SENJA TERLUKA

SENJA TERLUKA
S2 : Kebahagiaan Kita Berbeda


__ADS_3

Aurel paham situasi yang dirasakan Faisal. Dia memang kurang suka tentang Hans, bertemu saja seperti anjing dan kucing. Tidak ada yang mau mengalah.


"Selamat makan, semuanya."


Faisal diam-diam menoleh pada Aurel dan tersenyum tipis. Gadis yang duduk di sebelahnya sangat pengertian apa yang dia tak suka.


"Iya."


Mereka memakan menu dengan semangat, sesekali saling goda untuk mengusir kecanggungan sebab cukup lama tidak berjumpa.


Skala masih saja membahas bagaimana lucunya Aurel dan Faisal ketika masih balita saat bermain sampai tidak mau pulang.


Faisal juga mengatakan kebiasaan itu sampai mereka masuk sekolah dasar. Tidak ada yang berani bermain dengan Aurel karena Faisal seperti pengawal pribadi. Dia dahulu sangat galak kalau ada lelaki yang mendekat ke Aurel walaupun hanya sejengkal kaki.


Aurel merindukan masa-masa itu, tetapi ia tidak mau Faisal sampai melarang teman-teman kelasnya untuk mendekat. Mengingat bagaimana Faisal, ia jadi memadankan dia dengan Hans yang berwajah mengerikan.


"Aurel terlalu giat belajar. Harus sering diajak liburan biar gak buku terus mainannya," adu Skala.


Bintang dan Nabila melirik anaknya yang menahan tawa.


Nabila berkata, "Faisal mana pernah pegang buku... " Berbeda lagi ceritanya mengenai anaknya. Sekali pegang buku bukan untuk dibaca, malah digunakan untuk kipasan.


Bintang tidak menyangkal ucapan istrinya. "Anak kita kan unik," belanya.


"Please, tapi nilainya gak unik, Tang."


Faisal tertawa singkat. "Iya ... Nanti kalau dapat hidayah bakalan buka buku, kok."


"Masalahnya kapan waktu itu tiba?" Nabila tertawa diiringi Bintang mendengar jawaban konyol Faisal. Anak lelaki model sepertinya jika diberi tugas banyak juga tidak akan buka buku karena apa-apa pakai internet.


Aurel bahagia kalau keluarga mereka kumpul walaupun masih ada yang kurang. "Kakek harus diajak makan bareng kita lain kali, Pah."


Skala menoleh seraya tersenyum hangat. "Hm." Dia menganggukkan kepala setuju. "Kita ke rumah Kakek besok," ajaknya diangguki oleh mereka, kecuali Faisal.


Hanya Faisal yang menghembuskan napas lelah. Bukan malas bertemu Kakek Alatas melainkan istri dari dr. Bara, namanya Frida.


"Faisal sedikit depresot karena dijodohin sama anaknya Bara, si Jeni." Bintang tertawa mengingat terakhir kali mereka ke sana, Faisal selalu diikuti Jeni ke mana-mana. Padahal Jeni masih kelas 2 SMP.

__ADS_1


Faisal tidak mungkin meladeni bocah seperti Jeni yang sedang gencar kasmaran kalau lihat lelaki tampan. Menurutnya, Jeni sedikit menakutkan. Setiap kali ke rumah Kakek Alatas dia seperti dihantui.


Skala memberi nasihat, "Lagian kamu sih, bukannya cari pacar biar gak dikejar-kejar cewek terus."


Aurel langsung menoleh ke ayahnya. "Papa nyuruh Faisal cari pacar?" Masalahnya Faisal tidak mau cari pacar walaupun disuruh 1000 kali olehnya. Apakah kalau Skala yang menyuruh dia, Faisal mau?


Faisal menjawab, "Yang mau jadi pacar aku harus hadapin Mama sama Papa. Dan yang paling penting, bisa ngerti Aurel."


Bintang mengenyit. "Emangnya Aurel gak bisa dimengerti?"


Tampaknya ada kata ambigu di kalimatnya barusan. "Maksudnya, aku sama Aurel kan udah dari orok sahabatan. Nah, kalau mau jadi pacar aku harus ngerti hubungan kita. Termasuk pengertian sama Aurel," jelas Faisal.


Nabila bertepuk tangan, menyadari bahwa anaknya sudah besar. "Walaupun kamu nanti punya pacar, jangan lupa sama Aurel. Aurel udah kita anggap anak sendiri."


Faisal tiba-tiba kehilangan kendali mulutnya. "Kalau Aurel kalian anggap anak sendiri, aku gak bisa pa- "


"Pa- Apa, Faisal?" tanya Skala ingin tahu. Kenapa kalimat belum selesai malah berhenti bicara? Pikirnya.


