
"Saya ingin, karyawan yang menggelapkan dana segera ditemukan keberadaannya. Untuk saat ini, 20% saham perusahaan harus dijual untuk menutupi kekurangan pengeluaran."
"Tapi, Pak, saham kita mengalami penurunan harga juga karena nama baik perusahaan sedang buruk."
"Kita jual sesuai harga tertinggi. Sementara itu, saya akan tetap menjalani bisnis dengan perusahaan lain. Saya ada urusan, selesaikan pekerjaan kalian."
Skala keluar dari ruang rapat dan melihat Aurel berdiri menunggunya.
"Rel," panggilnya membuat Aurel membalikkan badan.
"Skala, kamu harus denger berita ini." Aurel mengajak Skala ke sudut tembok dan memperlihatkan layar ponselnya.
"Ini trading punya siapa?" tanya Skala melihat diagram saham di ponsel Aurel.
"Bintang," ujar Aurel. "Kamu bisa ambil saham, terus dijual ke Bintang. Dia punya harga tinggi."
Skala menggeleng, "Itu terlalu beresiko."
Aurel berdecak, "Tanya dulu sama Bintang. Dia pasti mau bantu kamu."
Skala menutup ponsel Aurel. "Kamu mau main petak umpet?"
"Kamu malah bercanda. Aku serius ngasih saran juga."
"Bantu aku cari karyawan itu, dia yang nyimpan data aplikasi perusahaan."
"Kamu bercanda lagi?" Aurel memejamkan mata membayangkan ia bermain petak umpet dengan pelaku korupsi. "Aku mau!"
Skala tersenyum. "Kamu balik ke Kampus. Aku ada urusan."
Aurel menahan lengan Skala. "Kemana?"
"Ketemu klien."
"Ohh, tapi kita ke depan bareng ya?" Aurel senang karena Skala mau keluar bersama. Mereka melambaikan tangan untuk berpisah karena beda arah.
Ia sengaja naik MRT karena sedang ingin jalan kaki. Dengan begitu, ia bisa melihat pemandangan kota dengan santai dan irit uang saku.
BRUK'
"Maaf."
Aurel tidak sengaja menabrak pria dari arah depan karena dia berjalan terburu-buru. Namun ia melihat ada sebuah flashdisk yang jatuh dan orang itu sudah agak jauh. "Pak. Ini flas— SA?" Aurel membolak-balikkan flashdisk tersebut, "Skala Atlas?" Ia melihat pria tadi sudah tidak ada di sekitar.
Aurel mengabaikan hal itu dan segera masuk MRT. Di dalam, Aurel membuka notebook-nya untuk melihat file di dalam flashdisk yang ia ambil.
"A— Apa ini?" Aurel menganga karena ada sandi yang harus ia masukkan. Sedangkan ia tak tahu.
Ia segera memotret layar notebook dan mengirim ke nomor Skala. Baru beberapa detik, Skala meneleponnya.
"Skala, aku pegang flashdisk-nya! Tadi ada orang—"
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku on the way ke kampus naik MRT."
"Kamu masih pegang flashdisk-nya?"
"Masih. Tapi aku gak tau sandinya. Kamu tau kan?"
"61820727."
Aurel memasukkan angka-angka sesuai ucapan Skala.
__ADS_1
"Kok invalid?" Aurel mencoba memasukkan angkanya lagi namun tetap invalid. "Skala. Kamu bener kan kasih tau sandinya?"
"Iya, itu yang terakhir aku pake buat kunci aplikasi. Kenapa? Gagal?"
"Iya. Tulisannya invalid."
"Kalo kamu merasa diikutin seseorang, buang aja flashdisk-nya. Atau kalo bisa bakar supaya gak dicari lagi."
"Kamu gila. Ini satu-satunya data perusahaan kamu. Kamu buat ini gak gampang."
"Lebih baik satu data yang hilang, daripada kamu jadi korban disini."
"Tetap aja kamu gila."
"Aurel. Dengerin aku buat kali ini aja. Cepet ke Kampus, di perjalanan, kamu harus buang flashdisk itu. Tapi sebelumnya, kamu harus salin datanya ke flashdisk lain. Paham?"
"Oke."
Sampai petang Aurel menaruh notebook-nya di Loker karena tidak ada yang tahu urutan angka gembok untuk membuka loker selain dirinya. Ia menunggu Skala menghubunginya lagi, namun karena ia bersama Bintang dan Nabila untuk PMM sampai pukul 8 malam, ia melupakan masalah data itu sebentar.
"Lo gak kerjain presentasi buat besok?" tanya Bintang menatap Aurel heran. "Daritadi kerjaan lo ngelamun. Gue sama Nabila sibuk ngetik buat bikin presentasi."
"Atau jangan-jangan lo gak dikasih tugas sama Dosen?" tebak Nabila cukup ngawur.
