
“Eh, gila gak sih si Cakra, cewek kayak Alisa malah dikhianatin gitu.”
“Cowok itu emang habis manis sepah dibuang.”
“Gak ngerti lagi gue sama otak Cakra. Beg*nya kebangetan.”
“Kalian ngomongin apa sih?”
“Ini nih novel baru, yang katanya true story. Tapi gue agak gak percaya ada cewek sad girl begini. Cowok bere*gsek emang.”
Juli yang kebetulan lewat gerombolan adik kelasnya langsung berhenti dan mendengar mereka menyumpah serapah Cakra alias Skala. Dalam hati ia tertawa, puas karena karakter Cakra sukses membuat pembacanya kesal sampai ingin mencakar wajah pemainnya.
“Gedek banget gue, anj.”
“Itu hati apa plastik es bening, gampang banget maafin orang.”
“Lo udah beli novelnya belum?”
“Udah, di rumah belum gue baca.”
“Untung si Alisa punya temen banyak.”
“Ohh, itu si Naira tadinya yang bully, jadi tobat.”
Sudahlah. Daripada Juli ngakak sendiri, mendingan ia pergi ke kelas saja. Ia duduk di kursi sambil melihat Aurel yang keheranan.
“Lo buka apaan sih?”
“Jul, kayaknya kamu terlalu mendramatisir konflik novel deh.”
Juli melihat ponsel Aurel yang berisi umpatan untuk Cakra, lagi.
“Biarin, itu artinya gue berhasil buat mereka masuk ke cerita gue.”
“Iya sih… tapi apa kabar sama Skala?” bisiknya.
Ghaisan yang baru buka IG pun langsung memutar kursinya, “Gila! Novel lo diumumin terjual 5000 eksemplar baru seminggu.”
“Gak sombong…”
“Nada lo sombong, pea,” sahut Fina. “cih, itu juga berkat pemeran utama, novel lo jadi laku.”
“Eh bukan. Itu karena penerbitnya Langit Publishing, punya Pak Skala jadi laku. HAHAHA.” Ghaisan memang minta digampar.
Tetap saja Aurel merasa tidak enak. Skala pasti kesal sampai usus dihujat karena perannya sebagai Cakra. Walaupun ada sebagian pembaca yang senang happy ending, tetap saja kebanyakan menghujat karakter mereka. Apalagi Alisa disini kelihatan go**oknya, mau-mau menikah dengan Cakra yang jelas mengkhianatinya. Oh tidak! Harusnya tidak begini.
**
Skala men-scroll beranda IG Langit Publising, termasuk kolom komentar yang sudah ia nonaktif karena jengah.
“Kok saya yang dihujat? Harusnya Juli yang dihujat karena dramatis nulis ceritanya.”
Ia me-logout akunnya. “Tapi ada untungnya juga pendapatan naik.”
Cklek’
“Skala, kamu gapapa?” Aurel datang buru-buru ke kantor Skala sampai nafasnya terengah.
Skala yang sedang melihat ke luar jendela langsung terkejut melihat Aurel datang sore-sore begini.
“Aku? Aku kenapa?” tanya Skala menunjuk dirinya sendiri.
Aurel menghampiri Skala, “Kamu gapapa dihujat sama orang-orang?”
Oh.. Skala mengerti sekarang. Aurel datang kemari karena khawatir dia marah atau bereaksi berlebihan karena respon pembaca.
Skala menggaruk kepalanya lalu memeluk Aurel pelan. Aurel tidak berontak seperti biasanya, dia sudah khawatir duluan.
“Tenang aja…”
Aurel sempat berpikir kalau Skala akan marah besar pada Juli yang sudah mendramatisir naskah.
“Selama mereka gak tau siapa pemeran aslinya, aku gapapa.” Skala menepuk pelan punggung Aurel. “lagian ada untungnya novel Juli laris.”
Aurel melepaskan pelukan Skala, “Kamu ya. Aku khawatir sampe bela-belain datang kesini buat mastiin kamu, kamu sempat-sempatnya mikirin untung.” Dia kesal setengah mati.
