
Rumah Skala dipenuhi rekan kerja dan keluarga dekat maupun jauh karena acara pernikahan Sadira dan Gemintang. Walaupun Skala bahagia karena itu artinya, Sadira akan segera minggat dari Indonesia untuk ikut Gemintang mengurus Kafe di London. Ya kalau tidak ikut Gemintang, nanti dia makan apa? Batu? Kan gak mungkin beb. Nikah itu harus tercukupi sandang, pangan, dan papan. Gak cukup modal cinta, kata Sadira loh ya.
Lima meter dari panggung, Aurel terpukau dengan lampu besar yang menggantung di tengah ruang tamu. Dia heran, dari sekian gedung, kenapa rumah Skala? Padahal kan mereka punya uang banyak. Walaupun begitu, perpustakaan Skala digembok karena ada pria itu pernah bilang tidak ada yang boleh menginjak perpustakaan- bahkan keset bertuliskan SENJA tidak boleh diinjak selain oleh Skala dan Aurel. Bukan apa-apa, Skala memesan keset berbahan lembut asli dari pabrik senilai lima juta. Ya gak mahal sih harganya, yang mahal itu tulisannya.
Juli yang ada disebelah Aurel mendatarkan wajahnya, "Mangap mulu, kering gigi lo ntar."
Aurel berputar, "Bagus."
"Iya tapi biasa aja napa." Tidak tahu lagi deh dengan kelakuan Aurel.
"Ghaisan lama amat. Disuruh masukin makanan ke kresek kayak nelen kerikil." Juli mengusap rambutnya ke belakang.
"Kenapa di kresekin? Kan bisa makan disini," kata Aurel ada benarnya. Disini sudah disediakan piring, garpu, dan sendok. Makanan prasmanan juga banyak menunya. Kenapa harus di kresekin?
"Takut abis."
Aurel manggut-manggut, melihat Sadira dan Gemintang yang menyapa para tamu di sisi yang berbeda membuat dia tanpa sadar tersenyum. Walaupun terpaut umur, Gemintang tetap menghormati Sadira sebagaimana statusnya.
Gemintang mengusap lengannya yang dipukul Aurel. "Sakit oi!"
"Itu Nabila ngapain?" tanya Aurel sambil menunjuk Nabila dan Bintang sedang menghampiri Sadira.
"Wah, jangan sampe lampu pada pecah gegara mereka adu baco*."
Ditambah lagi Juli jawab ngasal, dia kena pukul lagi. "Juli! Jangan gitu. Aku mau nyamperin ah."
"Kurang kerjaan lo sumpah. Lah gue disini sama siapa?"
"Cari Ghaisan sama Fina aja sana."
"Ghaisan lagi nugas. Fina kan lagi cari cogan tajir disini."
Memang tidak ada yang waras disini. Semuanya.... aneh.
Rupanya di pertengahan jalan hampir mendekati mereka, Skala sudah kesana lebih dulu. Namun, Aurel merasa punya tanggung jawab atas Nabila jika sahabat bar-barnya itu teriak-teriak ibarat pakai toa di pernikahan ini.
"Skala? Aurel? Ngapain? Janjian?" Dahi Nabila mengkerut seperti bingung.
Skala dan Aurel kompak menggeleng.
"Terus ngapain?"
Aurel mencari jawaban yang tepat. "Oh ini, mau ngucapin selamat ke pengantin baru."
"Bukannya udah?" Alis sebelah Sadira terangkat heran.
"Dua kali?" sambung Nabila.
"Sebenernya Aurel mau makan sama saya.. tapi malu mau ngomong ke kalian," ujar Skala saat melihat tingkah bodoh Aurel.
Sadira menganggukan kepala. "Yaudah sana makan."
__ADS_1
Nabila berkata, "Gue sama Bintang pamit pulang ya, Din. Samawa buat lo sama Gemi. Gue harap ini jadi kenangan baik buat Aurel selama lo hidup."
Bintang menyenggol Nabila karena risih dengan kalimat terakhir yang mengungkit perlakuan Sadira pada Aurel dulu.
"Paan sih! Gue ngomong bener juga!" sahut Nabila kesal.
"Gue pamit pulang ya, Din. Samawa juga, biar langgeng," kata Bintang sebelum bajunya ditarik-tarik Nabila yang tidak sabar ingin pulang.
Sadira melihat Skala dan Aurel yang lempar pelototan. "Gue mau nyamperin Gemintang. Kalian kalo mau berantem jangan disini, diluar aja."
Skala dan Aurel melihat Sadira melengang pergi. Setelah itu, baru lah Aurel bertanya, "Kamu ngapain tadi?"
"Aku takut mereka adu mulut, ganggu tamu yang lain."
