SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Kesedihan


__ADS_3

Tidak nampak kebisingan mereka seperti biasanya. Aurel tidak tahu bagaimana kabar kawan-kawannya sebab tidak dibolehkan keluar selama 24 jam. Ia dirawat di rumah sendiri seperti pasien, Alatas jadi dokter, dan Bara jadi perawat pribadi.


Pukul 2 dini hari Aurel terbangun untuk minum. Ia menenteng wadah infus sambil berjalan ke bawah di kegelapan karena lampu dimatikan.


"Mau kemana?" tanya Bara dari belakang.


"Mau ambil minum," jawab Aurel setengah terkejut.


Mendahului langkah Aurel, Bara mengambil teko dan satu gelas untuk dibawa ke kamar adiknya.


"Naik lagi," suruh Bara.


Mereka duduk di tempat yang berbeda di satu ruangan. "Sehat?"


"Sehat," jawab Aurel.


"Walaupun kemungkinan mereka selamat, sedikit. Kita harus positive thinking." Ia membiarkan Aurel minum dulu.


"Aku ngerasa bersalah banget. Shiren gimana? Kamu tau keadaannya?"


"Dia baik-baik aja. Sekarang ada di rumah Nabila."


"Yuan?"


"Yuan kenapa?" Bara tidak sengaja melotot mendengar Aurel bertanya Yuan.


"Eh— gak deng." Malu deh.


"Kamu tau alasan Juli pindah, Rel?"


"Juli bilang, ada yang mau dia pelajari disana. Kenapa?"


"Cuma bilang gitu?"


"Hem." Tidak tahu lagi, Aurel rasa hatinya sudah mati karena menuruti mereka diam di rumah.


"Banyak orang terinspirasi dari kamu. Salah satunya Juli. Mungkin semenjak pindah, dia lebih banyak introspeksi."


"Gak tau lagi, Kak. Aku cuma bisa nunggu kabar baik atau buruknya. Disisi lain aku gak bisa nyalahin siapa-siapa."


"Dia sering nanya kabar kamu lewat Kakak."


"Sering?"


"Iya. Jujur, sekarang Kakak lebih suka kepribadian Juli daripada Skala."


Aurel mengalihkan topik, "Aku mau tidur lagi. Bye, Kak."


Bara mendesah pelan lalu membawa teko dan gelas keluar kamar, tak lupa menutup pintu.


Baru esok harinya, Aurel meminta Bintang menjemputnya pukul 8 pagi ke lokasi kemarin.


"Tang, aku harap Rumi gak serius bilang gitu."


"Dia serius," ujar Bintang tanpa menoleh karena fokus menyetir.


"Jadi, Juli—"

__ADS_1


"Dia suka sama lo, udah dari lama. Pas kalian sama-sama di air, dia ngaku mau nolong lo tapi keburu ditolong Skala."


"Berarti udah lama dong?" Ia bahkan tidak merasa Juli menyukainya karena Dia memperlakukannya sama seperti yang lain.


Bintang mengangguk, "Gue tau lo cuma suka Skala. Tapi dia kekeh mau dapetin lo, makanya gue suruh minggat aja tuh anak."


"Bintang, kamu gak seharusnya begitu."


"Iya ini gue juga nyesel."


"Kita berdua salah, Tang. Gimana keadaan Juli sekarang aja kita gak tau."


Bintang tersenyum miris, "Dia pasti selamat."


Setelah sampai lokasi, Aurel bertanya pada petugas yang berpencar mencari Juli dan Rumi di sekitar sungai. Namun mereka bilang belum menemukan apa-apa. Bahkan, Aurel sempat marah karena petugas bilang hanya melakukan pencarian selama 3 hari karena arus deras.


"Pak, sahabat saya kebawa arus. Bapak bisa kan tutup pintu air supaya air gak makin tinggi. Dia sahabat saya loh, Pak. Satunya lagi orang yang udah berbuat kriminal."


"Mohon maaf. Kondisi arus memang disebabkan hujan berkapasitas tinggi. Pencarian akan tetap dikerahkan sampai besok malam. Kalau tidak—"


"Kalau gak mereka dinyatakan hilang, gitu?" Aurel hendak maju, untung Bintang menahannya dan membawa ke atas jembatan.


"Lo ikutin aja prosedur mereka, Rel. Mereka tau mana yang terbaik."


"Tapi Juli pasti selamat kan, Tang?" isaknya.


"Pasti." Ia menepuk kedua bahu Aurel. "Kita tunggu info selanjutnya. Oke?" Ia merogoh kunci mobil di saku celananya. "Gue anter pulang ya."


Baru beberapa meter mobil jalan, ponsel Bintang menyala mendapat pesan dari Nabila. Bintang meraba ponselnya, justru jatuh ke bawah kaki. Ia berusaha mencapainya namun harus melihat jalan juga.


