SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Salah Kaprah


__ADS_3

Dengan wajah suntuknya, gadis itu mengabaikan nada dering di ponselnya yang tidak mau berhenti. Aurel belum mau bicara pada orang-orang di rumah, bahkan sampai Alya khawatir dan menunggu Alatas pulang. Bara masih mengurus klinik dan ponselnya tidak aktif, jadi Alya tak punya pilihan selain menghubungi suaminya.


"Assalamu'alaikum, Yah."


"Wa'alaikumsalam. Kenapa, Al?"


"Aurel. Dia dari pulang tadi gak mau keluar kamar."


"Tidur kali..."


"Ih, si Ayah. Daritadi Aurel, Ibu panggil juga nyahut.. tapi gak mau keluar kamar." Alya heran kenapa suaminya masih sempat bercanda saat dirinya khawatir.


"Kenapa? Marah sama kamu?"


"Emangnya Ibu ngapain? Daritadi kan Aurel main."


"Ngambek sama siapa? Biasanya kalo gitu, dia lagi marah."


"Iya, Ibu mau nanya juga susah Aurelnya gak mau keluar. Ibu khawatir, Aurel sakit."


"Hah? Sakit?"


"Sebentar lagi pulang. Nanti Ayah tanyain."


"Cepet ya."


"Iya."


Alya terkejut saat Skala datang rusuh ke rumahnya. "Eh eh eh. Kenapa?" Alya heran melihat Skala seperti habis maraton mandiri.


Skala langsung to-the-point bertanya, "Aurel mana, Bu? Ditelpon gak diangkat, gak biasanya begitu."


Alya terharu dengan Skala yang mengerti Aurel yang hari ini aneh. "Iya, daritadi gak mau keluar kamar. Tapi, Ibu panggil ya nyahut."


Skala melepas sepatunya, "Saya capek, Bu. Mau duduk dulu."


"Oh iya, masuk aja gak pa-pa."


Skala pun masuk dan ke dapur dulu ambil minum. Setelah itu ia mencoba menghubungi Aurel lagi namun tetap tidak diangkat. Ia kenal Aurel cukup lama. Jadi tidak ada adegan dobrak pintu segala yang justru membuat gadis itu ngamuk.


"Bu, awalnya gimana? Kok ngambek gitu?" Skala melihat Alya menggeleng tidak tahu. Saat dirinya berdiri di depan pintu, ada semacam note yang ditulis pakai spidol.


SEDANG ISTIRAHAT !


Dalam hati Skala bergumam, gak usah pake tanda seru kan bisa!


"AUREL, KEBAKARAN!" Skala berteriak sok histeris sampai Aurel terkejut dan lompat dari kasur untuk keluar kamar.


Alya melongo melihat cara Skala, kemudian ia tertawa dan melangkah ke dapur.


Skala menutup pintu itu lalu mendorong pelan bahu Aurel supaya duduk di kursi. "Sekarang aku yang sidang kamu."


"Kamu bohong?" Aurel bertanya.


"Karena kamu sendiri," jawab Skala. "Kamu gak liat Ibu khawatir nunggu kamu keluar?"


Aurel yang beranjak langsung didudukkan lagi oleh Skala, "Skala. Kamu gak baca? Aku mau istirahat." Ia melirik ke pintu.


Skala berdecak, "Aku baca kok. Tapi seenggaknya jangan begini. Kamu bikin semua orang khawatir, Rel."


"Skala, gak semuanya kamu berhak ikut campur. Aku mau istirahat, jadi jangan ganggu dulu."


Skala tertegun. "Keliatannya marah banget. Ayo bilang siapa yang buat kamu marah?"


Alya lewat di belakang Skala sambil membawa gelas kotor dari kamar Alatas. Aurel pun langsung menangis dan teriak, "AYAH SELINGKUH!"


BRAK'


PRANG'

__ADS_1


Suara debuman pintu bersamaan dengan jatuhnya gelas di tangan Alya membuat Skala membantu membersihkan serpihan kaca dulu.


Alya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan anak sulungnya. Apa itu sungguhan?


Selesai membersihkan lantai, Skala membantu Alya duduk di bangku untuk menenangkannya. Alya turut menangis mendengar tangisan anaknya dari kamar.


"Pasti ada salah paham, Bu." Skala berusaha mencairkan suasana yang tegang.


Selang beberapa detik, Bara datang dan bingung melihat Skala disini, ditambah lagi Alya menangis. Tidak. Aurel juga menangis di kamarnya. Ada apa ini?


"Bu, ada apa sih?" tanya Bara sambil duduk di seberang Alya. "Aurel kenapa? Kok nangis?" Dia melepas tas dan snelli-nya menyisakan kaos oblong warna hitam.


Alya menggeleng, "Ibu gak tau. Coba kamu ajak bicara."


Bara mengangguk. Mana mungkin Aurel bertengkar dengan Alya. "Aurel... coba keluar terus cerita ada apa."


Skala mendekati Bara, "Aurel bilang, Dokter Alatas selingkuh. Makanya mereka nangis."


Wajah Bara terkejut bukan main. "Selingkuh?! Sama siapa?" Dia mengetuk pintu, "Aurel. Cerita kenapa kamu bisa bilang Ayah selingkuh? Aurel!"


