
Aurel mengetuk pintu kamar Skala. “Skala… temenin nonton film setan dong.”
Skala yang baru keluar habis mandi untungnya dengar. “Bentar!”
Aurel kembali ke ruang tamu dan rebahan di sofa karena lelah satu minggu otaknya digenjot ujian. Walaupun nilai-nilainya diatas 90, tapi tidak ada hasil yang baik tanpa kerja keras.
Skala keluar dari kamar dengan balutan kaos hitam panjang se-siku dan levis putih panjang. Rambutnya sengaja belum disisir dan basah. Melihat Aurel rebahan, ia langsung mengibaskan rambut dengan tangan sampai air dari rambutnya berjatuhan ke wajah Aurel.
Aurel mengusap wajahnya, “Iseng.”
Skala mengangkat kepala Aurel dengan tangan kanannya lalu duduk. Setelah itu ia meletakkan kepala Aurel di atas pahanya.
“Kok gak jadi film setannya?” tanya Skala karena yang ia lihat adalah drakor medis. Ia mengambil toples berisi kacang goreng.
“Gak jadi,” ujar Aurel masih serius melihat adegan dimana para dokter membantu korban kecelakaan yang tengah hamil.
Skala mengambil kertas-kertas di meja dan melihat nilai ujian Aurel. “Pinter juga kamu abis amnesia.” Lalu ia menaruh lagi menjadi satu tumpuk.
“Kapan liburnya?”
“Besok udah libur, kan hari sabtu.”
“Bukan… maksudnya libur semesteran.”
“Iya, besok. Senin depan kan udah remidial kalo nilainya dibawah KKM.”
Skala mengangguk, “Yaudah, nanti baju kamu beresin dulu dimasukin ke koper. Besok siang kita berangkat.”
Aurel langsung duduk, “Besok?!”
“Iya.”
“Gak bisa besoknya lagi?”
“Nggak. Kamu yang nyuruh aku buru-buru kesana kan?”
“Iya sih… masalahnya aku capek banget. Rencananya nanti malem mau ngabisin drakor ini.”
“Jangan malem-malem tidurnya.”
“Yaaaa,” jawabnya malas. “Skala. Sadira itu… sayang banget ya sama kamu?”
Skala berdehem panjang, “Mungkin.”
“Kamu sendiri?”
“Biasa aja.”
“Kamu gak ada rencana buat cinta sama dia?”
“Nggak. Ngapain?”
“Hemm… berarti kamu masih suka aku?” tanyanya kelewat oon.
Skala ragu, “Rahasia.”
Bibirnya mencebik kesal, “Rahasia mulu.”
“Kayaknya Nabila sama Bintang mau digimanain tetep cocok,” kata Skala beralih topik.
“Iya gapapa.”
Skala mencubit hidung Aurel sampai gadis itu memukul tangannya berkali-kali karena tidak bisa bernafas dengan benar. Setelah ia lepas tangannya, justru Aurel memukul lengan pria itu.
“Jangan gitu.. mentang-mentang hidung aku gak semancung kamu.” Aurel balik mencubit hidung Skala tapi sebentar.
__ADS_1
Skala tertawa puas, “Udah ah.” Dia beranjak dan kembali ke kamar tentunya untuk istirahat karena besok akan nyetir mobil berjam-jam.
***
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mereka masuk ke mobil dan meninggalkan pekarangan rumah.
Skala memakai outfit casual; baju biru, levis hitam selutut, sandal gunung, dan kacamata hitam karena silau Sedangkan Aurel pakai sweater pink, levis coklat panjang, dan sepatu pink.
Skala melirik kaca diatasnya yang menjangkau sampai kursi belakang. Aurel masih tertidur karena begadang nonton drakor sampai episode akhir. Pfftt, sekarang dia merangkap jadi driver taksi untuk Aurel.
Merasa sudah puas terlelap, akhirnya Aurel bangun. Akhirnya juga Skala punya kesempatan untuk rehat merenggangkan otot tubuhnya yang pegal. Ia beristirahat di pom bensin untuk solat zuhur. Aurel sedang halangan jadi tidak melaksanakan solat.
Kalau aja kalian tau, tiap sujudnya Skala, dia mau terus disamping sama Aurel. Walaupun Aurel gak peka. Dia gak masalah tetap begini, sampai nanti dia siap, baru Skala bakal serius.
Skala bersandar di tembok sambil memainkan ponselnya, kalau saja ada laporan penting dari kantor, ia bisa fast respon.
Aurel yang sudah ganti pembalut, langsung duduk di samping Skala dan ditengahnya dibatasi pakai sling-bag.
“Udah?” Skala masih mengetik sesuatu di ponselnya.
“Udah,” ucap Aurel sambil menghela nafas. “berapa lama lagi?”
“2 jam lagi sampe.” Skala tersenyum namun Aurel cemberut. “kenapa kamu?”
“Ayo jalan lagi, biar gak lama.”
“Nanti. Baru juga duduk.”
Akhirnya mereka diam disana. Aurel melihat dari kejauhan ada anak kecil yang sedang belajar jalan dan di kanan kirinya digandeng oleh kedua orangtua, ayah dan ibu. Sungguh mengesankan. Ia jadi berpikir, dulu begitu tidak ya? Apa Damar dan Alya menggandengnya seperti anak kecil itu? Atau Alya sendiri yang mentitahnya berjalan? Atau justru dia belajar sendiri? Hehe… cuma berpikir.
Walaupun wajahnya dibogem mentah oleh Damar. Damar tetaplah Bapak kandungnya, dan hukum bumi sudah ditetapkan tidak ada yang boleh durhaka pada orangtua.