"Biar aku aja," ujar Aurel membungkuk mengambil ponsel Bintang.


"Bangsal?" gumam Aurel terdengar Bintang.


"Kenapa, Rel?"


"Yuan ada di bangsal? Bangsal Rumah Sakit maksudnya?"


Bintang mengambil ponselnya dari tangan Aurel dan diam saja. Ia melihat sahabatnya sedang memijat dahi, mungkin pusing dengan masalah ini.


"Aku gak tau apa-apa, Tang?"


Bintang tidak memberi penjelasan sedikitpun.


"AYAH! BARA!" Aurel teriak setelah mengucap salam begitu masuk rumah.


Bara yang keluar dari kamarnya, "Jangan teriak-teriak. Berisik."


"Ayah mana, Bar?" Aurel menghampiri kamar Bara yang dibawah tangga.


"Ayah kerja lah," ceplos Bara. "Eh, maksudnya ada urusan sama Ibu tadi keluar bareng."


"Bukannya Ayah lagi cuti ya?" selidik Aurel. "Kamu tau sesuatu kan?" tunjuk Aurel tepat di wajah Bara.


Bara kembali mundur ke kamar. "Aku gak tau, Rel. Ayah bilang mau kerja, udah gitu doang."


Lelah memikirkan masalah tak kunjung selesai. Kepala Aurel rasanya seperti dihantam besi sampai terasa sakit dan sesak nafas.

__ADS_1


"Aurel," panggil Bara sangat pelan. Ia duduk di lantai setelah Aurel merosot memegangi sisi ranjangnya. "Aurel? Kamu punya asma?"


Aurel menggeleng. Bara membuka hordeng dan jendela agar Aurel tidak makin pengap. Ia meletakkan tangan Aurel di lehernya dan mengangkat adiknya ke kasur.


Bara mengobrak-abrik kotak P3K di kamarnya dan menemukan inhaeler yang masih terbungkus rapih. Ia segera membuka wadah dan menuntun Aurel cara menggunakan alatnya dengan tepat.


"Syukurlah." Bara sampai lemas sendiri melihat adiknya seperti sekarat karena kekurangan oksigen.


Aurel memejamkan mata saking lelahnya dengan tangan digenggam Bara cukup kuat.


Tangan kiri Bara digunakan untuk menelepon Alatas.


"Ayah..."


"Kamu kenapa, Bar? Kok ngos-ngosan gitu? Ada apa?" Alatas terdengar khawatir karena tidak biasanya Bara menelepon seperti sangat lelah. Ia makin cemas ketika Bara terisak. "Jangan nakut-nakutin Ayah, Bara! Ada apa, heh?!"


"Anemianya Aurel tambah parah, Yah. Apa gak sebaiknya kita transfusi darah buat Dia."


"Se-parah apa, Bar?"


"Aurel sesak nafas. Aku kira gejala asma."


"Tapi kamu bisa ngatasin kan?"


"Aku tuntun pakai inhaeler. Aurel udah tidur."


"Jaga adik kamu, Bar. Ayah gak bisa kesana, kondisi Yuan menurun drastis."


Bara menghela nafas lelah. "Aku paham. Ayah, kita kasih tau Aurel aja soal kondisi Yuan. Kasian dia ngerasa bersalah sama semua orang."


"Terserah kamu. Ayah setuju aja. Nanti Ayah cari pendonor darah buat Aurel kalo kondisinya memungkinkan."


"Iya."


Bara juga tertekan karena kondisi Aurel dan pekerjaannya. Namun ia tidak bisa apa-apa selain melakukan dua hal sekaligus atau akan kehilangan salah satu. Untungnya, ia izin 3 hari tidak mengajar di Kampus. Jadi, ia lebih fokus pada masalah Aurel.


...***...


Nabila menatap nanar Yuan sejak tadi sampai tidak sadar Bintang sudah ada disebelahnya.


"Gimana kondisinya?"


"Kata Dokter, makin gak stabil."


Helaan nafas keluar begitu saja dari mulut mereka. Nabila duduk dan sewot sendiri, "Kenapa sih kita tuh selalu diuji begini? Gue rada capek sebenernya. Tiap kita semua mau bahagia bareng, pasti ada aja cobaan."


Bintang bersandar di dinding, "Gak semua persahabatan bersatu karena mereka paling bahagia, Bil. Justru karena kejadian ini, kita makin kompak buat support satu sama lain."


Nabila menoleh, "Tumben lo cerdas."


Beberapa perawat keluar dengan wajah lega. "Akhirnya detak jantung pasien normal kembali."


Bintang dan Nabila yang sekilas dengar pun saling pandang lalu jingkrak-jingkrak.


"Gue seneng banget, Tang!!"


Bintang memeluk Nabila, "Baguslah, Yuan stabil."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2