
PLAK'
Wajah Nabila berpaling kesamping begitu Wijaya —Ayahnya, menampar pipinya.
"Ayah berkali-kali bilang apa ke kamu?! Jangan deketin Bintang! Dia itu gak jelas asal-usulnya. Orangtuanya aja gak ada yang mau ngasuh, terus apa yang kamu harap dari dia?"
Nabila memegang pipinya yang terasa panas, "Dia juga berusaha memperbaiki keluarganya, Yah."
"Selama ini Ayah udah berkorban buat kamu. Sekarang giliran kamu," ujar Wijaya lalu pergi dari hadapan Nabila.
Kaki Nabila lemas tidak sanggup menahan tubuhnya hingga terduduk di lantai dan menangis. Kemarin ia masih bisa menahan air matanya, namun hari ini... ia lelah dengan kekangan dari Wijaya. Dia memandang remeh Bintang karena hidup sendiri tanpa orangtuanya.
Orangtuanya yang gak mau ngerawat, kenapa Bintang yang disalahin?
Nabila yang kenal Bintang sudah lama pun tidak merasa dirugikan. Justru ia nyaman dengan tingkahnya.
"Gue gak sekuat lo, Rel."
"Tapi kamu lebih kuat dari aku, Nabila."
Aurel bohong. Nyatanya dia tidak lebih kuat dari Aurel. Dia hampir kalah karena tidak mampu menjelaskan pada Wijaya bagaimana Bintang berusaha ada disisinya.
"Kenapa lo selalu baik sama Skala, Rel?! Dia udah khianatin lo!"
"Dia udah nolong aku."
Tidak, tidak. Nabila kehilangan jati dirinya. Aurel bilang, dia adalah perempuan yang pemberani dan kuat. Nabila harus buktikan itu.
Ia bergegas keluar dari rumah menuju kediaman Aurel untuk menemukan solusi.
"Assalamu'alaikum, Aurel..!"
Rupanya yang membuka pintu adalah Bara dengan wajah datar. "Ngapain?"
"Aurel mana?"
Bara mengisyaratkan kalau Aurel ada di dalam. "Keliatannya ada masalah."
Nabila mengabaikan ucapan Bara karena Aurel muncul dari belakangnya. "Rel, boleh gue masuk?"
Aurel mengangguk, "Boleh." Ia pun mengajak Nabila ke kamarnya, tak lupa ia kunci pintu supaya Bara tidak nguping.
"Rel, menurut lo, gue harus gimana? Bokap ngamuk gara-gara gue pacaran sama Bintang. Pusing kepala gue." Nabila memegangi sisi kepalanya yang berdenyut.
"Ini bukan yang pertama kalinya kan?"
"Hmm."
Aurel menyentuh pipi Nabila, "Pipi kamu biru. Kenapa?"
"Gue digampar sama Bokap."
"K—kok bisa?"
"Ya gara-gara masalah itu..."
__ADS_1
"Kamu bilang kalo itu sakit. Jangan diam aja."
"Lo tau kan Bokap gue itu keras kayak gue. Jadi kalo gue gak ngalah, bakal bersambung kayak cerita, gak kelar-kelar."
Aurel tersenyum tenang, "Bintang berani bicara sama Ayah kamu gak? Kalo berani, kalian jujur aja. Resikonya kalian hadapin bareng-bareng."
Wajah Nabila maju menelisik kedua mata Aurel. "Lo ngasih solusi, seakan-akan yang punya masalah lo sendiri."
Aurel menggenggam tangan Nabila untuk memberinya semangat. "Aku cuma nyemangatin kamu karena kamu sering lupa."
"Gue bukan lupa. Tapi tiba-tiba kalo gue dimarahin, gak bisa mikir apa-apa. Kosong semua." Nabila kadang kesal dengan otaknya.
"Besok aku ke Bandung. Nanti aku suruh Bintang pergi sama kamu supaya gak pusing lagi."
"Ngapain lo ke Bandung?" Nabila mengerutkan dahi melihat Aurel menunduk menyembunyikan senyum sedihnya. "Oh gue tau! Gue lupa, ya ampun! Gue gak seharusnya ngeluh gini. Masalah lo sama Skala lebih berat dari gue."
Aurel menggeleng. "Kita sama, Bil."
Nabila memeluk Aurel dengan erat, "Kapan gue bisa se-sabar lo, Rel..? Jiwa bar-bar gue sering muncul gitu aja."
Aurel mengusap punggung sahabatnya, "Aku mau. Pas aku pulang kesini, semua baik-baik aja."
