
"Mohon maaf, pencarian korban atas nama Julian dihentikan karena waktu tenggang. Korban dinyatakan hilang atau bisa jadi meninggal di hulu sungai. Untuk itu, kami selaku Tim Pencarian meminta maaf sebesar-besarnya pada pihak keluarga dan kerabat korban."
Alatas dan Skala paham dengan situasinya. Mereka hanya bisa pasrah semoga ada keajaiban.
Skala mengangguk, "Terima kasih juga atas kerjasama dan bantuannya, Pak. Mohon, kalau ada warga yang melihat kerabat kami segera diinformasikan." Rasa-rasanya untuk menyebut jasad saja Skala tidak pantas karena belum pasti status hilangnya Juli di Sungai.
"Baik, kami izin pamit untuk tugas lain, Pak." Mereka bersalaman satu per satu lalu mulai pergi dengan mobil tim.
Aurel ketiduran sejak jam 11 malam. Padahal ia ingin ke lokasi untuk memperpanjang pencarian Juli. Diam-diam Bara menjaganya sejak malam sampai fajar barangkali adik tirinya nekat keluar tengah malam. Tapi ia salah, Aurel justru terlelap.
Baru membuka hordeng jendela, Bara terkejut karena Aurel tiba-tiba bangun dan duduk di kasurnya.
"Jam 8?" Ia hendak beranjak namun agak sulit karena infusan vitamin dari Bara masih menempel di punggung tangannya.
"Sini aku bukain." Bara membantu melepas jarumnya sebelum Aurel menarik selang dengan paksa.
Setelah itu Aurel memakai sandalnya dan pamit. "Bar, aku mau cari Juli lagi. Jangan ikutin aku, nanti kamu capek."
"Kamu mau cari dia kemana?"
Pertanyaan menohok dari Bara langsung menghentikan langkah Aurel yang semangat.
"Tim yang udah cari dia dari ujung kanan sampai ujung kiri aja gak nemu, Rel. Ayah semalam udah kesana, pencariannya udah di-stop."
"Aku gak bisa pasrah, Bar. Juli sahabat aku."
"Iya tapi kamu mau cari kemana?" Bara duduk di bangku sampai menghela nafas.
"Bahkan naik turun gunung pun aku cari Juli, Bar." Aurel berbalik menatap Bara.
"Kamu ngerasa bersalah karena selama ini dia punya perasaan sama kamu?"
"Seandainya kamu tau apa yang aku tanggung. Kamu juga bakal cari Juli sekalipun kamu harus masuk ke sungai."
Bara membanting gelas ke lantai. "Kamu selalu merasa bersalah, Rel! Terserah kamu mau cari dia! Cari aja sendiri sana!"
Aurel tidak menjawab ucapan Bara dan langsung pergi. Menurutnya, bertengkar dengan Bara hanya akan membuang waktu untuk mencari Juli.
Sudah pukul 8 malam, Aurel benar-benar belum pulang. Bara salah mengira kalau Aurel tidak berani se-lama ini pergi mencari Juli. Dia bahkan belum mandi atau sekedar cuci muka karena langsung pergi begitu saja.
Ditambah ia terkejut karena Alatas pulang langsung menuju kamarnya.
"Aurel mana, Bar?"
Melihat tatapan Bara, Alatas mengeraskan rahangnya dan bergegas keluar lagi. Tidak pernah dalam kamusnya ada kata "istirahat", baru pulang dari kantor Skala dan menjenguk Shiren di Kliniknya, tambah lagi Aurel pergi mencari Juli.
Aurel hanya berbekal senter dari ponselnya menyisir pepohonan lebat di pinggir sungai. Ia terus meneriaki Juli berharap ada hasil.
Kakinya sudah bengkak sebab berjalan tanpa henti. Walaupun wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar, Aurel tak gentar mencari sahabatnya.
"Lo gak sadar selama ini Juli suka sama lo?"
"Gue denger sih sejak dia liat lo di dalam air.."
"Gue tau lo cuma suka Skala."
"Gue gak akan maju. Kecuali lo kasih gue kesempatan."
Aurel berhenti di salah satu pohon sambil bersandar mengatur nafas. Sambil ia lihat sekitarnya walaupun yang ada hanya gelap dan suara jangkrik.
"Aku janji kasih kamu kesempatan... tapi kembali dulu, Jul..." Aurel menunduk menyesali semuanya. Ia sadar terlalu tertuju pada satu objek, Skala. Sampai ia tidak sadar kalau ada objek lain yang menyayanginya.
