
Fina, Nabila, Ghaisan, Bintang, dan Juli berdiri menghadang Skala yang barusan membentak Aurel yang kini ada di belakang mereka.
“Jangan bentak Aurel!” tukas Nabila sambil kacak pinggang.
Wajah Fina merengut, “Au! Gak gentleman!”
Juli berkata, “Kan bisa dibicarakan, dimusyawarahkan.”
“Lo kira pemungutan suara?” tandas Bintang yang langsung dipukul kepalanya oleh Ghaisan.
“Gak bercanda.”
Nabila balik memukul Ghaisan, “Jangan mukul pacar gue.”
“Oiya, maapkeun.”
Skala menarik nafas cukup dalam, lalu ia hembuskan sambil tersenyum, “Kalian ada apa?”
Aurel perlahan mundur untuk pergi. Dia tidak mau menyusahkan semua orang, termasuk Skala.
“Saya gak suka ada yang nyakitin Aurel,” sewot Fina yang diangguki Nabila. Nabila sekarang merasakan bagaimana khawatir jika melihat sahabatnya disakiti, padahal dulu ia yang menyakiti.
“Aurel, enaknya Pak Skala kita apain?” tanya Juli sambil sedekap dada.
Hening.
Mereka semua menoleh dan tidak mendapati Aurel dibelakangnya.
“Lah? Kemana tuh anak?” panik Ghaisan.
“Iya, perasaan tadi dia disini,” tunjuk Nabila ke tanah.
“Tuh kan dia pasti marah!” Nabila jadi menggerap Skala marah. “kalo Aurel kenapa-kenapa, Pak Skala harus tanggung jawab!”
Bintang mengusap punggung kekasihnya, “Sabar… tenang dulu.”
Fina hampir mencakar wajah Skala kalau Ghaisan tidak menahannya, “Mau gue cabik-cabik Presdirnya. Awas lo!” Fina membuat nyali Skala ciut.
“Allahu laa ilaa ha illa huwal hayyul qayyum…!” ujar Ghaisan seperti perukyah sambil memegang ubun-ubun Fina.
“Gue gak kesurupan, San!” Fina jadi menjambak rambut adiknya karena kesal dikira kesurupan.
“Lo kesurupan! Nih buktinya lo ganas!”
“Setan!” tukas Fina kesal.
Juli menengok ke kanan dan kiri berharap Aurel masih bisa dilihat jangkauan matanya. Ia khawatir karena Aurel berada di kota orang, bukan Jakarta. Ia melihat sekelebat bayangan belok ke jalan kanan, Juli langsung lari cepat.
Skala yang hendak mengejar Juli langsung dihadang sisanya.
“Tak boleh, tak boleh.” Ghaisan meledek Skala.
“Saya mau kejar Juli.”
“Iya, bentar lagi agustus. Wekaweka,” ujar Ghaisan.
***
Sedikit lagi Juli menggapai Aurel yang sudah kelelahan berlari.
Hap’
“Lo mau kemana? Ini mau gelap.”
Aurel tidak tahu.
“Lo mau balik ke Jakarta kan? Ayo ikut gue.”
“Sama Skala.”
“Lah?”
“Aku berangkat sama Skala, pulang juga harus sama dia.”
“Lo gak punya otak?” sarkasnya tidak habis pikir.
“Ini.” Aurel menunjuk kepalanya.
Aihh, memang saking lugunya dia.
“Yaudah ayo balik lagi.” Juli berjalan lebih dulu daripada emosi melihat Aurel masih membela Skala. Iya memang dia tahu, Skala itu yang nolong Aurel, yang jaga Aurel, yang nampung Aurel. Tapi kan Bapaknya Si Damar, bukan Skala. Ngapain juga dibela-belain? Itu namanya balas budi, Juliiiii, batin Author.
Aurel membuka lockscreen ponselnya.
From : +6285436xxx
Lo udah terlalu lama bersantai, Aurel.
Let’s play a game..
(Your bestfriend:Sadira)
Aurel membulatkan matanya dan dari arah belakang ada yang menyenggol separuh tubuhnya sampai ponsel yang tadi ia genggam jatuh ke aspal.
“Maaf,” kata orang itu sambil lanjut berjalan melewati Juli bahkan.