"Ya sama. Tapi kenapa kamu bilangnya mau makan? Bohong ya."
"Aku gak bohong. Emang niatnya mau makan sama kamu kalo mereka berantemnya udahan."
"Ngeles aja terus."
Skala menggandeng tangan Aurel, mengajaknya ke perpustakaan yang sepi dari tamu.
"Skala, jangan macem-macem ya kamu!" Aurel merasakan aura mencekam disini, ditambah lagi Skala wajahnya super jahil.
"Rel, diem dulu bisa gak?"
"Ya bisa. Tapi ngapain kesini?"
"Temenin koreksi laporan keuangan."
Sampai dua jam kemudian, Skala enggan beranjak dari kursinya. Dia fokus pada laptop, tidak bicara sama sekali. Aurel sudah membaca buku yang ada disini, sampai bosan karena 1 hari, dia bisa sampai malam baca buku dan berakhir tidur diatas tumpukan buku.
"Jangan tidur."
"Mending aku balik ke depan aja ah, bosen."
"Bentar lagi."
"Ogah!" Aurel beranjak dan berhenti di belakang kursi Skala karena ditahan pria itu.
"Disana berisik."
Dengan konyolnya Aurel mendorong kepala Skala ke depan sampai hampir terantuk laptop kalau tidak segera di rem.
"Kamu yang berisik," tukas Aurel jengah.
Skala menoleh ke belakang, "Astagfirullah... kasar amat." Aurel tidak menjawab dan langsung keluar dari sana.
Mau tidak mau, Skala menutup laptopnya dan keluar, tidak lupa ia kunci kembali. Lalu mengejar Aurel yang baru bertemu Bara, Alatas, dan Ranu.
"Kirain kemana," gumam Skala.
__ADS_1
"Kak Aurel nanti sama Ayah buat pesta gini ya? Ya ya ya?" Ranu mengerjap beberapa kali seolah memohon.
Skala menyela di tengah-tengah, "Mohon maaf ya, Ranu. Kak Aurel udah tanda tangan di atas materai buat nikah sama Om Skala, bukan Ayah Bara."
Ranu menoleh ke Bara, "Bener, Yah?"
"Ya mana Ayah tau." Seperti biasa, Bara cuek.
"Kapan aku tanda tangan? Pake materai lagi.." Aurel berpikir keras, kapan?
"Om Skala bohong ya..." ledek Ranu. "yaudah, Yah. Mumpung ada pestanya, Ayah sama Kak Aurel langsung naik ke panggung aja.."
"Ohh, salaman sama mereka?" Skala menunjuk pengantin yang tak lain adiknya dan Sadira.
"Bukan. Jadi pengantinnya," ujar Ranu.
Mereka berempat melotot. Apalagi Skala dan Bara. Mereka menatap Ranu seolah mematikan.
"Gini, Ranu... bukannya Kakak gak mau sama Ayah Bara. Tapi, Kakak itu masih mudaaaaa banget. Nah Ayah kamu itu-"
"Tuaaaaa banget." Ranu terkikik sampai menutup tawanya dengan tangan.
"Nah itu, bener." Aurel manggut-manggut.
Alatas geleng-geleng kepala mendengar percakapan mereka.
"Kalo gitu sama Om Skala gimana?" tanya Ranu beralih menatap Skala.
"Oh, jelass!" sahut Skala percaya diri.
"Gak mau dong. Sama aja, malah tua-an Om Skala," ujar Aurel tersenyum terpaksa. Lagian Ranu ini diajarkan siapa sih suka menjodohkan orang?
Alatas menahan tawanya karena Aurel. Memang benar, diantara Skala dan Bara, lebih tua Bara. Tapi beda 2 tahun saja.
"Nanti kalo Ayah Bara belum dapat jodoh, mau Papa jodohin sama Kak Aurel, ya." Alatas menyudahi mereka.
Mereka bertiga menolak cepat.
"Gak mau," jawab Aurel.
"Oooo, tidak bisa. Saya duluan yang gebet," ujar Skala.
"Males, nikah sama bocil," jawab Bara.
"Gaiss... gue udah bawa oleh-oleh nih." Tiba-tiba Ghaisan datang memamerkan plastik hitam kecil berisi lauk seperti habis dari warteg, padahal dari resepsi.
"Nabila tadi berantem ya? Menang siapa?" tanya Fina yang menyusul di belakang Ghaisan.
"Menang Aurel." Lagi-lagi Aurel tersanjung dipuji Skala.
"Bukan menang lagi. Menang banget!!" sahut Bara kesal.
__ADS_1
**
maksudnya menang disini itu, menang karena ngalah. bukan saling balas ya manteman :)