SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Gimana sih?


__ADS_3

Skala memandang Aurel dengan kesal karena tidak hati-hati saat pulang dari sekolah. Niatnya sih baik, menolong perempuan yang hampir dilukai pacarnya. Tapi jadi dia sendiri yang wajahnya kena sikut sampai mimisan.


Aurel mengambil tisu lagi di meja untuk menyumpal hidungnya yang masih mimisan. "Udah mending ini." Yang penting tidak sebanyak tadi.


dr. Alatas yang memang menjadi dokter pribadi Aurel (dari Skala) sampai datang mengecek tulang hidungnya, ia takut ada keretakan atau patah tulang karena mimisan lumayan banyak.


"Udah dong, Pak... jangan marah mulu..." ujar Bintang yang melihat kilatan dari tatapan Skala.


Skala membuang wajah lalu pergi dari ruang tamu.


Aurel bersandar sampai mendongak melepas tisunya, "Ahhh, untung aku gak punya pacar begitu." Ia bergumam merasa beruntung.


"Lo bangga gitu?" tanya Bintang yang duduk di lantai sejak tadi.


"Ya nggak.. aku lega aja."


dr. Alatas mengemas peralatannya, "Yaudah, karna gak apa-apa, kamu istirahat aja... saya ada praktek."


"Dokter, Dokter. Aku besok mau mampir ke rumah Dokter ya?"


"Lo mau ngapain? Gue boleh ikut gak?" Bintang ikut nimbrung.


"Gak pa-pa." dr. Alatas tersenyum. "lain kali hati-hati kalo mau bertindak." Ia beralih menatap Bintang, "Aurelnya dijagain, suka ceroboh."


Bintang hormat pada dr. Alatas, "Siap, laksanakan!"


"Bukan lagi paskibra.." komen Aurel sambil menepuk lengan Bintang.


Mereka tertawa.


"Saya permisi ya," kata dr. Alatas lalu berjalan keluar rumah.


Bintang mengecek ponselnya dan melihat pesan dari Nabila yang isinya,


Tang, gue udah pulang. Lo bisa kesini gak? Mama mau ketemu lo, sekalian bawain mie ayam jamur yaaa😅 tengkyuuu.


Bintang tersenyum lalu mengantongi ponselnya dan berdiri, "Gue pamit ya ke rumah Nabila, dia udah selesai terapinya."


"Aku ikut!" Aurel beranjak semangat.


"Mohon izin dengan Tuan Rumah, Pak Skala yang terhormat."


Aurel dibuat kesal karena Bintang. Sudah tahu Skala sedang marah, disuruh minta izin ya yang tambah marah.


Skala yang hendak mengambil air di dapur menoleh saat Aurel memanggilnya.


"Kenapa?" tanyanya dingin.


Bintanf izin pamit, "Pak, saya pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati. Makasih ya udah anter Aurel."


"Oke..."


Barulah setelah Bintang keluar, Skala menaikkan kedua alisnya seolah berkata 'tadi kenapa?'


"Kamu ke Bandung kapan?"


Sungguh dalam satu hari, Skala bisa dengar pertanyaan yang sama sebanyak 5 kali. Ia memutar bola matanya malas dan beranjak ke kamar daripada menjawab jawaban yang sama.

__ADS_1


Aurel melangkah cepat menghampiri Skala dan menghadangnya sambil merentangkan tangan. "Aku serius..."


"Minggir," ujarnya cuek.


"Gak mau."


Skala menggeser tubuh Aurel agak kasar sampai terjatuh. Terkejut, ia langsung ikut duduk dan bertanya, "Maaf, maaf. Kamu gapapa?"


Aurel menghembuskan nafas kesal lalu menyingkirkan tangan Skala. "Gak usah kasar juga!" sentaknya kemudian berdiri dan pergi ke kamar.


Selalu begini. Yang marah Skala, tapi Aurel kena batunya. Ujung-ujungnya Skala harus minta maaf.


"Aku minta maaf, Rel," ujar Skala sambil mengetuk pintu kamarnya yang dikunci. "kamu ngambek ya?"


Tidak dijawab, berarti benar. Skala memejamkan matanya, "Yaudah aku ke Bandung sekarang! Puas?!" Ia ingin sekali memukul pintu namun ia urungkan, yang ada nanti Aurel tambah takut.


***


Tanpa melihat keberangkatan Skala, Aurel langsung kembali ke rumah Alya -Ibunya. Biasanya rumah Alya tampak rapih. Kok ini berantakan ya?


"Ibu...." panggil Aurel sambil masuk. Sebelumnya ia sudah ucap salam ya.


Aurel tidak bisa menahan jeritannya saat Alya merintih tidak berdaya di lantai. Segera dia menghubungi Skala tanpa ia ingat kalau tadi juga berangkat ke Bandung.