Aurel meringis kesal. Ia membungkuk hendak mengambil ponselnya dan secara tiba-tiba ada lampu mobil semakin dekat sampai-sampai menyilaukan mata Aurel. Juli berbalik badan ketika tidak ada suara derap langkah Aurel sejak tadi. Ia terkejut bukan main saat Aurel nampak memejamkan mata karena lampu mobil begitu terang.
Juli berlari dan memeluk Aurel. Secara mendadak mobil itu berhenti, lalu mundur, dan mengambil jalan lain.
Aurel mendengar detak jantung Juli yang cepat. Ia hampir mati, kalau Juli tidak menolongnya. Bukan kali ini Sadira mengiriminya pesan, tapi sejak pertemuan di Rumah Sakit, ia bahkan sudah diancam oleh keluarganya.
“Jul, aku mau sama Dokter Alatas aja.”
“Lo mau jadi bininya?!” Juli langsung melepas pelukan tidak sengajanya tadi.
“Bukan.”
“Terus?”
Aurel menelan salivanya gugup tidak tahu mau bilang apa ke Juli.
“Aurel! Juli!” teriak Skala dari kejauhan. Tak lama dia menghampiri mereka. 5 detik kemudian baru yang lain ikut menghampirinya.
Aurel meremas ujung roknya hendak membicarakan masalah Sadira. Juli mengambil ponsel Aurel di aspal lalu sempat membolak-balikkan sebentar untuk cek kondisi. Tapi Aurel cepat sekali merebutnya.
“Pak. Tadi aneh,” buka Juli.
__ADS_1
“Aneh kenapa?”
“Ada mobil ngebut ke arah Aurel. Pas saya peluk dia, mobilnya berhenti mendadak terus ambil jalan lain,” ungkapnya.
“Aurel, benar kata Juli?” tanya Skala.
“Iya, Rel? Kok bisa?” sahut Nabila khawatir.
“Enggak. Juli bohong. Mobilnya dari arah yang beda,” ujar Aurel yang ngada-ngada.
“Lo kok malah bohong sih?” Juli sewot sendiri. “tadi jelas-jelas gue liat pake mata gue! Masa gue yang bohong.”
“Rel, cerita yang sebenernya,” pinta Bintang.
Aurel menarik baju Juli, “Jul, anterin aku ke rumah Bara.”
Bara lagi…
“Gini deh. Nabila ikut lo aja, Jul.” Ghaisan berkata demikian karena dia tidak bisa berjauhan dengan Fina, kembarannya.
Skala menatap Aurel seperti ada yang gadis itu rahasiakan.
Nabila tidak keberatan, tapi…
“Gue nginep di mobil,” kata Bintang.
“Kalian nginep di rumah saya gapapa,” putus Skala.
“Ayo, Jul, cepet.” Aurel menarik-narik baju Juli.
Juli menengadahkan tangannya, “Mana kunci mobil?” tanyanya pada Ghaisan.
Ghaisan memberikan kunci mobilnya.
Setelah mereka berpisah. Di dalam mobil Nabila menasihati Aurel. “Lo kalo ada masalah, cerita aja. Sesusah apapun itu, kita bantu semampu kita.”
“Percuma, dia lagi dengerin musik.”
Nabila menoleh datar. Benar. Aurel pakai earphone-nya.
Juli melepas earphone Aurel. “Nabila lagi ngomong.”
Aurel menoleh, “Kenapa?”
“Lo kalo ada masalah, cerita sama kita, atau sama gue aja gapapa,” ulangnya sabar.
“Gak semua masalah bisa diceritain,” ujar Aurel lalu melihat jendela lagi.
“Ya gini nih sifat asli Aurel. Gak kaget gue,” batin Nabila.
“Ya terserah sih…”
Setelah sampai di rumah Bara. Bara yang sedang duduk santai sambil minum kopi di depan rumah langsung menyembur kopinya karena melihat Aurel membawa dua kawannya. Ini rumah, bukan tenda kemah.
Bara tanpa babibu langsung mendekati mereka, lebih menuju ke Aurel.
“Ini apa-apaan? Mau ngapain?”
Nabila ngeri kalau baru datang sudah disemprot gini. “Ihh, santai dong, Mas.”
Bara tentu tidak mau ada orang asing menginap di rumahnya. Kecuali bayar sewa per jam.
“Apaan. Ini rumah saya, harusnya tanya saya.”
Juli berdecak, “Ni orang gatau kita capek apa gimana yak?”
Aurel memandangi Bara masih keberatan.
