
Aurel masih melihat Alatas seperti tidak percaya.
“Ini bener Dokter Alatas yang terkenal ganteng itu kan?”
Alatas tertawa pelan, “Iya ini saya, dokter kamu.”
Bara menghidangkan air putih dan roti bakar selai kacang kesukaan Alatas. Ia duduk disamping Ayahnya.
Aurel berdesis tidak percaya, “Masa sih? Kok bisa disini?”
“Ini rumah anak saya, makanya saya disini.”
Iya juga ya. Tadi kan sudah dijelaskan.
“Ayah! Aku pulanggg!” teriak Ranu sambil masuk rumah. Alatas menoleh terkejut sedangkan Bara menepuk jidatnya sambil buang muka. Alamat ini mah.
“Ayah siapa?” tanya Alatas bingung.
“Anak Bara,” jawab Aurel santai.
“Kamu kapan nikah?! Kok udah punya anak?!” Alatas berdiri dan berkacak pinggang.
Bara menyuruh Alatas duduk, “Bukan gitu, Yah. Gini, gini.”
Ranu menghampiri Aurel, “Kakak… itu siapa?” tanyanya sambil menunjuk Alatas.
“Itu...—” gantung Bara.
“Kakek kamu, Kakek Alatas.. Ganteng kan?” Aurel menggoda Alatas yang wajahnya merah karena malu dipanggil “kakek”. Padahal umurnya baru kepala tiga.
Bara nyengir ke Ayahnya, “Iya, kakek.”
“Ranu main lagi ya?” ujar Aurel.
Ranu mengangguk, “Oke.”
Setelah Ranu keluar bermain. Alatas serius bertanya, “Kamu gak kebablasan kan, Bar?”
“Hisss.. ya gak lah,” jawab Bara. “Aku ngadopsi dia. Ranu itu korban kecelakaan, tapi orangtuanya dihubungi gak bisa. Sambil nunggu itu, aku rawat dia.”
“Kecelakaan gimana?”
“Dia kecelakaan lalu lintas. Rem bus sekolahnya blong, terus terbalik setelah nabrak trotoar.”
“Mungkin orangtuanya kira Ranu itu meninggal. Padahal selamat.” Aurel menebak-nebak.
“Nggak mungkin. Harusnya pihak rumah sakit juga kasih kabar kalau ada orangtuanya Ranu cari dia. Tapi gak ada tuh, bahkan pihak sekolah ke rumah keluarganya tapi kosong,” ujar Bara merasa ada yang janggal.
Aurel menyipit tidak paham. Apakah berarti keluarga Ranu sengaja meninggalkan dia di rumah sakit, tapi kenapa? Why?
“Oi! Ngelamun…” tegur Bara geleng-geleng kepala. Aurel menatapnya datar karena dikagetkan.
“Nama orangtuanya siapa?” tanya Alatas.
Bara menghendikkan bahu.
Tring’
__ADS_1
Dari : Skala Uyee
[Dtg ke kantor skrg. Tmn” kamu pd kesini]
Aurel membelalak, “Dok, yang lain ada disini juga?”
Alatas lupa. “Iya, mereka langsung ke kantor Skala abis dari sini.”
“Waduh. Yaudah deh, aku kesana aja ya. Permisi.”
“Mau dianter Bara gak?” tawar Alatas.
Bara mendelik, “Lagi irit bensin.”
“Aku sendiri aja.” Sebelum Aurel melangkah keluar dari pintu, ia sempat berbalik, “rumah segede gini masih mikirin uang bensin, memalukan!” desisnya sambil berpaling.
Alatas menertawakan anaknya yang cengo, “Bener tuh, bensin paling 200 ribu.. rumah kamu nyampe 350 juta.”
“Ya sama aja harus perhitungan.”
“Terserah kamu aja.”
***
Skala menerobos semua orang yang ada di kantornya karena mendapat telepon dari Bara. Tujuannya sekarang adalah rumah Dokter Kutub itu untuk melihat apa yang dikatakannya.
“Halo, selam— Pak! PAK!”
Juli dan kawan-kawan yang baru datang di Bina Atlas terheran-heran karena Skala berlari terbirit-birit ke mobil.
“Itu, Pak Skala kenapa dah?” tanya Ghaisan.
