
Seperti dulu lagi. Walaupun di sebelah kanannya ada Nabila yang kini statusnya menjadi "pacar". Bintang tetap tidak melupakan kehadiran Aurel di sisi kirinya.
Supaya adil dan makmur. Bintang menggandeng keduanya. "Cocok gak gue poligami?" tanyanya pede.
"Poligami, ndasmu," sahut Nabila.
Aurel tertawa, "Poligami itu butuh landasan iman. Kalo iman lemah, ya gak akan adil. Kasian istri tuanya nanti merasa gak adil."
"Dengerin noh, Pak!" tukas Nabila.
"Iye-iye... diserbu mulu gue." Bintang mungkin dianggap aneh oleh pengunjung yang lain karena menggandeng dua perempuan sekaligus, bahkan saat naik lift tetap bergandengan.
Mungkin mereka mengira, Bintang itu maruk.
"Itu toko sepatu!" tunjuk Aurel semangat. Bintang menarik tangan keduanya masuk ke toko sepatu. Barulah di dalam, mereka berpisah mencari sepatu yang bagus dan pas untuk kembar lima, karena ditambah Ghaisan dan Fina.
"Ini nih, bagus," kata Nabila sambil membawa sepatunya pada Bintang.
"Yeu, wedos. Lo mau kembaran lima orang, bukan dua orang. Terus ada cowoknya. Masa lo nyuruh gue pake ginian? Alemong dong." Bintang jadi jijik sendiri membayangkannya.
Nabila menepuk dahinya, "Oh iya ya. Sorry, gue lupa."
"Cari lagi sana." Yang benar saja.
__ADS_1
"Gimana yang ini?" Aurel membawa sepatunya ke hadapan Bintang dan Nabila.
"Ini bagus, Tang." Nabila menyukainya. Warnanya netral bisa dipakai perempuan dan laki-laki.
"Iya ini bagus. Lo tau ukuran sepatunya Ghaisan sama Fina gak?" tanya Bintang.
"Tau kok." Aurel paham kalau soal itu.
"Yaudah beli aja ini lima," ucap Nabila.
"Gimana kalo pake uang Aku dulu?" ujar Aurel.
"Waras lo? Bisa abis 5 juta tau." Bintang tidak tahu harus menerima tawaran itu atau tidak. Padahal dalam hatinya ia dukung, Bener, Rel. Gue lagi bokek, kapan-kapan gue traktir kalo lo sekarang bayar sepatunya. Plisss. Ada udang dibalik batu.
"Gapapa, nanti yang bayar makan kamu." Aurel tersenyum. Tahu lah si Bintang sudah bersorak girang di benaknya. Tidak pa-pa, bayar makanan paling mentok sampai 100 ribu rupiah kalau dengan Aurel. Karena dia cuma makan batagor, nasi goreng, mie ayam, seblak, dan es teh. Tidak lebih, kalau tidak makan di Restoran.
"Nah nanti yang bayar bensin gue." Nabila tertawa bahagia karena dapat pengeluaran sedikit dari yang lain.
"Eum, Bintang. Kamu sama Nabila cari jam tangan aja dulu di toko sebelah. Aku mau ke toilet."
"Oh yaudah. Biar cepet juga, kan lo gak boleh kemaleman." Bintang mengajak Nabila keluar duluan.
"Mbak, saya pesen yang itu tiga." Aurel menunjuk sepatu warna lain.
"
__ADS_1
"Ukurannya 42-nya satu. 43-nya dua."
"Baik, ada lagi yang ingin ditambahkan?"
"Iya, ada."
*
Setelah berbelanja, mereka kembali ke basement untuk menaruh barang yang dibeli di bagasi mobil.
"Lo gapapa abis hampir 10 juta, Rel?" tanya Bintang.
"Gapapa."
"Skala gak marah kan ya?" tanya Nabila mulai ngeri.
"Kalo marah, paling ke aku," ujar Aurel merendah.
"Kalo marah ya gue ganti deh duitnya." Bintang sudah ancang-ancang hendak mengganti uang milik Aurel di ATM-nya.
"Gak usah. Gapapa."
"Skala beruntung ketemu lo, Rel." Nabila menyunggingkan senyuman penuh makna.
"Kita duluan yang beruntung," ralat Bintang. "ya gak?"
"Iya, iya. Aku juga beruntung ketemu kalian."
__ADS_1
**
jaman sekarang ada gak yang kayak Aurel? satu aja... buat aku sini wkwk