
3 Hari setelah kebohongan Skala diungkap Bara, Aurel sering makan telat dan begadang tanpa sebab. Di otaknya banyak pertanyaan, kenapa Skala sampai berbohong? Apa dia pikir, dirinya tidak khawatir?
Sudah 2 hari Aurel demam. Alatas terus memeriksa kondisi Aurel. "Kamu dehidrasi, Rel. Ayah ambilin minum ya."
"Nanti kalo Aurel haus, bisa ambil sendiri kok."
Alatas duduk disamping anaknya. "Ayah tau, kamu pasti mikir apa alasan Skala bohong. Ya kan?"
Aurel hanya menoleh dan Alatas menganggap jawabannya adalah "Ya".
"Tanya dong ke dia. Jangan jauh-jauhan terus," guyon Alatas.
"Gak perlu. Orang kayak dia harus tau akibatnya berani bohongin Aurel. Dia pikir, perasaan bisa dimainin?" sambar Bara sambil lewat di depan kamar Aurel.
Alatas geleng-geleng kepala, "Jangan gitu dong, Kak."
Aurel memeluk pinggang Alatas, "Aurel kangen Bapak." Sudah lama sekali ia tidak jenguk Damar. Hukumannya juga masih lama, biasanya dia akan memberi solusi terbaik tanpa diduga.
"Jangan dengerin Bara. Dia sensitif masalah kejujuran karena punya cerita sendiri sama Ibunya. Jadi, lakukan apa yang kamu lakukan. Yang mau kamu tanya ke Skala, tanya aja."
"Sama Ayah?" tanya Aurel.
"Kalau udah dewasa, kamu bisa sendiri." Alatas mengusap kepala anaknya. "Kamu tau gak sisi positif yang ada di diri kamu yang gak ada di orang lain?"
"Apa?"
"Kamu selalu rendah hati. Bahkan ke orang yang selalu nyakitin kamu. Gak semua orang mampu."
"Aku gak pernah merasa disakiti."
"Itu contohnya."
Aurel tidak pernah merasa marah kalau orang menyakitinya. Paling ia bingung dengan alasan kenapa mereka menyakitinya. Dengan mengetahui alasannya, cukup bagi Aurel untuk berbuat baik padanya.
"Bara pasti bahagia punya Ayah kayak Dokter. Bijak, panutan, pekerja keras."
Alatas tersenyum namun air matanya menggenang, "Kalau Bara bahagia gak mungkin dia sampai coba bunuh diri."
"Semua udah terlewati, Ayah..." tegur Aurel.
"Penyesalan orangtua akan terlihat, kalau suatu saat anaknya berubah karena gak bisa cerita masalahnya." Alatas belajar dari masa lalunya. "Bara seperti itu karena dia gak bisa mengekspresikan emosinya. Dia tertekan dan bingung mau cerita ke siapa. Sedangkan Ayah dulu sibuk di Rumah Sakit, gak ada waktu buat dia."
"Ayah betul. Aku juga dulu gak tau mau cerita ke siapa karena gak ada yang aku percaya. Tapi sekarang aku bahagia punya Ayah, Bara, sama sahabat yang banyak."
"Mulai sekarang, yang mau kamu bilang, bilang aja sekarang. Kalau kamu butuh sesuatu, Ayah usahain buat kamu."
"Aku mau gak ada yang terluka lagi."
"Siapa?"
"Semua, termasuk aku."
Alatas yang sekarang sedang duduk di kursi terus memikirkan kalimat Aurel yang sangat masuk ke relung hatinya. Entah bagaimana awalnya, Aurel tidak pernah membahagiakan dirinya sendiri karena ia punya prinsip ; Mereka bahagia, aku juga bahagia.
"Orangtua Bintang gak ada yang mau ngerawat dia. Dia kerja tiap hari. Dia sering ngeluk capek ke aku, Yah. Tapi dia masih bisa senyum."
"Nabila gak direstui orangtuanya, tapi dia masih bisa teriak seolah dia manusia paling bahagia."
