SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Pengkhianat yang Sebenarnya


__ADS_3

Ibu lo sekarat! Cepet pulang!


Setelah mendapat pesan dari Damar, Aurel langsung loncat dari kasur dan menabrak Bara di depan pintu yang baru pulang dari Rumah Sakit. Hidungnya memerah.


Bara bertanya, “Ngapain?”


“Aku mau ke Juli.” Aurel berjalan ke ruang tamu. Bara mengangkat bahunya acuh.


“Juli! Ibu sekarang dalam bahaya, ayo kita pulang.” Aurel menarik baju Juli.


“Hah?? Gimana, gimana?”


“Bapak chat aku katanya Ibu sekarat. Ayo, Jul. Kita jemput Ghaisan, Fina, sama Bintang abis itu ke Jakarta.”


Juli berdecak ketika Aurel matanya berkaca-kaca karena khawatir Alya diapa-apakan.


“Gue belom mandi, Rel.” Juli jujur.


Bara duduk mengambil toples berisi keripik pisang, “Gausah mandi.. semprot parfum aja.”


***


“Skala. Gemintang mana?” tanya Aurel padahal baru masuk disambut Skala.


Ia ingin menyelesaikan urusannya yang menggantung disini sebelum ke Jakarta dengan tenang.


Skala yang semula merentangkan tangan karena menyambut Aurel, jadi datar. “Tuh disana.. mau ngapain?”


Langkah Aurel terhenti, “Sadira udah pulang?” Ia menatap lurus Gemintang yang bersenda gurau dengan Sadira.


Mendengar namanya disebut, Sadira beralih, “Eh, Aurel…”


Tidak memperdulikan Sadira. Aurel menghampiri Gemintang, “Ikut aku.”


Gemintang mengikuti langkah Aurel yang berhenti di gazebo halaman belakang.


“Kamu yang waktu itu nabrak aku di jalan kan?”


“Bukannya udah minta maaf?” tanya Gemintang songong.


“Maaf,”


Iya benar. Suara yang 99,9% mirip.


“Berarti kamu udah tau Sadira ada disana?” selidik Aurel.


“Maksudnya?” Gemintang memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


“Kamu kasih kode ke aku?”


Gemintang mengusap rambut dengan jari jemarinya, “Aku gak sengaja jalan pulang… terus nabrak kamu.”


“Gemintang. Aku gak bodoh ya. Kamu yang jatuhin kertas yang isinya Sadira di belakang kamu. Ya kan?”


Gemintang sadar kalau itu akan jadi senjata Aurel. “Iya.”


“Atau mungkin… kamu suka sama dia.”


"Ternyata ingatan kamu gak sepenuhnya kembali.”


Aurel terhenyak. “ Maksud kamu?”

__ADS_1


“Kamu gak ingat siapa Sadira?”


Aurel diam menatap Gemintang.


“Dia… Dina.”


Jeng Jeng Jeng…


Nafas Aurel mendadak pendek, kakinya melemas seakan mati rasa mendengar Gemintang menyebut nama itu.


“Perlu dijelaskan. Dina a.k.a Sadira selaku calon tunangan Skala yang suka kamu itu, adalah teman dekat Nabila. Kalian pernah satu kelas, bukan?”


Mata Aurel memanas, bulir-bulir air jatuh dari matanya jika mengingat bagaimana seorang Dina dulu.


“Kamu… yang di-bully mereka?”


Ya. Benar.


Aurel ingat ketika Nabila, Dina, dan lainnya memukul dan menendang tubuhnya tanpa ampun. Bahkan wajahnya pernah lebam-lebam karena ditampar mereka. Ia bisa memaafkan Nabila, tapi Dina… dia otak dari semuanya. Dialah orang jahat yang sudah memanipulasi semua orang untuk menghina dirinya dengan melempar berbagai fitnah.


Gemintang merubah ekspresinya saat Aurel keringat dingin, cemas. Ia tersenyum kemenangan membongkar kedok Kakaknya yang dari awal berniat mempermainkan keluarganya.


