SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Aksi Kejar Berlangsung Dramatis


__ADS_3

Skala berlari di koridor sebelah kanan, ia berpapasan dengan Bintang yang juga berlari dari koridor sebelah kiri.


"AUREL!" Suara mereka menggema setelah melihat Aurel dipojokkan oleh seseorang yang Skala duga "karyawan penggelap dana".


Pria itu jelas melarikan diri dari mereka, itu yang membuat Bintang geram.


"WOI! BANG*AT!!"


Teriakan Bintang membuat Skala menoleh terkejut.


"Mahasiswa disini dilarang bicara kasar," tegur Skala disela-sela berlarinya.


"Ini diluar kampus. Elu temen gue," jawab Bintang makin gencar mengejar pria tadi.


Sedangkan Skala berhenti di depan Aurel. "Mana flashdisk-nya?"


Aurel mengerjap lalu tidak mengerti dengan Skala. "Jangan libatin aku lagi." Ia lantas memberikan flashdisk-nya.


"Sandinya salah?"


"Hem. Terus gimana? Kamu tau?"


Keduanya menoleh karena suara cempreng Nabila mengumpat pada Bintang.


"GUE SUMPAHIN LO BUDEK BENERAN, TANG! PACAR LAKNAT! DIPANGGIL 10 KALI GAK BERHENTI JUGA! SET*N!" Nabila menyerah dan berhenti di depan mereka. Mereka terlihat bingung, mungkin karena keringatnya seperti butiran jagung. Lihat saja kalau sampai rias wajahnya hancur karena mengejar satu pria kurangajar, dia akan habis jika nanti bertemu. "Kalian ngejar siapa sih?!" teriaknya kesal. "Gue gak bakat lari, timbangan gue naik 2 kilo. Kenapa lo bertiga kejar-kejaran kayak upin ipin?!"


Skala memasukkan flashdisk-nya ke saku celana. "Saya mau kejar Bintang kalo gitu."


Sebelum dia ancang-ancang lari, Nabila menarik bajunya. "Bawa dia kesini hidup-hidup," ujarnya sedingin es. Sampai-sampai dia rasa menusuk tulang. Skala langsung ambil langkah seribu sebelum habis ditangan Nabila juga.


Aurel menyentuh punggung Nabila, "Sini duduk dulu."


"****** gue lagi gak mood buat duduk. Kita tunggu mereka di luar, gue mau interogasi mereka!"


Aurel tidak tahu kalau Nabila lebih menyeramkan saat lelah dan kesal. "Ya— Yaudah, kita ke luar dulu." Mereka pun berjalan ke luar Kampus untuk menunggu dua pria kembali.


Saat sedang berjalan pelan karena kaki Nabila sakit, Aurel mendengar suara derap lari dari belakang. Tapi hanya satu orang.


"Maaf." Aurel mendorong Nabila, tubuhnya ikut jatuh bersamaan dengan pisau jatuh di aspal. Dugaan Aurel benar, kalau pria tadi hendak melukainya.


"Bintang sama Skala ngejar dia?" tanya Nabila yang diangguki Aurel.


"Baji*gan.." Nabila lari mengejar pria sial*n yang menyusahkan semuanya. Tidak mau tahu dimana Skala dan Bintang yang hilang tidak ada di belakang dia, Nabila ingin sekali mengenyahkan dia sendiri.


Aurel menghela nafas dan mau tak mau berlari lari mengejar Nabila walaupun nafasnya sudah tidak beraturan. "NABILA! TUNGGUIN!" teriaknya dengan sisa tenaga.


"BERHENTI DISITU LO! NYUSAHIN GUE AJA!" maki Nabila menunjuk yang dikejar. Ia menambah kecepatan larinya walaupun sesekali hampir terjungkal ke depan. "LO UDAH TUA GAK ENCOK LARI MALEM-MALEM, HAH?!"


Jauh disana, Aurel memperlambat larinya mumpung ia harus menyebrang lampu merah. Bintang yang menerobos lampu hijau langsung membuat Aurel melotot sempurna. "Dia hebat main film action..." Seperdetik kemudian ia menepuk jidatnya, "Sadar, Rel! Kamu harus kejar Nabila!" Ia menyemangati dirinya sendiri sambil menunggu lampu merah.


"Bentar, bentar!" Skala dari belakang menahan tangannya.