"Rel, lo bisa ngadu ke gue kalo Skala gak berani perjuangin lo."
"Aku percaya dia berani."
●●
Aurel masuk ke mobil disusul Skala menuju Bandung untuk bertemu keluarganya. Aurel memasang earphone supaya pikirannya tenang daripada meledak sebelum waktunya.
"Yakin?" tanya Aurel sambil menoleh ke jendela.
Skala mengangguk, "Kok jadi kamu yang ragu?"
"Selama ada Rumi, kamu yakin bisa jelasin sendiri?"
"Kenapa bawa-bawa Rumi?"
"Kenapa juga kamu sewot?"
Skala berdecak. "Dasar cewek."
Aurel menghela nafas kasar menyudahi perdebatan kecil yang bisa jadi besar. Ia memikirkan kedua sahabatnya yang dikekang. Bagaimana Bintang disana? Apa pria itu bersedih sampai perasannya campur aduk tak menentu.
[Nada dering ponsel]
"Skala, bisa nepi sebentar? Ayah nelpon aku."
Skala menepikan mobilnya atas permintaan Aurel.
"Wa'alaikumsalam, Ayah. Ada apa?"
[Rel. Bara nyari kamu. Kasih tau gak?]
"Jangan dulu, Yah. Aurel takut Bara nanti nyusul ke Bandung. Bilang aja aku pergi sebentar, nanti malam aku pulang."
__ADS_1
[Oh yaudah. Hati-hati ya]
"Iya. Ayah jangan lupa makan ya, istirahat yang cukup."
[Iya, Ayah sayang Aurel]
"Aurel juga."
Setelah Aurel memasukkan ponsel ke tas, barulah Skala bicara. "Bara kenapa?"
"Gak ada di rumah. Kayaknya dia nyari aku."
Pria itu jelas malas mendengarnya. "Kamu gak bilang sama Bara?"
"Gak. Dia pasti minta ikut."
Skala kembali mengendarai mobilnya. "Ya... Kakak over-protektif."
Aurel menoleh tidak terima, "Apa kamu bilang?"
Skala diam saja.
"Bara begitu karena ngelindungin aku."
Namun Skala hanya meliriknya sebentar.
"Kalo kamu dendam karena kemarin Bara marahin Rumi, marahin aja aku. Daripada kamu terang-terangan gak suka Bara."
"Udah berapa kali aku bilang. Aku gak bisa marahin Rumi sama kamu."
Kemarin mungkin jadi bendera perang pertama yang dikibarkan Bara dan Skala karena mempertahankan dua perempuan. Disisi lain Skala sayang Aurel, namun tidak bisa melihat Rumi disalahkan Bara. Apalagi Bara yang tidak terima mendengar adiknya direndahkan oleh orang asing seperti Rumi.
"Percuma modal cantik kalo gak punya hati!"
Rumi mengadu perkataan Bara ke Skala yang membuat perselisihan mereka makin jadi.
"Bara. Gak usah ladenin mereka, ngabisin tenaga dan waktu kita. Masih ada 12 jam yang buat kita bahagia."
"Kalo diizinin, lebih baik kamu gak usah deket-deket sama keluarga konglomerat. Bukannya kamu denger juga, kalo kita gak pantes BERTEMAN sama mereka?" Wajah Bara memerah menahan kata-kata kasar yang siap ia lontarkan untuk Rumi maupun Skala.
Aurel menautkan jemarinya ke jemari Bara. "Kita pulang sekarang."
Bara menghela nafas kesal, "Kalian beruntung ada Aurel disini."
Bara berjalan keluar dari kantor Skala dengan emosi tertahan. Aurel yang baru membalikkan badan, tidak jadi karena ada kalimat yang harus ia sampaikan untuk Rumi.
"Aku gak mau tau soal hubungan kamu sama Skala. Aku hargai kedatangan kamu. Tapi ucapan kamu ke Bara, gak cuma nyakitin dia. Tapi aku juga."
Rumi dengan angkuhnya bersidekap dada, "Supaya kalian sadar."
"Rumi, cukup!" tekan Skala yang mulai muak.
"Rumi. Sesama perempuan, kita sayang orang yang sama. Jangan buat dia takut." Aurel melirik Skala yang mengeraskan rahangnya sejak tadi. Namun begitu ia lirik, Skala hanya mampu memukul angin dan menggeram pelan.
Itulah sebabnya Bara marah. Ditambah lagi ada kesan buruk mengenai Kakak dan Kakak Ipar Skala yang menelantarkan Ranu. Rasanya ingin sekali merukyah keluarga itu.
__ADS_1
Bersambung...