
Sesuai janjinya, Skala mengajak Aurel jalan-jalan sampai jam sepuluh malam. Lumayan kan dua jam bisa keluar menikmati udara malam di kota, apalagi dengan orang yang kita suka.
Yang jomblo diem aja udah, GAUSAH IRI
"Kita mau beli makan dimana?"
"Dimana ya?" Skala juga daritadi cari-cari warung makan karena masakan orang awam lebih enak daripada di restoran siap saji.
"Aku mau request, boleh gak?"
"Apa?"
"Nasi goreng seafood, mie ayam jamur, sama batagor." serunya cepat.
"Tiga-tiganya mau dimakan semua?"
Aurel mengangguk, "Iya. Katanya boleh request."
"Iya juga." Ingin sekali Skala membenturkan kepalanya sendiri ke dinding karena kemakan ucapan sendiri. "mau dimana makannya?"
Aurel berpikir sejenak.
"Kamu jadi ke toko buku?"
"Nggak. Tadi udah pesen online."
Tidak akan cukup juga waktu mereka sampai jam sepuluh malam karena dua jam itu singkat.
"Kita ke tempat yang kamu lukis di dinding aja," kata Aurel. Awalnya Skala terkejut, namun nurut saja karena mungkin Aurel ingin mengenangnya.
*
Mobilnya menepi dan mereka membuka pintu mobil supaya tidak pengap. Jalan disini masih ramai lancar karena banyak orang yang selesai bekerja malam. Aurel menghirup cukup banyak udara disekitarnya, "Masih sama..."
Skala melepas sabuk pengaman dan membuka makanan yang tadi mereka beli di pinggir jalan sebelum ke jembatan. Skala tidak habis pikir dengan porsi makan Aurel. Badannya ramping, tapi makan porsi kuli, anehnya lagi tidak melar-melar tuh. Apa dia tekanan batin? Itulah pertanyaan Skala.
Ia hanya beli nasi goreng seafood, tapi Aurel beli tiga menu berbeda yang kalorinya bukan kaleng-kaleng, apalagi dimakan malam hari.
"Wahh... enak nih." Aurel membuka bungkus nasi goreng dan ditaruh diatas pahanya.
Mereka mulai memakan nasi goreng masing-masing.
"Skala, pas kamu nolong aku, kamu itu dimana sih?"
"Di seberang jalan ke arah utara."
"Berarti kamu nyebrang?"
"Ya iya... sampe diklakson mobil juga karna nyebrangnya lari."
Aurel tidak heran. Zaman sekarang tipis sekali kepedulian orang. Orang bunuh diri, bukannya ditolong justru direkam. Ya bagaimana tidak tambah banyak korbannya?
"Diantara puluhan orang yang lalu lalang, kok bisa ya aku ketemu aku?"
"Namanya juga takdir," jawab Skala apa adanya. "ini nasi gorengnya enak. Kapan-kapan kita beli lagi disana."
Lebih baik beli yang 15 ribu tapi rasa 50 ribu ternyata, lebih enak dan lebih irit.
Omong-omong soal nasi goreng, Aurel jadi ingat percakapan Skala di telepon sampai kesal sendiri. Ada baiknya dia bertanya kali ya.
"Skala."
"Ya?"
"Kamu mau pulang?"
"Ya mau lah, masa nginep disini."
"Maksudnya pulang ke Bandung, rumah kamu yang disana."
Raut wajah Skala jelas berubah total. "Nggak. Aku tetep disini, jagain kamu."
Aurel tersenyum sambil menaruh bungkus nasi goreng tadi kedalam plastik untuk dibuang. "Kamu pulang aja kalo emang ada hal penting."
"Gak ada yang lebih penting selain disini," jawabnya acuh.
"Ibu juga udah ngontrak sendiri, jadi kalo kamu pulang, aku juga pulang."
"Jadi kalo aku gak pulang, kamu tetep di rumah gitu?"
Aurel memukul lengannya, "Ya gak juga."
Skala tertawa kecil, "Tadi katanya gitu."
"Aku serius nih. Gapapa kalo emang mau pulang. Kan ada Juli, Ghaisan, Fina, Shiren, Bintang, sama Nabila," ujar Aurel membanggkan para sahabatnya. "ada mereka, aku gapapa."
Skala menoleh, "Kalo aku kesana, aku gak akan kesini lagi."
__ADS_1
"Kok gitu?"
