SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Satu Menyakiti Sisanya Melindungi


__ADS_3

Dari awal Aurel bilang kalau Skala amnesia, Bara sangat tidak percaya. Dia merasa ada yang aneh disini.


"Dokter salah diagnosa kali, Rel."


Aurel mengeryit, "Emang Dokter pernah salah diagnosa?"


"Ya, tergantung Dokternya sih.." Bara mendesis bingung. "Masa kepeleset bisa amnesia... sejak kapan?" Bara berpikir keras.


"Aku liat emang Skala pas jatuh, kepalanya dulu yang bentur lantai, mungkin itu sebabnya." Dia juga pusing kalau Skala amnesia sekarang.


"Kok aneh ya. Coba Kakak mau anamnesis dia sendiri." Bara hendak bangun dari posisi tiduran.


"Kak, kan belum sembuh total."


"Kakak gak percaya, makanya mau periksa dia sendiri." Aurel membantu membawa cairan infus karena Bara benar-benar ingin memeriksa Skala.


Saat hendak masuk bangsal, Bara memutar bola matanya malas, "Nih orang makin aneh, Rel. Masa jatuh kepeleset aja masuk VIP. Presiden, bukan."


"Dia Presdir di kantornya," ralat Aurel.


"Tapi gak diwajibkan masuk VIP walaupun dia pengusaha besar atau Presdir mana pun. Kan kecelakaan ringan." Bara menambahkan kalimat, "Ya memang dia kejang sampai muntah-muntah. Tapi ini berlebihan."


"Kakak jadi masuk gak?"


Bara langsung mengangguk. Begitu mereka masuk, ternyata Skala masih tertidur.


"Dia selalu mau istirahat lama, tapi gak pernah bisa karena kerjaan. Tapi hari ini dia bisa."


Bara berdiri memandangi Skala. "Cih, dia itu jarang kerja. Kerjaannya ngikutin kamu doang."


Ada benarnya sih...


"Sampai kapan dia tidur?" gumam Bara sudah tidak sabar. Ini pasti dimanipulasi, Lanjut Bara dalam hati.


Skala melenguh kecil, "Ru...mi..."


Bara langsung menoleh ke Aurel yang pasti merasa berbeda. Dia ini sebenarnya perjuangin siapa?


Bara melepas infusnya lalu menghampiri Skala membuat Aurel terkejut. "Kak! Kok dilepas?!"


"Dia cuma pura-pura amnesia, Rel. Kamu jangan gampang percaya." Bara menarik kerah baju Skala dan menahan amarah. "Jangan bikin Aurel kasian sama lo. Lo gak seharusnya manfaatin kepolosannya, brengs*k!"


Skala membuka matanya sayup-sayup sambil batuk kecil. Aurel tidak tinggal diam, ia langsung menarik Bara, "Kak, jangan begitu. Dokter sendiri yang bilang ke aku."


Bara kekeh tidak percaya, "Kakak bakal cari buktinya. Kalo perlu, kita rontgen otaknya."


Aurel memegang tangan Bara, "Kak, bisa gak jangan bikin aku tambah khawatir? Jangan dilepas infusnya, tangan Kakak jadi luka."


Bara mengangguk singkat, "Maaf."

__ADS_1


"Gapapa." Aurel mengajak Bara kembali ke bangsalnya, namun pria itu enggan.


"Kakak bakal cari buktinya, Rel. Kalo dia ketahuan bohong, Kakak gak mau tau caranya kamu harus jauhin dia." Bara pergi sambil menutup pintu cukup kasar.


Aurel menghela nafas lalu mendekati Skala, "Maafin Bara."


"Dia siapa?" tanya Skala dengan suara serak.


"Kakak aku."


"Rumi mana?"


"Dia pulang." Aurel melihat jatah makan Skala yang masih utuh. Ia inisiatif untuk menyuapi Skala. "Makan dulu."


Skala mengoceh, "Pacarnya disini, dia malah pulang. Gimana sih?"


"Mungkin kamu salah nyari pacar," jawab Aurel sekenanya sambil menyendokkan bubur. "Gak usah ngomel, makan dulu." Lama-lama dongkol juga ia disini, tapi Skala cari Rumi.


"Nanti aku pulang sama Bara. Kamu bakal dirawat Rumi sampai sembuh."


"Pulang kemana?"


"Ke Jakarta lah."


Skala manggut-manggut, "Kalo Rumi gak mau rawat aku. Kamu mau gantiin kayak sekarang?"


Skala menempelkan punggung tangannya di dahi Aurel, "Anget. Pantesan sewot."


