
"Hhh, lo harusnya jangan deket-deket sama Ransel."
"Namanya Hansel," tegur Aurel. "kamu jangan ubah nama orang seenaknya."
"Lo gak usah- "
"Ssst, Papa telepon aku." Aurel mengambil ponsel dari saku blazernya.
Faisal berkacak pinggang dengan cara Aurel mendiamkan dirinya. "Singkirin tangan lo," tepisnya karena telunjuk Aurel tepat di depan bibirnya.
"Ada apa, Pah?"
"Kamu nanti pulang sama Papa ya? Papa ada briefing sebentar sama guru-guru."
"Iya, aku bilang Faisal."
"Hm. Jangan belajar terlalu giat, kamu bisa ubanan."
"Gak ubanan juga, Papa."
"Nilai kamu udah baik di ujian minggu lalu. Jangan capek-capek."
"Iya, Papa."
"Om Skala bilang apa?" Faisal sudah menyerobot bertanya padahal Aurel baru selesai telepon.
"Aku pulang sama Papa. Kamu nanti pulang duluan ya," jawab Aurel.
"Tapi kita tetap jadi makan siang, kan?"
"Kamu takut gak jadi?" Sepertinya Faisal agak cemas mendengar ia dijemput sang ayah.
"Jelas. Mama sama Papa pasti udah siapin menu dari sekarang," sahut Faisal.
"Jadi kok."
"Inget perkataan gue. Jangan deket-deket Hans, bahaya. Dia itu buaya darat berkedok manusia," bisik Faisal.
Aurel tertawa renyah mendengarnya. "Aku udah biasa ketemu buaya jenis itu. Kamu gak perlu khawatir."
"Gue khawatir?" Faisal menunjuk Aurel dari atas sampai bawah. "makanya lo harus nurut."
Selama pelajaran berlangsung, tidak ada perubahan dari reaksi teman-teman jika guru menerangkan. Baik Aurel maupun Faisal sedikit khawatir kalau guru yang mengajar kelas atas depresi bicara dengan patung.
Aurel juga ingin buang air kecil karena menahan situasi tegang. "Pak, maaf, saya izin ke toilet."
Faisal berdiri. "Gue temenin, Rel."
"Udah gila kamu?" sahut Bu Jessi mendengar siswanya hendak mengantar siswi yang mau ke toilet.
Yang lainnya tersenyum menahan tawa, sedangkan Faisal kembali duduk di kursi.
Bu Jessi sempat takjub. "Apa ini? Kalian ketawa?" Rasanya dia yang gila melihat anak didiknya tersenyum saja. "kita lanjut materinya."
Aurel ke belakang kelas, untungnya tidak terlalu jauh karena bisa saja kelepasan jika toilet berada di ujung lorong.
Itulah mengapa Faisal dibilang gila oleh Bu Jessi. Sudah lihat toilet ada di belakang kelas, masa mau diantar.
__ADS_1
***
"Hati-hati, Faisal." Aurel menemani Faisal sampai tempat parkir untuk memastikan dia pulang walaupun tidak bersamanya.
"Hm. Jangan lupa 1 jam lagi," kata Faisal seraya naik motor dan pakai helm.
"Iya... " Aurel memegang tangan Faisal yang berada di stang kanan. "pastiin gak ada buncis atau lainnya ya." Ia memohon lagi dengan wajah menggemaskan.
Faisal membuka kaca helmnya. "Iya ... Gue tau. Lo aja yang kadang gak bisa bedain buncis sama cabai ijo," tukasnya.
Aurel tersenyum malu. "Sekarang udah bisa."
"Bagus ... Gue pulang, lo jangan keluyuran di Sekolah. Makin siang makin panas."
Tangan Aurel mengepal dan memukul lengan Faisal. "Ada Papa. Aku gak akan ke mana-mana."
"Oke-oke. Gue pulang, jangan lupa chat gue kalau ada apa-apa karena gak ada yang tau keadaan selanjutnya. Hm?"
"Iya... "
Aurel melambaikan tangan walaupun motor Faisal sudah cukup jauh keluar dari tempat parkir. Tidak lama dia pergi, mobil ayahnya sampai. Dengan senyum merekah, Aurel menyuruh ayahnya cepat keluar dengan isyarat tangan.
"Papa!"
"Aurel... " Skala memeluk putrinya yang baru pulang sekolah. "kamu belajar terlalu rajin lagi?" tanyanya.
