SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Yuan, ngapain?


__ADS_3

Hukuman yang seharusnya ia terima 2 tahun, namun mendapat keringanan dari Jaksa karena pengajuan banding oleh Pengacaranya yang tak lain kawan Skala.


Skala hampir bosan setiap hari mendengar Aurel bilang, Aku kangen Bapak. Jadi menurutnya, membantu Damar sidang dua kali tidak masalah.


Tapi kendalanya ada pada Bara yang tidak menerima kehadiran Damar di rumahnya.


"Bapak disini sampai dapat kontrakan, Bara. Jangan julid gitu," ujar Aurel merayu Bara agar pria itu tidak dingin terhadap Damar.


Bara memakai snelli-nya buru-buru. "Kamu jangan berani nyakitin Ayah."


Aurel yang tadinya duduk jadi berdiri, "Kok gitu sih? Aku kan bantu Bapak."


"Aku udah telat 10 menit," ujarnya sambil menenteng tas menuju Klinik.


"Bara! Ih, malah ditinggal."


Ya sudah. Nanti lagi saja merayunya. Sulit memang, apalagi Ibu juga kurang setuju kalau Damar disini sementara waktu.


Ia melihat ponsel Bara tergeletak di meja. Jelas kesempatan ikut Bara ada peluangnya.


"Bara! HP kamu ketinggalan!" teriak Aurel dari depan pintu rumah.


Bara urung membuka pintu mobil dan menghampiri Aurel. "Makasih." Lantas ia merebut ponselnya.


"Aku mau ikut kamu ke Klinik ya?"


"Ada Wulan. Aku jaga perasaan dia."


"Apa hubungannya sama aku?"


Bara menghela nafas, "Aku selalu prioritasin kamu."


Adik tirinya memang selalu naif. Kalau bukan Bara yang mengubah spekulasinya dengan orang lain, lantas siapa lagi?


"Anggep aku gak ada."


"Ya gak usah ikut lah."


"Aku di Ruangan Ayah, kamu sama Wulan."


Aurel yang menghela nafas karena Bara hanya memandang tanpa menjawab negosiasinya. "Yaudah aku gak ikut."


"Udah sore, mendingan kamu mandi dulu. Baru ke Klinik."


"Yeay! Makasih, Bara." Aurel balik badan masuk kamar lagi.


Bara geleng-geleng kepala, "Ada-ada aja." Dia pun pergi ke Kliniknya dengan tenang tanpa memikirkan Aurel akan nangis jika ditinggal olehnya.


"Aurel. Rumah kok sepi sih?" tanya Alya datang ke kamar anaknya selang 30 menit suasana rumah sepi.


Aurel mengangkat bahunya, "Bapak lagi nyari kontrakan sama Bintang. Bara barusan berangkat. Ayah bukannya di rumah?"


"Iya, di Kamar. Tapi rumah sepi, biasanya kalo kalian pulang rumah jadi rame."


"Berisik karena aku sama Bara berantem kan, Bu?"

__ADS_1


Alya tertawa, "Iya. Ibu gak pernah bosen denger kalian berantem."


"Pantesan Ibu sama Ayah gak pernah ngelerai kita."


"Kamu mau kemana rapih gitu?"


"Mau ke Klinik," ucapnya semangat.


"Sakit, nggak. Tapi suka bolak-balik ke Klinik. Aneh kamu, Rel." Alya heran saja apa yang menarik dari Klinik. Disana hanya ada petugas kesehatan, pasien, obat-obatan.


"Aku suka gangguin Bara, Bu."


"Oh pantesan." Alya tertawa cukup lama. "Ada udang dibalik batu."


"Ayah gak tersinggung kan, Bu?"


"Kenapa?"


"Kasih pengertian ke Ayah ya, Bu. Bapak gak akan lama kok disini. Cuma sampai dapat kontrakan, abis itu ya Bapak tinggal sendiri gak sama kita."


Alya paham. "Ayah ngerti kok."


"Gak, Bu. Ayah belum ngerti. Buktinya Ayah ngejauhin Aku seharian ini."


"Hus! Kata siapa kamu?"


