
Aurel dan Skala duduk berdampingan di depan Akhza untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya Aurel adalah tipe perempuan yang pasrah, tapi Skala memaksa untuk bicara dengan Akhza mengatasnamakan cinta.
"Bicara sekarang, Skala." Akhza sejak tadi menunggu sepatah dua kata yang keluar dari mulut anaknya.
"Aku serius sama Aurel," singkat Skala.
"Aurel kan baru lulus. Mau kamu nikahin?" tanya Akhza menyunggingkan senyuman.
Aurel menggeleng cepat.
"Nunggu Aurel semester 3," kata Skala.
Aurel menepuk paha pria itu dengan tampang bingung. "Kok kamu mutusin sendiri? Aku kan gak bilang gitu," bisiknya kesal.
Skala menyuruh Aurel untuk diam saja.
Akhza tertawa renyah, "Nunggu Aurel lulus, kamu udah tua, Skala."
Skala tidak terima, "Yah, aku kan baru 24 tahun. Masih muda."
"Memangnya Aurel ada basic bisnis?" tanya Akhza. "Ayah cari menantu yang ada basic bisnis karena nanti Bina Atlas jadi milik Skala dan istrinya."
Aurel justru fokus pada Ranu dan Mega yang membawa gelas platik berisi sabun untuk membuat balon, namun airnya malah tercecer di lantai.
Bisa bahaya kalo ada yang lewat, Batin Aurel.
"Aku butuh pendamping bukan cuma modal cantik sama apa basic-nya. Aku mau anak-anak aku nanti betul-betul diurus, gak ditelantarin karena orangtuanya sibuk di kantor." Skala menyindir Andre dan Sofi yang kebetulan sedang bekerja di kantor.
Aurel izin pada Skala. "Maaf, saya permisi sebentar."
Skala dan Akhza memperhatikan kemana Aurel pergi. Dan ternyata yang Aurel hampiri adalah Ranu dan Mega.
"Ranu, Mega, kalian main sabun di belakang ya. Kalo nanti airnya jatuh ke lantai, jadi licin. Nanti ada yang kepeleset gimana?" Aurel memasang wajah sedih.
Mega dan Ranu saling pandang lalu melihat ke lantai. Benar adanya air sabun jatuh kesana. Mega pun menjawab, "Oke, Kakak. Ayo, Ranu, kita main di belakang."
"Ayo, ayo!" pekik Ranu semangat.
Skala memuji Aurel didepan Akhza, "Tuh, Ayah, liat kan gimana Aurel bicara sama anak-anak?"
Akhza hanya memandangnya sebentar. "Tetap aja, Skala. Ayah mau kamu sama Rumi yang jelas dari keluarganya udah Ayah kenal."
"Lho? Ayah lupa? Bara yang ngerawat Ranu udah jadi Kakaknya Aurel. Dia keluarga Dokter terkenal di Jakarta. Dokter Alatas kan awalnya Dokter pribadi kita. Cuma ya sekarang udah nggak."
"Bukannya Ayah lupa. Tapi emang seingat Ayah, kita gak punya Dokter pribadi. Kamu sendiri yang meng-klaim dia dokter buat nyembuhin Aurel." Akhza benar-benar tidak tahu anaknya sangat ingin bersama Aurel sampai segitunya.
Aurel yang mendengar nama Rumi langsung kembali duduk disamping Skala. "Ikuti kata Ayah kamu, Skala. Ayah kamu mau yang terbaik." Dia memegang sebelah pundak pria itu untuk memberi semangat.
Skala menyingkirkan tangan Aurel dengan pelan. "Gak ada yang nyuruh kamu ngomong, Rel."
"Skala, ART kamu mana? Itu lantainya kena sabun jadi licin," bisik Aurel yang langsung membuat Skala menoleh ke lantai dekat tangga.
"Nanti paling dibersihin," santai Skala.
"Bahaya tau," imbuh Aurel namun diabaikan Skala yang justru memilih debat dengan Akhza.
__ADS_1
"Permisi. Siang, Om." Tiba-tiba Rumi datang dengan langkah elegan dari balik pintu.
Skala yang melihat sedikit lagi Rumi melewati lantai licin akibat air sabun langsung beranjak untuk mencegah Rumi.
SRETTT'
"Rumi berhenti!" teriak Aurel membuat Rumi berhenti seketika.
Namun yang terjadi justru Skala yang terpeleset sampai bunyi benturan dari kepalanya yang jatuh duluan ke lantai.
"SKALA!" Aurel langsung berlari menghampiri Skala yang tidak sadarkan diri.
Akhza yang syok langsung menghubungi IGD di Rumah Sakit terdekat.
Rumi ikut bersimpuh di lantai sambil mengguncang tubuh Skala. "Skala. Skala, bangun." Dia memegang kepalanya karena takut terjadi sesuatu pada Skala.
Aurel terkejut saat Skala kejang-kejang di tempat. "AYAH! SKALA KEJANG-KEJANG..!" Spontan saja ia memanggil Akhza dengan sebutan Ayah.
●●
Suara gigi gemelatuk dan kedua tangan bergetar tak bisa Aurel tahan karena khawatir Skala yang masih ditangani Dokter. Ia terus merapalkan doa supaya Skala baik-baik saja.
