
Juli berdiri di belakang Aurel yang sedang duduk di tangga. Tangga darurat jarang dilewati pegawai, kenapa Aurel malah duduk disana? pikir Juli.
Tidak lama kemudian dia mendengar isakan. Berteman 1 tahun dengan Aurel membuat Juli tahu seluk-beluknya. Aurel pasti merasa bersalah karena sudah menghancurkan ponsel Rumi dengan menginjaknya.
Juli menyaksikan itu semua dari kejauhan. Ia mendapati Aurel pergi ke tangga darurat dengan mata berkaca-kaca dan kedua tangan terkepal menahan emosi. Akhirnya ia naik ke lantai 3 menggunakan lift, lalu turun tangga ke lantai 2.
Tapi kini Aurel sudah berani menunjukkan ketidaksukaan pada orang yang menyakiti sahabatnya, termasuk Bara. Tidak seperti dulu yang diam saja ketika dirundung habis-habisan.
Syukurlah.
Juli hanya mempu mengucapkannya dalam hati. Ia bersedia menunggu Aurel selesai menangis, lalu ia akan menghiburnya.
Aurel menoleh perlahan ketika sebuah tangan mendarat di bahunya. "Juli? Ngapain disini?" Ia langsung berdiri dan mengusap wajahnya yang sembab.
Juli merangkul leher Aurel. "Ayo jalan-jalan."
"Kemana?"
"Ke tempat yang bikin lo nangis bahagia."
Aurel tersenyum remeh, "Yakin bisa bikin nangis bahagia?"
Juli hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia ragu. Setelah naik taksi dan berhenti di suatu tempat yang menurut Aurel familiar.
"Kita ngapain kesini, Jul?"
Juli memberhentikan taksi ke tempat dimana Aurel pernah memutuskan mengakhiri hidupnya. Yaitu di sebuah jembatan penghubung kota yang dibawahnya terdapat sungai mengalir tenang dengan angin semilir menyapu rambut dan wajahnya.
Juli memukul pelan lengan Aurel. "Aurel. Dulu, lo kesini karena putus asa kan?" tanyanya sambil menoleh.
Aurel menatapnya seraya tersenyum, "Iya."
"Sekarang ubah kenangan lo di tempat ini. Lo transfer kesedihan lo disini, terus lo bawa hawa positif buat nguatin diri sendiri."
"Caranya?"
"Lo merem... terus bayangin sesuatu."
Aurel menuruti Juli dengan memejamkan mata. "Terus?"
"Terus lo inget apa aja masalah lo."
"Terus?"
"Lo bisa hapus masalah itu dengan kenangan baik, Rel."
Aurel membuka matanya. Sungguh, tidak ada kenangan yang lebih baik selain dengan Alya, Damar, Bintang, dan Nabila dulunya. Keempat orang itu mampu mengubah hidupnya.
Aurel mengulum senyum lalu mengatakan, "Makasih, Juli."
Juli mengangguk, "Seandainya gue sama Shiren pergi ke luar negeri. Lo gapapa?" Dia tidak tega menanyakan hal ini.
"Nanti yang hibur aku kayak sekarang siapa?"
Bintang punya Nabila. Fina punya Ghaisan. Skala punya— tak tahulah dia ini punya siapa.
"Gue gak jadi kuliah disini. Ada hal yang mau gue pelajarin disana. Shiren juga."
Aurel menangis lagi walaupun sudah dipeluk Juli.
"Lo baik-baik sama semuanya. Besok gue resign jadi penulis novel disini."
__ADS_1
"Kamu perginya kapan?"
"Besok siang. Hm, bentar." Juli merogoh saku jaketnya, "Gue cuma punya ini." Dia memberikan sebuah lipatan kertas pada Aurel.
Aurel menerimanya dengan senang hati, "Ini apa?"
"Lo bisa tempel ini di tembok kamar. Biasanya kalimat itu gue pake buat nyemangatin diri sendiri."
Be strong! You can success!
Kalimat singkat yang Juli buat memang ada benarnya. Namun, kuat tidak semudah diucapkan. Supaya kuat, kita harus melewati ujian yang seringkali dadakan sampai mental menjadi lemah. Kalau tidak, maka kamu hanya pura-pura kuat.
"Indonesia bakal kehilangan penulis hebat. Mereka bakal nyusul ke Bandara gak ya kira-kira?"
"Lo ngapain mikirin itu? Lo gak mau tanya nanti gue makan apa disana?"
"Kamu gak mungkin, gak beli makanan," cetus Aurel. Juli itu sering makan dan porsinya banyak. Kalau tidak ada nasi, maka dia akan beli mie satu kardus.
"Gue juga mau ngelatih mental Shiren. Akhir-akhir ini dia sering ngeluh banyak yang ganggu."
"Apa?"
"Tapi gue cari, selalu gak masuk orangnya. Menurut lo, gue sama Shiren deket gak?" Maksudnya dekat sebagai saudara ya.
