
"Oi, Jul." Bintang menyambar kursi dan duduk nyempil diantara Juli dan Nabila saat makan siang di Kantin Kampus. "Lho, Aurelnya gue mana?"
Nabila melirik cukup lama dan tajam. "Masih gue pantau... belom gue gaplok," batinnya tersenyum terselubung.
"Dia lagi wifi-an di Lobi," ujar Juli yang berpapasan Aurel sebelum ke Kantin.
Bintang bertanya, "Ngapain?" Bukannya sok atau apa. Aurel biasanya tidak pernah kehabisan kuota.
"Makanya dia wifi-an ya karena gak ada kuota, Bintang." Akhirnya Sang Pacar yang menjawab.
"Masa dapet kiriman duit tiap bulan, kuota bisa abis."
Nabila serius menggaplok Bintang karena cerewet. "Brisik lo, orang lagi makan juga. Lagian kan duitnya Skala udah dibalikin dari lama banget."
"Gue lupa," ujar Bintang.
"Tapi dia genfar wifi-an buat apaan sih?" tanya Bintang.
Nabila menyerongkan duduknya. "Lo gak tau? Kata Bara, tiap jam 8 sampe 9 malem dia sama Yuan kirim surat-suratan lewat email."
"Serem amat kayak ritual ada jamnya segala," kekeh Bintang. "Tapi kan sekarang siang, Bil."
"Gak tau juga gue. Mungkin mereka ganti jadwal chat-an," ujar Nabila ragu. Aurel tidak pernah memberitahu isi chat-nya dengan Yuan, katanya, itu sangat privasi.
Juli ingin mendengarkan jika Nabila hendak lanjut cerita.
"Aurel itu... emang gak tegaan. Dia selalu ngerasa bersalah kalo temennya kenapa-kenapa," gumam Nabila.
"Justru gue khwatir sama sifatnya yang itu," kata Bintang.
"Kenapa?" tanya Nabila.
"Justru karena itu orang-orang yang dia kasihanin malah salah paham sama maksudnya," kata Bintang fokus mengobrol pada Nabila.
Walaupun begitu, Juli merasa kalimat itu tertuju padanya tanpa Bintang ketahui. Ia tak pernah tahu siapa yang Aurel cintai selain Nabila dan Bintang karena mereka bak Kakak-Adik yang saling melindungi. Ia tak pernah tahu siapa yang berhasil membuat Aurel jatuh hati. Yang ia tahu, ia mencintai Aurel sejak lama.
"Bintang," panggil Juli.
"Why?"
"Lo.. pernah denger Aurel suka sama siapa gak?"
Nabila tertawa ngakak. "Heh, Jul. Pertanyaan lo salah. Harusnya lo tanya, siapa yang suka sama Aurel."
Bintang ikut tertawa namun Nabila mendorong kepalanya. "Kaget gue!"
Bintang menatapnya datar karena lupa diri. "Buaya darat model Bintang aja pernah suka sama Aurel, asal lo tau."
Juli tidak kaget karena rumor itu sudah tersebar saat masih SMA.
"Gak ada julukan yang lebih macho gitu buat gue?" tanya Bintang.
"Kambing darat," asal Nabila yang diam-diam memperhatikan dua sejoli yang kemana-kemana berduaan. "Gue pengen punya cowok waras kayak Pak Angkasa. Tapi kayaknya pepatah jodoh adalah cerminan diri sendiri masih berlaku."
Bintang geleng-geleng kepala. "Jangan harap dapet yang begitu, Bil. Satu banding seratus disini."
"Lo takut persaingan gak, Jul?" tanya Nabila sambil menatap Juli sebentar.
"Nggak," jawabnya singkat. "2 hari lagi gue berangkat." Matanya melihat Aurel sedang masuk ke wilayah Kantin. "Kalo gue gak sempet pamit ke yang lain, seenggaknya gue udah bilang ke lo berdua."
Lalu Aurel duduk disamping Juli.
"Kok telat?" canda Juli.
Aurel menoleh, "Maaf, maaf." Mereka saling senyum.