"Gue disini..."
Suara itu bak menggema di telinga Aurel bersamaan dengan kilatan terang hingga pria yang berdiri dihadapannya terlihat jelas.
Ponselnya ia jatuhkan begitu saja melihat kehadirannya lagi setelah tiga hari.
Juli terkejut karena Aurel memeluk lehernya sambil menangis sesegukan.
"Lo baik-baik aja, kan?" Juli menepuk-nepuk kepala Aurel, sedikit bingung.
Aurel tetap menangis tanpa menjawab pertanyaan Juli.
"Gue harap lo serius kasih kesempatan itu, Rel."
Aurel mengangguk tanpa memikirkan lebih dulu. Yang dipikirannya sekarang adalah Juli selamat dan itu menghilangkan beban di hatinya.
"Lo tau jalan keluarnya gak?" tanya Juli sambil duduk di bebatuan tepi sungai.
Aurel yang duduk berhadapan dengannya menggeleng pelan. Ia terus memandang Juli saking tidak menyangka.
__ADS_1
"Jangan liatin gue begitu. Gue manusia, bukan Jin yang nyamar jadi temen lo."
Aurel tersenyum, "Syukurlah."
Juli melihat pakaian Aurel, "Lo... mau tidur apa bangun tidur?"
Nampaknya Aurel mengerti. "Aku cari kamu dari jam 9 pagi."
"Masa sih?"
"Iya."
"Udah gue bilang jangan liatin gue begitu."
"Liat kamu, beban aku langsung hilang, Jul." Aurel mengambil sebatang ranting dan memainkannya kurang kerjaan.
"Gue kagum sama usaha lo, Rel."
Aurel menjawab, "Susah buat balikin keadaan. Di hari kamu hanyut, Shiren depresi."
Juli jelas terkejut, "Depresi?"
"Dia pasti merasa bersalah banget. Bara beberapa kali marah juga karena aku keras kepala mau nyari kamu."
"Rumi, gimana?"
"Meninggal."
"Lo seneng?"
"Nggak." Inilah jawaban sebenarnya. Aurel tidak bahagia mendengar Rumi tidak selamat.
"Harusnya dia menderita lebih lama, kan?"
Aurel menoleh, "Kamu agak kejam."
"Gue turut sedih." Juli mengajak Aurel untuk pergi dari sana sebelum makin gelap dan sulit mencari jalan. "Lo gak akan nginep disini kan?"
Aurel buru-buru bangun dan berjalan di belakang Juli. "Kamu tau jalannya?"
"Gue ikutin suara kendaraan lalu lalang. Deket sini kan ada jembatan." Ia berbalik dan menaik turunkan alisnya dengan pede, "Cerdas kan gue?"
Aurel mendorong punggung Juli supaya lanjut jalan, "Yaudah cepet jalannya."
Aurel sedikit flashback menunjuk batu sungai yang paling besar diantara lainnya. "Kamu jangan ke batu yang itu lagi ya, Jul."
Juli melihat batunya dan bertanya, "Kenapa?"
"Aku takut kehilangan kamu lagi."
Mungkin Aurel mengatakan itu dalam lingkup sahabat. Tapi bukankah pemikiran tiap orang berbeda? Juli contohnya, jantung pria itu entah sudah pindah ke bagian mana saking berdetak cepat mendengar tuturan Aurel.
"Jul," panggilnya sambil mengibas tangan di depan wajah Juli yang melamun. Ia tertawa kecil, "Malah ngelamun."
"Eh— i—iya. Gue denger kok." Mereka naik ke atas jembatan untuk menyetop taksi.
"Kamu tiga hari ini makan apa, Jul?" tanya Aurel penasaran.
"Gue rasa, gue gak makan. Tapi udah pasti 2 hari yang lalu gue minum air sungai. Gue kebawa arus terus gak sadar. Tiba-tiba gue sadar ada di deket batang pohon, kaki gue agak bengkak."
Aurel sangat prihatin. "Kamu udah lewatin masa-masa sulit, Jul. Karena aku liat badan kamu kurusan, jadi aku bakal traktir kamu nasi goreng."
"Beneran nih?" Juli tersenyum.
"Iya. Ayo." Aurel menyetop taksi dan mereka masuk untuk makan di tempat langganan.
Alatas memperhatikan mereka dari jauh. "Mereka kelihatan bahagia." Yang tadinya khawatir, Alatas jadi ikut senang karena Aurel berhasil menemukan Juli dan tidak ada raut sedih dari mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masuk kembali untuk pulang menunggu Aurel.