"Iya. Pa- Apa?" sambar Nabila sudah penasaran.


Faisal melihat Aurel yang juga penasaran. Bisa diledeki 7 hari 7 malam kalau dia jujur.


Mereka bersorak kesal. Tidak apa-apa, ini lebih baik ketimbang keceplosan bicara menurut Faisal.


***


Ucapan Aurel sepertinya menjadi doa. Sebelum ke rumah kakeknya, Tante Frida, Jeni, dan Om Bara sudah datang duluan ke rumahnya.


Ia dan ayahnya ingin istirahat setelah makan siang, namun ada tamu mendadak datang.


Aurel menyalami Tante Frida dan jabat tangan dengan Jeni. Kalau dengan Om Bara sudah biasa mereka berpelukan. Aurel tidak masalah karena Om Bara menganggap ia adiknya.


"Kalian habis makan siang sama keluarganya Faisal ya?" tanya Tante Frida dengan nada dibuat ramah.


Jujur saja Jeni satu jurusan dengan Tante Frida masalah intonasi dan bahasa bicara. Mereka sangat anggun dan tidak ingin ada pembicaraan serius.


"Kak Aurel kenapa gak ajak aku? Aku kangen sama Kak Faisal," ujar Jeni yang duduk di sebelah ibunya.

__ADS_1


Aurel bahkan baru duduk di bangku walaupun belum ganti baju untuk bicara dengan mereka karena ayahnya ingin mandi lagi. Jeni sudah bertanya tentang Faisal saja.


"Nanti kalau ada kesempatan, Kakak ajak kamu ya." Aurel tidak akan lupa kalau sudah janji.


Bara yang baru duduk juga menoleh terkejut ke anaknya. "Kamu itu perempuan, jangan terlalu agresif dong."


Frida tampaknya menyanggah ucapan suaminya. "Ayah, yang namanya perempuan itu harus agresif supaya cowoknya gak main lirik sana-sini."


Entah bagaimana keadaan otaknya hingga menikah dengan wanita yang saat bicara selalu anggun. Bara rasa dulu saat pacaran tidak separah ini.


"Jeni, sayang. Kalau kamu ketemu Faisal di mana pun, kamu langsung deketin dia. Pepet terus, jangan kasih kendor. Terus kamu bisa langsung nyatain perasaan kamu, jadi Faisal gak bisa to- "


Bara membelalak kaget. "Kalian gak waras? Mana ada cara begitu? Yang ada Jeni dianggap gila sama Faisal," sergah Bara.


Aurel tersenyum kikuk mendengar saran Tante Frida yang terlihat menakuti Faisal. "Kalau begitu 99% Faisal langsung usir Jeni. Di sekolah udah banyak korban, jadi pakai cara lain kalau mau deketin dia. Ya, Tante?"


"Diusir?" beo Tante Frida.


"Mami gimana sih? Untung belum aku praktikin saran Mami!" Jeni tampak merajuk karena tidak sinkron saran darinya dan jawaban Aurel.


"Kamu gak akan diusir. Kamu kan anak Mami sama Papi, Faisal pasti- "


"Faisal usir anak bungsu dari distributor papan tulis dari Malaysia, Tante." Aurel tidak bermaksud mengecilkan hati Tante Frida dan Jeni. Selain cara tadi, masih banyak cara cadangan, bukan?


"What?" Jeni tercengang.


Bara menertawakan istri dan anak sulungnya. "Jangan main-main kamu sama Faisal. Kalau mau disukai sama dia, tiru Aurel."


"Kak Faisal suka sama Kak Aurel?!" pekik Jeni.


"Ya mana tau. Cuma Aurel kan yang bisa deket Faisal. Barangkali berhasil, kalau gagal berarti coba lagi." Bara melanjutkan tawanya.


"Papi mah belain Kak Aurel terus... " Jeni merengek.


Sesuai umurnya, Aurel tidak bisa seperti itu saat seusia Jeni. Jeni bisa merengek untuk mendapatkan apa yang dia mau pada Om Bara atau Tante Frida karena mereka orang tuanya.


Sedangkan Aurel, di usia Jeni, takut menyusahkan Skala yang sering menghabiskan waktu duduk di kursi memandang foto ibunya.

__ADS_1


Aurel sayang dengan ibunya, namun terkadang ia sedikit kesal karena membiarkan ayahnya menangis. Melihat mereka meledek satu sama lain membuat Aurel iri dengan kebahagiaan lengkap orang lain.


Apakah ... Ayahnya mau menikah lagi jika ia izinkan?


__ADS_2