"Ya gak bisa." Skala minum air mineral
"Ya gapapa kalo belum bisa kesini, kita kan punya nomor masing-masing, bisa kontak-kontakan."
"Jangan bahas ini lagi, intinya aku tetep disini, jagain kamu."
"Aku bisa jaga diri," kata Aurel. Kalau begini ia merasa kecil sekali mentang-mentang pernah bunuh diri.
"Kamu kan kelewatan polosnya. Kalo dibodohin orang juga percayan."
Mulut Aurel menye-menye kesal. "Aku pinter."
"Iyain." Skala memakai kembali sabuk pengamannya, "tutup pintunya, kita langsung ke kantor."
Aurel menahan, "Mie ayam sama batagornya?"
"Makan di jalan."
Untungnya Skala tahu kalau Aurel paling tidak suka mubazir makanan. Sementara menunggu sampai kantor, Skala berpikir keras tentang rencana kepulangannya ke Bandung.
Gimana caranya supaya tidak jadi?
Gitu maksudnya.
Apa dia harus cari calon Wakil Kepala Cabang supaya bisa handle perusahaan Bina Atlas? Tidak, tidak. Zaman sekarang sulit mencari yang jujur daripada yang independen. Tidak semua yang independen bisa jujur dan amanah sedangkan perusahaannya butuh yang seperti itu.
Sebenarnya sulit juga jadi Direktur Utama karena banyak tugas yang membuat kewalahan.
Apa dia bawa kabur saja si Aurel?
Tidak mungkin. Gila saja bawa dia ke Bandung, bukannya membantu justru menambah beban orang-orang. Disangka tidak waras juga nanti dia karena saking cintanya sama Aurel sampai bawa kabur orangnya.
"Kok hujan?" Aurel bingung sendiri saat rintik hujan terlihat dari kaca mobil. "kecilin AC-nya, Skala."
Skala langsung mengecilkan AC mobil. Untung saja ada payung besar disana, jadi tidak repot mampir ke toko untuk beli payung lagi.
"Kayaknya ada yang nangis deh," ujar Aurel tanpa menoleh.
"Siapa?"
"Ya pasti ada diantara semua orang. Dia nangis, makanya hujan. Kata Ibu, bisa aja hujan itu pertanda alam ikut nangis liat dia nangis."
"Ada-ada aja."
"Hm?"
"Iya, aku nangis. Terus gak lama turun hujan juga."
"Kebetulan aja."
"Hmm, gak tau juga sih."
Sampai di kantor, Skala membuka payungnya baru keluar dan memutari mobilnya untuk ambil tas di bagasi. Setelah itu ia membukakan pintu untuk Aurel, mereka berpayungan bersama.
Aurel melihat separuh baju Skala basah, "Skala, baju kamu basah."
"Gapapa, dikit doang."
"Kamu sinian makanya." Aurel mengaitkan tangannya ke lengan Skala yang membawa payung.
Skala jelas senyum-senyum sendiri karena merasa menang banyak. Hehe...
Setelah menaruh tasnya di ruang kerja, Skala menaruh map di rak arsip dan lega. "Udah selesai. Ayo pulang."
"Udah?" Cepat sekali.
"Iya udah, kantor juga udah mau tutup."
Mereka pun berjalan menuju lobi.
"Tapi di luar masih hujan. Gak mau disini dulu?" tanya Aurel.
Baru saja tersenyum, Skala dikejutkan dengan satpam yang berjaga malam di kantornya yang tiba-tiba masuk menghampirinya. "Mohon maaf, Pak, di luar ada yang membuat keributan mencari Pak Skala."
Skala tidak menyangka akan secepat ini.
"Kamu ngumpet sekarang, jangan keluar."
Aurel jelas tidak mengerti. "Ska— ada apa sih?"
Baru saja hendak Skala ajak Aurel mengumpat, mereka sudah berhasil masuk ke kantornya sampai membuat karyawan lain ketakutan karena mereka bertubuh besar.
"Tuan Skala, sudah waktunya anda kembali," ujar salah satunya dengan tegas.
Skala menggenggam erat tangan Aurel, "Nanti, setelah urusan saya selesai."
__ADS_1
"Tapi kekasih anda, nona Sadira sudah sadar dari koma." Lapor yang lainnya.
Aurel terdiam bak dihujam sesuatu.
Kekasih?
Sadar dari koma?