“Mon maap, Mas anaknya Dokter Alatas yang kayak Oppa-oppa Korea. Kalo Bapak lu tau Aurel nginep juga santai-santai bae,” kata Juli sambil peregangan otot. Pegal juga ternyata.
Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Dokter Alatas keluar.
“Tuh dah. Akhirnya…” gumam Juli sudah ingin rebahan.
“Kalian masuk aja dulu,” kata Alatas. “kecuali Aurel.”
Aurel memang sejak awal bergeming acuh. Dia pusing memikirkan nasibnya sekarang. Kenapa satu masalah selesai, datang lagi satu.
Bara tidak tahu kenapa Alatas menahan Aurel di teras.
“Ayo bicara,” ajak Alatas.
“Bahas apa?”
“Sesuatu.”
Bara yakin, Ayahnya bukan pacar dari artis yang menyanyi, sesuatuuu.. yang ada di hatiku…
“Saya mau istirahat,”
Diluar dugaan mereka, Aurel yang biasa nurut kini malah cuek. Bara langsung menarik tangan Aurel untuk bicara disuatu tempat.
“Bara! Mau kemana!?”
“Sebentar, Yah!”
Bara membawa Aurel tidak jauh dari rumahnya.
“Bara! Apaan sih?” Dia lelah.
“Kamu itu punya segudang masalah. Walaupun orang lain liat kamu tenang, saya tau, kamu lagi nyembunyiin masalah.”
Baru kali ini Bara bicara panjang dan tersirat memperdulikan urusan Aurel.
“Jangan sok tau!” sahutnya.
“Saya tau karena pernah ada diposisi kamu.”
Benar juga.
“Bara, aku mau istirahat.”
“Cerita sekarang.”
Aurel benar-benar marah. Ia menyingkirkan Bara kesamping dan kembali pulang. Tak tahan karena Aurel berjalan sangat cepat, akhirnya Bara menarik tangan Aurel sampai gadis itu berbalik.
Tidak disangka, saat ia berbalik, posisinya adalah kening Aurel menyentuh bibir Bara. Bara terbelalak sempurna, apalagi Aurel.
__ADS_1
Mereka saling dorong. Lalu Bara ditampar oleh seorang perempuan yang datang entah dari mana.
“Jahat kamu, Bara,” katanya salah paham.
Aurel bingung sekarang.
Bara kaget ternyata kekasihnya datang. “Gak, gak. Ini salah paham.” Bara berusaha mendekatinya namun dia menghindar.
“Kamu selingkuh sama dia?”
“Aku gak selingkuh.”
“Iya aku tau kamu cuek, kamu dingin. Tapi aku kira kamu setia, Bara. Ternyata kamu sama aja.”
“Naisa, dengerin aku dulu.”
Naisa menghampiri Aurel lalu menamparnya juga.
Plak’
Wajah Aurel berpaling ke samping. Nyeri, panas, malu, marah, kecewa, bercampur menjadi satu dalam benak Aurel. Masalah apa lagi ini…
Aurel hanya tersenyum. “Kamu cuma salah paham.”
“Kamu juga perempuan, kalian tega begini?”
Aurel menyunggingkan senyuman. Siapa juga yang minta keningnya dicium kalau Bara tidak menarik tangannya tanpa rem. Siapa juga yang nyuruh Bara itu lebih tinggi darinya.
“Apa semua perempuan suka nampar orang ya?” tanya Aurel. “sekalipun pacarnya. Apa pantes?”
“Aku gak ada urusan sama kamu,” kata Naisa.
“Kalo minta putus bilang aja. Gak usah nyari ribut dulu, kelamaan.” Aurel kembali seperti dulu. Mulutnya sablak.
Naisa yang sudah marah makin berapi-api. “Kamu itu siapa sih? Selingkuhan aja bangga.”
“Aku buk—” Mata Aurel menangkap sebuah mobil yang mirip dengan tadi lewat di ujung gang. Ia menyipitkan mata agar tidak salah lihat.
“Kamu, Bara! Ngapain kamu begini? Kalo kamu udah gak sayang sama aku, bilang aja.”
“Aku sama Aurel baru kenal, Nai.”
“Jangan bohong!”
Mobil itu kembali mundur lalu masuk gang secara lambat. Setelah itu Aurel refleks menghadang membelakangi Bara dan Naisa saat mobil tancap gas.
“Jangan, jangan, jangan!” Teriaknya keras. Tidak ada yang boleh terluka disini, batin Aurel.
