
Dahi Hans berlipat. "Selama ini gue emang gak berbuat baik?" tanyanya atas pernyataan Aurel barusan.
"Kamu orang baik," puji Aurel.
Hans tersipu malu sampai memalingkan wajah.
"Kamu gapapa?" Aurel rasa ada yang tidak benar dengan ekspresi Hans.
Hans juga langsung kembali ke ekspresi semula. "Gue gapapa. Jadi bertiga makan siangnya? Oke, gue mau."
"Gue yang gak mau," tukas Faisal datang dari arah lain. Kenapa bisa makan bertiga, kalau berdua saja cukup? Batinnya. Kalau selain Hans, dia mungkin masih terima.
"Lo jelasin, Rel. Yang penting lo udah izinin gue makan bareng kalian," pungkasnya sambil meledek Faisal dengan memeletkan lidah.
"Gue sambit juga lo!" ancam Faisal hendak melepas sepatu, namun Hans sudah kabur. Kini giliran dia yang bertanya pada Aurel. "Lo ngapain senyum begitu? Lo terpesona sama cowok playboy kayak Hans?"
Aurel mengelak, "Aku senyum karena kalian lucu. Kalau kemarin-kemarin berantemnya sekadar bercanda, aku gak akan pusing."
"Lo mau gue sama Hans damai?" tanya Faisal.
"Terserah kamu." Aurel tidak suka memaksa orang lain.
Faisal tersenyum, tidak mungkin Aurel menyuruhnya damai dengan Hans keturunan Belanda dan Indonesia itu. Ketampanannya masih berada di atas Hans karena lahir dari orang tua yang rupawan.
"Gue gak akan damai, kecuali lo yang suruh." Faisal merangkul bahu Aurel. "Orang tua lo dulu kayak kita, Rel."
"Oh ya?" Aurel ragu karena Skala juga tidak menceritakan kisah cinta dengan ibunya. Walaupun begitu, mendengar Skala berkata bahwa mereka saling cinta dan mengerti membuat Aurel paham. Kalau dibahas kembali, Skala terlihat sedih hingga Aurel tidak bisa bertanya lagi esok sampai kapan pun.
"Kata Bokap gue," ujar Faisal memberitahu. "kalau ada yang mau lo tanya, tanya sama orang tua gue. Mereka saksinya."
Aurel tertawa ringan. "Aku pasti tanya." Ia menyikut perut Faisal agar tidak merangkulnya di lingkungan sekolah. "jangan sakitin banyak perempuan yang suka kamu di sini," tegurnya hati-hati.
Faisal menurunkan tangannya lalu tersenyum menoleh ke samping Aurel. "Kita kan sahabatan dari kecil, mereka gak lupa."
Aurel tahu. Namun bukankah lebih baik agar tidak menonjol di antara hubungan yang ada? Ia lebih suka tidak banyak interaksi karena akan menimbulkan kesalah pahaman bagi siswi yang menggilai Faisal.
"Iya, gak akan begitu." Faisal tidak tahu terlalu menuruti Aurel karen apa. Kalau Aurel sudah tidak nyaman, dia jadi takut dimusuhi. Terbukti setelah mengatakan itu, Aurel tersenyum padanya.
Usai masuk kelas, tidak lama guru masuk memulai pelajaran. Kelas yang ditempati mereka cukup tenang dibanding kelas Hans jika sedang *** karena saling kejar nilai.
Jadi, semacam orang serius. Kelas 12-MIPA 1 tidak pernah ada sejarah nilai di bawah 8,9. Itulah mengapa persaingan begitu ketat, membuat beberapa termasuk Aurel jadi cepat stres dan seperti PMS menjelang ujian.
"Pelajaran saya akan ada penggabungan dengan kelas 12-MIPA 6. Dibantu kalau nanti satu kelompok, jangan dicuekin!" ujar Pak Tiyo memperingati kelas ini. Mereka sangat tenang sampai tidak bisa membedakan mana yang paham dan tidak. "Ada pertanyaan?"
"Kenapa kita harus penggabungan kelas? Memangnya satu kelompok dari kelas ini kurang?" tanya Keira, ketua kelas mereka yang cukup galak.