__ADS_1
Bintang melirik Nabila dan memulai aksinya. "Hahh? Lo mau berangkat lagi? Gak mungkin dong...! Udah kasih tau Aurel belum?" Dia bicara dengan nada heboh layaknya banci. Diakhir kalimat Bintang mengerjapkan matanya beberapa kali didepan Aurel seperti mengkode.
Nabila tersenyum juga ke Aurel lalu bilang, "Lo... udah tau belum Juli mau balik ke Luar Negeri?"
Juli jelas menoleh mendapati Aurel menatapnya ngeri.
"Gue suka nih keributan begini," ujar Bintang semangat 45.
Nabila membenarkan rambutnya yang tidak berantakan. "Apa yang terjadi dengan mereka, Bung...?"
Bintang menyahut, "Mana gue tau, Markijem. Kan gue bukan Peramal Zodiak apalagi bisa baca kartu tarot."
"Udah, udah... udah cukup kewarasan kalian ilang," kata Aurel sangat menohok.
Juli geleng-geleng kepala. "Mahasiswa kelakuan kayak anak SD."
Nabila berubah topik. "Lo harus berterima kasih sama Bokapnya Shiren karena lo bisa naik kelas tanpa syarat, Jul." Kalau saja Penulis tidak mendatangkan Aurel, maka dia akan terus ghibahi peran utama.
"Makanya gue mau balik aja kesana sama Shiren," kata Juli. "Lo gapapa?"
Aurel mengeryit, "Aku kenapa?"
Bintang mengelap sendoknya dengan selembar tisu sambil melihat mereka. "Eh, lo berdua udah kayak pacar beneran."
Nabila tersenyum menggoda mereka. "Kapan nih gue dapet traktiran jadian?"
"Siapa maksud kalian pacar?" tanya Skala yang sejak tadi berdiri di belakang Nabila dan Bintang.
Bintang berdehem dan menoleh, "Mereka. Siapa lagi?"
Nabila lanjut makan sebelum seleranya hilang. "Lanjutkan, Bung."
"Bang Bung, gue bukan bunglon." Bintang menghela nafas kesal.
Skala lantas melewati mereka begitu saja dengan wajah tak enak dilihat.
"Gatau sampe kapan kalian rebutan Aurel," desah Bintang agak miris. Mereka tampak tidak menyukai perempuan lain kecuali Aurel. Apa mereka normal? Bintang jadi ragu.
"Bukannya gue ghibah—"
"Lo daritadi ghibah," sela Nabila.
"Ghibahin siapa?" tanya Aurel refleks.
"Dua bulan ini gaji gue berkurang," kata Bintang.
Aurel tidak terkejut, hanya mengeryit karena tidak tahu apapun masalah pembagian gaji. Kalian tahu kan, walaupun ia dijadikan sekretaris oleh Skala, sejak dulu kerjaannya hanya duduk dan mengikuti kemana Skala pergi.
"Mungkin ada masalah keuangan di Kantornya," ujar Nabila menuju pada penggelapan dana.
"Jangan-jangan... ada yang korupsi!" tebak Bintang namun setelah itu tertawa. "Tapi gak mungkin, Kantornya Skala kan keamanannya ketat udah kayak perusahaan start-up."
Aurel menggeleng ragu. "Skala pernah bilang, udah 2 kali pegawainya kena kasus korupsi. Mungkin... sekarang ada lagi."
Juli menyenggol tangan Aurel. "Jangan bilang gitu... gimana kalo yang korupsi ngambil saham terus ngambil data rahasia perusahaan Skala?"
Bintang menggeleng. "Gue rasa itu gak gampang."
"Bisa aja kalo ada bantuan orang dalam. Kalian tau kan sekarang serba gampang pake duit," ujar Juli.
Aurel mendengar ucapan mengerikan mereka. "Kalo gitu, Skala dapat masalah serius."
"Tapi dia gak jelasin apapun ke pegawainya. Gue juga," ujar Bintang.
"Coba lo berusaha tanya Skala, Rel."
__ADS_1
Aurel izin pada mereka untuk ke Toilet. Selagi Aurel pergi, mereka menyelingi dengan obrolan lagi.