Saat itu juga Aurel memukul lengan Skala. "Kamu gimana sih?! Masa kejar satu orang aja gak bisa?! Liat tuh, malah Nabila yang kejar dia."


Skala memekik. "Hah? Nabila? Yaudah aku duluan ya."


"Heh! Aku gak bisa nyebrang!" pekik Aurel.


Skala yang sudah di tengah jalan kembali ke tepi untuk menarik Aurel supaya ikut dengannya.


"BIL! LO MANUSIA APA WONDER WOMAN! CEPET AMAT LARI LO!" teriak Bintang yang nafasnya hampir copot.


Nabila membalas teriakan pacarnya. "LO LARI KAYAK NAIK KUDA, LAMA BENER!" Ia berhenti dan melepas flatshoes-nya. Ia akan melempar seperti awalan bermain bowling, sebisa mungkin ia menargetkan sepatunya agar kepala atau kalau bisa ubun-ubun pria itu. "RASAIN NIH CIUMAN DARI SEPATU GUE!"


PLAK'


"YESS!"


Bintang berhasil mengunci tangan dan tubuh pria itu setelah kepalanya kena lemparan sepatu Nabila.


"Good job!" sahut Bintang bangga.


"Good job, good job. Imbalannya beliin gue skincare keluaran baru dari Korea!" balas Nabila.

__ADS_1


Bintang tidak ingin menyakiti pria yang tubuhnya ia kunci karena takut kualat. "Diem bentar, Pak. Untung jalan sepi ya gak?"


"Bintang, Bintang!" Skala memanggilnya dengan posisi menggendong Aurel di punggungnya.


Nabila membantu Aurel turun, "Kenapa lo? Mabok, abis maraton 500 meter?" asalnya.


Skala memberhentikan taksi untuk Nabila dan Aurel supaya tidak terlibat lagi dalam hal ini.


"Ayo, Tang. Bawa dia ke Kantor."


Bintang sumringah, "Kantor Polisi?"


"Kantor saya.. Skala Atlas..."


"Yahh, kurang seru." Mereka juga pergi menggunakan taksi karena mobilnya tertinggal di Kampus.


Di dalam taksi, Aurel berbagi minuman dingin yang ia beli di jalan. "Minum dulu."


Nabila meraih dan meminumnya, "Makasih."


Aurel memuji sahabatnya. "Kamu hebat, Bil."


Nabila menoleh, "Tiap orang punya kelebihan. Lo lebih hebat di mata gue, Rel."


Aurel malu mendengarnya. "Kamu larinya cepet banget kayak pake kekuatan."


"Gue bisa lari cepet karna gak sabar mau nimpuk dia." Melihat Aurel tertawa saja Nabila belum bisa mengampuni dirinya saat dulu. "Lo sama Skala begini cuma karena satu flashdisk?"


Aurel mengangguk, "Itu berpengaruh buat Bapak yang kerja disana. Skala bilang kalo datanya gak ketemu, investasi bisa anjlok. Kalo udah anjlok—"


"Yayaya.. gak usah diterusin." Nabila masalahnya tidak tahu rahasia perusahaan besar milik Skala. Mendengar Aurel saja kepalanya sudah berdenyut. "Mereka harus balas budi ke gue abis ini."


"Kamu mau minta skincare kan?" tebak Aurel.


Bingo!


"Bintang gak masalah tiap bulan kamu minta skincare yang sepaket 1 juta. Dia justru khawatir liat kamu lari-lari begitu.."


"Gue keliatan nyeremin kayak bad girl di novel-novel ya." Nabila tertawa mengingat dirinya berlari dan melempar sepatu tepat sasaran. "Kalo sampe ini komplotan... gue mau lempar botol bensin. Biar lebih ekstrim."


"Tapi... biasanya korupsi itu gak mungkin individu, pasti ada banyak orang, Rel. Bokap gue pernah ngalamin ini juga," ujar Nabila serius.


...*****...


Skala dan Bintang membiarkan karyawan itu duduk bersandar di Kantornya walaupun telah berbuat kriminal.


Saat di taksi, Skala sudah menghubungi Juli supaya mendatangkan orang yang pandai dalam IT agar datang ke Kantornya membuka sandi folder.


"Jadi kalian berapa orang?" tanya Bintang.


"Tiga."


"Siapa aja?"