"S- Skala.. Ibu- i- bu -ibu. Ibu—"


BUGH'


Aurel jatuh dan ponselnya terlempar karena tiba-tiba Damar keluar dari kamarnya sambil membawa celengan yang jelas isinya penuh, lebih parahnya lagi punggungnya dihantam celengan ayam.


Aurel beranjak lalu menahan tangan Damar, "Pak! Bapak, apain Ibu, Pak?"


Damar tidak dalam kondisi mabuk. Namun perilakunya sudah kasar. "Diem! Gue mau bayar utang!"


Damar justru memukul wajah Aurel dengan kepalan tangannya sampai sudut bibirnya sobek dan berdarah.


"YA ALLAH, BAPAK!" teriak Alya sambil mendorong-dorong Damar agar keluar dari rumahnya.


Aurel tidak sadar kalau sambungan telepon masih berlangsung.


Skala langsung putar balik sejak terdengar pertengkaran Aurel dengan Damar. Kalau sudah begitu, pasti ada apa-apa.


Sesuai dugaannya setelah sampai sana. Skala dengan pakaian formal lengkap dengan jas hitam kantoran masuk dan melihat Aurel sedang diobati Alya.


Lihat betapa cerobohnya dia bisa terluka dua kali di hari yang sama.


"Bu Alya, mohon maaf, saya mau bicara dengan Aurel," ujar Skala sambil memegang tangan Aurel.


Aurel mendongak hendak protes.


"Kalian mau kemana?" tanya Alya yang masih khawatir dengan anaknya.


"Ke rumah saya, biar Aurel diperiksa dokternya," kata Skala.


"Yasudah. Kalian hati-hati yaa."


Skala menarik tangan Aurel keluar lalu membukakan pintu mobil supaya dia bisa langsung masuk.


Skala menghela nafas

__ADS_1


Tahan emosi.... tahan....


Aurel menarik tisu yang ada di dalam dashboard mobil untuk mengelap darah di sudut bibirnya. Ia teringat sesuatu, "Ya ampun, Skala! Aku minta maaf, kamu tadi kan udah OTW ke Bandung!" ia menepuk jidatnya sendiri.


Skala diam saja.


"Skala, kamu sariawan?" tanya Aurel penasaran.


Skala bukanlah Aurel yang bisa menganggap situasi serius sebagai lelucon. Dia orang yang serius, apalagi untuk orang yang dia sayangi.


Daripada terjadi kecelakaan. Skala menepikan mobilnya dan meluapkan emosinya di dalam.


"Kamu bisa gak, sehari aja jangan bikin ulah?" Skala menyerongkan tubuhnya ke arah Aurel.


Aurel memundurkan wajahnya, "Jangan gitu, aku takut."


"Akhir bulan kita ke Bandung bareng."


"Lah lah?"


"Perintah majikan..."


"Astagfirullah."Aurel mengusap dadanya. "kan kamu yang punya urusan... kenapa aku ikut jug—" Aurel melihat ke depan dengan seksama sampai mengabaikan Skala yang mengikuti arah pandangannya.


"Itu kan, Shiren," ucap Aurel lirih. Ia melihat Shiren sedang duduk melamun di pinggir trotoar.


Skala yang mendengar langsung mengunci otomatis pintu mobil bersamaan dengan Aurel yang tidak bisa membuka pintu.


Aurel melempar tatapan sengit. Sedangkan Skala memeletkan lidahnya meledek.


Aurel meniru 'nyenyenye' tanpa suara, "Itu Shiren ngapain?"


"Duduk."


"Ck, ya tau duduk. Maksudnya kenapa?"


"Palingan gara-gara cowok," asal Skala.


"Setau aku, Shiren, itu cuek masalah cowok deh."


"Sok tau," ledek Skala.


"Aku mau keluar dong!" seru Aurel.


"Ngapain?"


"Nyamperin Shiren," jawabnya sambil menunjuk Shiren.


"Ke rumah aja, dia mungkin butuh waktu sendiri." Tiap Skala melihat Aurel dilukai Damar secara fisik, pria itu bertanya-tanya, apa kabar dengan mentalnya? Skala tak menjamin Aurel kuat karena dia tidak pernah bahas. Apalagi sebelumnya Aurel berani nekat bunuh diri menjatuhkan diri ke sungai.


"Rel, ayo berenang," ajak Skala tiba-tiba.


Wah, ni anak ngeledek bet sumpah.


Aurel menoleh cepat dan berbinar, "Iya, ayo! Kemarin-kemarin kamu gak ngebolehin."


"Tapi bohong," lanjut Skala membuat wajah Aurel pias. Ia menyalakan mesin mobil dan bergegas pulang. "gak ada yang jamin kamu bisa renang." Jelas itu.


"Gimana sih? Kamu bohong terus," ujar Aurel kesal. "aku mau sama Juli aja!"

__ADS_1


"Ya terserah."


***


__ADS_2