Skala menutup mulutnya sendiri, “Ya gak gitu. Aku kan mengambil strenght daripada weakness-nya.”
Aurel memukul lengan pria itu, hiih, nyesal dia sudah kesini.
“Khawatir ya…” ledeknya tidak tahu malu.
__ADS_1
“Gak jadi!” tukasnya kesal.
“Mau makan batagor gak? Ini udah sore.”
Belum sempat menjawab, Aurel sudah digeret keluar ruangan oleh Skala.
“Enak?”
“Enak.”
Aurel sedikit heran Skala mau makan batagor yang ada di depan kantornya.
“Enak lah, di traktir…” ujar Skala.
Aurel menyipit, “Kamu yang selalu minta bayar.”
“Itu si Bintang jago marketing ternyata.”
“Masa sih?”
“Iya, dia mampu beli mobil dari marketingnya.” Skala sampai tidak menyangka Bintang selalu mencapai target.
“Wihh, aku mau dong! Aku mau beli rumah kayak kamu yang ada lift-nya.”
“Gak boleh,” jawab Skala datar.
Aurel ikut datar, “Aku bantu Bintang aja.”
“Gak boleh…”
“Kenapa?”
“Rata-rata yang beli itu orangnya ganteng, entar kamu terpesona.”
“Wahh, kamu jadi posesif ya sekarang. Kita kan gak pacaran.”
“Langsung nikah, iya aku tau.”
“Dih..”
“Kita nikah, habis itu rumah aku buat kamu. Ya kan?”
Aurel mau sekali dapat tawaran memukul Skala kalau dapat bayaran lebih. Pria ini, makin lama makin menjengkelkan. Apa dia lupa, masalahnya dengan Sadira belum kelar?
Skala yang sedang mengunyah batagornya langsung berhenti aktivitas dan menoleh ke meja sebelah yang dihuni empat perempuan. Salah satunya memegang novel karya Juli “RELA” yang tak lain gabungan nama Aurel dan Skala.
Skala beralih menatap Aurel yang sepertinya terkejut.
“Kalo gue jadi Alisa, gue mutilasi dah si Cakra.”
Skala tertawa pelan. Mana bisa mutilasi orang, dia itu berhati suci… gak kayak pembacanya.
“Kayaknya aku ikut jadi bulan-bulanan mereka deh. Aku gak bodoh kan?”
Skala menggeleng cepat, “Gak lah. Kamu pintar.”
Kalau gitu, baguslah.
“Sampai kapan ya begini?”
“Mungkin sampai Juli nerbitin buku lagi.”
“Yahhh, lama dong.”
“Siapa tuh?” Mereka melihat perempuan modis, tinggi semampai, memakai blouse, dan high heels putih. Disampingnya ada lelaki yang tak kalah menawan.
“Sadira??” gumam Skala.
Mood Aurel langsung hancur melihat Sadira datang dari Bandung ke Jakarta dengan Gemintang. Sampai sekarang ia masih tidak paham kenapa Gemintang selalu baik ke Sadira. Aurel membanting sendok ke piring bekas batagornya dan menghampiri Bapak Penjualnya.
“Ini, Pak, uangnya.”
“Tadi udah dibayarin Pacarnya, Mbak.”
“Bukan. Tuh pacarnya.” Aurel menunjuk Sadira kesal.
“Lah???”
Sadira yang belum ngeh ada Skala sedang makan batagor depan kantor, langsung masuk lobi dengan Gemintang.
Skala menelan kunyahan batagornya dan mengejar Aurel yang nampak marah.
__ADS_1
“Rel, Rel. Marah mulu…”
Aurel berbalik, “Udah sana urus Sadira! Alisa emang bodoh maafin Cakra. Astaga...” Dia panas sendiri.
“Lah? Ngapa bawa-bawa narasi novel?” tanya Skala.
“Juli itu gak mendramatisir narasi, tapi emang nyata! Fakta!”
“Kok kamu naikin intonasi? Aku calon imam kamu.”
“Calon imam dari hongkong!”
“Yaudah aku nyalon imam buat Sadira aja.” Skala balik badan. Ia ingin tahu reaksi Aurel.
