
"Papi, aku penasaran." Jeni merengek sambil bergelayut di lengan Bara agar segera diberitahu.
Frida memisahkan anaknya dari Bara. "Kalau Papi gak mau cerita jangan dipaksa. Kena damprat kamu nanti," tukasnya merasa bising.
Bara tidak masalah kalau Jeni penasaran. Tetapi dia tidak nyaman kalau sampai Skala dengar.
"Nanti kamu tau sendiri," jawab Bara.
Aurel rupanya sudah bertranformasi menjadi anak rumahan yang anggun dengan memakai kulot hitam dan kemeja putih. Ia dengar Jeni bertanya, padahal ia harap Om Bara memberitahu siapa pria itu. Ternyata sama saja dengan ayahnya, mereka menghindar untuk menjawab.
Skala dengar dari tempatnya berdiri. Aurel memang pernah bertanya siapa pria itu, namun tidak pernah sekali pun olehnya.
Pria itu adalah Julias. Lelaki yang merupakan cinta pertama Aurel saat mereka muda.
Orang ketiga yang dikatakan Jeni bukanlah Juli, melainkan Skala. Dia lah yang menikahi Aurel dengan dalih ingin menjadi penawar obat hatinya setelah kepergian Juli.
Alasan Skala tidak memberitahu Aurel adalah masih punya rasa malu. Jika Aurel tahu ayahnya telah berada di tengah hubungan ibunya dan Juli, dia takut akan dibenci.
Sesungguhnya saat Skala menemani Aurel saat dia sedih, hatinya seakan runtuh. Dia bahkan baru mendengar bahwa Aurel mencintainya di detik-detik terakhir Tuhan mengambil nyawanya. Oleh karena itu Skala memutuskan untuk merawat Aurel seorang diri sampai saat ini setelah mendengar pengakuan yang membuat ketegaran hatinya berlapis.
"Papa."
Skala membalikkan badan dan melihat Aurel berdiri tepat di belakangnya. "Kenapa?"
"Papa baik-baik aja?"
Skala mengangguk walaupun ragu bisa atau tidak membohongi anaknya. "Iya. Papa baik-baik aja."
"Aurel bantu bawa minumannya buat mereka." Ia membantu bawa nampan berisi gelas lalu Skala membawa teko berisi jus mangga untuk ketiga tamunya.
"Silakan diminum," ucap Skala mempersilakan mereka meminum jus terlebih dahulu barangkali haus.
"Makasih, Om Skala!" pekik Jeni lantas meminum jusnya. Begitu pun Bara dan Frida.
"Sama-sama," balas Skala.
"Skala, Aurel anak baik ya." Dalam hati dia bertanya kapan Jeni bisa mencontoh Aurel agar rumahnya tidak bergetar karena suara cempreng anaknya.
Skala tersenyum, ternyata dia sudah mendidik Aurel cukup baik sampai Bara memujinya.
"Kita tukeran anak sehari aja gimana?" usul Bara.
__ADS_1
Jeni tersedak salivanya sendiri mendengar betapa kejamnya sang ayah. "Papi sungguh kejam ... Masa mau menukar anaknya sendiri."
Frida mendukung ide Bara sepenuhnya. "Iya, Skala. Kalau boleh kita tukeran anak sehari aja."
"Mami malah ikut-ikutan Papi. Kalian tega banget." Lebih baik dia masuk lagi ke rahim ibunya daripada bertukar dengan Aurel. Yang ada dia ditelantarkan karena memilih Aurel semua.
"Aku mau jaga Papa," ungkap Aurel. "Jeni kalau mau nginap di sini gapapa kok. Aku malah senang punya teman ngobrol."
Kalau itu Jeni mau. "Setuju!"
"Jangan. Nanti kamu nularin petasan ke Aurel," kilah Bara. Untuk Aurel tetap kalem saja, jangan sampai terpengaruh pergaulan oleh Jeni yang berisiknya minta diguyur orang sekampung.
Jeni merengut kesal, ditambah ibunya tertawa jahat melihat dia ditentang sang ayah.
Aurel tidak keberatan. "Gapapa, Om. Om Bara juga kadang ada jadwal operasi sampai malam, kan? Tante Frida juga kadang ada panggilan mendadak dari kantor. Jeni di sini 3 hari, aku sama Papa gak keberatan. Iya kan, Pah?" Ia menoleh ke arah Skala.
Skala tergagap tiba-tiba ditanya pendapat. "Gak masalah. Nanti sekolah Papa antar kalian karena sekolahnya satu arah." Sebenarnya tidak apa-apa selama Jeni tidak berisik karena dia menjunjung tinggi kedamaian dalam rumah.
Jeni tersenyum kemenangan. "Bye, Papi, Mami... "
***
"Menolak keras untuk ikut!" Faisal menyilangkan tangan di depan dada sebagai penolakan atas tawaran Aurel.
Aurel dilihat teman sekelasnya karena suara Faisal cukup keras. "Sekali ini aja. Aku mau kamu ikut."
