SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
Semula


__ADS_3

Aurel itu lemah, namun tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya lemah. Jika Nabila berkata dia kuat, itu hanya dari luar yang dalamnya rapuh.


Bahkan saat Skala menyelamatkannya, Aurel masih berharap dia mati saja daripada hidup namun tidak diterima dimana-mana. Damar pun masih sama, tidak berubah, selalu kasar, dan suka main wanita.


Alya sudah menggugat cerai dan berencana mengontrak rumah sederhana dekat sekolah agar jaraknya mudah dijangkau. Selama menunggu sidang dari pengadilan, Aurel disibukkan dengan ujian percepat kenaikan kelas dengan mengejar materi yang tertinggal selama koma.


Skala bisa bekerja dengan tenang karena masalah ini sudah selesai. Setelah dr. Alatas memutuskan untuk mendiagnosa psikis Nabila, ia menghubungi rekan-rekan di bidangnya untuk menganalisis Nabila yang rupanya punya gangguan kecemasan berlebihan.


Akhirnya Nabila dalam tahap pengobatan dan didampingi Bintang karena mereka sahabat, sulit dijauhkan. Bintang merasa kesepian kalau tidak ada ocehan Nabila makanya memutuskan untuk menemani saja.


Ghaisan, Fina, Juli, Aurel, dan Shiren menjadi sahabat juga. Mereka membantu Bintang mendampingi Nabila agar pengobatan terapinya lancar.


Setidaknya semua sudah meluapkan apa yang mengganjal dalam hati dan ingin berubah lebih baik kedepannya.


"Weh, hubungan lo sama Pak Skala gimana, Rel? Ada kemajuan gak?" tanya Ghaisan saat mereka makan bersama di kantin.


"Belom pasti, mereka mau buat visi misi dulu biar jaya," celetuk Juli mengaitkan dengan pekerjaan Skala, yakni ada visi misi perusahaan.


"Yee, gue kan cuma nanya," ujar Ghaisan.


"Kalo pake visi misi, ntar kelamaan. Nunggu dinikahin aja baru pake visi misi," ujar Fina. Dia yang sempat menyukai Skala pun perlahan mengendalikan perasaannya supaya tidak berakibat fatal. Bisa saja kan terlalu obsesi jadi menyakiti yang lain.


"Aurel yang punya hubungan, kenapa kalian yang repot mikir ya?" ledek Shiren.


"Tau nih. Aku sama Skala sahabatan aja..." jawab Aurel dengan santai.


"Kalo gue jadi Pak Skala." Ghaisan meremas dadanya, "sakitnya tuh disini..."


Fina menoyor kepala adiknya yang terlalu mendramatisir, "Lebay!" Mereka tertawa.


"Rencananya aku gak tinggal lagi di rumah Skala," ujar Aurel yang langsung membuat suasana hening seketika.


"Ibu kan udah ngontrak, jadi aku gak mau nyusahin Skala aja.."


Mereka semua mengerjap dua kali.


"Yahh, jangan dong. Gue kan mau lo berdua biar ada chemistry, gitu," ujar Fina.

__ADS_1


"Lo bego ya?" celetuk Juli. "gak enak juga sama orang-orang kalo tau mereka tinggal satu rumah."


Aurel mengangguk, "Iya, itu maksudnya."


"Mau dimana pun, pokoknya kamu harus terus bahagia, Rel," ujar Shiren tersenyum ke arah Aurel dan dibalas senyum juga. Mereka yang dulu korban penindasan, kini sudah bebas untuk meraih mimpinya.


"Iya bener," ujar Fina. "pokoknya kita harus saling rangkul supaya kejadian dulu gak terulang atau kena yang lain."


"Iya, kalo ada masalah, mending kita musyawarah—"


Pluk'


"Musyawarah gaya lo kayak mapel PpKn pas SMP."


Ghaisan memang serba salah dimata Fina walaupun kata-katanya itu ya benar.


"Bener juga tapi," ujar Juli setelah dipikir-pikir.


"Tuh kan bener. Hiihh, gue cakar juga muka lo," ucap Ghaisan hendak menerkam kakaknya.


"Eh jangan lah. Perawatan muka gue mehong," ujar Fina membuat semuanya tertawa.


***


"Lho? Gak bisa dong, saya disini karena tugas."


"Mungkin bulan depan baru bisa handle Bina Atlas."


"Iya. Terima kasih."


Aurel mengeryit melihat Skala sedang bicara lewat telepon rumah di ruang tamu. Dia terlihat agak kesal setelah bicara karena sampai menaruh telepon dengan kasar.


Aurel menghampirinya, "Skala, kenapa?"


Skala terkejut, "Gapapa. Ada masalah sedikit di kantor."


"Beneran gapapa?"

__ADS_1


Skala mengangguk seakan meyakinkan, "Mau jalan-jalan gak?"


Aurel langsung berbinar, "Kemana?" Ia sampai mencondongkan tubuhnya kedepan hingga Skala mundur selangkah. "ayo, ayo."


"Tapi nanti, aku mau nyelesaiin tugas dulu." Skala tersenyum menghancurkan antusiasmenya. "sabar ya."


Selama menunggu Skala berkutat di ruang kerjanya, Aurel menghabiskan waktu bersantai di halaman belakang sambil mengingat-ingat semua yang telah ia lakukan.


Memang benar, jika amnesia bisa menenangkan pikiran. Tapi jika ada memori sekecil apapun terlintas, maka sakitnya luar biasa. Itu yang membuat Aurel ingin cepat-cepat ingat masa lalunya walaupun pahit. Ia ingin mengenang semua sampai tua.


Ahh, lama sekali pria itu. Tanpa sadar dia tertidur sampai menjelang malam.


*


Skala yang mencari Aurel kemana-mana sampai lelah sendiri. Biasanya dia rebahan sambil nonton drakor action atau ngemil di ruang tamu. Tapi dua tempat langganannya tadi sepi, tidak ada yang huni.


Setelah dicek lagi, ternyata dia tertidur di gazebo dekat kolam renang.


"Imun-nya tinggi juga kalo besok gak sakit," gumamnya. Ia pun duduk disamping Aurel dan mencoba membangunkannya, "Rel. Katanya mau jalan-jalan..."


Aurel terlonjak dan langsung duduk, "Kenapa, kenapa?"


Skala tertawa melihat tampang polos bocil baru bangun tidur, "Cuci muka sana. Kalo sempet ya mandi. Pake jaket biar gak kedinginan."


Aurel melongok ke luar, "Udah malem ternyata. Ini jam berapa?"


"Jam delapan."


"Kita mau kemana?"


"Makan, toko buku, sama ke kantor sebentar ngasih berkas."


Aurel mengerti, "Yaudah aku siap-siap dulu."


"Gerak cepet ya, keburu malem."


"Iya..."

__ADS_1


***


__ADS_2