuh gak?” sewotnya.


“Ya butuh lah,” jawab Fina.


“Intinya, Gemintang juga disini, dia ngasih kabar kalo dia gantiin Pak Skala buat nikah sama Sadira.”


“WHAT!? Kok gitu?!” pekik Fina kehabisan oksigen.


“Mungkin aja itu konsekuensi karena Pak Skala gak mau nikah sama ular,” tukas Nabila.


“Ya Allah. Gemintang mah cocoknya sama gue, ketimbang sama dia,” ujar Fina ada benarnya.


“Eh gue nyusul Bintang dulu ya,” kata Nabila setelah beranjak.


Tidak lama setelah Nabila pergi, datanglah Ghaisan dan Aurel.


“Nabila udah pulang?” tanya Aurel.


“Dia ke gelanggang, nyamperin Bintang.”


“Aku mau kasih flashdisk ke Nabila dulu deh. Kalian tunggu disini ya.” Akhirnya Aurel menuju gelanggang juga.


**


Kebetulan gelanggang sedang sepi, mungkin atlet renang sedang ganti baju. Nabila membuka tas Bintang dan duduk sambil mengutak-atik isinya.

__ADS_1


Dina


Dih! Sejak kapan Bintang menyimpan nomor titisan ular itu? Wah, Nabila mencium sesuatu yang mencurigakan.


Dina : Tang


Bintang : Iya?


Dina : Kamu sama Nabila gimana?


Bintang : Baik..


Dina : Kamu kuat ya ngadepin dia? Dia kan tempramennya buruk:-


Bintang : Sama gue biasa aja..


Dina : Ini aku lagi di Jakarta sama Gemintang


Bintang : Ngapain?


Dina : Mau ketemu Skala :*


Bintang : Ohh, iya


Dina : Ketemu kamu juga kalo bisa hehe


Wahh, dasar ular berbisa! Gila nih orang, minta dilabrak.


Bintang : Nanti gue kabarin deh


Dina : Okay… :)


“Bil??” panggil Bintang dari belakang dengan handuk digantung di lehernya. Benar kan dugaannya habis ganti baju.


Bintang memundurkan wajahnya, namun tidak terkejut karena isi chatnya, ya biasa saja. Tidak ada yang spesial. Tapi di mata Nabila, tetap saja tidak wajar.


“Ya dari dulu lah. Dia kan temen kita, gimana sih? Lo amnesia?” Bintang geleng-geleng.


Eh? Iya juga ya. Tidak, dia tidak boleh kalah.


“Maksud gue, lo ngapain chat-chat Dina?” tanyanya mengintimidasi.


“Lo kesini bukannya bawa minum, malah nyerocos.”


Nabila menempeleng Bintang, “Gue nanya, bukan nyerocos.”


Astaga… kekasihnya yang satu ini memang beda dari yang lain. Begitu spesial karena suka ngeplak tanpa izin.


“Lo jangan nyari perkara… gue lagi capek.”


“Lo yang nyari perkara, set*n! Apaan lo pake jalan segala sama Dina? Udah bosen sama gue?” balas Nabila diambang kekesalan.


Bintang berkacak pinggang, “Kebiasaan lo kalo marah, setan dibawa-bawa. Gak kasian lo sama setan?”


“Lo kayak Skala lama-lama. Dibaikin, ngelunjak. Dibebasin, kayak set*n.”


“Lo bisa gak kalo nanya itu baik-baik, gak usah nyolot. Kuping gue panas.”


“Gue sogok kuping lo pake es batu ntar, tenang aja.”


“Lo apaan sih? Kapan gue jalan sama Dina? Kapan!?” tanya Bintang menantang.


“Kemaren!” sahut Nabila.

__ADS_1


“Kemaren kapan? Kemaren gue gak sengaja ketemu terus ngobrol bentar. Cemburuan amat, n*jis.”


“Beren*sek lo. Udah, lo cocokan sama dia noh, sama-sama gila.”


“Dih, lo gimana sih? Gue udah jujur juga. Balikin sini HP gue,” pintanya kesal.


“Mau gue cemplungin, biar lo tau rasa!”


“Jangan lah!”


Akhirnya Nabila mengetik sesuatu di roomchat Bintang dengan Dina.


Jangan ganggu pacar gue lagi lo, Din! Gue ancurin muka lo berani chat Bintang.


Setelah itu Bintang merampas ponselnya. “Lo kok seenak jidat sih sekarang?”


“Lah? Lo nganggep gue gak? Bukannya ngomong sendiri ketemu Dina, malah gue denger dari orang lain. Lo gak ngotak?”


“Mulut lo minta digampar? Nyablak banget.”


“Bodoamat. Lo gak pernah ngertiin gue! Lo deket sama Aurel masih gue maklumin. Kalo sama Dina, gue gak terima. Mending lo sama dia aja sekalian.”


“Lo ngajak putus?”


“IYA!”


Tangan Bintang melayang hendak menampar Nabila yang bahkan sudah memejamkan matanya.


“BINTANG!” Aurel tidak sangka melihat Bintang seperti itu. Menampar bukanlah hal sepele. Ia segera menghampiri Nabila yang juga kaget.


“Kamu kenapa mau nampar Nabila?”


Bintang cepat-cepat menurunkan tangannya, “Lo tanya sendiri sama dia.”


“Ya lo yang jawab!” sentak Nabila.


“Udah!” Aurel menghentikan mereka. “Bintang, gak ada cara lain emang?”


“Dia yang nuduh-nuduh.”


“Nuduh apa?” tanya Aurel.


“Nuduh gue ada apa-apa sama Dina. Gue gak sengaja ketemu. Lagian kita dulu ada perjanjian bakal memperbaiki semuanya, kita bakal maafin Dina kan.”


“Aku gak pernah setuju,” sergah Aurel. Dia menjadi tidak peduli jika ada nama Sadira atau Dina dalam setiap obrolan. “kalian yang janji. Aku, nggak.”


Nabila puas mendengar jawaban Aurel.


“Lebih baik kamu sama Skala bicarain perjanjian itu. Apapun masalahnya yang menyangkut Dina atau Sadira, apalagi masa lalu aku, gak ada yang bisa diperbaiki, Bintang. Apanya yang mau kalian perbaiki? Hubungan kalian? Ya silahkan. Tapi aku, maaf, gak akan bisa.” Aurel menggenggam tangan Nabila. “lain kali aku liat kamu nyakitin Nabila lagi, aku bakal perlakuin kamu sama seperti aku memperlakukan Dina.” Dia tidak main-main. Dari kemarin sudah cukup ia menahan unek-uneknya karena Sadira. Aurel dan Nabila keluar dari gelanggang.


Bintang tidak tahu lagi dengan Aurel. Dia sudah berubah karena kebencian masa lalu, ditambah dibohongi Skala -orang yang Aurel percaya selama ini.


**


“Rel. Lo benci banget sama Dina?” tanya Nabila di jalan.


“Nggak. Aku gak suka Bintang begitu. Dia berani main tangan.”


“Iya sih.. gue juga kaget.” Tidak dipungkiri, Nabila kira wajahnya akan rusak kalau Bintang benar menamparnya.


Aurel berhenti dan menangis tiba-tiba. Nabila memeluk sahabatnya yang memang rapuh.


“Udah… lo percaya kan sama gue? Kita pasti bisa laluin ini sama-sama.” Nabila ikut bersedih. “soal Skala sama Bintang, kita jaga jarak dulu sama mereka. Gue gapapa kok. Biar mereka mikir juga apa kesalahan mereka.”

__ADS_1


**


__ADS_2