"Begini, Bapak kasian masukin nilai mereka seperti gak ada harapan untuk lulus. Jadi, itu maksud Bapak menggabungkan kelas kalau ada kerja kelompok." Apabila memasukkan nilai di bawah KKM itu sangat menyakitkan. Kelas MIPA 6 sangat berisik, pemilih, dan sulit diatur kecuali oleh guru perempuan.
Aurel memberi saran juga. "Saya gak keberatan kalau memang niat Bapak membantu mereka."
Faisal mengusap wajah sebab terkejut. Kalau Aurel sudah berpendapat, mereka tidak berani mengekang. Kenapa dia mendadak ingin membantu kelas onar? Atau jangan-jangan karena Hans? Pikiran Faisal mulai ngaco.
__ADS_1
"Hm ... Kamu memang suka membantu, mau anak anak berandal*n pun saya sudah tau kamu mau. Tenang aja, selama mereka satu kelompok dengan kalian. Mereka akan ikut mengerjakan. Kalau ada yang gak mengerjakan, lapor ke Bapak. Oke?"
Pak Tiyo mengambil ponsel dan laptopnya. "Sampai sini dulu materi hari ini. Jangan lupa dibaca lagi materinya di rumah."
Faisal terkekeh. "Tanpa diajarin juga kita udah paham. Gak tau aja Pak Tiyo kerjaan kelas kita kalau ngumpul gak ada tanpa belajar."
"Setidaknya hormati guru kita, lebih bagus diterangkan lagi supaya tambah paham."
"Yayaya... " Faisal menjawab malas-malasan. "ayo makan."
Ada yang aneh sejak tahun lalu, Aurel selalu merasa cemas begitu bel istirahat berbunyi. Ia seperti akan dihakimi banyak orang. Entah apa alasannya, Aurel juga tidak tahu.
"Malah bengong." Faisal menarik ujung lengan blazer yang dipakai Aurel. "ayo... "
Aurel mengikuti Faisal dari samping, untuk saat ini mereka ingin sekali bisa berbaur dengan kawan lainnya. Tapi tidak tahu mereka yang pembahasannya terlalu khusus atau teman-teman yang tidak nyambung diajak bicara. Kalau berkerumun, baik Aurel atau Faisal merasa tidak nyaman.
Faisal berhenti karena ada dua siswi yang menghadang menggunakan kotak hadiah berwarna merah muda dan pita yang diikat di atasnya.
"Kak Faisal, kan?" tanya salah satunya yang memegang hadiah.
Faisal menatap mereka bergantian. "Iya," singkatnya.
"Sama Kak Aurel?" tanya sebelahnya memegang hadiah pula.
Aurel tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menatap mereka yang terlihat sudah tahu bahwa jika ada Faisal maka di sampingnya adalah Aurel, bukan siapa pun.
"Ada apa?" tanya Aurel.
Aurel menerimanya dengan tangan terbuka. "Makasih ya." Merasa Faisal terlalu lama diam, ia mengambil hadiah untuk Faisal dari adik kelas. "Makasih juga, Faisal pasti senang kok."
Mereka menjerit gembira. "Kak Faisal cuma deket sama Kak Aurel?"
Faisal tidak suka pertanyaan seperti ini karena berulang kali ditanyakan. "Kita mau makan, tanya lain kali." Dia menarik lengan baju Aurel seperti tadi.
Ahh, perempuan-perempuan di sini sangat menyebalkan karena bertanya ini-itu. Sudah tahu Faisal hanya jalan di samping Aurel, kenapa ditanyakan lagi.
Begitu mereka sampai di Kantin, Hans sudah melambaikan tangan di salah satu meja di mana dua kursi sisanya kosong. Aurel kini yang menarik Faisal agar mengikutinya.
"Gue mencium bau-bau ******," cetusnya saat melihat Hans tersenyum lebar menyambut Aurel.
Mana mungkin Hans menyapa Faisal. Sapaan mereka bukan pertanda "Kita berteman" melainkan "Ayo bertengkar".
Aurel duduk dan tidak menyangka makan siang mereka sudah diambilkan oleh Hans. "Makasih, Hans."
"No problem," jawab Hans.