Walaupun Damar belum bisa berubah, Aurel yakin ada saatnya sendiri. Dibalik luka dan tangisnya, ada bahagia yang tidak sabar mendatanginya. Walaupun ia selalu bertanya; kapan?
Ia menoleh tepat memperhatikan Skala lalu menguntas senyum singkat. Beruntungnya ia masih dengan orang yang menyelamatkan hidupnya untuk memperbaiki semua. Ia bersyukur tiap kali Skala membantunya.
“Kenapa ngeliatin gitu?”
Aurel mengangkat bahunya, “Gapapa.”
Skala memicingkan matanya. Namun ya sudahlah. Lebih baik mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
***
Skala berhenti di depan RSUD. Ia tidak ingin mengganggu tidur Aurel jadi keluar dulu untuk menjenguk Sadira.
10 menit kemudian…
Aurel mengulet dan menemukan Skala tidak ada di bangku kemudi. Ia menemukan lipatan kertas di dashboard dan membacanya.
VIP Anggrek No.8
Berbekal kertas itu, Aurel keluar dan menutup pintu mobil. Ia pasti tidur terlalu lama dan dapat ditebak Skala tidak membangunkannya.
Aurel melihat ruangan yang dibatasi full kaca bening. Sepertinya benar karena ada Skala dan Sadira beserta orang-orang yang kemungkinan keluarga mereka. Apalagi Skala duduk disamping Sadira sambil menggenggam tangannya seolah memberi kekuatan.
Sebenarnya Aurel pernah diposisi Sadira. Tapi bedanya, dia saat masih koma. Kalau Sadira saat sudah sadar.
Tidak ingin mengacaukan suasana karena suka bertindak ceroboh. Aurel akhirnya ke halaman belakang RS saja sambil menunggu, tak lupa ia mengirim pesan singkat ke Skala, takut-takut dia kalangkabut.
Ia membuka roomchat dengan dr. Alatas.
*Yang tulisan miring pesan dari dr. Alatas
Kenapa, Rel?
__ADS_1
Gapapa, Dok. Saya lagi butuh temen aja. Ganggu gak?
Gak sih, lagi kosong sejam. Kamu udah sampe Bandung?
Udah kok:)
Gimana? Teman Skala baik-baik aja?
Dia baik.. aku udah liat tadi
*
Memandang danau hijau dengan teratai diatasnya sangat indah di mata Aurel. Walaupun ia duduk di rerumputan, rasanya sangat nyaman sekali.
Meong… Meong…
Aurel bergeming, “Kucing siapa tuh?” gumamnya dan berdiri mencari kucing. Setelah ditelusuri, ternyata seekor kucing hampir jatuh ke air karena tanahnya miring. Aurel berhati-hati mengambil kucing itu agar dirinya tidak jatuh ke danau. Ah, tidak mau, tidak mau.
Selesai mengangkat kucing tadi. Aurel menepuk tangannya takut ada bulu yang menempel. Ia dengan pedenya melangkah tanpa hati-hati sampai terhuyung ke belakang tepat danau terhampar.
Aurel menjerit dan memejamkan mata erat. Dia pasrah. Tapi tunggu. Kenapa pinggangnya kencang? Baru membuka mata, Aurel terdiam saat Koas muda lengkap dengan jas dokter meraih pinggangnya agar tidak jatuh.
Dia menarik tangan Aurel supaya menjauh dari tanah yang miring. “Lain kali hati-hati.”
“Iya, makasih.” Aurel menghembuskan nafas lega.
“Kamu kenapa? Takut gitu.” Dia heran melihat perubahan wajah gadis didepannya. “nama saya Bara.” Mereka menyebutkan nama tanpa berjabat tangan.
“Aku, Aurel. Btw, kantin sebelah mana ya?” Dia lapar rupanya.
“Ke barat aja.”
Aurel mengangguk, “Makasih ya.”
“Sebenernya dalam danau cuma 1,5 meter. Kok gugup gitu?”
Entahlah. Ada bagian dimana ia tenggelam di gelanggang sekolah, untung Bintang menolongnya tepat waktu. Dan sejak berangkat ia belum makan karena tidur sepanjang jalan. Mungkin ditambah lagi ia trauma dengan kedalaman akibat bunuh diri setahun lalu.
“Gapapa. Aku ga—”
***
Baru kali Bara menggendong bridal style seorang perempuan yang mendadak pingsan sebelum menjelaskan pertanyaannya. Skala yang hendak mencari Aurel langsung berlari saat melihat Aurel dibopong dokter. Saat hendak masuk ke IGD, dia malah dihentikan.
Skala tidak tahu Aurel kenapa. Semoga saja tidak pa-pa.
Lima menit kemudian, dokter dan dua perawat keluar.
“Maaf, anda siapa ya tadi mau masuk?” tanya dr. Bara dingin.
“Yang di dalam pacar saya.”
Tolong nanti kita hujat si Skala karena ngaku pacarnya Aurel yang polos tapi minta dilempar ke kali.
dr. Bara tertawa kecil, “Tolong pacarnya jangan ditinggal sendirian. Kasian, dehidrasi, cemas berlebih, anemia, satu lagi… tadi saya lihat dia hampir jatuh ke danau belakang rumah sakit.”
Mata Skala membola, “Kok bisa?”
“Silahkan tanya sendiri. Saya rasa dia takut berlebih sama danau.”
“Dia pernah tenggelam di sekolah, mungkin itu.” atau karena pernah bunuh diri di sungai terus gak bisa renang.
dr. Bara mengangguk paham, “Saya permisi dulu.” Ia pamit dengan sopan.
“Terima kasih,” lirih Skala.
__ADS_1
***