
Skala menjadi pusat perhatian seisi rumah karena menggandeng Aurel. Tapi Skala masa bodo. Toh ia kesini berkat Aurel.
Skala menghampiri keluarganya yang sedang bersantai di ruang tamu.
“Om Skalaaaa! Akhirnya Om pulangg!” Ponakan Skala yang paling cempreng itu langsung berhamburan memeluk kakinya.
Skala mengusap kepala anak itu, “Iya, maaf ya kalo lama, Aurel.”
Apa? Nama ponakan Skala sama dengan nama Aurel?
“Gapapa, Om.” Dia menatap Aurel, “Ini siapa, Om?”
Semua tampak mewanti-wanti jawaban Skala.
“Ini sahabat Om disana. Namanya Aurel.”
Aurel kecil terkikik, “Wahhh! Nama kita sama!!” Dia loncat-loncat kegirangan.
Semua keluarganya tampak lega mendengar kata “sahabat” dari pengakuan Skala.
“Eumm.. gimana ya panggilnya?” Aurel kecil bertanya sendiri.
“Nama lengkap kamu siapa?” tanya Aurel ramah.
“Aurel Mega Akhza, bagus gak nama aku?” tanyanya berharap.
“Bagus kok. Yaudah, sekarang aku panggil kamu Mega aja. Gapapa ya?” Aurel agak membungkuk untuk menatap manik Mega.
“Gapapa, Kak.” Mega tersenyum lebar. “Kakak tinggal disini ya? Disini aku gak ada teman main…” Mega membalikkan badan sambil menangkupkan kedua tangannya di dada, “Kakek, Kak Aurel yang cantik kayak aku mau aku bawa main ke belakang. Boleh kannn?” Dia kedip-kedip manja.
Akhza mengangguk datar, “Silahkan.”
“Yeayyy!” Mega bersorak gembira dan menarik tangan Aurel agar ikut dengannya ke halaman belakang.
“Skala, sebentar ya,” izin Aurel sebelum menghilang di pintu. Skala mengangguk setuju.
Skala menyalami kedua orangtuanya dan duduk diseberang meja.
“Bang Andre mana?”
“Ke Kantor.”
Maksudnya Bina Atlas, Andre kakak pertama dari Skala menjabat jadi Staff Kepala HRD.
“Mbak Sofi?” Nah Sofi ini isterinya Andre alias kakak iparnya Skala.
“Lagi keluar.”
Akhza mengintruksi yang lain untuk meninggalkannya dengan Skala disini, “Gemintang, Embun, sama Fajar bisa kembali aktivitas.”
Skala melihat adik-adiknya kembali ke kamar masing-masing.
“Jadi… perempuan yang kamu bawa benar hanya sahabat kan?” tanya Akhza.
“Iya benar.” tapi otw jadi isteri.
Rhea diam membiarkan mereka bicara dulu.
“Kantormu yang di Jakarta gimana?”
“Alhamdulillah lancar, investasi juga banyak yang masuk,” jawab Skala.
Akhza mengangguk, “Bagus.. Ayah kira kamu ada masalah disana sampai gak bisa dihubungi berbulan-bulan.”
Itu sebenarnya saat Skala menyelamatkan Aurel, ponselnya hilang, entah jatuh di air bagian mana, ia juga tidak berniat mencari karena tidak mikir kesana.
“Ayah kenapa nyuruh orang ke kantor? Pegawai disana sampai takut.”
“Ya Ayah suruh cari kamu disana. Kamu 6 bulan disana ngapain aja sampai gak bisa dihubungi?”
“Aku…” Skala berpikir keras mencari alasan. “aku banyak urusan. Cari rumah baru, bolak-balik kantor ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya Rhea khawatir.
“Ceritanya panjang, nanti aku ceritain,” Dia juga bingung dari mana ceritanya.
“Yasudah,” pasrah Rhea.
“Aku mau ke kamar sebentar.” Skala berdiri dan melangkah.
“Kamu siap tunangan sama Sadira kan?” tanya Akhza.
Skala sudah duga. Makanya ia beranjak lebih cepat, niatnya supaya tidak ditanya itu.
Skala menjawab tanpa berbalik badan, “Jawabannya sama seperti 1 tahun lalu, Yah. Skala permisi.” Ia kembali berjalan.
Mau sampai kapan pun. Skala menolak keras dekat atau tunangan dengan Sadira yang terobsesi dengannya. OGAH. Lebih baik kawin lari dengan Aurel *eh.
***
Aurel memperhatikan Mega yang sedang melihat Bunga di taman rumahnya.
“Aku kok baru liat bunga ini?” Mega menoel bunga itu penasaran.
Aurel membungkuk, “Ini namanya bunga Tapak Sepatu.”
“Ohhh, Tapak Sepatu…”
“Mega umur berapa?”
“Umur delapan!” jawabnya bangga.
“Berarti kelas dua SD ya?”
Mega mengangguk.
“Kak, aku sengaja bawa Kakak kesini. Daripada sama Kakek-Nenek nanti ditanya yang gak-gak. Bilang apa dulu donggg ke aku,” katanya berlagak superhero untuk Aurel.
“Terima kasih… lain kali gak usah, gapapa kok. Kakak kan sama Om kamu sahabatan, jadi gak bakal ditanya yang aneh-aneh.”