"Kata Aku. Aku berangkat dulu, Bu." Aurel menyalami Alya dan keluar kamar. Tanpa ia ketahui, Alatas sejak tadi berdiri di samping pintu mendengarkan pembicaraan mereka.


Aurel memang istimewa. Dia bahkan tahu apa yang dirasakan Alatas saat ini. Tapi mau gimana lagi? Membantu Ayah kandungnya tidak salah, bukan?


Aurel sampai di Klinik lalu menuju ruang kerja Ayahnya. Ya iyalah, kan orangnya di rumah. Tapi sebelum membuka pintu, ia sempat melihat seseorang yang dikenalinya.


"Yuan, ngapain?" gumamnya sendiri memperhatikan Yuan sedang bicara dengan Bara di depan ruang pemeriksaan Poli Umum.


Daripada merangkai kesimpulan, lagipula ia penasaran. Aurel mendekati mereka, "Kakak!"


Yuan yang hendak bicara langsung mengatupkan bibirnya karena tiba-tiba Aurel muncul.


"Iya, kenapa?" tanya Bara santai.


"Kak Wulan masih ada?"


"Udah pulang."


Gantian Aurel bertanya pada Yuan, "Kamu ngapain?"


"Mau ngajak lo mejeng," cetusnya.


"Aku maunya disini. Gak mau kemana-mana."


"Iya gue tau. Ini mau ngajak lo ke belakang yang ada tamannya."


Bara menatap kepergian mereka. Ada rasa kasihan terselip pada Yuan. Ia membayangkan kalau Aurel mengetahuinya, dia pasti terpukul.


"Lo suka banget sama Skala, Rel?" tanya Yuan setelah duduk di bangku.

__ADS_1


Aurel turut duduk disampingnya, "Lebih suka Bintang."


"Alasannya?"


"Ya karena Bintang lebih kenal aku dibanding Skala. Dia itu, paling peka kalo sahabatnya ada masalah dan paling duluan ngebantu." Contohnya sekarang Bintang membantu Damar. "Dia murah hati walaupun punya masalah sendiri."


Dibanding Skala yang suka memutuskan sepihak dan lagak sok punya segalanya. Lebih unggul Bintang, menurutnya.


"Tapi Skala juga baik disamping suka bohong," ujarnya lagi. "Semua yang aku kenal baik, salah satunya kamu. Kecuali Leya sama Kakaknya ya!"


Yuan tertawa kecil. "Misalkan salah satu dari mereka kena penyakit terus umurnya gak lama lagi. Gimana?"


Aurel tidak tahu kalau Yuan berpikir kesana. "Aku bukan Tuhan yang bisa cabut penyakit." Dia ingat bagaimana Skala mengembalikan ingatannya. "Aku belajar dari Skala. Aku bakal ngerawat dia terus bikin dia bahagia sampai dia sembuh."


Yuan tersenyum melihat Aurel tersenyum.


"Serius?"


Tentu Aurel serius.


"Kamu cari obrolan yang gak asik," ujar Aurel. "Ganti topik ah. Aku gak mau bayangin yang buruk-buruk."


"Iya, iya."


Aurel menarik tangan Yuan.


"Lo sayang Skala, kan?"


Aurel menoleh melihat Yuan tersenyum. "Jangan tanya yang aneh lagi."


Yuan beranjak, "Iya. Sensi amat. Tapi gue baru 'ngeh' kalo Bintang sama Nabila langgeng lho." Dia bahagia hanya karena Aurel menggandengnya.


"Baguslah."


"Lo gak mau nyusul mereka?"


"Sama siapa?"


"Sama gue juga bisa."


Aurel melirik Yuan, "Udah bisa ngerayu cewek ya kamu." Dia mencubit pelan lengan Yuan. "Kamu coba deketin Fina. Dia penyabar."


"Maksud lo, gue blangsak makanya disuruh cari yang sabar buat ngadepin gue. Kejem lo ama gue."


Aurel bertanya, "Emangnya... diantara kita ada yang punya penyakit?"


Yuan tahu kalau Aurel tidak mudah melupakan pembahasan penting.


"Mungkin ada."


"Siapa kira-kira?"


"Cari tau sendiri."


Hhh. Memang dasarnya Yuan itu suka melihat Aurel penasaran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2