SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Ada tokoh baru


__ADS_3

“Dia narik kamu?”


“Ndak, dia meluk pinggang aku. Hebat ya, kuat.”


Sebenarnya Skala menggerutu dalam hati karena dokter yang menyelamatkan Aurel secara gamblang memeluk pinggangnya. Tapi sudahlah. Kalau tidak ada dia, Aurel bisa jatuh dan keadaan makin buruk.


“Bukan kuat, tapi-”


“Akunya yang enteng…” sambung Aurel dengan datar.


“Nah tuh tau.” Skala tertawa keras lagi sampai orang-orang yang satu bangsal dengannya menoleh.


Aurel menutup mulut Skala, “Jangan ketawa kenceng juga, yang lain keganggu tau.” Memang dasar tidak lihat tempat.


Skala mengulurkan tangan, “Ayo, kamu kan udah gapapa.”


“Emang boleh?”


“Boleh.”


Cklek’


dr. Bara masuk dan mendekati brankar Aurel. “Maaf sebelumnya. Saya dengan pasien harus melakukan anamnesis untuk diagnosa lebih jauh tentang… traumanya.”


Aurel menoleh ke Skala yang diam saja. “Separah itu?” tanyanya spontan.


dr. Bara mengangguk, “Kalau aja tadi kamu gak pingsan. Saya gak bakal bilang mentalmu lemah.”


“Saya keluar dulu sementara kamu diwawancara,” ujar Skala hendak berdiri.


Aurel menahan tangannya, “Gak mau. Aku gapapa. Aku mau ikut Skala.” Dia masih normal untuk bicara dengan dokter muda berwajah dingin dan mata tajam bak burung elang yang siap menerkam mangsanya.


“Gak mau, gapapa,” ujar Bara seraya tersenyum. Lagipula ia kan Koas yang magang di rumah sakit ini, jadi kalau pasien tidak mau, ya sudah. Sebenarnya dari pihak rumah sakit sendiri tidak ada ajuan untuk anamnesis, Bara hanya ingin tahu kenapa dia begitu takut jatuh ke air. Pingsan pula. Dokter senior yang memeriksanya hanya tahu kalau dia anemia dan dehidrasi, jadi pingsan. “Anda kan tadi bertemu pasien di ICU,” ujarnya bingung karena tiba-tiba Skala disini dengan perempuan berbeda.


Skala segera menarik tangan Aurel agar turun dan keluar dari bangsal sebelum dicecar pertanyaan tidak bermutu dari dokter yang kepo akut. Bara menunduk dan terkekeh geli. Dia tertarik dengan gadis lugu seperti itu, tapi sayangnya, dia harus melewati Skala.


***


Skala membawa Aurel masuk ke ICU untuk bertemu Sadira dan keluarganya. Aurel tidak bisa menahan langkahnya untuk tidak mengikuti Skala karena pria itu berjalan sangat cepat. Kesal juga, sudah tahu langkahnya kecil.


Skala membuka pintu dan semua yang di dalam menoleh ke arahnya dan Aurel dengan bingung. Termasuk Sadira yang berbaring dan menatap tepat tangan mereka bertaut.


“Maaf, bisa tinggalkan kami bertiga?” ujar Skala dengan bahasa formal.


Mereka langsung keluar sampai Sadira saja dengan tatapan bingung.


Skala masih menarik Aurel untuk duduk disebelahnya.


“Skala, dia siapa?” tanya Sadira.


“Temenku. Namanya Aurel.”


Sadira terlihat lega, ia tidak mau juga kalau Skala bawa pacarnya setelah ia koma.


Aurel tersenyum kikuk tidak tahu harus bicara apa.


“Berarti, setelah aku sembuh. Kita bisa tunangan kan? Kata Papa kamu gitu,” ujar Sadira dengan nada sayu.


Pupil mata Skala membesar sebab terkejut, “Papa bilang gitu?”

__ADS_1


Sadira tersenyum. “Barusan.”


Aurel berusaha sekuat tenaga untuk melepas tangan Skala yang masih menggenggam tangannya dibawah tanpa sepenglihatan Sadira. Ada apa dengan pria ini? Aneh sekali. Minta dibogem.


Skala jelas menolak halus, “Maaf. Aku gak bisa.”


Aurel menengok cepat ke Skala dan menyenggol lengan pria itu bermaksud menegur ucapannya.


“Kenapa?”


Tiba-tiba Aurel tertawa pelan, “Skala cuma prank kamu kok.”


Skala berdiri, “Aku mau keluar dulu sama Aurel, nanti kesini lagi.” Muak sudah dengan kebaikan Aurel sampai melukai perasannya yang benar tulus untuknya.


Mereka keluar dan bicara di depan ICU.


“Maksud kamu apa, Rel? Aku gak mau tunangan sama dia makanya aku jujur sekarang daripada dia terluka nanti,” ujar Skala.


