
Akhir-akhir ini Aurel agak sibuk karena Alya dan Bara sakit bersamaan. Untuk sementara Alatas yang meng-handle klinik, dan ia menjaga keduanya. Tapi syukurnya, hari ini Aurel sempat ke Kantor untuk mengajak Juli merayakan naskah ke 5-nya diterima penerbit.
Aurel mengeryit begitu di depan pintu utama menuju lobi digelar karpet merah dan terdapat mobil sedan hitam mengkilap dengan bodyguard di sekitarnya.
"Juli!" teriak Aurel sambil berlari kecil menghampirinya.
Juli mengomeli Aurel, "Eh, eh. Gaya lo pake sepatu tinggi. Kalo keseleo siapa yang tanggung jawab?"
Aurel nyengir tanpa dosa, "Kamu."
"Kok gue?!"
"Kan kamu yang pergi bareng aku," kata Aurel yang langsung membuat Juli salah tingkah. "Itu ada apa sih?"
Juli melihat pemandangan aneh dari tempatnya berdiri. Menurutnya terlalu berlebihan karena seorang perempuan masuk ke kantor dengan lima penjaga yang mengitarinya.
"Gak tau. Artis, bukan. Pidana juga bukan," gumam Juli keheranan.
"Selamat ya lolos review penerbit!"
"Makasih, makasih." Juli sungguh tersanjung jika Aurel yang mengatakan selamat untuknya. "Lo mau traktir gue?"
"Iy—"
"Gak, gak boleh. Gue yang traktir." Juli melihat lagi perempuan yang menunggu anak buahnya sedang bicara dengan satpam kantor. "Liat, Rel. Dibandingin sama lo, jelas masih kece lo timbang dia. Gaya amat pake dikawal segala kek macan ragunan."
Aurel memperhatikan perempuan itu. "Kayaknya orang penting deh, Jul. Kalo nggak, ngapain repot-repot punya bodyguard?"
"Orang sok penting itu mah. Skala aja yang harta gono-gini banyak, gak pernah kek gitu." Inilah sifat asli Juli. Suka nyinyir.
Aurel terkejut saat ponselnya berdering. "Bentar, Jul."
"Dugaan gue yang nelpon si—"
"Kenapa, Skala?" ujar Aurel sesuai ekspektasi Juli.
Juli membogem pelan tangannya sendiri, "Tuh kan, bener!"
"Kamu dimana?"
"Di depan kantor kamu."
"Masuk lagi."
Ia berteriak dalam hati, Apa-apaan?!. "Buat apa? Aku mau makan sama Juli."
"Masuk. Ada tamu yang mau aku kenalin ke kamu."
"Tapi—"
TUTT
Aurel mendesah pelan. Ia sudah berharap mau pergi bersama Juli. "Jul... aku—"
"Gapapa. Udah sana lo turutin majikan."
"Ish!"
__ADS_1
Juli tertawa, "Ada hikmahnya."
Selagi Juli pergi, Aurel kembali masuk ke kantor Skala. Namun saat hendak masuk, ia dicegat oleh dua pria berbadan kekar sama seperti di depan lobi tadi.
"Maaf, saya ada perlu—"
"Dia pacar saya," ujar Skala muncul dari dalam ruang kerjanya.
Sontak mereka meminta maaf pada Aurel dan memberi jalan padanya.
Aurel tersenyum kikuk lantas menyenggol lengan Skala. "Sejak kapan aku jadi pacar kamu?"
"Kalo gak gitu kamu gak masuk-masuk," kata Skala yang menarik tangan Aurel pada seseorang yang sedang berdiri di dekat jendela. "Kak Rumi, kenalin perempuan cantik ini namanya Aurel."
Perempuan yang disebut Rumi membalikkan badan dan menyunggingkan senyuman. "Siapanya kamu?" Dia menghampiri mereka.
Skala menjawab, "Pacar."
Ya Tuhan. Kalau boleh, Aurel ingin menendang bokong pria disampingnya yang sudah ngaku-ngaku sebagai pacarnya.
"Kita sahabat dekat," ralat Aurel yang langsung mendapat pelototan tajam dari Skala.
Rumi bersidekap dada, "Ya. Udah aku duga, gak mungkin pacar kamu turun level." Lantas dia melirik Aurel malas. "Lain kali kita ngobrol lama. Maaf, Skala. Aku ada agenda sama Ayah kamu di Bandung, jadi gak bisa lama-lama." Dia berjalan seolah model utama keluar dari ruangan Skala meninggalkan jejak perih di hati Aurel.
Apa maksudnya bicara seperti itu?
"Aurel, maafin Rumi. Dia emang agak ceplas-ceplos."
Aurel berdehem singkat lalu menghubungi Alatas. Begitu deringan pertama, langsung diangkat olehnya. "Ayah, aku mau kesana. Mendadak gak enak badan." Setelah itu ia izin pada Skala, "Aku pulang ya."
Skala mencekal tangannya sampai Aurel berbalik arah ketika sudah mau pergi. "Jangan masukin hati."
