
"Rencananya kamu mau gimana?" tanya dr. Alatas yang sedang bersama Aurel di Taman dekat RSUD.
"Saya bakal hidup seperti sekarang. Aurel yang tangguh, berani, dan—" Aurel berhenti bicara karena mendengar kekehan Alatas. "kenapa?"
"Ceritanya kamu gak mau lemah di depan saya, karna dulu jadi korban bully?"
Wah, songong sekali Dokter dihadapan Aurel ini. "Saya sedikit nyesel udah cerita."
dr. Alatas menyerong ke arah Aurel, "Berarti kamu mau pura-pura masih amnesia? Gitu?"
"Iya."
"Kamu pasti nyesel ya dulu diem doang karna ansos."
"Iya."
"Skala pasti bangga nyelametin kamu."
***
"Lho, Aurel, lo dari rumah sakit ya?" tanya Juli yang sedang ada di rumah Skala.
Begitu ingatannya kembali, ia jadi tidak mau pulang ke rumah karena sudah tahu sifat bejat Damar. Walaupun Skala belum tahu, setidaknya ia harus tampak seperti sebelumnya, yakni tidak tahu apa-apa.
Aurel menoleh sekilas, "Ya."
"Lo kesambet apaan? Jawabnya singkat, padat, jelas kayak jawaban mapel Bahasa Indonesia."
Sebelum Aurel membuka pintu ia sempat bicara, "Bisa tenang sebentar?"
Juli sempat menahan nafas, "Lo kenapa?" Ia meloncat dari sofa dan menghampiri Aurel. Ia mengitari Aurel dengan tatapan aneh, "lo sehat kan?"
"Sehat. Skala mana?"
"Lagi beli makan buat lo."
"Ohh, aku masuk dulu."
Bersamaan dengan Aurel yang masuk kamar, Skala datang membawa plastik putih berisi 3 mie ayam jamur.
"Aurel udah pulang?" tanya Skala.
"Baru aja."
"Suruh makan."
Juli mengangguk dan mengetuk pintu kamar Aurel, "Rel, ntar lo makan ya, udah dibawain, Pak Skala."
"Iya.."
Skala mulai melahap mie ayamnya dengan lahap. Walaupun Juli merasa ada yang aneh, ia akhirnya memilih makan saja.
"Skala, perempuan tadi baik-baik aja kan?" Aurel datang dan duduk di samping Skala.
__ADS_1
"Iya, dia baik. Kamu tadi ke rumah sakit ngapain?"
Aurel yang hendak mengambil sterofom mendadak tidak jadi karena tangannya dililit perban.
"BHUKK! HUK! Tangan lo kenapa, Rel?" Juli tersedak mie saat melihat Aurel meremas tangannya sendiri.
"Tolongin aku dong, Skala..."
Skala menunggu kalimat legendaris itu dari mulut Aurel. Karena kelamaan, Skala mengambil sterofom milik Aurel dan berniat menyuapinya.
"Aku bisa sendiri." Aurel meletakkan miliknya kembali di meja.
Skala tertegun. "Baguslah, berarti udah mandiri."
"Tadi gimana, Jul?"
"Lancar. Walaupun gue deg-deg an." Juli teringat saat Skala terus tertawa pelan karena melihat wajahnya yang tegang bak sidang perceraian.
"Selamat ya."
"Lo sariawan apa gimana sih? Perasaan dari tadi jawabnya singkat amat, gak kayak biasanya," protes Juli. Ia sungguh tidak biasa karena ia seperti bicara dengan orang lain.
"Aurel ada masalah, makanya jangan banyak tanya," jawab Skala mewakilinya.
"Pantesan..."
Aurel berdehem, "Besok aku mau ke rumah Bapak, ketemu Ibu. Kalo—"
"Jawabannya sama kayak kemarin."
"Aku tetep mau kesana. Kalo sibuk, gapapa." Aurel acuh saja sambil melihat Skala yang menaruh sumpitnya kasar di meja.
"Sekali nggak, tetep nggak."
Aurel terkejut karena suara dentingan tadi. "Kamu kok begitu, Skala? Aku kan cuma bilang."
Juli diam saja memperhatikan mereka yang mirip sudah rumah tangga.
"Tangan kamu luka tadi pagi karna siapa? Kamu lupa?" Skala berdiri sambil menggebrak meja.
Aurel memejamkan matanya sejenak, "Terserah." Ia ikut berdiri lalu meninggalkan mereka.
Skala tidak menyangka, "Ternyata makin lama, dia makin ngeyel."
Juli minum air putih lalu menaruh gelasnya di tengah meja, "Mungkin ingatannya hampir pulih."
Aurel putar balik lagi.
Juli bertanya, "Ngapain balik lagi?"
"Mau makan di kamar aja."
Jelas Skala tertawa kecil, "Gila emang."
__ADS_1
"Kamu boleh pulang, Jul. Saya mau tidur juga."
***
Malam harinya Aurel ada janji ke rumah Alatas. Skala yang sedang makan kuaci di teras dengan satu kaki diangkat ke kursi.
"Kalo malem pake jaket, dingin..."
Memang sih...
"Bentar, aku ambilin jaket dulu." Skala masuk ke dalam dan keluar menenteng jaket. "jangan lama-lama." Habis itu dia memberi ke Aurel.
Aurel memakai jaket milik Skala.
"Jangan lama-lama."
"Kamu tau?"
"Iya lah, Alatas yang bilang."
"Iya, paling nanti jam 8 aku pulang."
"Baguslah. Kalo ada apa-apa telfon aja."
Aurel paham. "Skala, makasih ya."
"Buat?"
"Semua termasuk jaketnya."
Skala bengong di tempat, "Iya sama-sama."
"Aku udah inget jalan ke sekolah, jadi kamu besok langsung ke kantor gapapa."
"Aku tetep nganter kamu."
"Yaudah gapapa."
"Rel, tangan kamu udah kayak pemain tinju yang ada di TV itu loh, pake pelindung tangan." Skala tergelak.
"Enak aja. Ini kan luka, bukan mau tinju."
"Ya makanya jangan ke rumah Bapak kamu dulu... nanti lebih parah dari itu gimana?"
"Bapak dari dulu emang gitu... padahal kan sakit. Untung cu—"
Skala terdiam dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Aurel. "Dulu? Kamu tau dari mana?"
Iya juga. Kenapa dia jadi keceplosan?
"Aku tau dari Ibu," alibinya gugup.
Skala memakan kuacinya lagi, "Yayaya..."
__ADS_1
***