
Kini Aurel hanya bisa menyatukan jemarinya sambil menunduk dalam. Dia dikelilingi orang yang menghela nafas berbarengan.
"Harusnya lo jangan ambil kesimpulan gitu dong. Jadi gue kan yang diintrogasi mereka. Hiih, gue gak tau lagi gimana lo harus balas budi ke gue. Paham?" Yuan nyerocos panjang lebar mumpung disampingnya adalah Aurel.
Aurel berdecak, "Eh! Kamu pikir siapa yang gak mikir aneh-aneh liat cowok sama cewek jalan barengan? Aku tau kamu juga begitu. Ngaku!"
"Heh! Kok lo jadi nyalahin gue?! Yang salah disini kan lo, Aurel. Napa jadi gue?"
Alatas menyudahi perdebatan mereka. "Jadi udah jelas kan? Perempuan yang kamu liat itu sepupu Ayah. Namanya Mayang, jadi kamu salah tangkap."
"Ya lagian Ayah manggil 'Yang, Yang' kan aku salah paham.." Aurel menangkupkan telapak tangannya. "Aurel minta maaf." Dia sangat merasa bersalah karena menuduh Alatas selingkuh.
Alatas tersenyum, "Lain kali bicara dulu, jangan emosi."
Suara Bara menyahut dari kamar, "Maklum aja, Yah. Namanya juga ABG. Labil."
"Gak semuanya sih..." Yuan merasa tersindir karena dirinya ABG juga.
"Makasih ya, Yuan. Kamu cukup membantu." Alatas menghargai usaha Yuan untuk datang ke rumahnya.
Yuan mengangguk, "Sama-sama, Om. Gapapa, ini juga termasuk usaha."
"Usaha?" beo Alatas tidak paham.
"Usaha meluruskan semuanya," alibi Yuan. Gue jadi takut gak direstuin Bapaknya, kurangasem.
"Aku kan jaga perasaan Ibu." Aurel tetap saja malu karena sudah berprasangka buruk dengan Ayahnya sendiri.
"Iya, iya, Ayah tau." Alatas manggut-manggut saja.
Bara keluar membawa tablet kesayangannya dan duduk disamping Aurel. "Kamu tau gak kenapa Ibu nangis?"
Aurel mengangkat bahunya tak tahu.
"Karena kamu ngomong sambil teriak. Ibu kaget, biasanya kan kamu lemah lembut ngomongnya." Bara geleng-geleng lemah sambil mendengarkan musik. Adik tirinya memang unik. "Jangan harap karena Ibu cemburu. Ibu tuh beda sama kamu."
Aurel mengerucutkan mulutnya lalu mencubit tangan Bara. "Aku kan gak tau cerita aslinya!"
Bara hanya mengelak namun tertawa kecil. "Kalo gini Skala masih bertahan gak ya sama kamu?"
Yuan bergumam, "Baguslah kalo dia nyerah. Berarti gue ada kesempatan."
Aurel, Alatas, dan Bara menoleh ke arah Yuan dengan tampang bertanya-tanya. Bara langsung menunjuk pria itu, "Jangan bilang mau deketin Aurel."
Namun, Yuan mengangguk lalu menggeleng cepat.
__ADS_1
Bara melepas earphone-nya, "Ya Allah!" Ia mencubit kedua pipi Aurel dengan gemas sampai gadis itu meringis. "Liat!" Bara menunjuk Yuan. "Kamu tuh berhati apa sampai banyak yang tergila-gila? Eh, Kakak gak mau tau ya. Cukup Skala yang gila, Yuan jangan."
Yuan bertanya, "Pak Skala gila?"
Bara menunjuk Aurel, "Ya ini penyebabnya!"
Aurel menunjuk dirinya, "Aku?!" Ia lantas berdiri dan mendorong dada Kakaknya, "Skala suka aku udah lama, bahkan sebelum ingatan aku balik. Kok Kakak sinis banget sih?"
"Karena—"
Sebelum Bara menjawab, Aurel ingat alasannya. "Wah, hebat. Besok bakal ada berita Seorang Kakak Menyukai Adik Tirinya."
Bara segera menutup mulut Aurel sampai gadis itu tertawa meledek. Yuan tidak percaya kalau dulu Bara juga pernah menyukai Aurel. Fyi, saingannya cukup banyak ternyata.
Aurel mengantar Yuan sampai depan rumahnya. Entah kerasukan apa pria itu berani membawa mobil mewah dengan logo AA Furniture di pojok kanan kaca depannya. Bukan main-main saat Yuan membuka pintunya ke atas, bukan ditarik seperti mobil pada umumnya.
Sontak Aurel menutup mulutnya saking terkejut. "Woah, woah!"
Yuan langsung menghampirinya, "Kenapa, kenapa?"
