SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
"Setuju."


__ADS_3

Esoknya sebelum berangkat sekolah, Aurel menemui Alya yang sedang melipat baju di kamar. Ia hendak memberikan jawaban yang mungkin dibutuhkan Alya.


"Bu," panggil Aurel lalu mengucapkan salam sebelum masuk kamar Alya.


Alya menoleh. "Mau berangkat ya? Sama siapa nih? Skala atau bareng Nabila sama Bintang?" ledeknya.


"Aku berangkat sendiri," jawab Aurel sambil menghampiri Ibunya. "Bu. Aurel berubah pikiran. Aurel setuju Ibu nikah sama Dokter Alatas."


Alya menarik nafas terkejut. "Kamu serius, Nduk?"


Aurel memeluk Alya dengan erat, "Maaf udah bikin Ibu sedih."


Alya menggeleng sambil mengusap punggung anaknya, "Ndak... Kamu itu cahaya buat Ibu. Gak pernah buat Ibu sedih.. justru Ibu yang sering buat kamu sedih."


"Jangan bilang gitu, Bu." Aurel melepaskan pelukannya. "Bapak udah berubah, Bu. Bapak peluk Aurel kemarin.." Bahkan Aurel tidak bisa melepas ingatan saat Damar sudi memeluknya. Dia menangis lagi.


Alya terharu serta menangis bahagia. "Alhamdulillah. Nanti Ibu kesana ya sama kamu?"


Aurel mengangguk. "Iya. Bapak juga setuju kalo Ibu nikah."


Alya menangkup kedua pipi anaknya, "Iya, Nduk. Alhamdulillah."


"Yaudah, Bu. Aurel berangkat dulu." Aurel menyalami Alya lalu berangkat ke sekolah. Di tengah perjalanan, ia tidak sengaja bertemu Bara yang berdiri di Halte.


Mau kemana dia pagi-pagi begini? Begitulah pertanyaan dibenak Aurel. Secara Bara itu Dokter, harusnya dia siap-siap ke rumah sakit tempat dirinya dinas, atau paling tidak stay di klinik demi pasien yang membludak.


"Bara. Ngapain bengong disini?" Aurel menepuk bahu pria itu.


Bara menjawab tanpa menoleh, "Nunggu aspal jadi beton."


Aurel yang menunggu bus sekolah akhirnya ikut berdiri menunggu. "Ngomong apaan sih kamu." Karena masih pagi dan jarang yang menunggu Bus, ditambah Bara diam saja daritadi. Akhirnya Aurel berdiri dihadapan Bara. "Bara. Kamu ngapain disini?"


"Galau."


Lah? Bisa galau juga ini anak.


"Galau kenapa?" tanya Aurel penasaran.


"Ranu udah menetap di Bandung. Aku makin susah ambil izin libur."


Ohh, itu rupanya. "Nanti kalau libur nasional, pasti bisa izin. Hehe."


Bara tiba-tiba limbun ke arah Aurel sampai dagunya berada di sebelah pundaknya. "Eh, eh! Kamu kenapa?!" Aurel terdiam menahan bobot Bara yang tidak enteng.


"Ngantuk," gumamnya pelan.


Aurel mendudukkan Bara. Tangan satunya memegang kepala Bara, tangan satunya menghubungi Bintang yang kemungkinan lewat jalan dekat sini.

__ADS_1


"Halo, Tang? Bisa ke jalan depan gang kan? Tolong ya kesini."


"Kenapa sih? Panik gitu."


"Bara kayaknya ngigo, tolong kesini ya."


"Ngigo gimana? Lo ngaco."


"Ya makanya kesini dulu."


"Iya sabar, Markonah. Gue lagi pake sepatu."


Aurel mematikan sambungan telepon dan menyadari bau sesuatu. "Bara. Kamu minum alkohol ya?!" tanyanya sedikit meninggikan suara. Iya, ia baru sadar kalau tercium bau alkohol dari tubuh Bara sejak tadi.


Bara tersenyum, "Bukan..."


Aurel lantas membiarkan kepala Bara terantuk tiang halte. Sang empunya meringis kesakitan, "Obat luka luar, Aurel. Nih..." Dia menunjukkan sikunya yang baret-baret.


"Gajelas ih. Kamu abis ngapain sih?!" tanyanya menyentak.


"Mau beli nasi uduk, masih ngantuk terus kesandung batu, jadi jatuh."


"Iya. Lah kamu tidur jam berapa, Bar-bar? Masa jam segini masih ngantuk," ujar Aurel keheranan.