"Gak perlu nanya. Saya udah tau. Aliansi dari ChandIT sama KalioCos kan?"


Bintang melongo. Perusahaan apa itu?


Juli datang dengan satu temannya yang ahli di bidang IT.


"Direktur Perusahaan Internasional ke Kantor orang pake baju tidur... memalukan..." Bintang melihat setelan Juli yang tidak biasa dipakai direktur pada umumnya.


Juli menyanggah, "Skala nelponnya dadakan, pas saya mau tidur. Disuruh cepet-cepet juga."


Skala mengusap dadanya agar lebih sabar. "Gapapa, Jul. Saya maklumin."


Juli menyuruh temannya agar ikut ke ruangan Skala sambil membawa flashdisk.


Juli duduk di sembarang kursi, "Ada apa sih?"


"Gak tau, gue cuma peran pendukung, ikut skenario aja."


"Gue juga sih..."

__ADS_1


Juli melihat siapa yang membuat kekacauan selarut ini dan mengangguk. "Skala mau ngapain sama Bapak ini?"


"Gatau. Kalo datanya balik sih katanya biarin aja. Tapi kalo gak, ya dibawa ke Polisi."


Juli tampak mengerti. "Muka lo merah gitu kek tomat kematengan. Abis ngapain?"


"Abis main kucing-kucingan."


"Dih, becanda lo."


"Gue serius. Huh, lo tadi gak liat cewek gue kayak wonder woman larinya beuhh— kayak Super Dede, cepet banget, gila." Bintang malah membanggakan bakat terpendam Nabila.


"Bagus dong. Kalo lo selingkuh, lo gak akan bisa menghindar."


"Sebelum selingkuh gue juga mikir kali pacaran sama siapa."


Daripada mendengarkan decitan mereka yang kurang bermutu. Lebih baik kita beralih ke Aurel yang sudah sampai rumah.


"Kamu kok pulangnya agak telat, Rel?" tanya Bara melihat Aurel lewat kamarnya.


Aurel berhenti dan menoleh. "Bara pegang apa itu?" Ia masuk karena kakinya tidak bisa direm karena Bara punya barang baru yang tidak ia punya.


"Apa? Aku baru beli PS3."


"3?"


"Aku, Ayah, Kamu." Bara nyengir.


"Aku mana bisa main beginian... Kamu kalo ngeledek jangan kebangetan kali, Bar."


"Nanti aku ajarin, kalo Ayah udah mulai sibuk nanti, kamu harus temenin aku main."


"Ayah mulai sibuk?"


"Hm, bulan depan udah aktif di Klinik lagi."


Aurel paham dan pamit pergi ke kamar.


"Itu apaan, Rel?!" pekik Bara sambil menutup matanya dengan bantal.


Aurel balik badan dan bertanya, "Kenapa, Kak?"


"Kamu tembus?" tanya Bara polos dengan matanya yang masih tertutup.


Pipi Aurel bersemu malu.


"Kamu tunggu disini, aku beliin pembalut di warung."


"Stok di kamar mandi abis?"


"Emang kamu doang yang haid?"


"Siapa lagi?"


"Ya yang cewek lah!" geram Bara.


Aurel baru ngeh, "Oh iya, kan ada Ibu. Gapapa kamu cari pembalut sendiri, Bar?"


"Iya, kamu ke kamar mandi sana!" Aihh, kenapa Aurel bisa lupa jadwal menstruasi begini. Jadi malu semua kan..


"Maaf ya, Bar. Jangan jijik, kamu kan dokter."


"Iya, nggak. Jangan duduk dimanapun dulu, takut ada bercaknya. Astagfirullah, mana banyak banget kamu tembusnya." Bara berjalan rembetan supaya tidak melihat Aurel.


Sekitar 5 menit Bara kembali, ia menyodorkan ke Aurel di kamar mandi. "Jangan lupa disemprot biar gak bau amis."


"Kamu kira ikan?"


"Kebersihan."


"Ya..." Memang sulit tinggal dengan Dokter yang serba bersih. Berantakan sedikit, bisanya ngomel. "Haduh! Aku lupa celana dalamnya gak dibawa kesini."


Malu sudah...

__ADS_1


BERSAMBUNG..


Jangan dicontoh si Aurel kali ini. Lupa bawa CD pas ganti pembalut... hehe. Btw, yang baca cewek semua kan?😶


__ADS_2