"Kembar juga tinggal sama pembantunya dari kecil. Makanya Ghaisan gak bisa jauh-jauh dari Fina, dia takut Kakaknya kenapa-kenapa."
"Juli sama Shiren bukan saudara kandung. Mereka bisa akur, karena sayang orangtua mereka."
__ADS_1
"Dulu aku cuma punya Ibu sama Ska— Tapi semua udah terlewati. Apapun pemberian Tuhan, aku bakal syukuri. Ayah bahagia gak, ada aku?"
Hanya orang bodoh yang tidak bahagia kenal perempuan sebaik anaknya -Aurel. Walaupun kadang Aurel dan Bara bertengkar hanya karena pintu kamar tidak ditutup, tapi Alatas bangga karena mereka baikan 5 menit kemudian.
Ia mengizinkan Skala untuk bertemu Aurel, sementara itu dirinya akan mencegah Bara mencari Aurel dengan memanfaatkan keberadaan Wulan di rumahnya.
Bukan berarti Skala bisa seenak jidat lagi membohongi anaknya.
●
Aurel duduk dengan jarak setengah meter disamping Skala.
Entah bagaimana caranya Skala kembali ke Jakarta, Aurel tidak ingin tahu.
"Udah sehat?" tanya Aurel tanpa menoleh.
Skala yang menoleh, "Udah." Dia sudah duga kalau Aurel tidak mungkin marah apalagi membentaknya.
"Gak usah minta maaf," ujar Aurel setelah melihat Skala hendak buka mulut.
"Aku gak tau kalo kamu bisa cemburu, Rel."
Aurel mengingat-ingat percakapan 3 hari yang lalu.
"Pacarnya disini, dia malah pulang. Gimana sih?"
"Mungkin kamu salah cari pacar,"
Aurel menyanggah ucapan Skala, "Gak. Aku gak cemburu. Kan emang kamu sendiri yang bilang, Rumi pacar kamu."
"Bara, dokter terampil ya. Dia tau ada pasien yang pura-pura hilang ingatan. Hebat."
"Jadi aku gak perlu minta maaf kan? Baguslah."
"Hem."
"Tapi bener lho, Rel. Pas pertama sadar aku gak inget apapun. Terus habis tidur, baru aku inget."
"Terserah apa kata kamu."
Skala bergeser duduknya hingga lengan mereka menempel. Aurel protes, "Ngapain sih?"
Pria itu dengan konyolnya menyandarkan kepala di bahu Aurel, "Ayah kekeh mau jodohin aku. Kamu gak mau bantu aku?"
Aurel tidak terganggu kalau Bara seperti itu, dia memang manja. "Aku udah bilang kan, aku nyerah."
"Tapi aku nggak. Gimana dong?"
"Ya selamat berjuang sendirian," kekeh Aurel sambil membaca buku yang sejak tadi ia bawa.
"Tega," ujar Skala sembari memejamkan mata. "Kasih tau gak ya..."
"Kasih tau apa?" Aurel menutup bukunya dan duduk menyerong sampai Skala hampir jatuh karena Aurel tiba-tiba bergeser.
"Tapi kamu harus janji dulu."
"Skala, aku serius."
"Aku udah selidiki kenapa Bara kecelakaan. Ternyata..."
__ADS_1
"Apa?" Aurel sudah penasaran.
"Rumi gak sengaja lawan arah terus Bara lagi ngebut. Mereka banting stir. Rumi cuma nabrak trotoar, tapi mobil Bara jatuh dari tanjakan."
Aurel terkejut bukan main.
●●
Skala mengejar Aurel yang main masuk ke kantornya untuk mencari Rumi. Bukannya apa, tapi sekarang ada jadwal meeting di kantornya. Kalau sampai Aurel masuk, maka rapat akan bubar.
Skala sudah berusaha mencekal tangannya, namun berkali-kali ditepis secara kasar.