"Gak!" tukasnya tidak bisa ditawar lagi.
Aurel melihat Hans dan teman-temannya berjalan di depan kelasnya. "Hans!"
Faisal yang tadi memalingkan wajah langsung menoleh karena Aurel memanggil komplotan biang onar.
"Lo ngapain manggil dia?"
Aurel tersenyum ketika Hans berhenti namun teman-temannya lanjut melangkah. Ia langsung menghampiri Hans.
Tidakkah Aurel lihat kawan-kawannya mengerutkan dahi tidak suka karena dia mendekati Hans dari kelas bawah? Mereka menganggap kelas Hans tidak satu level dengan kelasnya.
Hans melihat ekspresi tidak suka dan tatapan tajam dari kelas yang disebut-sebut sangat cerdas. Namun karena Aurel yang datang, dia tersenyum membalas sapaannya.
"Kenawhy?" Hans sampai tertinggal rombongan kantin demi berhenti di depan kelas yang memiliki aura gelap. Hmm, mereka beruntung memiliki Aurel jadi aura gelap tadi menjadi bersinar terang.
__ADS_1
Sayangnya ada satu bola hitam yang datang di belakang Aurel, membuat suasana hati Hans menjadi gelap juga. Ini sudah tidak bagus untuk tekanan darah mereka.
"Aku mau undang kamu makan malam keluarga di rumah Kakek Alatas," ujar Aurel tanpa basa-basi.
Faisal melotot seketika. "Kenapa lo malah ngajak Ransel? Baru aja lo ajak gue, Rel."
Hans tidak tahu mengapa mereka debat di depannya. Namun melihat Faisal kesal, sepertinya bukan dia saja yang diundang makan malam.
"Ada Faisal, kan?" tanya Hans menunjuk Faisal tidak niat.
"Faisal gak mau katanya," jawab Aurel sesuai kenyataan tidak lama setelah ia mengajaknya.
Hans tertawa mendengar Faisal menolak makan malam dengan keluarga Aurel. "Lanjut chat aja ya? Gue laper, belum sarapan." Sengaja Hans ulur waktu agar Faisal penasaran dia setuju atau tidak.
Aurel melambaikan tangan pada Hans yang balik badan dan pergi. Tatapan tidak kenal ia lempar pada Faisal. "Kamu gak ikut, kan?"
Faisal ingin menoyor kepala Aurel, tapi tidak bisa karena sekelilingnya banyak pria yang melindunginya.
"Nunggu Hans jawab!"
Setelah melihat Faisal kembali masuk kelas, Aurel tertawa pelan karena reaksinya tadi benar-benar lucu. Sebenarnya ia ingin ke toilet tadi, tapi karena Hans kebetulan lewat langsung ia panggil agar Faisal berubah pikiran.
Sekarang ia ingin ke toilet untuk membasuh wajah dan cuci tangan. Bukan hanya Aurel, ada dua temannya juga yang ada di dalam sedang menimpa riasan menjelang pergantian pelajaran.
Saat Aurel membasuh wajah, teman sekelasnya yang bernama Lia mengatakan sesuatu yang membuat gerakannya terhenti.
"Kayaknya lo deket sama Hans juga ya, Rel?" Perempuan yang gemar memakai wedges hitam dan rambut terurai sepinggang, peringkat ke-10 dari satu angkatan kelas 12 semester ganjil.
"Baru-baru ini," singkat Aurel.
"Terus Faisal gimana? Dia gak merasa tersaingi? Berarti kalau Faisal deket sama cewek lain, lo gak masalah, kan?" tanya Zia, sahabat Lia. Dia berada dua tingkat di atas Lia, yaitu peringkat ke-8.
Aurel apal siapa saja mereka walaupun tidak berteman dekat. Untuk jaga-jaga jika Skala bertanya siapa saja teman kelasnya, maka ia sudah mengapal semua nama dan karakter mereka.
Bagaimana pun kepribadian mereka, entah baik atau buruk, jika berada di kelas atas maka statusnya sama saja. Bahkan perisak sekali pun, akan dihormati oleh para guru karena dengan nilai mereka akreditas sekolah akan diakui pemerintah. Entah zaman apa yang semakin menggila tahun ini, Aurel kurang menyukai peraturan sekolah yang makin aneh walaupun dipimpin oleh ayahnya.
"Gak masalah selama Faisal mau."
Lia menyunggingkan senyuman. "Bagus lah. Gue udah lama mau deketin Faisal," katanya sambil memoles lipstick nude ke bibir tipisnya.
Aurel memberi Lia semangat. "Semoga lancar." Ia keluar terlebih dahulu setelah cuci tangan.
__ADS_1
Ia tidak pernah melarang Faisal untuk dekat dengan perempuan mana pun, itu haknya. Namun Aurel menghargai jika Faisal tidak membolehkan dirinya dekat dengan pria lain, dulu.
Begitu Hans datang, Faisal tampak memberinya kelonggaran dalam berteman.