Sedangkan Faisal melirik menu hari ini yang memang sudah ada jadwal. Dalam hati dia kasihan sekali melihat Aurel antara takjub dan bingung. "Dia pasti bingung karena ada tumis buncis," batinnya.
"Ayo makan," kata Hans seraya mengambil sendok dan garpu di samping nampan piring.
Faisal mengambil tumis buncis milik Aurel lalu dipindahkan ke piringnya. "Lo kalau mau makan sama Aurel harus tau apa yang dia suka dan apa yang gak dia suka. Dia bingung mau makan atau gak, tadi."
__ADS_1
Hans lanjut makan nasi dan potongan daging semur berbentuk persegi kecil. "Lo gak suka buncis?" tanyanya pada Aurel.
Faisal menggerutu dalam hati. Sudah diberitahu baik-baik malah tidak dijawab. Memang pada dasarnya mereka musuh, jika Aurel tidak ada.
"Iya. Jenis buncis, kacang panjang, aku gak bisa makan." Aurel tersenyum, ia harap Hans tidak terluka dengan ucapannya.
Hans manggut-manggut dengan mulut terus mengunyah. "Ohh, gitu. Selain buncis dan kawan-kawan, apalagi yang lo gak suka?"
"Lo mencurigakan," desis Faisal.
Ketika mereka melihat Faisal, dengan santainya dia baru makan.
"Lo nyuruh gue cari tau apa yang dia suka sama yang dia gak suka. Tapi lo nuduh gue mencurigakan," ujar Hans merasa serba salah. Lupakan saja kalau Aurel tidak menjawab karena terpengaruh ucapan Faisal. Dia ingin tahu karena ingin berteman dengan Aurel saja, bukan dengan Faisal.
Faisal menelan makanan terlebih dahulu sebelum jawab. "Lo ... Pasti coba-coba deketin Aurel, kan?"
Aurel mengangkat kedua alisnya melihat Hans menelan saliva.
"Keliatan begitu emang?" tanya Hans.
Aurel tertawa pelan. Ada apa sebenarnya mereka ini?. "Dihabisin dulu makanannya."
Faisal tersenyum mengiyakan ucapan Aurel. Tidak dengan Hans yang bergidik melihat mereka seperti sedang kasmaran namun tidak. Sepertinya memang benar kalau mereka hanya sahabat, batin Hans.
Selesai makan, Hans yang melihat Aurel berdiri membawa nampan piring langsung sigap membantunya. "Sini gue yang taruh di belakang."
Faisal mengelap bibirnya dengan tisu. "Sekalian punya gue kalau gitu," celetuknya sambil berdiri dan membawa Aurel pergi.
Hans berlari menaruh nampan piring mereka di belakang dapur kantin. Lalu dia mengejar Aurel dan Faisal karena pasti belum jauh.
"Aurel! Bentar! Tunggu gue!"
Mendengar Hans berteriak di lorong, membuat Aurel tidak nyaman menjadi pusat perhatian setelah jalan bersama Faisal. "Sebentar, Faisal."
Faisal tetap menggandeng Aurel walaupun terjadi apa pun. Itu bahkan sudah jadi motto-nya berteman dengan Aurel.
Hans tersenyum melihat mereka berhenti. "Ahh, gue kira lo gak akan berhenti."
"Kenapa?" sulut Faisal lebih dulu.
"Besok kita makan bertiga lagi ya?"
Aurel tahu itu ajakan. "Iya."
"Iya?!" beo Faisal tidak terima Aurel setuju. Helaan napas panjang darinya tidak akan berpengaruh untuk Aurel, untuk besok dia mengalah? Oh, yang benar saja.
"Aku mau kalian jadi teman. Kayak aku sama kamu," ungkap Aurel.
Hans tidak setuju kalau niat Aurel demikian. Tapi ini menjadi celah untuknya masuk dan mengetahui Aurel lebih banyak. Gadis ini ... Sangat menarik hanya dengan senyum dan bicara. Itukah alasan Faisal tidak mau mendekati gadis cantik lain di sekolah ini.
Faisal menjawab, "Lo bahkan lebih gentle dibanding Hans."
__ADS_1