"Aku kangen Papa, kenapa malah tanya pembelajaran." Aurel rasa pelukan ternyaman adalah dari ayahnya.
Skala menarik tubuhnya lalu berkata, "Papa harus masuk. Kamu tunggu di sini atau mau di mana? Biar Papa antar."
"Hans?" beo Skala baru dengar nama kawan anaknya.
Telinga dan otak Hans yang memang sudah sinkron kalau ada suara Aurel pun langsung menoleh pura-pura terkejut.
"Gue?" Hans memastikan ulang.
"Iya."
Skala menunggu teman Aurel menghampirinya. "Teman kamu?"
"Kita baru dekat hari ini, Pah." Aurel tersenyum begitu Hans datang di samping ayahnya. "Hans, kenalin ini Papa aku."
Hans tersenyum kikuk namun menyapa ayah Aurel. "Sore, Om. Saya Hans- " Tunggu, dia siapanya Aurel?
"Teman Aurel, kan?" Skala senang kalau Aurel mulai bersosialisasi dengan anak lain. "Aurel bilang ke saya, kamu teman barunya."
Hans hampir cegukan mendengar Aurel mengatakan dia teman barunya. "I- iya, Om."
"Tolong jaga Aurel sebentar. Saya ada briefing sekitar 20 menit sama guru-guru."
"Hm?" Otak Hans mendadak pindah ke lambung karena tidak bisa menjawab apa-apa saking kagetnya.
"Papa masuk ya, Aurel."
"Iya."
Usai Skala pergi, Aurel duduk di pembatas parkiran karena posisinya nyaman. Ada pohon rindang di atasnya, membuat cuaca petang makin sejuk.
__ADS_1
"Kamu kenapa berdiri?"
Hans menyeret tasnya walaupun kena tanah. Dia duduk di samping Aurel, agak jaga jarak.
"Lo bilang ke Bokap lo, kalau gue temen lo?"
"Terhitung mulai hari ini," jawab Aurel.
Hans melepas blazernya karena merasa gerah. "Bokap lo yang punya yayasan, kan?"
"Kenapa?"
"Hidup lo enak dong?"
"Gak terlalu."
"Kenapa? Anak lain pada iri karena Bokap lo orang terpandang."
"Mereka bilang begitu?" Aurel menoleh pelan. Sayang sekali kalau ada yang bilang seperti itu karena belum coba tinggal bersama.
"Gue salah ngomong ya?" Hans dengar suara Aurel berbeda, tidak seantusias tadi.
"Gapapa. Nanti kalau kamu bisa aku percaya, aku cerita."
"Faisal tau?"
"Apa yang dia gak tau," ujar Aurel menundukkan kepala lantas tersenyum tipis. "orang tua kita sahabat dari SMA sampai sekarang jadi tetangga dan kita dekat dari kecil. Apa yang dia gak tau?"
Rambut Aurel yang lurus sepinggang dengan jepitan berwarna putih dihias dua mutiara membuat penampilannya selalu menjadi bahan pembicaraan. Mungkin itu yang Hans maksud.
Orang lain ... Menganggapnya hidup sempurna.
Jika dikulik lebih dalam ... Justru Aurel akan merasa kecil di hadapan teman-temannya.
"Akhir semester ganjil kita mau rekreasi? Ada yang mau kamu kunjungi?" tanya Aurel. "aku tau dari Papa."
"Kenapa lo minta saran gue? Emang kalau gue minta ke Bali, kita bakal ke sana?" Hans tidak tahu pola pikir apa yang Aurel punya.
"Aku kasih kamu kesempatan," kata Aurel. "nanti aku usul ke Papa. Ini hadiah karena kita berteman."
Hans menggeleng takjub. "Beneran ya lo."
"Iya ... Kamu mau ke Bali?"
"No." Kini Hans berpikir tujuan yang ingin dia kunjungi. "Belakang sekolah kita ada lahan kosong."
"Kamu mau liburan ke sana?"
"Hadiahnya selain boleh request jalan-jalan, ada yang lain gak?" Hans sepertinya ingin hal selain traveling.
"Apa?"
"Gue butuh lo," ungkap Hans.
"Hm?" Aurel kurang mengerti maksud 'butuh' yang dibilang Hans.
"Semangatin gue supaya ada kemauan hidup lebih lama."
__ADS_1