Aurel menormalkan raut wajahnya, "Gapapa. Hati-hati ya, Yuan."
Yuan mengangguk saja. Tidak heran kalau Aurel sering bersikap aneh. "Iya. Lain kali jangan gitu lagi lo sama Bokap lo. Nuduh-nuduh selingkuh."
"Sakit gak?" tanya Yuan pada akhirnya.
Aurel menguntas senyuman, "Mau ngerasain?"
"Coba."
Ia lantas menyentil dahi Yuan dan reaksi pria itu sangat berlebihan karena teriak kesakitan. Aurel yang memang pada dasarnya lugu langsung percaya dan mengusap dahi Yuan. "Maaf, maaf. Tapi perasaan pelan.."
Yuan menahan pergelangan tangan Aurel. "Gue bercanda." Yuan dengan wajah serius berkata, "Gue gak akan ngasih lo harapan palsu, Rel. Gue emang begini, gak bisa perhatian kayak Skala atau yang lainnya. Gue cuma bisa bikin lo marah. Karena marahnya lo, bisa bikin kita ngobrol lama." Dia menurunkan tangan Aurel pelan-pelan.
"Gue bakal kesini lain kali," katanya sebelum masuk mobil.
●●
Katakanlah Aurel tipe orang yang sangat cuek bahkan setelah Yuan bicara ngelantur kemarin siang, Yuan jelas kesal karena Aurel tidak peka dengan 'maksud' ucapannya.
Bintang yang diceritakan Aurel tentang ucapan Yuan hanya tertawa. "Lo gak tau maksudnya apa?"
Aurel menggeleng, "Iya. Aku gak tau." Mereka sedang jalan di trotoar menuju rumah Nabila.
"Itu artinya, Yuan suka sama lo."
__ADS_1
Aurel jelas menertawakan ucapan gila Bintang. "Kamu ikut ngaco."
Bintang melihat mobil berkecepatan tinggi melewati genangan air bekas hujan semalam. Dia segera berpidah tempat melindungi Aurel sampai punggungnya basah karena kecipratan air kotor.
Aurel langsung membalikkan tubuh Bintang, "Jaket kamu basah, Tang." Aurel membantu melepas jaket sahabatnya. "Aku bawain jaketnya."
Bintang tersenyum, "Gue gapapa."
Giliran Aurel yang melepas jaketnya dan memakaikannya pada Bintang.
"Gak usah gini juga, Rel." Bintang jadi memakai jaket Aurel. "Ini masih mendung, lo gak kedinginan?"
Aurel memukul ringan lengan pria itu, "Kata kamu aku harus bahagiain orang lain juga. Anggap aja ini usaha."
"Ini kan jaket gue."
"Ya emang. Jadi kamu gak perlu balikin. Di rumah masih banyak jaket yang aku pinjam dari kamu. Dari pertama, nunggu angkot di depan sekolah terus hujan, kamu ngasih jaket. Kedua, kamu minjemin jaket lagi pas aku PMS. Ketiga, kamu ngasih pas... aku ultah."
Maksud Aurel bukanlah ulang tahun sungguhan. Hari itu, Aurel di-bully dengan disiram air bekas pel dan dilempari telur busuk oleh orang yang membencinya di sekolah.
Bintang menegurnya, "Jangan sebut lo ultah di hari itu. Gue jadi ngerasa gak berguna."
"Justru kamu kasih aku semangat, Bintang." Aurel ingat saat ia kebingungan mencari seragam ganti di loker, Bintang mengulurkan jaket dan celana olahraga untuk ia pakai di jam pelajaran selanjutnya.
"Bahkan lo inget semuanya, Rel."
"Kamu sama Nabila itu penyemangat aku."
Bintang tersenyum getir, "Berlebihan. Sikap gue waktu lo amnesia, udah dimaafin?"
"Udah dong!" pekik Aurel semangat.
Sesampainya di depan rumah, Nabila melihat Bintang dari atas sampai bawah setelah Aurel memberikan jaketnya yang basah.
Langsung saja Nabila memukuli Bintang, "Udah berapa kali gue bilang jangan nyusahin Aurel? Hah? Lo tau kan kalo gak pake jaket, Aurel bisa masuk angin?"
Bintang meng-aduh terus menghentikan aksi brutal pacarnya. "Belum sempat bilang udah dikasih jaketnya."
Nabila menoleh ke Aurel yang mengangguk. "Gapapa. Tadi cuma jalan sebentar. Bara emang berlebihan. Aku gak akan masuk angin," ujar Aurel dengan tenang.
"Gue gak ngerti lagi nasib pacarnya Bara kalo disandingin lo terus, Rel. Yakin deh gue gak bakal lama ntar putus." Nabila sangat yakin dengan ucapannya kali ini.
Aurel terkejut, "Hm?!"
Bersambung...
__ADS_1