...***...
Aurel senang melihat Juli makan dengan lahap. "Kalo mau nambah, bilang aja ya."
Juli mengangguk, "Gue harus tetep jaga lemak, Rel. Dibalik musibah, gue bersyukur agak kurusan."
Gadis berbaju piyama kotak-kotak berwarna biru itu hanya bisa tertawa, "Cuma kamu yang begitu."
Juli menatap Aurel sebentar lalu lanjut makan.
"Kamu mau langsung pulang atau mau ke rumah aku dulu?"
"Gue nginep sampe besok, boleh? Paginya gue mau jemput Shiren."
__ADS_1
"Shiren?" beonya tanpa sadar. "Ohh, iya ya. Boleh kok."
Juli berdecak ketika sendoknya jatuh di bawah meja. Ia membungkuk dan mengambilnya, namun...
"Rel. Lutut lo berdarah?" Ia langsung duduk tegak mengintimidasi Aurel.
Aurel memperlambat kunyahannya dan menggeleng. "Yang penting gak sakit."
Selesai makan dan keluar dari warung, Juli mengerem jalannya dan menengadahkan tangan, "Gue minta 12 ribu sini."
"Buat apa?" Juli diam saja dan menerima uang sejumlah 20 ribu dari Aurel. "Aku gak ada uang pecahan."
"Lo duduk dulu disini," suruh Juli menunjuk kursi.
Aurel melihat Juli berjalan lurus dan masuk ke Apotek. "Dia masih sama," gumamnya berkaca-kaca.
Begitu dia keluar membawa plastik berisi pembersih luka dan plester. Ia merogoh uang recehan dari saku celananya. "Kembalian uangnya."
Juli memperhatikan keadaan sekitar sambil berjongkok menutupi kaki Aurel. "Digulung sampe lutut, biar gue obatin."
"Diobatin di rumah aja."
"Gue gak mau diamuk siapa-siapa."
Aurel menggulung celana sebelah kirinya sampai lutut dan membiarkan Juli mengobati luka yang tidak seberapa.
"Gue obatin lo karena gak tega lo cari gue sampe malem," ungkap Juli.
Tangan Aurel tergerak menyisir ke belakang rambut Juli yang agak kusut karena terombang-ambing di sungai. "Makasih udah hidup buat semua orang, Jul."
Juli menahan tangan itu dan mendongak, "Lo harus tepatin janji, Rel."
Aurel menarik tangannya dan bertanya, "Janji? Janji apa ya?"
Juli menempel plester dan berdiri, "Kasih gue kesempatan."
Mulut Aurel mengerucut, "Hmm.. padahal aku suka semua orang."
Juli terlonjak ketika Aurel memekik menunjuk papan iklan di Gedung Agensi ternama di Jakarta.
"Itu aktor yang lagi naik daun kan, Jul?" Aurel tahu mereka. Mereka aktor sekaligus model yang tenar dua tahun belakangan ini karena ketampanan, kekayaan, dan bakatnya.
"Mana gue tau."
"Aku berharap bisa ketemu mereka pas ada fan-meeting."
"Dapet tanda tangan gue aja lo termasuk cewek beruntung," ujarnya belagu.
"Ish. Aku nge-fans banget sama Dia," kata Aurel menunjuk sang idola.
"Siapa?"
"Rapta."
"Dari namanya aja ketahuan tuh orang dari planet lain. Lo ngapain nge-fans sama Dia."
"Sembarangan kamu, Jul. Tapi sayang mereka tinggalnya jauh banget."
"Iya jauh, kan gue bilang tadi, mereka dari planet lain."
Aurel menyipitkan matanya, "Yaudah lah. Aku yakin gak bisa ketemu mereka."
"Nyadar lo."
Tidak disangka Juli menertawakan Aurel yang pupus harapan sebelum berjuang.
"Terima kenyataan kadang lebih baik daripada halu gak kesampaian," simpul Juli.
"Kamu bener, tapi aku jadi pengen nabok kamu, Jul. Gimana dong?"
"Nabok di rumah. Gue udah kedinginan."
Aurel segera menarik baju Juli untuk pulang.
Bersambung...
Ngiklan dulu ya gaiss..
Jangan lupa mampir temuin Yura&Darren di "Ghost In Class".
Jangan lupa juga baper bareng Lavi&dkk di "Legend : Land of Sky".
__ADS_1
♡♡♡♡