"Aurel, tenangin diri kamu dulu. Sebentar lagi Rumi turun, jangan kesana." Skala yang hendak ikut masuk lift, tidak jadi karena pintu lift tertutup.
Skala akhirnya menghubungi Pusat Informasi untuk menyambungkan teleponnya ke Ruang Rapat.
"Rumi, bilang ke dewan, hari ini cukup segitu aja meeting-nya. Kamu harus tanggung jawab, Rum."
Setelah itu baru ia masuk lift lain karena tidak sabar.
Aurel lihat banyak orang yang keluar dari Ruang Rapat. Ia yakin, Skala sudah merencanakan agar rapat dipercepat. Kebetulan Rumi juga keluar, Aurel langsung menghampiri dan menarik tangannya cukup kasar.
"Kamu ngapain disini? Eh, jangan aneh-aneh deh. Sakit tau!"
Aurel balik badan, "Sakit kamu bilang?"
"Iyalah! Ini namanya penganiayaan!"
Aurel melepas cekalannya, "Perbuatan kamu ke Bara, itu lebih menyakitkan, Rumi." Dia bisa menahan amarah pada orang lain, tapi mungkin tidak berlaku untuk Rumi. "Kamu celakain Bara. Terus juga celakain Skala!"
PLAK'
Rumi menampar pipi Aurel secara spontan. "Skala celaka karena ngelindungi Aku. Jadi bukan salah aku."
Aurel tersenyum, "Aku bukan marah karena ini, Rumi. Tapi aku marah, karena kamu gak tanggung jawab sama Bara! Kamu udah celakain Dia!"
"Tau dari mana? Ada buktinya gak?"
"Kamu yang bilang ke Skala," balas Aurel. "Kalo kamu gak mau untuk sekedar minta maaf, kamu bukan manusia dimata aku, Rum."
Rumi hanya berdecih sombong.
Aurel makin ingin sekali membuktikan kalau orang berada macam Rumi tidak pantas melakukan hal ini pada Bara. Dia hampir membunuh Bara walaupun tidak sengaja. Setidaknya ia mengakui dan meminta maaf pada Sang Kakak. Namun dia terlalu sombong. "Gak semua orang tunduk di depan kamu. Sekalipun 100 orang tunduk sama kamu. Aku jadi orang pertama yang berdiri tegak ngelawan kamu."
Rumi menatap Aurel, "Skala taunya kamu itu perempuan lemah lembut. Dugaanku benar, kamu cuma baik dari luar."
"Kamu masih ada 24 jam buat minta maaf. Sebelum aku lapor ke Kantor Polisi." Begitu ia balik badan hendak pergi, Skala ada tepat di depannya. "Ngapain kamu?"
"Atas nama Rumi, Aku minta maaf."
Aurel mengerjap membuat air matanya jatuh bersamaan. Skala menghela nafas kasar, "Jangan nangis. Aku gak tega."
"Seberapa pentingnya Rumi buat kamu?" tanya Aurel.
"Dia penting, setelah kamu."
Rumi berpindah ke samping Skala. Aurel merebut ponsel yang Rumi pegang lalu membantingnya. "Terus HP ini penting gak buat kamu?"
"AUREL, APAAN SIH?!" gertak Rumi tidak percaya apa yang Aurel lakukan, dia menginjak ponselnya yang keluaran terbaru dari Jepang.
Aurel masih menginjak ponsel Rumi sampai layarnya pecah, "Kamu marah karena HP yang mungkin bisa kamu beli lagi, aku injak, atau bahkan kamu bisa beli pabriknya." Ia menatap Skala yang mungkin terkejut dengan sikapnya. "Bara yang sangat penting buat aku, kamu buat celaka. Menurut kamu siapa yang harus aku injak selain HP yang jumlahnya ada ribuan di dunia?" Aurel mengambil ponsel Rumi lalu memberikannya, "Tapi aku gak akan balas dengan cara sama."
__ADS_1
Skala jarang melihat Aurel dengan kilatan penuh amarah seperti sekarang selain padanya.
Bersambung...