“Skala… orang yang kamu percaya. Dia udah tau kalau kamu mau bunuh diri di jembatan itu. Dia cuma mau kamu buat gantiin posisi Sadira yang kecelakaan.”


Aurel mendongak. Harusnya ia sadar, tidak ada yang bisa dipercaya selain Alya -ibunya. Gemintang tidak mungkin bohong, dia adik Skala yang jarang bicara selama ia disini. Sekali dia bicara, itu fakta.


“Di dunia ini… gak mungkin ada cowok yang rela nungguin cewek yang gak dia kenal terus tiba-tiba cinta. Omong kosong. Kamu tertipu.”


Aurel sudah ditampar kenyataan yang menyakitkan tentang Skala yang selama ini bersikap sok baik dan sok manis membantunya tanpa pamrih. Harusnya ia sadar… tidak ada manusia yang seperti itu. Apalagi diciptakan untuknya yang hanya sisa nasi basi.


“GEMINTANG!” teriak Skala murka dari pintu penghubung. Ia langsung menghampiri adiknya dan menarik kerah baju Gemintang. “Apa-apaan kamu ngomong gitu sama Aurel, hah?!!” bentaknya menggema.


“Udahlah, Kak. Jujur aja… kasihan Aurel udah dibohongi sahabatnya, keluarganya, sekarang sama Kakak. Dimana hati, Kakak?”


Gemintang berdecih, “Gara-gara Sadira. Aurel bunuh diri, Kak! Terus giliran Sadira dapat karma, Kakak justru mengambil kesempatan jadi pahlawan buat Aurel! Buat apa???” Ia benar-benar kasihan dengan Kakaknya yang bermuka dua.


“Gak cuma Sadira yang harus dapat pelajaran, tapi Kakak juga. HARUS!”


Bugh’


Skala memukul perut Gemintang sampai tersungkur.


Aurel menutup mulut tidak percaya. Tidak. Skala tidak kasar seperti ini. Ia membulatkan mata ketika Skala berjalan tatih ke arahnya dengan tatapan memohon.


“Rel, please. Percaya, itu dulu. Sekarang udah berubah. Aku sayang kamu.”


“Jangan deket-deket aku!” Aurel menggeleng keras.


Skala berhenti sesuai perintah Aurel.


“Wah… permainan sesuai prosedur.” Sadira datang lalu menutup pintu penghubung. Ia bertepuk tangan setelah menonton mereka bertiga.


Skala membenci dirinya sendiri pernah kenal dengan perempuan selicik Sadira.


Gemintang berdiri dan memandang Sadira rendah, “Bangga? Puas? Itu sifat jal*ng.”


Sadira tidak terkejut. “Gemintang… Gemintang… lo itu dari dulu emang naif, cocok sama Aurel.” Ia beralih menatap Aurel, “gimana? Bahagia kan lo setelah tau faktanya? Gak ada lagi Skala yang lo banggain. Dia… pengkhianat disini.”


Skala mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kalau bukan perempuan, Sadira pasti sudah habis sekarang.


Aurel semakin ingin memberi mereka pelajaran. Skala dan Sadira. Walaupun mereka tidak bersekongkol menjebaknya, tapi mereka sama-sama mempermainkan hidupnya.

__ADS_1


Aurel mendekati Sadira dengan tatapan sulit ditebak. Ia mengulurkan tangannya, “Aku maafin kamu.”


Sadira memandang remeh tangan Aurel, “Lo gila?”


“Aku serius.” Dia tersenyum. “kita jabat tangan dulu.”


Sadira yang bingung langsung jabat tangan dengan Aurel. Aurel menggenggam tangan Sadira sangat kuat sampai gadis itu minta dilepaskan.


“Kamu terlalu meremehkan aku, Dina. Harusnya kamu sadar. Kamu kecelakaan dan koma, itu balasan karna kamu dulu injak aku!”