Mega manggut-manggut, “Iya deh… Kak Aurel beda ya sama Kak Dira.”
“Kak Dira tiap aku ajak main gak mau. Katanya ‘buang-buang waktu’. Kak Aurel merasa gitu gak main sama aku?”
Aurel menggeleng, “Nggak kok. Justru dari dulu.. Kak Aurel berharap bisa main kayak Mega sekarang. Tapi sayangnya gak bisa.”
“Kenapa?”
“Gak punya teman,” ucapnya miris.
“Sama.”
“Huh? Kok bisa?”
“Kakek gak bolehin aku main di luar. Soalnya pernah main sepeda terus jatuh, jadi demam deh.”
“Ohh gitu. Sekarang Kak Aurel jadi teman Mega aja gimana?”
Mega memeluk Aurel, “Mau dong.”
Aurel pernah merasakan bagaimana tidak punya teman. Orang lain saja seakan melarang anaknya untuk bermain dengan Aurel, karena Damar suka mabuk dan melukai anak lain.
“Dulu… Kak Aurel cuma punya dua sahabat. Namanya Kak Bintang sama Kak Nabila. Mereka baik.” Walaupun sempat terjadi kesalahpahaman, itu sudah selesai dan di mata Aurel mereka tetap baik sampai sekarang.
“Kok gak ikut kesini?” tanya Mega masih memeluk Aurel erat.
“Mereka lagi liburan jauh.. hehe.”
“Terus kakak sampai sekarang cuma punya dua?”
“Sekarang ada banyak. Ada Kak Bintang, Kak Nabila, Kak Fina, Kak Ghaisan, Kak Juli, Om Skala, Dokter Alatas, terus kamu.” Eh tidak, kurang satu. “ada Dokter Bara juga tadi Kak Aurel kenalan.”
“Wahh, banyak banget.”
__ADS_1
Iya benar, banyak. Setidaknya sedikit, namun berkesan. Mereka dengan kebaikan hatinya mau berteman dengannya yang tidak punya apa-apa.
“Mega terus berbuat baik sama orang-orang. Nanti dapat sahabat yang baik juga.”
“Gitu ya cara dapat sahabat.”
“Iya, begitu.”
“Aku suka Kak Aurel daripada Kak Dira. Aku mau bilang ke Kakek ah.” Tiba-tiba Mega beranjak dan berlari masuk ke ruang tamu.
“Kakek! Kakek!” seru Mega mengundang perhatian semuanya.
Ada Akhza, Skala, Rhea, dan Embun disana sedang tebak-tebakan lucu. Skala menahan bahu Mega, “Kenapa, Rel?”
“Aku? Aku kenapa?” tanya Aurel satunya merasa terpanggil karena baru masuk juga.
Skala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Maksudnya Aurel yang kecil.”
Mega terkikik, “Om Skala sekarang panggil aku, Mega. Oke?”
“Oh iya lupa. Sini, Rel, duduk.” Aurel berjalan sebentar dan duduk di samping Skala.
“Jadi nama dia, Aurel juga?” tanya Embun baru tahu.
Skala mengangguk, “Iya.”
“Sementara, Embun sama Aurel satu kamar aja.”
Embun setuju saja karena Aurel terlihat baik.
“Sebenernya tidur di kamar Skala juga gapapa, Mah.”
Skala dapat pelototan tajam dari Aurel, Embun, dan Mega.
Rhea tertawa, “Anak mama udah dewasa ya.. tapi mohon maaf gak bisa. Kamar laki-laki banyak setan.”
Akhza menggeleng tidak percaya, “Maaf ya, Nak. Skala memang suka bercanda.”
“Udah biasa, aneh juga,” sablak Aurel.
“Aneh gimana?” tanya Embun kepo.
“Iya, aneh gimana?” sambar Rhea.
“Skala punya kebiasaan aneh. Dia…”
Skala menutup telinganya sendiri.
“Setiap pergi ke kantor selalu buru-buru dan gak sadar setelannya gak sinkron. Masa atasannya jas, bawahnya boxer.”
Semuanya tertawa keras. Bahkan Akhza sampai mengusap air mata di sudut matanya, “Iya benar. Dia suka gitu kalau mau ke kantor.”
Rhea masih tertawa ringan, “Sampai malu sendiri saya…”
Embun mendorong kakaknya, “Malu sih, Kak. Masa orang lain sampe tau kebiasaan Kakak.”
“Ya namanya juga kebiasaan,” Skala malu sendiri. Ia menatap Aurel yang sedang menjulurkan lidah meledek. Awas saja dia. Akan ia balas nanti.
“Keliatannya kamu tau Skala sampai akar ya,” kata Akhza kagum.
“Gak juga…” Aurel tersipu malu. Ia kenal Skala kan karena tinggal satu rumah demi keselamatan dirinya.
Mega kesal, “Aku kan mau cerita. Kok kalian jadi yang cerita sih?”
Skala memangku Mega, “Oh iya ya, lupa. Maaf ya. Mau cerita apa sih?”
“Aku suka Kak Aurel. Kakek bisa gak jodohin mereka aja? Daripada Kak Dira.. sombong, suka marah-marah.”
Atmosfer mendadak panas. Kalian jelas tahu selanjutnya bagaimana.
***
__ADS_1
*ini pict pas Aurel sama Skala ke Skala Atlas.