SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Terbalik


__ADS_3

Aurel melihat dinding yang dilukis Skala. Ia sudah tinggal disini hampir 1 bulan dan sudah lewat kesana kemari sampai bosan melihat lukisan itu. Tapi untuk kali ini tidak setelah ingatannya kembali.


Skala melukis tempat dimana ia hampir mengakhiri hidupnya. Skala bilang, ia ingin mengingat tempat itu sampai nanti.


"Rel."


Merasa dipanggil, ia membalikkan badan. "Eh, Jul, ada apa?"


"Gapapa. Lo liat apaan sih?" Dia ikut melihat lukisan dinding. "kok gue pernah liat."


"Serius?"


"Iya. Itu kan tempat gue kecelakaan, dulu." Juli menunjuk lukisannya dengan yakin.


"Yang kamu bilang itu?"


Juli mengangguk.


"Kamu kecelakaan kenapa, Jul?"


"Gue diserempet motor lain trus motor gue nabrak pembatas jembatan, akhirnya jatuh ke air juga. Gue kan satu UGD sama lo, tapi gak lama lo dibawa ke ICU."


Aurel tertarik mendengarnya. "Kamu tau siapa yang nyerempet kamu?"


"Gue nebak-nebak si Bintang."


Tapi setelah Aurel ingat-ingat, itu tidak mungkin. "Kayaknya bukan deh. Seminggu sebelum kita di rumah sakit, dia pamit ke Sumatra buat jenguk neneknya. Masa dia sih?"


"Gue dikasih tau Nabila."


"Wah, dia masih suka bohong." Aurel geleng-geleng kepala. "Ghaisan sama Fina mana?"


"Masih makan."

__ADS_1


"Ohh, yaudah gapapa. Aku mau ke Skala dulu ya."


"Eh, tadi Nabila juga sama Pak Skala, kan?"


"He'em. Kenapa?"


"Lo cek deh mendingan."


Aurel membuka ruangan yang biasa Skala sebut "Ruangan Rahasia" di rumahnya. Ya walaupun ia rasa tidak ada apa-apa selain meja, kursi, dan rak tidak terpakai.


"Kalo aja dia mati, mungkin gue bisa hidup lebih baik sekarang. Tapi apa? Lo nyelametin Aurel dan ngebuat gue kalah lagi dari dia!"


Skala bergeming mendengarkan Nabila meluapkan emosinya dulu.


"Gue mau kayak dia. Punya orangtua, punya Bintang, semuanya dia punya! Gue gak suka!"


"Kamu udah punya Bintang sekarang. Kenapa masih iri?"


"Dia masih hidup! Lo nyelametin dia! Kenapa lo gak biarin dia mati aja!"


Aurel menatap mereka bergantian dari pintu yang sudah ia tutup karena takut ada yang dengar. Ia berjalan dan berdiri di depan Skala menghadap Nabila.


Skala terkejut tiba-tiba ada Aurel disini.


"Jangan salahin Skala."


"Lo- denger semuanya?"


"Nabila. Aku gak nyalahin kamu hari itu walaupun kamu berusaha bunuh aku. Berkali-kali kamu pukul aku, aku gak marah. Aku cuma bertanya-tanya kenapa kamu selalu begitu. Sekarang aku tau jawabannya," ujar Aurel berusaha menjelaskan. "kamu kurang bersyukur. Itu aja."


"Walaupun aku punya orangtua, kamu gak pernah ngerasain jadi aku yang selalu ditindas Bapak. Mereka bertengkar karna aku, setiap hari. Setelah aku koma, Ibu berubah dan sadar."


"Berhenti sok naif, lo sebenernya dendam kan sama gue?!" Nabila malah membentaknya.

__ADS_1


"Aku gak pernah ngelawan kamu bukan berarti aku takut. Tapi aku masih butuh sahabat. Aku butuh kalian walaupun kalian gak butuh aku."


Entah mengapa mata Skala memanas seperti ada yang menaruh bawang disini mendengar penuturan tulus dari Aurel. Tidak salah ia jatuh cinta.


Aurel tidak menyangka selama ini alasannya seperti itu. Sungguh aneh karena tidak ada yang memikat dari kehidupannya apalagi dalam keluarga. Benar kata orang kalau yang mereka lihat, sebenarnya jauh dari kenyataan.


"Udah cukup." Skala memegang bahu Aurel dan mengajaknya keluar.


"Sebentar, Skala," cegahnya. "mungkin Bintang juga sama. Dia gak takut, tapi memang gak mau melawan kamu, Nabila. Dia menghormati perempuan, sekarang giliran kamu buat minta maaf karena sering ngancam dia. Mumpung Bintang masih disini."


"Gue gak akan lepasin dia."


Mereka bertiga menoleh ke sumber suara yang aneh, seperti kayu yang diseret ke lantai.


Aurel memandang ke bawah saat Bintang melempar balok kayu tepat dibawah kakinya.


"Lo inget baik-baik, Bil. Lo dulu, mukul Aurel pake itu kan?" tanyanya langsung. "disaat gue mau nolong dia, dia yang nyuruh gue pergi. Disaat gue cinta sama dia, dia nyuruh gue buat cinta sama lo." Bahkan air mata yang Bintang keluarkan sekarang sia-sia kalau tidak dipahami Nabila.


"Walaupun orangtua kandung lo gak tau dimana. Lo diadopsi sama mereka yang sayang sama lo. Dan itu gak didapat Aurel," lanjutnya membela. "gue sekarang udah gak mau berurusan sama lo lagi. Gue udah capek. Lo mau mukul gue sekarang, udah gue siapin alatnya. Lo mau bunuh gue, silahkan. Asal jangan lukain Aurel, dia terlalu baik."


"Kalian bertiga ngerencanain sidang buat gue?"


Pertanyaan konyol macam apa itu.


"Lo gak bisa terus nutupin semuanya, Bil. Gue tau selama ini lo cuma pura-pura kuat supaya banyak yang suka sama lo," ujar Bintang.


Aurel berjongkok dan mengambil balok kayunya. Ia menyodorkan ke Nabila, "Sekuat-kuatnya kayu, kalau sudah lapuk, nanti hancur."


"Begitu juga manusia. Sesedih apapun, kalau gak ditangani, buat kita hancur," sambung Bintang. Itu kalimat mutiara yang mereka buat semasa SMP.


"Aku pernah diposisi itu, memutuskan mengakhiri hidup. Hancur dan gak terima keputusan Tuhan. Ada yang bilang, kalau punya mimpi, jangan pernah jatuh, harus terus bangkit walaupun banyak gunjingan orang." Aurel tersenyum mengutip kalimat dari dr. Alatas. "aku jalanin semua semampunya."


"Gue gak sekuat lo, Aurel."

__ADS_1


"Tapi kamu lebih kuat dari aku."


***


__ADS_2