"Aurel, jangan terlalu berlebihan. Kamu harus yakin Skala baik-baik aja."
Ia mengabaikan ucapan Rumi. Gadis itu masih saja angkuh tanpa rasa salah di hatinya. Skala disini karena siapa?
Akhza keluar bersama Dokter yang menangani Skala.
"Saya ingin yang terbaik untuk anak saya."
"Kami usahakan."
Aurel menghela nafas lelah. Ia jadi merasa bersalah karena sejak kemarin ada masalah yang membuat perbincangan jadi panas. Ponselnya berdering dari orang yang sama lagi, Aurel segera menjauh untuk mengangkat telepon.
"Kenapa, Jul?"
"Rel, lo dimana? Bara kecelakaan, udah tau belum?!"
Tangis Aurel makin pedih. Dia duduk di kursi karena kakinya lemas seolah tak bertulang. "Gimana keadaannya Bara?"
"Dia masih kritis. Lo dimana? Gue cek HP-nya kok dia nelpon lo banyak banget. Tapi gak ada yang diangkat."
Bodoh, bodoh, bodoh!
"Bara di Rumah Sakit mana, Jul?"
"Duh, gue lupa lagi namanya apa. Permata Indah, kayaknya. Lho— Rel? Lo di depan gue ya?"
Aurel langsung membalikkan badan melihat Juli dari Lobi utama dengan balutan di kepala dan berjalan pincang. Melihat Aurel di Rumah Sakit, jelas Juli berpikir aneh. Dia segera menghampiri sahabatnya yang terpaku menatapnya dengan kristal mengambang di kelopak matanya.
"Lo kenapa liat gue begitu? Tambah ganteng ya kalo dipakein ginian?" Juli menunjuk perban di dahinya.
Sekali lagi Aurel hanya membisu.
Maka Juli duduk dan memeluk Aurel. "Gue baik-baik aja. Dan semoga Bara cepet pulih."
__ADS_1
Aurel tersedu-sedu mendengar kata 'baik-baik saja' sedangkan aslinya Juli terlihat menderita didepannya.
"Kalian kenapa?" tanya Aurel enggan melepaskan diri dari pelukan Juli. Ia butuh sandaran yang tepat untuk menyemangatinya.
Juli menarik nafas, "Bara nyari lo. Dia curiga lo ke Bandung. Rel, lo kenapa gak bilang aja? Bara itu Kakak lo. Dia khawatir lo ditolak keluarganya Skala."
Jelas Aurel merasa bersalah untuk Bara, Juli, dan Skala. Dialah penyebab semuanya celaka. "Bara baik-baik aja kan?" tanyanya sembari terisak.
Juli mengangguk diatas pundak Aurel. "Lo sendiri kenapa disini?"
"S—Skala kejang pas jatuh di rumahnya. Dia belum sadar juga."
Juli rasa kepalanya terbelah detik ini juga. "Gue pusing banget, gila." Lalu dia menatap Aurel, "Lo mending nunggu Bara, gue yang nunggu Skala. Gimana?"
Aurel setuju.
Mereka pun masuk ke ruangan yang berbeda. Aurel, gadis yang awalnya rapuh kini tambah hancur melihat dua pria yang selalu berlomba melindunginya terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Bahkan ia sendiri tidak mampu menjaga keduanya.
"Bara. Kamu bilang, Senja gak boleh terluka. Tapi kamu sendiri yang buat Senja jadi terluka."
Aurel mengenggam tangan Bara yang hangat, "Bangun, Kak... Aku mau minta maaf."
Tidak lama kemudian Aurel merasa jemari Bara merespon dengan gerakan ringan. "Alhamdulillah." Dan juga membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk.
Bara menghela nafas, "Abis kecelakaan jadi halusinasi gini."
Aurel bingung, "Kamu halusinasi apa, Bar?" Ditambah Bara yang tiba-tiba terkejut.
"Kamu, Aurel, beneran?" Bara melepas tangannya.
"Kamu kira aku pacar kamu?"
"Kenapa nangis? Aku gak mati kan?"
Aurel menunduk lantas menggeleng.
"Jangan nunduk gitu, nanti mahkotanya jatuh." Bara menegurnya pelan. "Juli mana?"
"Juli jaga Skala, gantian sama aku."
"Kenapa dia?"
Aurel pun menceritakan dari awal dengan rinci. Lalu Bara bilang, "Bukan salah kamu. Tapi emang orang berhati embun itu gak tegaan."
"Hm. Kakak gapapa kan?"
Bara mengangguk, "Paling besok pulang."
Aurel melihat pelipis sampai rahang bawah Bara dibalut kasa. "Maaf, Bar.."
"Ck. Dokter itu pulihnya cepet. Kamu tenang aja. Ini cuma sobek kena stir mobil. Yang harus kamu khawatirin itu Skala. Dia kejang berarti agak serius, banyak kasus orang yang kepeleset bisa lumpuh atau stroke."
Aurel tidak ingin salah satu terjadi pada Skala. Dia ingin Skala sembuh.
Bersambung...
__ADS_1
IH GUE MAH GAK NGERTI KENAPA BISA KECELAKAAN BARENG. BARA KECELAKAAN LALU LINTAS TUNGGAL. SKALA KECELAKAAN DI RUMAHNYA SENDIRI.
Skala aku buat amnesia bagus kali ya? wkwk