Lalu apa selama ini?
Aurel yang tadinya ikut menggenggam tangan Skala, sekarang hanya Skala yang menggenggamnya.
Skala memejamkan matanya sejenak, "Saya... tidak bisa kesana. Tolong bicarakan dengan keluarganya."
"Gak. Skala tetap kesana, tapi dia butuh waktu. Jadi, bisa beri waktu?" ujar Aurel yang langsung dapat pelototan tajam dari Skala.
Apa-apaan dia seenaknya menjawab.
"Saya tekankan tidak akan ada yang pulang, bahkan saya sendiri, akan tetap disini."
Aurel tersenyum kecut, "Skala cuma bercanda."
"Aurel. Aku gak bercanda!" tukasnya tegas. "maaf, saya ingin ke rumah, butuh istirahat." Skala menerobos mereka dan hujan-hujanan sampai masuk mobil karena tidak sempat bawa payung.
Aurel langsung menyumpal telinganya dengan earphone karena tidak ingin dengar apapun selain alunan musik favoritnya.
Skala yang baru menjalankan mobilnya langsung menarik kabel earphone gadis itu, "Dengerin dulu sebentar."
Namun seperti kebiasaannya saat marah. Aurel memasang kembali earphone-nya tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Aurel, dengerin dulu."
Aurel bergeming sambil melihat jendela disampingnya yang ternyata masih hujan deras.
Bahkan saat Skala memberinya jaket tebal, tetap tidak ada gerakan apapun dari Aurel. Dia benar-benar diam duduk disebelahnya.
Merasa geram. Akhirnya Skala menepikan mobilnya dan mencoba mengatur nafas supaya tenang.
"Aurel," panggilnya.
"Aku mau pulang supaya langsung tidur," ucapnya tanpa menoleh.
"Dengerin dulu."
Aurel diam.
"Dengerin dulu atau pulang sendiri sana," ancam Skala yang sudah emosi sejak tadi.
Aurel tidak masalah harus pulang naik taksi/ojek/jalan kaki sekalipun. Dia suka hujan, jadi dia tidak akan berteduh.
Melihat Aurel keluar dari mobilnya, Skala jadi merasa bersalah dan ikut keluar juga dan menghadangnya.
"Rel, bisa gak dengerin dulu?"
Aurel menatap Skala nyalang, "Gak bisa. Kamu udah gak bisa ditolerir. Minggir." Ia menggeser tubuh Skala.
Untung saja hanya gerimis, jadi mereka tidak tambah basah.
Skala menghadangnya lagi.
"Skala, aku bilang minggir." Aurel berdecak karena Skala tak kunjung pergi dari hadapannya. "pacar kamu lagi koma. Terus kamu ninggalin dia. Itu gak bisa ditoleransi."
Skala menghirup udara dalam-dalam sambil berkacak pinggang.
"Skala, awas! Tadi kamu kasih pilihan kan, aku mau pulang sendiri aja," ujar Aurel dengan tenang. Dulu pun ia apa-apa serba sendiri, jadi tidak kaget.
"Kamu... gak bisa ya denger orang mau jelasin dulu?"
"Gak bisa, makanya aku mau kamu minggir."
Skala menarik tangannya sampai depan pintu mobil, "Masuk dulu. Disini gerimis, nanti masuk angin."
Aurel diam saja sambil menatap kaca jendela yang terlihat rintik hujannya mulai deras kembali. Dia tak ingin masuk dan dengar apapun. Menurutnya, Skala benar-benar jahat dan tidak bisa ditoleransi.
Bagaimana bisa dia meninggalkan kekasihnya yang sedang koma dan memberi orang lain harapan lebih?
"Rel, aku serius. Masuk sekarang. Hujannya mulai deras lagi."
Kesal juga karena Skala itu agak pemaksa. Akhirnya Aurel masuk mobil lagi dan menutup pintu sangat kencang.
"Aurel, bisa gak dengerin sebentarrr aja. Jangan mutusin apa-apa sepihak sebelum kamu tau cerita aslinya."
"Aku udah bilang, aku gak butuh cerita. Bahkan satu kalimat."
"Iya, tapi seenggaknya biarin aku cerita. Terserah kamu mau percaya atau nggak."
Skala menyerah karena Aurel memilih mengeraskan volume radio mobil ketimbang mendengarkan ceritanya.
__ADS_1
Yasudah.