Aurel hanya diam dan kembali menyuapi Skala. Setelah selesai barulah ia beranjak keluar, "Aku hubungi Rumi dulu. Kamu tunggu sebentar."


"Kenapa, Rel?"


"Kok kenapa? Skala butuh kamu. Kamu malah ilang."


"Aku gak ada waktu buat ngurusin dia. Kan ada kamu. Tolong ya, aku capek banget habis meeting."


"Aku mau pulang sama Bara. Gak bisa gitu dong. Skala kan ingetnya cuma sama kamu."


"Yaudah kamu telepon aja Bang Andre, kan dia free."


"Ta—tapi- Halo? Rumi?" Aurel mendesah kesal. Bagaimana sih dia? Aneh sekali langsung memutus panggilan sepihak. Mau tak mau ia kembali masuk dan melihat Skala sedang makan apel. "Orang amnesia masih hafal makanan apa yang dia suka ya?"


"Hm."


Selang beberapa menit, Bara datang dengan membawa lembaran kertas. Dia melemparnya tepat di wajah Skala. "Lo bohongin Aurel. Lo gak amnesia kan?"


Aurel tidak butuh jawaban Skala. Yang ia butuhkan adalah bukti langsung. Setelah ia mengambil salah satu berkas dan membacanya, Aurel mengatakan, "Buat kamu ini menyenangkan ya?"


Skala diam saja dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Ayo, Rel. Kita pulang sekarang, abis itu kamu cabut pendaftaran di kampus. Kita cari kampus lain."


Saat Aurel hendak ditarik Bara, Skala juga menahan tangannya. "Jangan kemana-mana," katanya.


"Kamu masih mau deketin pembohong kayak dia?!" tanya Bara tersulut.


Aurel akhirnya menjawab, "Aku gak akan cabut pendaftaran disana, Kak." Ia menjeda sebentar dan menatap Skala, "Aku menyerah, maaf."


Bara melepaskan tangan Skala lalu membawa Aurel keluar dari bangsal. Skala terdiam dengan mata berkaca-kaca, seperdetik kemudian ia merobek bukti diagnosa dari Rumah Sakit.


Esok tidak akan ada lagi kisah mereka yang selalu bersama. Skala akan menanggung dan berjuang sendiri menghadapi Akhza yang keras kepala ingin menjodohkannya dengan Rumi —perempuan yang tidak tahu diri setelah ia selamatkan. Harusnya ia biarkan saja dia yang terpeleset dan berakhir di Rumah Sakit.


●●


Juli bingung saat Bara membawa Aurel dalam keadaan menangis.


"Bang, lo apain cewek gue?" tanya Juli sok galak.


"Cewek lo? Ngimpi!" ketus Bara. "Udah pesen tiket kereta kan?"


"Udah. Taksinya juga udah dateng," ujar Juli.


"Maaf pulangnya pake kereta. Mobil Kakak masih ditahan di Kantor Polisi buat bukti, nanti kalo prosesnya selesai, baru bisa dibenerin."


"Iya gak pa-pa."


Juli berdiri di hadapan Aurel, "Ya Allah. Cewek gue nangis kenapa. Lo apain adek lo, Bang?"


"Presdir lo kurangajar bohongin Aurel," terang Bara.


Juli tidak percaya dan bertanya pada Aurel, "Ah masa sih? Bener, Rel?"


Aurel hanya masuk ke taksi enggan menjawab. Kalau sudah begini, Juli yakin sulit memperbaikinya. Skala adalah orang terpenting dihidup Aurel setelah Alya—Ibunya, namun malah berbohong, jelas Aurel kecewa.


"Gue sempet beli coklat di Kantin. Kata Google bisa balikin mood cewek," ujar Juli sambil memberi coklat batang.


Aurel menerimanya sembari tersenyum, "Makasih."


Juli menatap pemandangan dari kaca taksi sambil bergumam, "Mamp*s lo, Skala... lo kecewain cewek sebaik Aurel, segunung dosa lo." Dia memaki atasannya sendiri.


"Kamu mau juga?" tawar Aurel.


"Lo lebih doyan dan lebih butuh juga," ujar Juli.


Bara sibuk menatap ponsel Aurel yang ia pegang. Dia tersenyum getir karena Skala menelepon berkali-kali. Biar pria itu tau rasa. Tidak semua orang bisa ia bohongi.


Bersambung.


MOHON ITU JULI LAPORKAN AJA KE SKALA KARENA MAKI-MAKI ATASANNYA SENDIRI HAHA

__ADS_1


__ADS_2