*
Bara membersikan luka di lutut dan siku Aurel akibat hampir dijambret saat menunggu taksi. Untung tasnya tidak jadi diambil karena Aurel melawan mereka sekuat tenaga dan teriak minta tolong. Alhasil, dari teriakannya ia didorong sampai jatuh ke aspal. Mana hari ini dia pakai rok selutut dan baju lengan pendek warna pastel. Apes.
Akhirnya dia menelepon Bara sambil nangis karena tidak tahu harus minta tolong siapa karena jalan lengang. Jadi dia teriak, cuma buat nakut-nakutin jambret.
“Jangan ngintip,” ujar Aurel padahal pahanya sudah ditutupi bantal sofa.
“Gak minat,” singkat Bara acuh. Dia sibuk membersihkan luka dengan alkohol ringan lalu obat merah, baru diberi plester.
“Harus banget ya diplester?”
“Luka kecil begini, kalau gak ditelateni, bakal memburuk. Debu bisa masuk.”
“Iya.. Bara bener,” timpal Alatas.
Bara yang tadinya duduk di bawah langsung berdiri, “Lain kali hati-hati.”
Alatas tertawa kecil, “Mana bisa Aurel hati-hati.” Dia beranjak, “saya mau masuk dulu.”
Bara duduk di sofa dan menatap Aurel yang melamun.
“Ngelamun lagi…” gumam Bara jengah.
Aurel mengangguk tanpa menoleh, “Aku mau ke Jakarta aja. Gak suka disini.”
__ADS_1
“Kamu minta sama mereka lah.”
“Aku mau ikut Dokter Alatas aja.”
“Ayah gak bakal mau ngangkut penumpang nyusahin kayak kamu,” ujar Bara kebablasan. Dia mengatupkan bibirnya merasa ucapannya salah. Apalagi melihat Aurel hanya tersenyum getir.
“Iya… kamu bener kok.”
Tuh kan. Makin merasa bersalah dia.
“Sorry, maksudnya gak gitu.”
“Aurel!”
Bara dan yang dipanggil menoleh ke pintu dimana ada Skala datang dengan wajah basah keringat. Aurel tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Skala. Kamu kenapa?”
“Dokter Alatas bilang kamu hampir dijambret, terus gimana? Kamu gapapa kan?” Skala meremas bahu Aurel cukup kencang saking gemetarnya.
“Aku cuma lecet-lecet kok. Gapapa tadi udah diobatin Bara.”
Mendengar diobati Bara lagi, Skala langsung acuh. “Makanya liat-liat kalo jalan! Untung gak kenapa-kenapa.”
“Ya maaf, namanya juga musibah.”
“Kamunya aja yang gak hati-hati. Kamu tuh gak ada habisnya bikin orang jantungan. Kemarin tenggelam, sekarang dijambret. Nyu—”
“Iya aku nyusahin,” sambung Aurel tahu diri. Ia tersenyum menanggapi mereka. “kalian bisa kok jauhin aku, pasti takut kena sial kan?” Ia merasa kehilangan sosok Skala disini.
Entah kenapa Bara ingin mencegah Aurel untuk tidak pergi, tapi bagaimana cara menyampaikannya?
Gemas karena Aurel selalu rendah hati walaupun ucapan Skala termasuk kurangajar. Ia meremas lengan Aurel sampai gadis itu meringis.
“Skala. Ini sakit.” Dia sudah bicara sekarang kalau lengannya sakit.
Bara menyingkirkan tangan Skala dengan kasar, “Kamu gak denger dia bilang sakit?” Matanya tajam karena tidak suka Aurel diperlakukan kasar.
Skala menggeser Bara, namun Bara bergeming di tempat.
“Ini urusan saya.”
“Tapi ini rumah saya,” bela Bara.
“Udah!” sergah Aurel jengah.
“Kita omongin di rumah,” Skala menarik tangan kanan Aurel. Bara tidak tinggal diam, ia juga menahan tangan kiri Aurel.
Aurel menatap keduanya seperti sedang perang tatapan sengit, juga menahan tangannya.
“Lepasin tangan dia,” ujar Skala.
Aurel melepaskan tangannya dari Bara, “Biarin aja, Bar.”
Bara menghela nafas, “Kamu mau ikut dia?”
“Dia udah nolong aku. Dulu.”
__ADS_1
Dibalik marahnya Skala, dia tertegun atas ucapan Aurel yang seperti menghargai jasanya. Ia harusnya malu berhadapan dengan remaja yang pikirannya sudah dewasa daripada dirinya yang sedikit-sedikit cemburu.
***