
"Ranu. Yang meninggal itu Ayah dan Mama kamu," ujar Fajar terus terang. Dia juga tidak akan membiarkan Ranu terus kebingungan dengan situasi sekarang.
"Ayah Bara?"
"Bukan. Ayah Andre sama Mama Sofi," jelasnya.
"Meninggal itu kembali di pelukan Allah ya?" tanya Ranu sambil menunduk.
Fajar mengangguk sembari mengusap kepala ponakannya, "Iya. Mereka udah tenang disana. Ranu doain Ayah sama Mama ya."
Ranu mengangguk juga, "Iya deh.. kata Bu Guru, kalau ada yang meninggal, kita harus ikhlas dan sabar."
"Iya, Ranu juga harus gitu ya?"
"Iya, Om. Ranu ngerti."
Fajar menghela nafas. Tidak, anak sekecil Ranu belum mengerti apa itu meninggal. Yang dia tahu, kembali ke alam sana saja. Dia belum tahu, kalau orang yang sudah meninggal tidak akan hidup kembali.
Ranu menoleh, "Berarti Ranu gak bakal ketemu Ayah sama Mama, gitu?"
Fajar tertegun. Dugaannya salah. Salah besar. Dia lantas memeluk Ranu yang akhirnya menangis kencang. "Masih ada Om Fajar, sama yang lainnya."
**
Siang harinya setelah pemakaman pukul 09.00 tadi, Keluarga Skala berkumpul di ruang tamu beralaskan karpet. Mereka hendak membicarakan Ranu dengan Bara selaku yang mengadopsinya selama ini.
__ADS_1
"Baik, kita mulai saja," ucap Akhza agak canggung karena Bara diam saja dengan tatapan yang sulit diartikan. "selama ini kita gak tahu kalau Ranu masih sehat dan diadopsi oleh Nak Bara. Tapi karena sekarang keadaannya sudah berbeda, Kakek ingin sekali Ranu kembali tinggal di rumah ini."
"Gimana, Ranu?" tanya Embun yang sejak tadi menjadi sandaran Ranu.
"Aku maunya ada Ayah Bara..." ujarnya malu-malu.
Skala bingung, bagaimana ceritanya? Memangnya Bara mau?
"Ayah Bara gak bisa disini... kan rumahnya jauh disana," kata Fajar memberi pengertian.
"Nanti kalo sempat, Ayah Bara kesini kok main sama Ranu," sambung Aurel.
"Gak mau... Aku maunya Ayah Bara disini."
"Saya sebenarnya juga udah terbiasa ada Ranu. Tapi gimana ya.." Bara menggaruk kepalanya. "Saya lagi dinas di Jakarta."
"Kalo Kak Aurel yang disini, pasti bisa. Kan calon istri Om." Skala berujar dengan pedenya. Aurel langsung mencubit tangan pria itu yang masih sempat bercanda ditengah obrolan serius.
Ting!
"Yaudah, Ayah Bara sama Aunty Embun aja. Biar Ayah bisa disini," ujar Ranu serius.
Embun beranjak tiba-tiba, "Ogah! Mau dinikahin sama es batu."
"Kok sama es batu sih, Aunty? Ayah Bara tau. A-yah Ba-ra." Ranu kebingungan sendiri.
__ADS_1
Akhza menepuk jidatnya sendiri melihat anak dan cucunya. Bara tersenyum ke arah Embun, "Nanti. Kalau Ayah dinas disini, Ayah tinggal disini."
Embun terbelalak. Wah, songong beud si Bara mukanya. "Jangan, jangan. Ranu, kamu disini aja kan? Ya? Sama Aunty yang cantik ini."
Ranu tidak menggubris Embun. Dia justru merespon Bara, "Yaudah. Bener ya, Ayah kalau dinas disini bakal tinggal di rumah. Pokoknya aku gak mau kalau nanti gak ada Ayah Bara."
"Iya, Ayah janji." Bara tersenyum lebar pada Ranu. Ranu lantas memeluk Ayahnya, "janji juga. Ayah sama Aunty harus menikah ya?"
"Bukannya waktu itu kamu minta Kak Aurel?" tanya Bara melirik heran.
Aurel ingin sekali menggeplak mulut Bara. Apalagi Skala, dia mencibir tanpa suara.
"Gak jadi. Om Skala kan jelek, jadi harus dapat Kakak Cantik. Ayah kan udah ganteng, jadi carinya yang cantik juga. Kasian Om Skala."
Skala tertawa hambar, "Nih anak diajarin siapa coba."
"KAMU!" hardik Aurel.
**
Skala : Serba salah mulu gua di mata Aurel. Apa gua ini emang gak direstuin Alam kah? Jangan-jangan alam ghaib pada iri-_-
Aurel : Ngaco kamu. Mereka kan gak punya whatsapp aku:(
Skala : Saking polosnya, jadi pengen nabok.
__ADS_1
😀😀😀