“Yaudah sana,” jawabnya kesal.
Ya jelas Skala menghadap Aurel lagi, “Bukannya dihalangin malah disuruh beneran.”
**
Sadira yang kebetulan berpapasan dengan Juli di Lobi langsung menyapa hangat.
“Kamu… teman Skala kan?”
Juli mengangguk pelan, “Iya.”
“Itu buku apa?” Sadira menunjuk buku yang dipegang Juli. Juli mengangkat tangannya.
“Novel best seller. Mau liat?”
“Lain kali aja deh.”
Ya kalo lo liat, lo harus siap dihujat diri lo sendiri. HAHAHA. Juli izin pergi, “Gue duluan ya.”
“Ohh, iya.”
Memang semenjak hari dimana Aurel dan Sadira tenggelam di kolam renang. Mereka memutuskan untuk memperbaiki semuanya, kecuali Nabila dan Fina yang kurang setuju. Kalau Aurel sih, santai aja selagi dia tidak buat ulah.
“Gemintang!” panggil Skala yang dibelakangnya ada Aurel.
Gemintang dan Sadira menoleh, mereka cepika-cepiki seperti biasa. Aurel menggerutu dalam hati. Entahlah, melihat Sadira membuatnya mengumpat, menambah dosa.
“Kalian ada apa kesini?” tanya Skala.
Gemintang berdehem, “Aku kesini mau bilang keputusan Ayah.”
“Keputusan kalau Gemintang bakal gantiin kamu, nikah sama aku.”
Cih, Aurel mendelik tidak percaya ke Gemintang. Apalagi Skala.
“Maksudnya?”
“Ya gitu. Karena kamu gak mau dijodohin sama Aku, Gemintang ngajuin diri buat gantiin kamu.” Sadira melirik malas ke arah Aurel. “gimana, Rel? Lo seneng kan?”
Skala menoleh agak menunduk memperhatikan Aurel yang kedua tangannya terkepal, “Gak sama sekali. Mending kamu sama Skala aja, sama-sama licik. Gemintang terlalu naif, buat kamu yang picik!”
“Apa kamu bilang barusan?” Skala rasa pendengarannya mulai terganggu.
“KAMU SAMA DIA ITU LICIK! PUAS?!”
Gemintang terlonjak saat Aurel berteriak kesal.
“Aurel, kamu sekarang jadi agresif kayak Nabila… jangan gitu, nanti Skala gak betah deket-deket kamu.”
“Bodoamat!” Aurel membuang wajahnya ke arah lain. Dia sudah tidak ingin dijodohkan dengan Skala oleh yang lainnya. Tahu Skala bagaimana, dia sudah muak. Ditambah lagi Gemintang dengan naifnya menawarkan diri menikah dengan Sadira. Mau jadi apa dia? Babu?
Gemintang berbisik di telinga Kakaknya, “Kok jadi galak bener.”
“Gara-gara kita,” jawabnya tahu diri.
Aurel menatap sengit Sadira sedangkan Sadira menatapnya santai namun meremehkan.
“Udah, udah. Kita ada urusan lain. Maaf ya…” Gemintang menggenggam tangan Sadira dan menuntunnya keluar dari kantor. Dia tidak ingin terjadi peperangan antar calon dan mantan calon Kakaknya di Kantor yang elegan ini. Bisa merusak estetika karena keduanya sama-sama ganas.
Aurel kesal. Kecewa. Marah. Pada mereka bertiga. Tidak ada yang benar diantara mereka.
Skala menepuk bahu Aurel namun gadis itu menepisnya dengan bergeser.
“Kamu kenapa?”
Aurel tetap membuang tatapan ke arah lain. “Aku pamit pulang. Kamu baik-baik aja kan tadi, permisi.”
__ADS_1
Skala tidak tahu lagi harus apa supaya Aurel seperti dulu lagi. Dia hampir kehabisan cara.
Ya salah lu juga sih, set*nnnn. Lu harusnya kasih tau ke Gemintang kalo Sadira itu jauh bgt sama lu... lu mending sama Fina aja yg jelas banyak plusnya.😠😠