"Kamu gak curiga ke siapa gitu?"
"Shiren gak pernah cerita. Bahkan gue juga gak tau masalah lo, Nabila, Fina, walaupun kita deket."
"Aku juga gak tau masalah kamu," ujar Aurel. "Tiba-tiba kamu mau pindah"
Juli terkekeh, "Iya. Mungkin kita mulai sibuk buat masa depan. Jadi, maaf kalo gue kurang ngerti masalah lo."
"Semampu gue," ujar Juli.
...ΩΩΩ...
Malam harinya, Aurel keluar sebentar membeli persediaan makanan untuk besok. Alya mengizinkan karena Aurel makan sesuai keinginannya. Kalau tidak, ya dia beli sendiri atau bisa tidak makan. Jadi Alya sebelum masak harus bertanya ke Aurel, apa menu hari ini... Begitu.
"Al. Aurel belum pulang?" tanya Alatas yang lewat di belakang Alya sambil membawa botol minuman untuk dibawa menonton TV.
"Baru 5 menit dia keluar," jawab Alya diakhiri kekehan kecil.
Tidak lama kemudian Alatas berdiri setelah mendengar suara geluduk dan gerimis. "Al, aku jemput Aurel dulu ya."
Alya menyiapkan payung, "Hati-hati, Aurel ada di minimarket depan komplek."
"Makasih," ujar Alatas lalu memakai tudung jaketnya dan keluar menjemput Aurel. Tidak mungkin mereka membiarkan Aurel hujan-hujanan berakhir demam dan flu.
"Ayah mau kemana, Bu?" tanya Bara dari atas.
"Jemput Aurel."
"Lah Aurelnya kemana?"
"Beli makanan."
Bara geleng-geleng kepala, "Saking mikirin cinta, porsi makannya jadi banyak."
Alya hanya tersenyum, "Tanpa mikirin cinta, porsi makannya juga banyak."
Bara tertawa dan duduk di tempat bekas Alatas, "Itu maksudku, Bu. Aurel emang doyan makan, tapi pilih-pilih." Dia mengganti chanel televisi dan teringat hal mengenaskan seumur hidupnya, "Dia lebih milih susu kotak ketimbang ikan bakar. Aneh kan?"
__ADS_1
Alya menaruh gelas dan piring di rak seusai di lap. "Ibu udah biasa, jadi gak bakal aneh."
Sementara itu, Alatas mempercepat langkahnya menuju jalan raya komplek agar tidak telat menjemput Aurel. Namun langkahnya melambat saat ia lihat Aurel sedang berjongkok memeluk kucing.
*
Aurel yang sedang berlari supaya cepat sampai rumah tiba-tiba iba melihat kucing di tengah jalan bersamaan dengan turunnya gerimis. Akhirnya Aurel memeluknya lebih dulu.
"Kasian banget kamu."
Namun Aurel melihat sepasang kaki dengan sandal jepit hello kitty di depannya. Ia pun mendongak perlahan. "Ayah?" Ia sempat ternganga melihat Alatas memayungi tubuhnya. Seperdetik kemudian ia tertawa, "Kok Ayah pakai sandal aku sih?"
"Tanyanya nanti aja, keburu hujannya deras."
"Kucingnya?"
"Kita bawa sementara ke rumah."
Aurel pun berjalan disamping Ayahnya dengan satu payung. "Makasih, Ayah."
"Ayah keliatan lebih muda gak jalan disamping kamu?" Alatas akui, banyak yang mengira umurnya 20 tahun. Padahal sudah 35. Memang, gen wajah keluarganya awet muda karena dokter semua.
"Muda kok, kalo gak lagi marah."
"Ayah tua kalo marah?" tanya Alatas khawatir.
"Iya."
"Oke, mulai sekarang Ayah gak bakal marah sama kamu."
"Termasuk hujan-hujanan?"
Aurel yang hendak berlari langsung ditahan Alatas, "Rel, kamu ini Indonesia asli. Dilarang malah penasaran."
"Sayang banget Bara gak begitu suka hujan."
"Masa sih?"
"Dia gak suka karena jalanan sering macet kalo hujan."
"Aku kira kenapa."
"Kamu sama Juli tadi kemana?"
"Main sebentar,"
"Gak biasanya kamu pulang tapi mukanya ditekuk."
"Juli sama Shiren mau pindah ke luar negeri, Yah." Aurel menunduk, "Ayah kok pakai sandal aku yang hello kitty?"
"Hah?" Bahkan Alatas baru sadar. "Ayah tadi buru-buru. Takutnya hujan deras, kasihan kamu nanti basah kuyup."
"Lucu ya. Ayah cantik banget pakai begituan."
"Sekarang udah bisa ngeledek ya..."
Bersambung....
Skala sibuk jadi di part ini gak ada :)
__ADS_1