Sadira terpaku.


“Ayo kita akhiri bersama.”


Aurel menarik tangan Sadira untuk melompat ke dalam kolam renang sedalam dua meter yang ada tepat di depan gazebo.


Skala dan Gemintang terbelalak.


“KAK! MEREKA GAK BISA RENANG!” teriak Gemintang panik.


Skala tidak peduli dengan Sadira. Ia mengkhawatirkan Aurel yang trauma dengan kedalaman air. Mereka bergegas melepas sandal dan nyebur ke kolam menyelamatkan dua-duanya. Skala melihat mereka sudah tidak sadarkan diri di dalam air. Perasannya makin tidak enak.


Sedangkan Gemintang membawa Sadira ke tepi. Untung saja pengkhianat itu langsung sadar walaupun terbatuk-batuk dan pucat. Tanpa memastikan keadaan Sadira, Gemintang naik ke atas dan meneriaki Skala. “Kak! Bawa ke atas!”


Akhirnya Skala muncul ke permukaan untuk meletakkan Aurel di tepi, baru ia naik memberikan pertolongan pertama dengan resustasi jantung. Kondisi Aurel lebih parah karena dia punya trauma, bahkan pingsan lebih lama.


Gemintang mengecek nadi di leher Aurel. Tidak terdeteksi.


Lalu berpindah mengecek nadi pergelangan tangan Aurel. Ada, namun sangat lambat.


Gemintang meninggalkan mereka untuk meminta yang lain memanggil dokter atau kalau bisa ambulans sekalian supaya Aurel selamat. Skala masih berusaha melakukan resustasi jantung agar Aurel sadar mengeluarkan air yang mungkin masuk ke paru-parunya cukup banyak.


“Please, Rel, aku belum minta maaf,” gumamnya tidak karuan. Ia bertumpu dengan satu tangan di keramik, “aku minta maaf…” lirihnya menangis.


***


Plak’


Bintang menegur Nabila yang menampar Skala barusan karena membuat Aurel celaka sampai masuk IGD dan belum ada dokter atau perawat yang keluar merincikan kondisi Aurel.


“Bil… udah.” Bintang tahu Nabila marah dan kecewa karena Skala ternyata tahu semuanya sebelum Aurel bunuh diri.


“Saya gak terima, Pak. Walaupun dulu saya pernah bully dia, saya gak pernah kayak Pak Skala. Bermuka dua sok-sokan jadi pahlawan buat Aurel.”


“Nabila, udah.. ini Rumah Sakit,” tegur Juli yang sudah duduk menunggu kabar.


“Aurel gak butuh orang kayak Pak Skala,” tekan Nabila tidak main-main. “soal Dina. Balik aja sama dia. Saya udah gak mau berhubungan sama kalian.”


Fina yang sejak tadi mendengar perdebatan sepihak dari Nabila langsung menghampiri mereka. “Bapak boleh pulang. Ada kita disini. Toh, kalian harus siapin pertunangan minggu depan kan?” Kali ini Fina malas berekspresi hendak mencakar Skala. Dia marah. Marah pada dirinya sendiri tidak bisa menjaga Aurel dari pria munafik seperti Skala.


“Saya gak akan pulang sebelum liat Aurel baik-baik aja.”


“Dia baik-baik aja kalo Bapak pergi dari sini,” tukas Nabila berapi-api.


Juli menyandarkan kepalanya di dinding, “Yaudah lah… terserah dia aja mau ngapain. Kita gak harus repot-repot ngatur orang.” Ia memejamkan matanya sambil berdoa.


Ghaisan sejak tadi diam. Ia malas bicara juga lelah dengan drama kehidupan yang berakhir tragis.


“Wah, saya gak tau lagi mengekspresikan perasaan kalian. Pasti bahagia ya?” ujar Fina memandang remeh Skala.


Skala tersenyum, “Saya lebih sakit dari kalian.” Ia lantas pergi meninggalkan luka di hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2