SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Marah-Marah


__ADS_3

Saat kelas sedang berlangsung, Aurel mencolek Nabila karena Bintang ada di depan kelas. Nabila tidak mengerti apa yang Bintang katakan karena dia ada di luar pintu.


"Ngomong apaan sih lo? Gaje sumpah."


Aurel melotot tidak percaya karena Nabila mengatakannya cukup keras sampai seisi kelas menoleh ke arahnya.


Nabila mengatupkan mulutnya saat Dosen menghampiri mejanya. "Siapa yang gak jelas ngomongnya?"


Saat Nabila menunjuk Bintang, pria itu dengan pintar langsung duduk di bawah pintu supaya tidak kelihatan. "Itu tadi—"


"Tadi apa?" tanya Dosen tersebut.


Aurel berdiri dan mengatakan, "Pak, tadi Nabila ngobrol sama saya. Terus saya gak denger. Maaf, Pak."


Yuan yang ada disebelah Nabila pun ikut berdiri, "Kita bertiga ngobrol, Pak."


"Silahkan merangkum di tengah lapangan."


Yuan tidak merasa apes untuk menemani Aurel menjalankan hukuman. Tapi sejak tadi, si Biang Kerok justru yang kesal.


"Awas lo, Bintang!! Gue cincang kaki lo buat makan buaya ntar," ujarnya kesal. "Gak terima gue dihukum begini."


Aurel menutup telinganya dengan gumpalan kertas, "Aku gak denger, jadi aku diam."


"Lo berdua ngapain berdiri segala tadi? Tambah kesel gue."


"Gue murni mau nemenin Aurel lah," jawab Yuan.


"Bukan karena gue nih?" tanya Nabila miris.


"Bukan lah!" cetus Yuan lanjut merangkum Bab.


Nabila menyenggol Aurel, "Lo, Rel? Kenapa berdiri?"


"Aku? Cuma gak mau kamu jalanin hukuman sendiri," jawabnya. "Tenang aja, nanti kita balas si Bintang."


"Siap!"


Dua orang berjalan dari arah berbeda ke satu arah. Bintang meletakkan almamaternya di kepala Nabila supaya tidak kepanasan dan Skala memayungi Aurel.


Aurel dan Nabilamenoleh ke mereka yang bersamaan datang. Tepukan riuh dari mahasiswa lain mengelilingi tiap sisi dengan sahutan iri ingin diperlakukan seperti mereka.


Namun respon mereka setelah menatap ketiganya adalah lanjut merangkum.


"Seenggaknya berhenti nulis dulu," ujar Bintang.


Tunggu. Nabila punya ide.


"Gue harus bilang gak ya siapa yang udah ngehukum kita?"


Aurel menoleh pada Nabila yang sedang menaik turunkan alisnya. Ia menggeleng pertanda "jangan".


Nabila memukul Bintang menggunakan bukunya, "Lo yang bikin kita disini sekarang. Kurangajar."


"Lo-nya aja dipanggil budek. Gue tadi mau ngasih soptek, katanya lo lagi PMS."


Nabila dibuat kesal berkali-kali hari ini, "Lo udah buat gue disini, terus terang-terangan ngomong soptek di depan mereka? Gila lo, gak bilang minta maaf lagi." Nabila menghempaskan bukunya di tanah lalu pergi melempar almamater milik Bintang.


"Gue tinggal bentar ya," ujar Bintang lantas mengejar Nabila. Sudah biasa Nabila seperti itu kalau PMS, jadi bukan pertama kali Bintang menanganinya.


Yuan memungut buku Nabila dan melihat rangkumannya, "Udah selesai, gila. Pantesan daritadi ngedumel." Ia pun melanjutkan satu baris lagi lalu agar cepat selesai. "Sini gue kumpulin ke Botak sekalian punya lo."

__ADS_1


Aurel memberikan bukunya, "Buku kalian nanti aku kembaliin ke Perpus. Makasih ya." Setelah melihat Yuan pergi, Aurel melepas sumbatan kertas di telinganya dan berdiri.


Skala merebut tiga buku dari tangan Aurel sedangkan tangan kirinya masih memegang payung. Gantian Aurel yang memegang payung, "Sini aku pegangin."


Skala meletakkan telapak tangannya di kepala Aurel, "Panas banget."


"Lumayan."


"Gapapa ya ikut kena hukum." Skala memastikan Aurel baik-baik saja sudah tenang.


"Aku nemenin Nabila," ujar Aurel. "Aku laper, mau ke Kantin. Ikut gak?"


"Aku mau lanjut ngurus tugas. Kamu duluan aja."


"Payungnya?"


"Aku anter sampe sana," ujar Skala menunjuk teras. Setelah mengantar Aurel, Skala mengambil payungnya lagi dan langsung pergi.


...***...


Skala mendapat telepon dari Rumi. Dari percakapan itu, terlihat jelas raut wajahnya menahan amarah sambil meremas ponselnya.


"Leya udah ada di Kampus kamu. Tolong jaga dia ya, aku pulang ke Bandung ada urusan mendadak."


Bukannya apa. Leya adalah salah satu perempuan kepercayaan Ayahnya karena dikenal lemah dan pengecut. Dia itu... adiknya Rumi. Semenjak itu, keluarganya menuntut Skala dan Andre menjaganya saat sekolah sebelum ia pindah ke Cilacap.


Ia marah karena suatu hal yang bisa saja terjadi kericuhan antara Leya dan kawan-kawan Aurel. Intinya, mereka pernah punya hubungan spesial sebelum ada Aurel.