"Aku kerjain nanti di rumah," ujar Aurel gugup.
Bintang menyipitkan matanya. "Ada masalah ya? Lo gak kayak biasanya."
Nabila melihat mereka bergantian, "Emang apaan, Tang?"
"Gue ngerasa ada yang aneh aja dari gerak-geriknya," kata Bintang.
Nabila mencerca kekasihnya. "Lo kan anak Ekonomi, bukan anak Psikologi. Jangan sok-sok nebak. Ya.. walaupun gue juga ngerasa ada yang lo sembunyiin, Rel."
Bintang menghela nafas. "Kita udah sahabatan lama, gak mungkin gak tau masalah satu sama lain."
"Kenapa gue dengernya, ada yang gue sembunyiin, tapi gue gak bisa kasih tau." Bintang sepertinya sangat tahu seluk-beluk Aurel. Ya karena dia pernah suka.
Nabila melihat Aurel menunduk setelah mendengar Bintang menjawab ucapannya.
"Apapun masalah lo. Lo bisa kasih tau kita kapan aja. Lo selalu begini kalo ada masalah."
"Kalian tau masalah dat—" Aurel melihat mereka sangat antusias saat ia membuka mulutnya. "Gak jadi."
Nabila melihatnya malas. "Jangan sampe gue mati penasaran."
"Kalian lanjut ngetik aja. Aku mau telfon Skala sebentar." Aurel undur diri ke luar perpustakaan.
"Lama-lama gue bingung sama temen lo," ujar Bintang geleng-geleng.
"Sama. Gue juga," timpal Nabila.
Pada deringan kedua, Skala menerima panggilannya.
"Aku masih di Kampus."
"Aku bukan nanya itu."
"Kenapa? Ada masalah?"
Aurel ingin menceritakan semua, namun tenggorokannya seolah tercekat.
"Kamu gak diikutin seseorang, kan?"
__ADS_1
"Notebook sama flashdisk-nya aku taruh di Loker. Kamu aja yang ambil sendiri."
"Datanya udah dipindahin?"
"Udah."
"Kunci gemboknya?"
"7183."
"Eh, tapi aku mau buat aplikasi baru, hampir mirip sama yang pertama tapi komponennya beda."
"Aku... gak peduli soal itu."
"Kenapa?"
"Kamu ambil itu sekarang atau—"
"Atau apa?"
Aurel menengok ke bawah ketika pesawat kertas mendarat di kakinya.
"Aurel?"
Aurel mengabaikan panggilan Skala. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil pesawat tersebut dan membuka lipatannya.
●Senang bisa kenal kamu. Orang terpenting dari Presdir Bina Atlas●
Aurel melihat sekelilingnya yang lengang dan sesekali mahasiswa PMM lalu lalang.
"Dia disini," gumam Aurel.
"Apa?"
Skala yang sejak tadi berputar menggunakan kursi kerjanya langsung berdiri dan menuju Perpustakaan dimana Aurel, Bintang, dan Nabila biasa PMM.
"Kamu tunggu disana sebentar." Pria yang wajahnya kusut karena sejak kemarin belum tidur memikirkan nasib Kantor Pusat tidak peduli menjadi tatapan orang karena berlari sepanjang koridor hanya untuk menemui Aurel.
Aurel teringat dengan flashdisk miliknya yang ia letakkan di Loker. Tanpa menunggu Skala, ia ikut berlari namun menuju Loker untuk mengambil flashdisk-nya.
Ibunya selalu bilang kalau bisa, Aurel harus balas budi pada Skala. Walaupun kata mereka Aurel sudah berbuat banyak untuk Skala, tetap saja, Skala mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya.
"Tang! Itu Aurel mau kemana?!" pekik Nabila setelah berdiri menunjuk Aurel.
Bintang ikut berdiri. "Mana gue tau."
"Kejar sana! Gue beresin buku-buku lo," geram Nabila.
Bintang akhirnya mengejar Aurel walaupun tertinggal agak jauh.
Aurel terengah-engah begitu sampai di lokernya. Ia segera membuka dan mengambil flashdisk. Setelah itu ia bisa menghembuskan nafas lega karena benda keramat itu belum hilang.
"Mau kemana?"
Aurel terpaku dan gemetar mendengar suara di belakangnya.
"Demi satu flashdisk, kamu rela lari dari Perpustakaan ke Loker yang jaraknya hampir 200 meter?"
Aurel menggenggam erat benda itu lalu memberanikan diri balik badan. Ia tampak asing dengan wajahnya namun sepertinya berkisar 25-an.
"Kamu harus muncul dihadapan Skala."
"AUREL!"
__ADS_1
Bersambung...
Bintang atau Skala yang dateng itu? Terus siapa yang datengin Aurel di Lokernya? Wahhh, ngeri gilee😨