Bara dan Naisa menoleh. Bara menarik Naisa ke tepi, lalu ia berlari hendak menarik Aurel juga.
Srettt
Aurel terserempet mobil berkecepatan tinggi sampai pingsan di tempat yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
“Aurel!” pekik Bara panik. Ia langsung menggendong Aurel menuju rumahnya agar diperiksa Alatas yang sudah berpengalaman.
“Yah! AYAH!” Setelah Bara masuk, Naisa ikut masuk khawatir.
Alatas yang sedang nonton TV langsung beranjak karena terkejut Aurel pingsan. “Ini kenapa, Kak?” tanya Alatas.
“Keserempet mobil.”
“Kok bisa?!” Alatas memarahi anaknya sendiri. Bagaimana bisa terserempet mobil padahal dia ada disana, membawa Aurel tadi.
Bara ingin jawab, Ya tadi kita sibuk berantem gak tau kalo ada mobil mau nabrak Aurel. Tapi tidak bisa, ia memikirkan perasaan Naisa.
Bara membaringkan Aurel di sofa yang bisa sebagai kasur. Alatas memeriksa denyut nadi di tangan Aurel. “Ayah mau bersihin luka di pelipisnya. Nanti kita bicara.” Ia melirik Naisa sebentar
Juli dan Nabila tergopoh-gopoh keluar dari atas setelah dari balkon karena dengar Aurel keserempet mobil.
“Kan.. apa gue bilang, mobil itu sengaja mau Aurel celaka!” Ia sungguh tidak mau lagi dibilang bohong.
“Tapi kenapa Aurel bilang lo bohong?” Nabila bertanya-tanya. “lo kok aneh sih? Lo bawa Aurel pergi, bukannya dijagain malah begini!”
Bara merasa bersalah.
“Lain kali, kalo bawa perempuan. Satu aja… gak usah dua.” Alatas mengingatkan sekaligus menyindir. “kalo gak bisa jagain satu orang… gak usah jagain orang lain.”
Seakan menampar Bara, Koas itu menunduk dalam lalu membawa Naisa keluar lagi.
Setelah selesai membersihkan luka di pelipis Aurel karena posisi gadis itu jatuh miring, barangkali tergesek aspal cukup keras. Alatas berdiri, “Tolong ditunggu ya. Satu lagi, jangan bilang Skala.”
“Kenapa?” beo Nabila.
“Nanti Skala sama Bara perang dunia,” candanya.
Juli tertawa, “Setuju saya.”
Ranu yang sedang belajar di kamar ikut keluar karena mendengar Juli tertawa.
“Kak Aurel kenapa, Kak?” tanya Ranu sambil mendekati Aurel.
“Gapapa, Kak Aurel cuma kelelahan,” jawab Alatas.
Ranu melihat Naisa di depan pintu. “Pasti gara-gara pacarnya Ayah!” Dia menghentakkan kakinya kesal.
“Hahh?” Nabila tidak tahu alasan Ranu tidak menyukai Naisa.
**
“Kamu liat kan? Kita sibuk debat sampai gak perhatiin Aurel.”
“Ya Maaf. Aku juga gak nyangka.”
“Ayah kenapa sih?! Pasti gara-gara Kak Naisa kan, Kak Aurel celaka!” Ranu datang marah-marah sambil nangis.
“Kok kamu nyalahin Kakak?!” Naisa ikut tersulut. “ini karma buat dia berani selingkuh sama Ayah kamu!”
“Selingkuh dari mana… Aurel itu pasien saya…” ujar Alatas santai dari dalam setelah mendengar anaknya dituduh selingkuh. “udah nuduh… Ranu dimarahin… pasien saya kenapa-kenapa.” Ia tersenyum sejenak lalu duduk di sofa berbeda.
“Ayah! Ayah sama Kak Aurel aja! Jangan sama dia!” Ranu ogah-ogahan kalau sudah ada Naisa karena dulu selalu melarang Bara mengajaknya saat nge-date.
Alatas geleng-geleng kepala. Dia harap, Bara kan sudah besar, harus memutuskan sesuatu dengan matang. Apalagi ini sudah fatal.
“Nai, aku gak tau lagi. Kamu pulang sekarang, nanti aku atur pertemuan kita. Kita selesaiin nanti. Aku sibuk.” Bara mengajak Ranu masuk dan menutup pintu.
***
__ADS_1