Ini baru satu yang Aurel hadapi. Apalagi nanti saat ia ke Bandung menghadap Akhza dengan maksud membicarakan hubungannya dengan Skala. Bisa habis, dia nanti!
"Wah! Kenapa lo gak bilang ada orang model somplak gitu? Kalo ada gue, yakin deh bakal gue lakban. Kalo perlu gue jilid mulutnya biar mingkem!"
Aurel menyesal minta solusi dari Nabila yang tempramennya buruk.
Nabila memegang kedua bahu Aurel. Dia meneliti Aurel dengan seksama. "Gak ada yang kurang. Cuma emang lo terlalu polos."
Aurel geleng-geleng kepala, "Dia itu sahabatnya Skala yang baru kesini dari Paris."
"Kok lo tau?"
"Tadi Skala chat."
"Lo cari tau?"
"Nggak."
"Bagus! Lo cuekin si Skala biar tau rasa!"
Aurel menggeleng, "Gak perlu. Buang-buang waktu."
Tiba waktunya saat Aurel dan Nabila diajak ke rumah Skala yang terdapat Rumi disana. Aurel tidak tahu kalau ada orang yang diizinkan masuk ke Perpustakaan selain dirinya. Itu kata Skala.
Wajah Nabila sudah sepat melihat Rumi dengan gaya glamour berjalan disamping Skala. LIAT AJA LO, MEDUSA KEDUA, KALO SAMPE SAHABAT GUE SAKIT HATI KARENA MULUT LAKNAT LO. GUE GAK SEGAN LAKBAN LO DI DEPAN SKALA.
__ADS_1
Namun, Nabila adalah peran terbaik selama 1 tahun ini. Jadi dia melakukan dengan cantik, peran bermuka dua. Dilihat sih baik, tapi hatinya sudah mengumpat tentang Rumi.
Skala menarik kursi mempersilahkan Aurel duduk untuk makan malam. Rumi memperhatikan sikap Skala dengan jengah, dan itu diketahui Nabila.
"Silahkan," kata Skala dengan semangat.
"Kalian udah kenal lama?" tanya Rumi basa-basi.
"Lama banget," ketus Nabila.
"Tetap aja lebih lama kita. Ya gak, Skala?"
Dengan lugunya Skala mengangguk membuat kobaran api dalam tubuh Nabila bergejolak. Dia bisa saja menghancurkan meja makan sekarang dengan satu kali pukul. Tapi bagaimana kalau Skala minta ganti rugi?
"Skala. Seandainya, aku sama Aurel ada di tengah jalan terus mau ditabrak mobil. Siapa yang mau kamu selametin dulu?" tanya Rumi membuat Aurel menunggu jawaban Skala.
Skala tidak ingin ada keributan. "Dua-duanya."
BUAYA DARAT GAK PUNYA PENDIRIAN! GUE BISA AJA NIH NYEKEK DIA SEKARANG KALO DIIZININ AUREL.
Nabila menghembuskan nafas pelan supaya bersabar, "Lo gak bisa selametin dua-duanya, kecuali lo bisa membelah diri kayak amoeba."
"Jelas Skala nyelametin yang udah lama dia kenal," ujar Rumi.
Nabila tersedak minuman. "Apa lo bilang?"
Aurel meletakkan sendok dan garpu di atas piring lalu mengajak Nabila pergi. Skala berdecak dan menahan salah satunya untuk tetap disini.
"Bara masih sakit, jadi aku gak bisa lama-lama, makasih makanannya." Aurel sangat cepat mengucapkannya sampai Skala hanya terdiam.
Melihat Aurel pergi, entah kenapa Skala jadi kesal.
"Kenapa lo liatin Aurel begitu? Gak terima?" tantang Nabila.
Skala bilang, "Tolong bilangin, saya minta maaf."
"Gue yakin Aurel gak bisa maafin sahabat laknat lo itu," ujar Nabila sambil memainkan kuku tangan kanannya. "Jadi lo jangan harap deh. Walaupun dia tenang, lo gak tau kan kalo dia hancur?"
"Saya gak bisa marahin Rumi."
Nabila berdecak dan mengangkat dagunya, "Lo pikir Aurel pernah marah sama lo?"
"Bilangin aja gitu. Saya masuk dulu."
Nabila menghalangi jalan Skala. "Bilangin juga ke temen lo. Gue siap adu karate kapan aja."
Skala dapat pastikan Rumi kalah dalam sedetik apabila dihadapkan dengan Nabila. Ngeri.
"Rumi itu temen saya dari TK. Jadi bilang, jangan salah paham."
Nabila mengacuhkannya sambil melangkah keluar pagar. Masa bodo dengan hubungan mereka, mungkin memang bagusnya mereka putus.
BAJI*GAN ITU BAKAL GUE KASIH PELAJARAN LAIN HARI. RUMI, BERSIAP, ACARA LO BAKAL GUE SEDIAIN YANG BAGUS.
Bersambung*...
Kayaknya Nabila mulai balik ke sifatnya yang gampang emosi. Dia mungkin capek sama keadaan yang kadang berubah-ubah.
__ADS_1
😡