Disisi lain, di koridor Fakultas Ekonomi riuh karena kedatangan perempuan yang anggun namun jalannya menunduk seperti tidak percaya diri. Dialah Leya yang sangat dikhawatirkan Skala.


"Gak ada duit kali di bawah," ujar Nabila meliriknya sebentar lalu lanjut baca buku.


"Nabila. Jangan gitu..." tegur Aurel yang menutup bukunya lalu menghampiri Leya. "Nama kamu siapa? Masuk kelas mana?" tanya Aurel dengan ramah.


"Aku Aurel," ujarnya memperkenalkan diri.


Nabila menghela nafas jengah lalu mendekati mereka, "Rel. Kita ada kelas sebentar lagi. Ngapain ngurus orang lain."


"Ternyata kamu masih suka mengucilkan orang baru," ujar Aurel berdiri melindungi Leya padahal belum saling kenal.


"Apa lo bilang?"


Aurel menjelaskan. "Masalah kamu sama Bintang, jangan dijadiin pelampiasan ke orang lain."


"Kok lo bawa-bawa gue sama Bintang sih?!" Nabila mendorong bahu Aurel hingga dia dan Leya jatuh bersamaan.


Bintang yang hendak mampir minta maaf ke Nabila, juga kaget melihat apa yang dilakukan kekasihnya. Ia langsung membantu Aurel, "Lo gapapa?" Semburat khawatir dari Bintang tampak jelas. Ia membantu Aurel berdiri, lalu Aurel membantu Leya.


Bintang menatap tajam Nabila, "Lo! Ikut gue!" Ia menarik tangan Nabila cukup kasar entah kemana.


Aurel pun bertanya, "Kamu gapapa?"


Namun yang terjadi justru Leya menghindari Aurel yang hendak mengecek keadaannya. "Aku—"


Skala berdiri diantara mereka namun menghadap ke Aurel. "Kamu apain Leya?"


Aurel yang mendapat pertanyaan intimidasi pun mengeryit kebingungan karena dia tidak melakukan apapun.


Skala lantas putar badan ke arah Leya, "Kamu kenapa?"


"Jatuh," singkat Leya.

__ADS_1


"Kok bisa?" tanyanya.


Leya melirik Aurel sebentar dan Skala menyimpulkan hal yang tidak masuk akal, tetapi lebih dulu ia menyuruh Leya masuk kelas. Setelah itu ia mengode Aurel untuk mengikutinya.


Mereka berhenti di depan Klinik.


"Kamu ya?" tuduh Skala tiba-tiba.


Aurel menggeleng, "Bukan aku."


Skala langsung percaya. "Minta tolong jagain Leya. Dia adiknya Rumi. Rumi minta tolong ke aku."


"Gak mau," ujar Aurel dengan angkuh.


"Kenapa?"


"Kan kamu yang disuruh, kenapa harus aku? Kalo aku yang jagain dia terus kamu ngapain?"


"Aku jagain kamu lah," terang Skala.


Mereka bertatapan cukup lama lalu Aurel melirik arah lain, "Jalanin aja apa kata Rumi."


"Kok gitu?"


"Aku mau cari Bintang sama Nabila. Ribet kalo ngomong sama kamu. Namanya buaya darat, gak berhenti cewek datang nyariin kamu," gumam Aurel sambil melewati Skala.


Disebut buaya darat oleh Aurel, Skala hanya mampu memukul angin lalu menghadangnya.


"Buaya darat?"


"Iyalah. Dari Dina, Rumi, sekarang Leya. Ntar siapa lagi?" Aurel kembali jalan lagi namun perasaannya jadi tidak enak tentang kedua sahabatnya. Bintang kalau emosi melebihi orang dewasa. Bisa bahaya kalau tidak ada yang menahannya.


"BILANG AJA LO MASIH SUKA SAMA AUREL, KAN?"


"Jaga bac*t lo! Gue udah sabar ya. Lo lagi PMS pasti bawaannya bikin ribut!"


"Ya lo yang pertama ganggu gue!"


"Lo amnesia juga? Dulu yang ngejar-ngejar gue sampe nyelakain Aurel siapa? Lo kan? Kok lo berani nyalahin gue?"


Mereka bertiga sudah berjanji tidak akan mengungkit kenangan itu. Tapi Bintang justru membuka kembali, tidak hanya didengar Nabila, namun juga Aurel yang menemukan mereka disamping tangga.


"Kita putus aja sekarang," ujar Nabila sambil pergi dari hadapan mereka.


"Putus??" gumam Bintang sangat pelan.


Aurel mendekatinya sambil sedekap dada, "Kita udah janji gak akan ungkit masalah itu kan?"


Saking emosinya, Bintang kelewatan. "Biarin aja dia minta putus. Akhir-akhir ini kita emang banyak masalah. Mungkin sekarang waktu yang tepat buat introspeksi diri."


Aurel tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Ia kembali ke kelas karena sebentar lagi Dosen akan datang.


Tapi sebelum masuk kelas, ia sempat melihat Skala dan Leya berdiri di luar.


"Tenang aja. Nanti aku minta tolong Aurel jagain kamu. Kamu juga harus berani sama siapapun disini. Oke?"


Aurel menepuk bahu Skala cukup kencang, "Aku gak mau masuk masalah kamu!"


Skala meringis, "Sakit, Rel."


"Kata Kakak, kamu orang baik, Rel." Leya tiba-tiba bicara seperti itu.

__ADS_1


"Kakak kamu bilang gitu?" Aurel tidak menyangka.


BERSAMBUNG...


__ADS_2