Tujuan Aurel sebenarnya adalah ke Ruang Kerja Skala. Ya.. mungkin ia belakangan ini hanya fokus pada sebagian orang, tidak semuanya.
Tangan Aurel tertahan di udara padahal sedikit lagi mencapai pegangan pintu. Ia menahan nafas sebentar karena mendengar suara benda pecah dari dalam dekat pintu. Ia sempat mendekatkan wajahnya ke pintu supaya mendengar sesuatu dari mulut Skala selain suara benda pecah tadi.
Namun untuk kedua kalinya ia terkejut sampai mundur menjauhi pintu. "Pasti ada yang salah.." Aurel segera kembali ke Kelasnya untuk ambil tas. Selagi kelas dimulai 2 jam lagi, ia manfaatkan waktu untuk menemui Damar. "Bapak pasti tau sesuatu," gumamnya yakin. Damar dan Skala menjadi dekat sejak itu, lalu mereka sering menceritakan pengalaman yang sama pada Aurel.
Setelah membuka pintu pembatas keamanan, Aurel melangkah tenang mencari Damar. Tidak lama, ia menemukan Damar sedang mengepel lorong menuju Pintu sebelah Timur.
"Bapak," panggil Aurel disertai senyuman.
Damar menoleh dan tersenyum ceria begitu anak perempuannya datang. "Kamu bukannya masuk kuliah?"
Aurel menyalami Damar dan mengajak duduk di bangku panjang selagi hendak bertanya.
"Bapak tau jadwal aku?"
"Jelas dong.."
"Bapak, hebat!"
"Apa yang buat kamu kesini? Kamu masih jadi sekretarisnya?" tanya Damar agak terkejut melihat Aurel tiba-tiba datang ke Kantor Skala.
"Bukan."
"Terus?" Damar melihat Aurel gugup tidak seperti biasanya. "Ahh, pasti kamu penasaran soal Skala ya?"
"Skala kenapa?"
"Kamu gak tau? Dana 20 miliar punya Skala ilang gitu aja pas dia mau ngajuin Aplikasi baru ke Pemerintah," ujar Damar dengan nada pelan takut ada orang yang dengar.
"20 miliar?" Aurel mengulang jumlah uang itu. "Tapi bukannya bagi dia uang segitu dikit ya?" tanyanya terdengar janggal.
Damar menghela nafas. "Bukan itu aja. Data Aplikasi juga ikut ilang. Bapak jadi khawatir dia tertekan.. kamu pasti ngerasa aneh kan sama sikapnya?"
Aurel melotot. "Pantes aja dia ngehindarin aku 3 hari ini."
Damar menepuk bahu anaknya. "Skala gak masalah kalo uangnya diambil orang. Tapi, masalahnya ada di Data Aplikasi yang ilang.. buat detailnya gak gampang."
"Dia gak ngasih tau apa-apa ke aku."
"Ha? Gak biasanya..."
Aurel juga tidak pernah berpikir kalau Skala menahan bicara dengannya, bahkan selama 3 hari ini mereka hanya menyapa sebentar.
"Aurel. Kamu tenang aja, Skala pasti bisa cari solusi buat Kantornya. Kamu fokus kuliah. Ya?"
Aurel mengangguk. "Aku bisa kuliah tenang kalo sahabat aku bahagia semua, Pak."
"Kamu sampai kapan terus begitu?" gumam Damar spontan.
"Kenapa?"
"Gak. Lupain aja. Kamu harus ke Kampus lagi daripada telat terus ada drama hukuman di Lapangan."
"Aku suka dihukum bareng mereka."
"Awas kalo sampe kamu dihukum lagi. Bapak bakal dateng ke Kampus sambil bawa pel sama sapu buat perang sama mereka."
Aurel tertawa. "Aku harap, Bapak terus kasih tau aku tentang Skala karena dia belum mau bicara."
Damar menatap iba anaknya. "Bapak usahain."
Bersambung...
__ADS_1
Kayaknya bukan Skala aja yang jatoh, tapi Skala Atlas (Kantornya) juga.