"Ya kan waktu aku diforsir buat ngurus pasien.. waktu buat aku sendiri malah gak ada." Lagi-lagi kepala Bara hendak jatuh kalau tidak Aurel tahan dengan tangannya.


Akhirnya setelah ditunggu, Bintang dan Nabila datang dengan mobil. Namun hanya Bintang yang keluar dari mobil dan bertanya, "Kenapa sih?" Matanya mengarah ke Bara yang memejamkan mata dengan tenang.


Aurel menggeleng pelan, "Gak tau. Ngantuk katanya."


"Yaudah lo bantu gue bawa masuk dia." Mereka memapah Bara masuk ke mobil.


Nabila yang sedang menulis catatan yang tertinggal langsung kepo. "Kenapa tuh anak duda ganteng? Pingsan?"


"Ngantuk, katanya." Bintang mengimbuhkan.


"Ngantuk? Gak tidur setahun?" ledek Nabila sambil membenarkan sabuk pengamannya. "Gak tidur, jadi minum obat tidur kali.."


Bintang duduk di bangku kemudi, "Iya kayaknya."


Aurel membenarkan posisi duduknya karena sebelah pundak disandari kepala Bara.


"Tumben lo peduli, Rel. Sama Bar-bar lagi," ujar Nabila sambil makan makaroni pedas.


"Kan calon kakak, Bil." Bintang membuat Nabila terkekeh mengiyakan.


**

__ADS_1


Setelah Penambahan Materi (PM), Aurel baru bisa membuka ponsel. Ada 3 panggilan tak terjawab dan 1 pesan belum terbaca dari Alatas pada pukul 09.00—09.05. Aurel lantas membaca pesan lebih dulu.


dr. Al


Sebelumnya terima kasih udah bawa Bara sampai rumah. Kayaknya belakangan ini dia minum obat tidur. Tadi pagi emg saya suruh beli nasi uduk dekat pengkolan, tapi kok gk pulang"... Sampaikan makasih juga buat Nabila & Bintang ya, Rel. Bara gapapa... kamu tenang aja👍


Dugaannya sama dengan Nabila. Mungkin memang Bara terlalu capek dan akhirnya mengonsumsi obat tidur.


Nabila dan Fina yang baru menyusul Aurel keheranan melihat sahabat satunya sedang melamun bak patung.


"Lo kenapa, Rel?" tanya Fina lebih dulu.


"Ngelamunin siapa sih? Skala atau Bara?" tambah Nabila.


Aurel mengerjap, "Aku pulang duluan ya. Ada janji sama Ibu."


Mereka mengangguk.


"Tiati lo," ujar Nabila agak keras karena Aurel sudah jauh.


Bintang nyempil diantara mereka. "Liatin apaan lo berdua?"


"Kepo!" sahut Fina sambil membalikkan badan karena merasa Ghaisan sudah keluar kelas. Dan benar saja. Ghaisan baru keluar karena di kelas mereka yang dibolehkan pulang adalah yang menjawab pertanyaan seputar IPA.


Bintang mendelik, "Sans ae mbak bree."


"Pulang, Tang?" tanya Nabila.


"Nginep!" cetusnya ngasal. Nabila menye-menye membuat Bintang kurang suka. "Gue doain mulut lo begitu terus kagak balik lagi."


Nabila langsung takut, "Iya nggak. Doa lo gitu amat. Yaudah ayo pulang."


"Fin, kita pulang duluan," ujar Bintang mewakili.


"Iya gapapa. Si Ghaisan jalan kayak penganten pake kebaya, lama amat."


Nabila tertawa, "Itu rame.. bukan jalannya lama."


"Badan kayak anggota NCT harusnya bisa nyelip dong!" omel Fina.


"Kita balik ya!" sahut Nabila sembari berjalan menjauh.


**


**Bara saking capeknya butuh obat tidur. Nanti butuh penenang. Siapa yang mau jadi penenang Bara??!😂😂 aku daftar dongss.


PLIS BUAT YANG BACA JANGAN PELIT VOTE, COMMENT, DAN TIP-NYA YA! HARGAI PENULIS YANG CAPEK-CAPEK NGETIK! NTAR LAMA-LAMA GUE BIKIN GENRE INI HOROR KAYAK CERITA SEBELAH! NAH MAMAM LO. MAU JADI APA NTAR SKALA SAMA AUREL KALO GENRE CERITA BERUBAH**?

__ADS_1


__ADS_2