“Skala. Dia belum stabil dan bisa sewaktu-waktu keadaannya drop. Kamu tega? Kamu cuma harus setuju, Sadira bisa membaik.”


Benar-benar tidak tahu lagi Skala dengan cara berpikir Aurel yang aneh. "Terus kalo nanti dia tau aku gak bener-bener sayang sama dia, sama aja nanti dia terluka. Bedanya, kamu nunda waktu," tekan Skala.


Aurel menghela nafas, "Sayang itu bisa hadir seiring berjalannya waktu, Skala. Kamu gak kasian sama Sadira? Dia butuh kamu."


“Rel, jangan mikirin orang lain sebelum kamu mikirin diri kamu sendiri. Aku sayang sama kamu. Walaupun aku bisa aja kawin lari sama kamu sekarang, aku tunda supaya Sadira gak tambah bingung.” Sudah, omongan Skala cukup nyeleneh.


“Gimana sama keluarga kamu yang ngotot tentang kalian? Kamu tega nyakitin mereka semua?”


“Iya aku tega. Lebih baik aku jujur sekarang daripada aku sendiri yang sakit nahan ini semua, Rel,” jawabnya pasti. “kalo Sadira tau akhirnya. Kamu lebih banyak nyakitin orang-orang ketimbang aku.”


“Kamu bilang, kamu sayang aku. Kalo gitu lakuin apa yang aku minta.”


Entahlah. Aurel tidak mau tahu urusan mereka. Apapun yang Skala lakukan, biar dia urus sendiri. Kini ia berpikir apa yang harus ia lakukan untuk mencegah Skala.


Tengah menunduk berpikir, ada orang berhenti dihadapannya sambil membawa plastik putih. Aurel mendongak dan ternyata si Dokter dingin itu yang berdiri. Tidak disuruh duduk pun dia duduk disampingnya dengan jarak satu kursi. Aurel tetap tidak menoleh karena malas.


Bara menyodorkan kotak susu youghurt karena ia menyetok satu dus tiap minggu. Sekali-kali berbagi.


“Diminum, biar pikiran adem.”


Iya benar. Pikiran Aurel sudah mengepul sekarang.


“Makasih.” Aurel menyedot susu youghurt perlahan.


“Kenapa nolak dianamnesis?”


“Gak perlu.”


“Sebenarnya itu inisiatif saya sendiri buat anamnesis kamu.” Aurel jelas biasa saja mendengarnya. “Trauma berenang dalam air… pernah tenggelam?” tanya Bara.


“Pernah,” singkatnya.


“Atau bunuh diri?” desisnya menebak.


Kali ini Aurel geser mendekat dan berbisik. “Kamu kok tau?”


“Beneran bunuh diri?” Bara menutup mulut tidak percaya.


“Dulu pernah, 6 bulan koma terus amnesia kurang lebih 1 bulan,” ujar Aurel menyeruput susu kotaknya lagi.

__ADS_1


Bara menarik jas dokternya sampai siku lalu menunjukkan sesuatu yang membuat Aurel tercengang.


“Ya ampun!” pekiknya tertahan. “kamu pernah juga?” Aurel menyentuh bekas luka Bara.


Spontan Bara langsung menutup tangannya lagi, “Jangan pegang-pegang.”


“Ya ngapain ditunjukin,” tukasnya. “kamu ngingetin sama dokter aku di Jakarta. Dokter Alatas tuh baik banget, dia udah anggep aku kayak anaknya. Tapi kamu juga hebat…” Aurel kagum pada mereka. “nama dokter siapa?”


“Bara Angkasa.”


“Aurelani.”


Mereka lempar senyum tanda perkenalan.


Bara menengok ke belakang- tepatnya melihat Skala sedang bicara dengan Sadira karena ICU VIP disini full kaca. “Itu pacarnya?”


“Calon tunangannya,” ucap Aurel apa adanya.


“Terus, kamu?”


“Sahabatnya,” Sudah mulai tidak enak ini pembahasan.


Bara mengangguk dua kali. “Kamu kenapa gak masuk?”


“Tadi udah.” terus keluar lagi, berantem. Abis itu ditinggal di luar.


Capek deh.


“Lain kali kita ngobrol lagi. Saya ada jadwal di UGD.”


“Makasih ya susu kotaknya.” Sayang sudah habis.


“Sama-sama.”


Bara pergi dengan seutas senyum.


Dia adalah anak kedua dari dr. Alatas yang tak lain dokter pribadi Aurel.


***


Nama mereka diambil dari nama alam… wkwk


Aurelani : langit keemasan/senja


Skala Akhza : perbandingan langit


Ghaisan Dirgantara : anak rupawan dari langit


Fina Kejora : bintang timur yang bersih


Sadira Avni : bintang di bumi


Juli Surya : lahir di bulan juli tepat matahari terbit.


Bara Angkasa : api langit


Alatas Sagara : Laut luas


Dahya. Yang belom berarti siapa yak😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2