SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Ramping dan Krempeng itu beda ya!


__ADS_3

Aurel sudah ada di kelas 12 karena kemarin lolos tes uji kenaikan kelas. Ia tidak satu kelas dengan Bintang ataupun Nabila, walaupun begitu dia senang karena bisa lolos ujian. Juli menaruh tangannya di kedua saku celana sambil memperhatikan Aurel dari jendela kelasnya. Dia tersenyum. Tidak ada hal yang akan berlarut, apalagi masalah. Juli belajar semuanya dari Aurel. Sabar, kuat, simpati, empati. Entah jiwa apa yang ada dalam diri Aurel sampai terkadang orang-orang bilang dia terlalu naif.


"Lo gak marah udah dikhianatin?"


"Marah nggak, cuma bingung kenapa mereka begitu. Kalo marah terlalu lama, bisa datengin penyakit tau."


Juli rada kesal sampai gumoh karena dulu menyuruh Aurel harus berbuat ini dan itu supaya mereka sadar atas perbuatannya dulu. Tapi,


Aku gak bisa kayak mereka, Jul.


Aurel tetaplah Aurel. Dia tidak bisa kasar, tapi kalau masih adu mulut, setidaknya dia selalu menang.


"Gila.. seneng banget tuh Aurel pasti," ujar Ghaisan yang kebetulan lewat kelas Aurel.


Juli terlonjak, "Lo ngapain disini?"


"Lewat doang."


"Gue tadi kesini mau ngapain sih?" tanya Juli pada dirinya sendiri. Daritadi kan ia fokus ke kehidupan Aurel yang seperti benang kusut, jadi lupa tujuan aslinya.


"Masih muda, udah pikun aja lo."


"Ohh, iya.. Aurel sama gue disuruh ke kantor Pak Skala..." Akhirnya Juli memanggil Aurel dari ambang pintu dan bicara sebentar.


"Ke kantor mulu... minta makan tuh pasti," celetuk Ghaisan sambil pergi.


***


Gabut. Skala duduk di kursi yang kakinya terdapat roda kecil. Sudah 10 menit dia duduk tanpa menyentuh kertas di meja, walaupun sekedar membaca laporan. Dia menggigit ujung pulpen, dia bingung sekarang.


Sadira sudah bangun dari koma akibat kecelakaan lalu lintas 1 tahun yang lalu.


Berarti sudah lama sebelum insiden Aurel?


Iya, betul.


Sebenarnya dibilang kekasih, tidak. Mereka dijodohkan karena pihak keluarga sudah kenal baik. Hari itu, Skala menolak perjodohan secara gamblang membuat Sadira pergi dari rumahnya dan kecelakaan akibat terlalu kencang mengendarai mobil sampai masuk jurang. Untungnya sebelum mobil meledak, dia sudah keluar dengan kondisi tidak bisa dijelaskan. Intinya, sudah berdarah-darah.


Untungnya Skala mengikuti dari belakang dan langsung menelepon polisi dan ambulans untuk mengevakuasi mobil dan Sadira-nya.


Lalu enam bulan setelahnya, barulah Skala ada tugas di Jakarta dan bertemu Aurel sedang bunuh diri.

__ADS_1


Dua perempuan pernah koma. Satu bunuh diri, satu yang lain kecelakaan. Skala menggaruk kepalanya yang mulai berdenyut. Kalau begini, lebih baik dia yang amnesia biar tidak pusing.


Pilihannya sekarang ada dua. Pertama, ia tetap disini karena Aurel. Kedua, ke Bandung untuk menjelaskan semuanya kalau ia tidak ada perasaan apapun ke Sadira. Masalahnya, keluarganya itu terlalu ikut campur dan keras kepala.


Lihat saja beberapa hari lalu, orang-orang suruhan mereka datang mencarinya.


Pencitraan itu, kalau kata Skala.


Masih dengan posisi menggigit pulpen, akhirnya dia memutuskan untuk ke Bandung kalau Aurel sudah libur semester satu yang perkiraan jatuh bulan depan supaya gadis itu bisa diajak.


Satu beban pikirannya selesai.


Sekarang giliran berpikir cara menikahi Aurel. Eh, bukan. Cara mengajak dia ke Bandung maksudnya. Sebenarnya ada satu cara, tapi ia ragu berhasil atau tidak.


Skala mengangkat telepon dari lobi utama, "Ya?"


"Skala, di lobi kok rame banget? Kamu gak hajatan kan?"


Skala memijat keningnya. "Hajatan apa sih, siapa yang hajatan?" Lama-lama greget juga.


"Aku ke bawah. Kamu sama Juli diem aja disana."


Masalah terus menghampirinya padahal ia tidak ada hutang apalagi minta dapat masalah.


Baru Skala sampai bawah, ia disuguhkan pemandangan yang mengejutkan. Aurel digendong oleh salah satu pria berbadan kekar seperti mengangkat karung beras karena ditaruh begitu saja di pundak sebelah.


Juli yang hendak mengejar Aurel malah disandung kakinya sampai nyusruk.


Aurel menjambak rambut pria itu sampai kepalanya ke kanan dan ke kiri. Jangan main-main sama jambakannya.


"Turunin gak!"


Saat Skala berlari ke arah Aurel, gadis itu dilempar begitu saja saking entengnya ke arah Skala sampai mereka jatuh bersama.


Tentu saja Aurel langsung menutupi roknya takut kelihatan.


"Makannya yang banyak, dilempar aja gampang kan," komen Skala.


Aurel menggerutu, "Udah banyak, dia aja yang kuat ngelempar aku."


Mereka semua membungkuk dihadapan Skala sampai 90°.

__ADS_1


"Mohon maaf, Pak," ujar mereka semua karena merasa bersalah sudah membuat Skala jatuh.


Skala berdiri dan membantu Aurel bangun. "Gak berguna. Bisa? Jangan bikin kericuhan?" tanyanya pada mereka.


"Saya laporin polisi lama-lama," ancamnya tidak bercanda. "saya gak suka diganggu pas kerja."


Setelah pergi karena diancam, Skala menangkup kedua pipi Aurel saking gemasnya. "Hiiihhh, untung gak kenapa-kenapa." Dia mengusap kepala Aurel.


Juli memegangi jidatnya, "Pak, saya gak digituin juga? Saya tadi nyusruk lho," adunya saat mendekat.


Skala mendecih, "Minta digituin sama yang lain sana."


"Lo kok kayak kertas amat dilempar langsung melayang? Mana jatohnya pas ada Pak Skala," sahut Juli. "lo makan nasi kan? Bukan makan kertas?"


"Kamu kira, aku rayap!" tukas Aurel kesal.


"Lagian gampang amat mereka."


"Aku gak kurus-kurus amat. Mereka yang badannya besar," ujar Aurel membela diri.


"Hiyain aja dahhh," kata Juli.


"Makan dulu," ajak Skala.


Juli tertawa, "Makan sebaskom dah lo, biar gak krempeng."


Aurel menyikut perut Juli, "Aku itu ramping."


"Bedanya apa, oncom?"


Skala mendengarkan mereka debat masalah perbedaan ramping dan krempeng.


"Ramping tuh badannya ngebentuk, jadi bagus, singset. Biasanya pinggangnya kecil," jawab Aurel sok tahu.


"Kalo krempeng?"


"Krempeng itu kurang gizi. Gak pernah makan sayur, makan jajan MSG terus.."


"Kalo lo kurang kasih sayang ye kannn," ledek Juli.


Aurel memukul lengan pria itu karena kesal, "Terserah!"

__ADS_1


***


__ADS_2