SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Random


__ADS_3

Aurel memegang sisi kepalanya karena merasa akan pecah jika Bara dan Skala seperti ini. Mereka ribut di depan gerbang sampai satpam ikut andil melerai mereka.


Dan kalian tahu apa penyebabnya?


Yap, betul!


Karena rebutan mengantar Aurel.


"Loh, kamu yang curang nyalip saya. Saya dari minggu lalu udah janjian buat berangkat bareng," ujar Skala ngotot.


"Lho? Kan saya Kakaknya sekarang. Jadi saya berhak menentukan siapa yang harus mengantar Aurel ke sekolah. Lagipula keselamatannya lebih penting," ujar Bara tak kalah sengit.


"Lu lama-lama minta diulek. Mentang-mentang udah jadi Kakak songong bet gaya lu."


Aurel hampir tertawa mendengar logat betawi Skala yang khas. Cocok seperti itu ketimbang pakai bahasa formal yang terkesan kaku.


"Lagian kan lu cuma Kakak TIRI," tambah Skala.


Bara terkekeh, "Tetep aja intinya KAKAK. Wajib melindungi Adiknya segenap hati."


"Cih, melindungi apaan. Jaga pacar aja kagak bisa, sok-sok jaga Aurel."


Bara kesal dengan kritikan Skala yang terkesan kalah darinya. Padahal kan lain hari dia gantian mengantar Aurel.


"Lu berdua pada pulang gih. Malu diliatin anak kecil berantem disini... yang penting mah Mbak Aurel selamat sampai sekolah. Kalian gak usah berantem gini, ngabisin waktu.. Haduhh, anak jaman sekarang." Mang Supri sampai geleng-geleng kepala menasihati mereka.


Bintang yang datang langsung menggandeng Aurel, "Saya yang janjian nganter, gak jadi aja biasa doang. LEBAY." Aurel hanya ikut saja kedalam. Lebih baik daripada mendengar mereka ribut di luar sampai dilirik siswa lain.


Setelah sampai halaman, Bintang melepas tangannya, "Maaf."


"Gapapa. Makasih ya."


"Untung lo chat gue pas gue masih di rumah. Coba kalo udah otw, puter balik gue."


Aurel terkekeh, "Iya maaf. Bara maksa, Ibu juga nyuruh berangkat bareng. Jadi aku pasrah."


"Gue jadi takut Bara posesif ke lo. Bukannya gue suujon ya, akhir-akhir ini lo ngerasa kayak dikekang gak? Gak boleh ini atau apa gitu?" tanya Bintang.


"Nggak sih. Dia cuma nyuruh aku jangan nakal."


Bintang mendatarkan wajahnya, "Nakal gimana?"


"Ya kayak mukul, nendang, gak boleh sama dia."


Bintang punya ide untuk menjelaskan, "Lo itu tau gak sih maksudnya Bara yang sebenernya?"


"Apa emangnya?"

__ADS_1


"Misal lo lagi ke klub, nah lo disana ketemu cowok yang mau—"


Plak!


Dari arah belakang ada yang mendorong kepala Bintang. Siapa lagi kalau bukan Nabila —pacarnya yang baik hati namun sering ghibah.


"Jangan ngomong yang nggak-nggak. Sana ke kelas duluan!" sahutnya agak kesal. Bukannya dia tidak ingin Aurel tidak tahu. Tapi omongan Bintang yang tidak difilter akan membuat Aurel kehilangan kepolosan dalam sedetik. Kan kasihan.


Bintang berdesis, "Iya, Beb."


Nabila beralih mengomeli Aurel. "Lo juga malah didengerin omongan buaya darat."


"Aku gak tau dia mau jelasin apa."


"Ya karena lo belum ngerti."


"Gak penting ya?"


"Gak penting banget!"


"Ohhh gitu..."


Tidak salah lagi kalau ucapan Nabila sangat benar. Dari dulu sampai sekarang, Aurel rasa memang perkataan Bintang jarang ada manfaatnya.


Namun menurut Nabila, walaupun Aurel sudah tahu itu. Tapi tetap saja kepolosannya mengalahkan segala hal. Tetap saja didengarkan walaupun sudah tahu tidak berguna.


"Haduh, pusing kepala gue. Nyokap nyuruh les matematika hari minggu," eluh Nabila sambil mengajak Aurel duduk di depan kelasnya sebentar.


"Bagus dong," ujar Aurel ikut bangga.


"Bagus apaan. Yang ada bikin pala gue pecah. Liat soal MTK aja ubun-ubun gue mendidih."


"Kan biar makin pintar... ngalahin Bintang."


"Hhh, mana bisa gue."


"Bisa. Tapi kamu udah kasih tau Bintang kan?"


"Belum lah, bisa diketawain gue."


"Gak lah. Malah nanti Bintang dukung kamu."


"Alah. Orang kek dia mana mungkin bisa liat gue seneng dikit."


Aurel beranjak, "Aku ke kelas ya."


"Yaudah sana."

__ADS_1


Aurel berjalan ke kelasnya yang berjarak dua kelas dari kelas Nabila. Baru saja hendak duduk, Ghaisan dan Fina mengetuk jendela sambil menyuruhnya keluar. Mau tak mau Aurel keluar.


"Kenapa, Fin, San?" tanya Aurel.


"Eh, lo bawa pembalut gak? Fina bocor," jawab Ghaisan yang berdiri menutupi Fina.


"Di UKS gak ada?"


"Abis," jawab Fina.


"Bentar aku tanya temen dulu." Aurel kembali masuk dan bertanya siapa yang membawa pembalut. Setelah itu ia keluar sambil membawa satu roti jepang untuk Fina. "Ini, lain kali bawa.. jadi gak dadakan."


"Siap! Makasih ya, Rel." Fina sangat bersyukur keberuntungan berpihak padanya.


"Cepet gue anterin." Ghaisan repot karena harus berjalan di belakang Fina karena takut orang lain melihat bercak darah di rok Kakaknya.


Mumpung sepi, Ghaisan mengajak Fina bicara dari luar toilet.


"Udah belom?"


"Ya belom, Bambang. Baru juga masuk."


"Ribet ya jadi cewek, tiap bulan PMS."


"Lo kudu bersyukur sunat cuma sekali! Coba kalo tiap bulan! Abis ntar gak bisa buat kencing."


"Somplak mulut lo sumpah."


"Kan lo yang ngajarin."


Ghaisan tertawa, "Gue mulu yang salah. Emang, Sukiyem, serba salah cowok di mata lo."


"Di mata gue yang bener cuma Bara."


Setelah selesai mengganti rok dengan celana training dan memakai pembalut, Fina keluar toilet.


"Lama banget lo kayak makan di warteg," cetus Ghaisan.


"Ya lo ngapain nunggu? Kan gue gak nyuruh."


"Karena gue gak mau pergi."


Fina sempat menatapnya beberapa saat. Lalu menyentil dahi Ghaisan, "Ngigo apaan lo?" Dalam sedetik, ia tertawa.


Ghaisan membalas mencubit pipi Kakaknya, "Gue makan juga pipi lo ntar."


"Ogah. Udah ayo ke kelas, mau masuk." Mereka bergandengan sampai masuk kelas.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2