"Siapa yang selingkuh?" tanya Alatas yang baru saja datang di ambang pintu depan. Dia masih menenteng tas di sebelah tangan dengan wajah kusut.


Bara menghampiri Ayahnya, tanpa mereka sadari Alya masuk ke kamar menghindari perdebatan yang mungkin akan menguras tenaga. Ia syok mendengar Aurel berteriak padanya.


"Ayah, Aurel bilang Ayah selingkuh. Gak bener kan, Yah? Ini pasti salah paham."


Alatas mengeryit bingung. "Selingkuh sama siapa, Kak? Ayah udah nikah."


Bara menggeleng tidak paham juga. "Ini pasti salah paham."


"Aurel suruh keluar dulu," ujar Alatas sambil masuk dengan tenang. Padahal hatinya ketar-ketir.


Sebelum Bara mengetuk pintu, Aurel sudah keluar lebih dulu dengan wajah sembab. Skala hanya duduk memperhatikan mereka tanpa berniat ikut campur karena bukan haknya.


Bara menggaet lengan Aurel namun ia hanya bergeming. "Cerita dulu. Ayah sama aku mau denger."


Aurel mengabaikan Bara dan menghampiri Skala. "Aku mau ke rumah kamu."


Alatas berkata, "Kamu duduk dulu, Rel. Ayah mau tau ceritanya kenapa kamu bilang Ayah selingkuh."


Aurel mengepalkan kedua tangannya lalu menghela nafas untuk sabar. "Kenapa bukan Dokter yang cerita?" Dengan langkah kesal ia hendak masuk kamar lagi namun dihalangi Bara. "Minggir."


"Balik kesana, duduk dulu."


Aurel merotasikan matanya, "Aku mau istirahat."


"Kebiasaan kamu dari dulu. Semua dipendam sendiri. Kamu cerita dulu, nanti baru istirahat. Aku tau kamu di dalam pasti nangis lagi, kasian badan kamu, Rel." Bara mendinginkan otaknya walaupun sebenarnya sudah ingin meledak.


"Bara, awas." Aurel menyuruhnya bergeser.


BRAK'


Alatas menggebrak meja dengan keras sampai semuanya terkejut, termasuk Alya yang ada di kamar.


"Kita bicarain baik-baik disini supaya selesai sekarang. Aurel sama Bara duduk dulu disini."


Bara menarik tangan Aurel namun gadis itu masih enggan mengikuti perintah sang Ayah untuk sekedar duduk.


Aurel memejamkan matanya, "Aku... capek. Butuh tidur." Ia menepis tangan Bara dan masuk kamar lalu mengunci pintu.


Bara kini duduk dengan Alatas dan Skala.


"Padahal tadi pagi baik-baik aja ketemu saya," ujar Skala mengingat betul. "Terus dia bilang mau main."


"Kemana? Sama siapa?" tanya Alatas.


"Gak bilang. Coba saya telfon temen-temennya."


Bintang, Nabila, dan si Kembar bilang mereka seharian di rumah tidak kemana-mana apalagi main dengan Aurel. Skala menghubungi Juli.

__ADS_1


"Jul, maaf ganggu. Saya mau tanya."


"Novel belum jadi, Pak. Sabar ya, Pak."


"Saya gak nagih novel. Saya mau nanya, tadi kamu ketemu sama Aurel gak?"


"Iya, ngobrol sebentar juga sama Shiren."


"Gimana, Aurelnya?"


"Biasa aja. Emangnya gimana?"


"Dia lagi marah. Mungkin kamu tau sesuatu kenapa dia marah."


"Biasanya, Bapak, yang lebih tau Aurel. Tadi sih Aurel tiba-tiba izin pergi. Nyebrang jalan aja lari, kan serem ya. Katanya ada urusan."


"Udah itu doang?"


"Iya. Tanya Yuan coba, soalnya saya liat mereka lari karna fans-nya Yuan ngejar."


"Kok dia sih?"


"Ya mana saya tau. Bapak butuh informasi kan? Gapapa lah kali-kali telpon."


"Kurangajar kamu, Jul."


"Becanda, Pak.."


"Yaudah makasih ya."


"Sama-sama, Pak."



Mau tak mau Skala butuh keterangan dari Yuan karena terakhir yang bertemu Aurel adalah dia.


"Kediaman Argantara, ada yang bisa saya bantu?"


"Banyak gaya."


"Hehe.. kenapa, Pak?"


"Tadi kamu ketemu Aurel."


"Jelas dong. Saya kan bersaing dengan sehat."


Skala berusaha bersabar. "Aurel marah gara-gara kamu ya?"


"Sembarangan. Saya mah anak baik-baik. Eh bentar, Aurel bisa marah?"


"Dia manusia. Cepetan kasih info, kalo nggak mau dimatiin telfonnya."


"Aurel di taman ngejar Bokapnya..."


Skala melirik Alatas yang membuat Ayah dari Aurel bingung tidak dengar apa yang ia katakan.


"Ngapain?"


"Mergokin Bapaknya selingkuh. Sayang banget tadi pundak saya bisa buat Aurel bersandar.."


"Makasih infonya!"


"Gitu doang?"


"Hm."


"Yodah. Bye, Pak."


Skala meremas ponselnya karena mendengar suara Yuan yang menyebalkan melebihi Nabila. Ternyata ada orang yang lebih diatas Nabila —Nyai Rombeng di grup.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2